Seni Merayu Tuhan, Menghadirkan Allah dalam Setiap Ibadah

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi atau Jihadi pada Ahad, 20 September 2026. Pengajian berlangsung di Masjid Al Huda Pandean VII, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta, yang berada sekitar 100 meter di sebelah utara Perempatan Godean. Pengajian kali ini menghadirkan Ust. H. Achmad Masrusi dari Minggir, Sleman sebagai mubalig. Adapun pelaksanaan kegiatan dan pelayanan jamaah pada Ahad ini bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidoluhur Utara. Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an oleh Ustadz Suhardi, membaca Surah Al-Qiyamah ayat 23–33. Pembacaan ayat tersebut menjadi pengantar bagi jamaah untuk merenungkan hubungan manusia dengan Allah SWT, kehidupan akhirat, serta bagaimana seorang hamba mempersiapkan diri untuk kembali menghadap kepada Allah. Dalam tausiyahnya, Ust. H. Achmad Masrusi mengangkat tema yang menarik dan mendalam, yaitu “Seni Merayu Tuhan.” Istilah tersebut digunakan sebagai pintu masuk untuk mengajak jamaah memahami kembali hakikat doa, shalat, dzikir, dan seluruh ibadah yang dilakukan seorang muslim. Merayu Tuhan Sesungguhnya Mengubah Diri Ust. Achmad Masrusi menjelaskan bahwa Allah SWT tidak membutuhkan rayuan manusia. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya dan tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Justru manusia-lah yang membutuhkan Allah. Karena itu, ketika seorang hamba berdoa, berdzikir dan melaksanakan shalat, sesungguhnya bukan Allah yang perlu diubah oleh rayuan tersebut. Kitalah yang harus berubah. Ibadah menjadi sarana untuk membersihkan diri, memperbaiki hati, dan membangun kedekatan dengan Allah SWT. Semakin seseorang mendekat kepada Allah, semakin ia menyadari kelemahan dirinya dan semakin kuat pula ketergantungannya kepada Allah. Dalam konteks inilah “seni merayu Tuhan” dapat dipahami sebagai seni mendekatkan diri kepada Allah dengan membersihkan hati dan memperbaiki kualitas kehidupan. Shalat sebagai Perjumpaan Ruhani Salah satu bagian penting tausiyah adalah tentang makna “bertemu” dengan Allah. Menurut Ust. Achmad Masrusi, pertemuan tidak selalu harus dipahami sebagai persoalan penglihatan fisik. Seseorang dapat merasakan kehadiran orang yang dicintainya meskipun tidak selalu melihatnya secara langsung. Demikian pula dalam shalat. Ketika seorang muslim berdiri menghadap Allah, ia tidak sedang melihat Allah secara fisik, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang menghadap, memohon, dan berkomunikasi dengan Allah SWT. Oleh sebab itu, shalat seharusnya menjadi sebuah perjumpaan ruhani yang menghadirkan Allah dalam kesadaran seorang hamba. Shalat bukan hanya gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam. Di balik gerakan tersebut terdapat proses penghambaan, pengakuan atas kelemahan diri, permohonan pertolongan, serta usaha mendekat kepada Allah. Jangan Berhenti pada Tekstualitas Ibadah Ust. Achmad Masrusi juga mengingatkan agar umat Islam tidak berhenti pada tekstualitas ibadah. Seseorang mungkin telah melaksanakan shalat lima waktu. Namun pertanyaan pentingnya adalah: apa yang terjadi pada dirinya setelah shalat? Apakah ia menjadi lebih santun? Apakah ia menjadi lebih jujur? Apakah ia semakin sabar? Apakah ia semakin peduli kepada sesama? Apakah perilakunya semakin mencerminkan nilai-nilai Islam? Jika ibadah dilakukan berulang-ulang tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku, maka seseorang perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas ibadahnya. Hal ini sejalan dengan pesan Surah Al-Ma’un ayat 4–7, yang memberikan peringatan kepada orang-orang yang melaksanakan shalat tetapi lalai terhadap hakikat shalat dan kepedulian sosial. Dengan demikian, ukuran keberhasilan shalat bukan hanya terlaksananya kewajiban secara lahiriah, tetapi juga adanya perubahan akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Hati Manusia Ibarat Cermin Dalam tausiyahnya, Ust. Achmad Masrusi juga menggambarkan manusia seperti sebuah cermin. Cermin yang kotor tidak mampu memantulkan cahaya dengan baik. Sebaliknya, cermin yang bersih akan mampu memantulkan cahaya dengan jelas. Demikian pula hati manusia. Ketika hati dipenuhi kesombongan, iri, kebencian, dan keterikatan berlebihan terhadap dunia, maka cahaya kebaikan sulit memancar melalui dirinya. Sebaliknya, hati yang senantiasa dibersihkan melalui shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan amal saleh akan lebih mudah memantulkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Yang terpancar dari seorang manusia bukan semata-mata tentang dirinya, tetapi juga bagaimana cahaya kebaikan itu memberikan manfaat kepada lingkungan di sekitarnya. Jangan Terlalu Terikat pada Aksesoris Dunia Ustadz juga mengajak jamaah untuk melihat kembali hubungan manusia dengan dunia. Manusia sering menghabiskan banyak energi untuk mengumpulkan berbagai “aksesoris dunia”: rumah, kendaraan, perangkat teknologi, jabatan, harta, dan berbagai fasilitas kehidupan. Semua itu boleh dimiliki dan dimanfaatkan, tetapi jangan sampai membuat manusia kehilangan orientasi ruhaniahnya. Dunia seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Manusia perlu memiliki keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Jangan sampai berbagai fasilitas kehidupan berkembang sedemikian rupa, sementara hubungan dengan Allah justru semakin jauh. Karena itu, Al-Qur’an harus terus dibaca, dipahami, dan direnungkan. Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi petunjuk yang mengarahkan manusia menuju jalan kehidupan yang benar. Lima Kali Sehari Membangun Koneksi dengan Allah Shalat lima waktu, menurut Ust. Achmad Masrusi, merupakan kesempatan luar biasa yang diberikan Allah kepada manusia untuk terus memperbarui hubungan dengan-Nya. Dalam sehari semalam, seorang muslim mendapatkan kesempatan berulang kali untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, menghadap Allah, membaca ayat-ayat-Nya, berdzikir, berdoa, rukuk, dan bersujud. Jika kesadaran tersebut benar-benar dihadirkan, maka shalat tidak lagi dipandang sebagai beban kewajiban, tetapi sebagai kesempatan untuk kembali kepada Allah. Belum lagi berbagai ibadah lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan ibadah sunnah yang semakin memperkuat hubungan ruhani seorang hamba dengan Allah SWT. Menguatkan Keimanan dan Memperbaiki Kehidupan Pada akhirnya, Ust. Achmad Masrusi mengajak jamaah untuk menjadikan seluruh ibadah sebagai jalan perubahan diri. Manusia tidak dapat menentukan seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Namun manusia dapat menentukan bagaimana ia merespons setiap takdir Allah. Kesadaran kepada Allah akan melahirkan kesabaran ketika menghadapi ujian, rasa syukur ketika memperoleh nikmat, dan ketawakalan ketika menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia. Dengan demikian, “Seni Merayu Tuhan” bukanlah bagaimana membuat Allah mengikuti keinginan manusia, tetapi bagaimana manusia terus memperbaiki dirinya agar semakin dekat dengan Allah. Shalat menjadi ruang perjumpaan ruhani. Doa menjadi ungkapan ketergantungan kepada Allah. Al-Qur’an menjadi petunjuk kehidupan. Sedangkan akhlak menjadi bukti bahwa ibadah benar-benar memberikan pengaruh terhadap diri seseorang. Pengajian Ahad Pagi/Jihadi PCM Godean tersebut menjadi momentum untuk kembali menguatkan keimanan sekaligus melakukan muhasabah: sudahkah ibadah yang kita lakukan menghadirkan Allah dalam kehidupan kita? Semoga melalui pengajian ini, jamaah semakin mencintai masjid, semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin baik kualitas shalatnya, serta semakin nyata manfaatnya bagi keluarga, masyarakat, persyarikatan, dan umat. Rabbana amanna. Ya Allah, kami beriman. Bimbinglah kami agar iman itu tidak hanya berada di lisan, tetapi hadir dalam hati, ibadah, akhlak, dan seluruh kehidupan kami. Rep H. Wahdan Arifudin S.Pd PCM Godean

Loading

6 Kewajiban Kita terhadap Rasulullah Nabi Muhammad SAW

Godean, Pdmsleman.Or.ID Pengajian Ahad Pagi atau Pengajian Jihadi PCM Godean kembali digelar pada Ahad, 13 September 2026, pukul 06.00–07.15 WIB di Masjid Al Huda Pandean VII, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. Kajian menghadirkan Ustadz Anton Ismunanto sebagai penceramah dan diikuti sekitar 350 jamaah dari lingkungan sekitar masjid serta warga Godean yang aktif dan memiliki semangat dalam menuntut ilmu. Pengajian Ahad Pagi kali ini bertugas bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidoluhur Barat. Dalam kajiannya, Ustadz Anton Ismunanto mengajak jamaah memahami kembali hubungan seorang muslim dengan Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui sikap, ilmu, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya terdapat enam kewajiban seorang muslim terhadap Rasulullah SAW, yaitu: 1. Mengimani Rasulullah SAW Kewajiban pertama adalah mengimani Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah SWT. Keimanan kepada Rasulullah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari syahadat. Ketika seorang muslim mengucapkan asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, berarti ia bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah utusan Allah yang wajib dipercaya dan dibenarkan. Iman kepada Rasulullah bukan sekadar mengetahui bahwa beliau pernah hidup dan membawa ajaran Islam. Keimanan harus melahirkan keyakinan bahwa apa yang beliau sampaikan merupakan petunjuk dari Allah SWT. Karena itu, seorang muslim harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai sumber teladan dalam menjalani kehidupan. 2. Mencintai Rasulullah SAW Kewajiban kedua adalah mencintai Rasulullah SAW. Cinta kepada Rasulullah memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam keimanan. Rasulullah SAW harus dicintai melebihi kecintaan kita kepada manusia lainnya. Cinta kepada manusia dapat mengalami perubahan. Hubungan antarmanusia bisa mengalami pasang surut. Namun cinta kepada Rasulullah SAW harus terus ditumbuhkan karena beliau adalah manusia yang paling besar jasanya kepada umat Islam. Rasulullah SAW menghabiskan hidupnya untuk menyampaikan risalah Allah dan memperjuangkan keselamatan umat. Bahkan dalam berbagai keadaan, beliau tetap memikirkan umatnya. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya dengan ucapan. Cinta harus diwujudkan dengan mengenal beliau, mengikuti ajarannya, menghidupkan sunnahnya, dan memperbanyak shalawat. 3. Mengenal Rasulullah SAW Kewajiban ketiga adalah mengenal Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin seseorang dapat mencintai dan mengikuti Rasulullah jika tidak mengenal siapa beliau? Mengenal Rasulullah dilakukan melalui ilmu, terutama dengan mempelajari Sirah Nabawiyah, yaitu perjalanan kehidupan beliau. Dengan mempelajari sirah, kita tidak hanya mengetahui peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullah, tetapi juga memahami bagaimana beliau bersikap ketika menghadapi berbagai persoalan. Dari sirah kita belajar tentang kesabaran, keberanian, kepemimpinan, kasih sayang, kejujuran, perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan Rasulullah SAW. Sirah juga tidak dapat dipisahkan dari Al-Qur’an. Banyak ayat Al-Qur’an yang berkaitan erat dengan peristiwa dalam kehidupan Rasulullah SAW. Karena itu, mempelajari Al-Qur’an dan sirah secara bersama-sama akan membantu kita memahami ajaran Islam dengan lebih utuh. 4. Mengikuti dan Menaati Rasulullah SAW Kewajiban keempat adalah mengikuti dan menaati Rasulullah SAW. Keimanan dan kecintaan harus melahirkan ketaatan. Tidak cukup mengatakan bahwa kita mencintai Rasulullah apabila kehidupan kita justru jauh dari tuntunan beliau. Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai teladan bagi umat manusia. Karena itu, seorang muslim harus berusaha mengikuti petunjuk beliau dalam ibadah, akhlak, muamalah, keluarga, bermasyarakat, maupun dalam berbagai aspek kehidupan. Mengikuti Rasulullah berarti berusaha menjadikan sunnah beliau sebagai pedoman hidup. 5. Menghidupkan Sunnah Rasulullah SAW Kewajiban kelima adalah menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Sunnah bukan sekadar pengetahuan, tetapi sesuatu yang perlu diamalkan. Semakin banyak sunnah yang kita ketahui, semakin besar pula kesempatan kita untuk menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sunnah yang sederhana sekalipun jangan diremehkan. Justru dengan membiasakan sunnah, kita menjaga agar ajaran Rasulullah tetap hidup di tengah keluarga dan masyarakat. Menghidupkan sunnah juga bukan berarti sekadar memperbanyak simbol, tetapi memahami tuntunan Rasulullah dan mengamalkannya dengan benar, sesuai kemampuan dan tuntunan syariat. 6. Memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah SAW Kewajiban keenam adalah memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 56 bahwa Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Allah juga memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat dan mengucapkan salam kepada beliau. Shalawat merupakan salah satu bentuk kecintaan dan penghormatan kita kepada Rasulullah SAW. Shalawat juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah salat, khususnya dalam bacaan tasyahud. Karena itu, seorang muslim hendaknya membiasakan diri bershalawat dalam berbagai kesempatan. Bukan hanya karena ingin mendapatkan keutamaan shalawat, tetapi juga sebagai bentuk rasa cinta dan kerinduan kepada Rasulullah SAW. Mari Buktikan Cinta kepada Rasulullah Di akhir kajiannya, Ustadz Anton mengajak jamaah untuk tidak berhenti pada pengetahuan. Mengenal Rasulullah harus melahirkan cinta, cinta harus melahirkan ketaatan, dan ketaatan harus terlihat dalam amal kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi tidak berusaha mengenal kehidupan beliau. Jangan sampai kita mengenal beliau, tetapi tidak mengikuti sunnahnya. Dan jangan sampai kita mengikuti sunnahnya hanya dalam ucapan, tetapi tidak menghadirkannya dalam akhlak dan kehidupan sehari-hari. Mari mulai dari diri sendiri. Perbanyak membaca sirah Nabi, pelajari hadis-hadis beliau, tanamkan kecintaan kepada Rasulullah dalam keluarga, hidupkan sunnah-sunnahnya, perbanyak shalawat, dan jadikan akhlak Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan. Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah SAW bukan hanya menjadi kata-kata, tetapi menjadi iman yang kokoh, ilmu yang bermanfaat, amal yang nyata, dan akhlak yang mulia. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita bersama Rasulullah Muhammad SAW dan mendapatkan syafaat beliau di hari akhir kelak. Rep H. Wahdan Arifudin PCM Godean Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Pengajian Ahad Pagi PCM Godean, Ilmu Harus Mengantarkan Manusia Semakin Dekat kepada Allah

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi/Jihadi di Masjid Al Huda Godean, Sleman, Yogyakarta, Ahad (30/8/2026). Pengajian rutin yang berlangsung setiap Ahad pagi tersebut dilaksanakan pukul 06.00–07.15 WIB dengan menghadirkan Ustadz Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag sebagai pemateri. Kajian kali ini membahas tafsir Surah Al-Baqarah ayat 26–29, sekaligus mengantarkan jamaah pada pemahaman tentang ayat 30 mengenai penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kajian menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk memperkuat iman, mengenali kebesaran Allah SWT, menjauhi kefasikan, serta menjalankan amanah sebagai khalifah. Ilmu Pengetahuan Harus Memperkuat Keimanan Mengawali kajian, Prof. Mochlasin menjelaskan bahwa Islam memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Para ulama dan ilmuwan muslim terdahulu telah memberikan kontribusi besar melalui berbagai karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa Arab. Salah satu tokoh yang dikenal luas adalah Ibnu Sina, di samping banyak ilmuwan muslim lainnya. Semangat keilmuan tersebut, menurut beliau, perlu terus diwarisi oleh umat Islam. Ilmu tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan intelektual atau pencapaian duniawi. Ilmu seharusnya membawa manusia untuk semakin mengenal Allah SWT. Semakin luas ilmu seseorang dalam memahami kehidupan dan alam semesta, semestinya semakin kuat pula keimanannya. Berbagai fenomena alam, keteraturan kehidupan, serta proses penciptaan manusia merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan iman bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru ilmu dapat menjadi jalan untuk semakin memahami kebesaran Allah SWT. Tiga Ciri Orang Fasik Memasuki pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 27, Prof. Mochlasin menjelaskan karakter orang-orang fasik. Al-Qur’an menyebutkan tiga ciri utama. Pertama, mereka yang membatalkan perjanjian dengan Allah setelah perjanjian itu diteguhkan. Manusia pada hakikatnya memiliki ikatan dengan Allah sebagai Penciptanya. Hal tersebut antara lain tergambar dalam Surah Al-A’raf ayat 172 tentang persaksian manusia terhadap Allah sebagai Rabb mereka. Namun, manusia dapat mengingkari perjanjian tersebut ketika tidak mau beriman dan tidak menaati petunjuk-Nya. Kedua, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambung. Hal ini mencakup hubungan manusia dengan Allah atau hablum minallah dan hubungan manusia dengan sesama atau hablum minannas. Dalam hubungan dengan Allah, salah satu bentuknya adalah menjaga shalat. Shalat menjadi sarana utama komunikasi seorang hamba dengan Allah SWT. Karena itu, seorang mukmin harus menjaga shalat wajib dan memperkuatnya dengan berbagai ibadah sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, serta amal saleh lainnya. Sementara dalam hubungan dengan manusia, seorang muslim diperintahkan menjaga silaturahmi, berlaku jujur, menepati janji, menghormati sesama, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Kecurangan dalam perdagangan, kebohongan, memutus silaturahmi, dan berbagai bentuk kezaliman merupakan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ketiga, melakukan kerusakan di muka bumi. Kerusakan tidak hanya berupa kerusakan fisik terhadap lingkungan, tetapi juga dapat berbentuk kerusakan sosial, ekonomi, moral, dan kemanusiaan. Korupsi, manipulasi, penipuan, penyalahgunaan jabatan, eksploitasi alam secara berlebihan, serta tindakan yang menyebabkan masyarakat semakin menderita merupakan contoh perilaku yang dapat masuk dalam kategori membuat kerusakan. Allah kemudian menyebutkan bahwa orang-orang yang memiliki sifat tersebut adalah orang-orang yang merugi. Kerugian itu bukan hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga kerugian di akhirat. “Kaifa Takfuruuna Billah”: Bagaimana Manusia Mengingkari Allah? Pada Surah Al-Baqarah ayat 28, Allah SWT berfirman: “Kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilaihi turja’uun.” Prof. Mochlasin menjelaskan penggunaan kata “kaifa” yang berarti “bagaimana”. Dalam konteks ayat tersebut, kata tanya ini bukan sekadar pertanyaan untuk memperoleh jawaban, tetapi mengandung makna keheranan dan penegasan terhadap sikap manusia yang mengingkari Allah. Seakan-akan Allah bertanya kepada manusia, “Bagaimana mungkin kalian mengingkari Allah, padahal kalian sebelumnya tidak ada, kemudian Allah menciptakan dan menghidupkan kalian?” Manusia tidak muncul dengan sendirinya. Kehidupan manusia berlangsung melalui proses biologis, tetapi seluruh proses tersebut berada dalam kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Ayat ini kemudian menggambarkan perjalanan manusia: mati, dihidupkan, dimatikan, kemudian dihidupkan kembali, dan akhirnya dikembalikan kepada Allah SWT. Dengan demikian, kehidupan dunia bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, karena setelah kematian manusia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah SWT. Alam Semesta adalah Tanda Kekuasaan Allah Selanjutnya Prof. Mochlasin mengaitkan pembahasan dengan Surah Al-Baqarah ayat 29 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk manusia. Bumi yang ditempati manusia sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Di dalamnya terdapat berbagai ciptaan Allah yang luar biasa: langit, bumi, gunung, lautan, tumbuhan, hewan, serta berbagai benda langit yang menunjukkan keteraturan dan kebesaran Sang Pencipta. Ketika manusia mempelajari alam semesta, semestinya ilmu tersebut membawa manusia kepada pengakuan atas kekuasaan Allah. Penelitian terhadap alam bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk meningkatkan rasa syukur dan keimanan. Karena itu, tanda-tanda kebesaran Allah dapat ditemukan baik melalui ayat-ayat Al-Qur’an maupun melalui ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta. Allah Menciptakan Bumi untuk Dimanfaatkan, Bukan Dirusak Allah SWT menyediakan berbagai sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, pemberian tersebut sekaligus merupakan amanah. Manusia tidak boleh menggunakan sumber daya alam secara serakah dan berlebihan. Manusia juga tidak diperbolehkan melakukan fasad, yaitu membuat kerusakan di muka bumi. Kerusakan lingkungan, pencemaran, eksploitasi berlebihan, dan berbagai bentuk pengrusakan alam merupakan bentuk kegagalan manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah. Persoalan kemiskinan dan kelaparan yang masih terjadi di berbagai tempat juga perlu dilihat secara kritis. Allah telah menyediakan sumber daya yang sangat luas, tetapi ketidakadilan, keserakahan, korupsi, dan kesalahan manusia dalam mengelola sumber daya dapat menyebabkan sebagian masyarakat tidak mendapatkan haknya. Karena itu, tugas manusia bukan sekadar memanfaatkan bumi, tetapi memakmurkan bumi dan mewujudkan keadilan. Perbedaan Manusia adalah Sunnatullah Prof. Mochlasin juga menyinggung keberagaman manusia. Allah menciptakan manusia dalam berbagai bangsa, suku, bahasa, budaya, dan kondisi kehidupan. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari sunnatullah. Keberagaman seharusnya tidak menjadi sumber permusuhan, tetapi menjadi sarana untuk saling mengenal, belajar, dan bekerja sama dalam kebaikan. Manusia boleh memiliki perbedaan identitas sosial dan budaya, tetapi semuanya tetap merupakan makhluk Allah SWT. Karena itu, perbedaan harus dikelola dengan keadilan, penghormatan, dan persaudaraan. Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi Rangkaian pembahasan tersebut kemudian mengantarkan jamaah kepada ayat berikutnya, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 30 tentang kehendak Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Manusia diberikan kedudukan dan amanah yang besar. Ia tidak hanya menjadi penghuni bumi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengelola, menjaga, dan …

Loading

Kajian Iftitah Sabtu Pon, Meneladani Rasulullah SAW Melalui Kepedulian terhadap Lingkungan

Godean, Pdmsleman.Or.Id Warga RT 06 Pandean VII, Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Sleman, kembali menggelar pertemuan rutin malam Sabtu Pon yang dilaksanakan di rumah Bapak Sularno pada Jumat malam (28/8/2026). Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban tersebut diawali dengan Kajian Iftitah yang disampaikan oleh Bapak Sulis. Pada momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW, Bapak Sulis mengajak warga untuk memahami makna keteladanan Rasulullah secara lebih luas. Menurutnya, peringatan Maulid tidak hanya menjadi sarana mengenang sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi momentum untuk mengimplementasikan nilai-nilai ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kajian tersebut, Bapak Sulis menjelaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan utama bagi umat manusia, termasuk dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin yang menghadirkan kemaslahatan dan menjaga keseimbangan alam. Oleh karena itu, setiap muslim hendaknya berupaya menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi lingkungan dan tidak menjadi penyebab kerusakan. Beliau mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah SWT dalam Surat Ar-Rum ayat 41 yang menjelaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia. Ayat tersebut menjadi peringatan agar manusia senantiasa menjaga bumi dan memperbaiki keadaan, bukan justru memperparah kerusakan yang ada. “Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Sebagai pengikut beliau, kita tidak boleh menjadi perusak lingkungan, tetapi harus menjadi bagian dari solusi bagi berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita,” tuturnya. Sebagai bentuk implementasi nilai-nilai tersebut, Bapak Sulis menyampaikan tiga langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menjaga dan menahan air. Menurutnya, air merupakan sumber kehidupan yang harus dijaga keberlangsungannya. Masyarakat perlu menjaga daerah resapan air dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana agar ketersediaan air tetap terjaga bagi generasi mendatang. Kedua, menanam pohon. Ia mengajak warga untuk memanfaatkan setiap jengkal lahan yang dimiliki untuk ditanami pohon atau tanaman yang bermanfaat. Penghijauan tidak harus dilakukan dalam skala besar, tetapi dapat dimulai dari lingkungan rumah masing-masing. “Sejengkal tanah yang kita miliki hendaknya dimanfaatkan untuk menanam. Tidak harus pohon besar, tanaman kecil pun dapat memberikan manfaat bagi lingkungan,” jelasnya. Ketiga, mengelola sampah secara bertanggung jawab. Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti masih adanya anggapan bahwa sampah bukan lagi menjadi urusan seseorang setelah dibuang keluar rumah. Padahal, pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari rumah tangga. Warga didorong untuk membiasakan memilah sampah organik dan anorganik serta mendukung upaya daur ulang. Menurutnya, kesadaran tersebut harus dimiliki oleh seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan sampah, mulai dari masyarakat, petugas pengangkut, hingga pengelola akhir sampah. Bapak Sulis juga mengingatkan bahwa kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari akhlak Islam yang diajarkan Rasulullah SAW. Oleh karena itu, menjaga lingkungan tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah dan tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi. Kajian Iftitah yang disampaikan dalam pertemuan rutin malam Sabtu Pon tersebut mendapat perhatian dari warga yang hadir. Selain menjadi sarana mempererat silaturahmi, kegiatan rutin ini juga menjadi media pembinaan keagamaan dan sosial bagi masyarakat RT 06 Pandean VII. Melalui kajian tersebut, warga diajak menjadikan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat komitmen untuk meneladani Rasulullah SAW dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menjaga kelestarian lingkungan. Dengan menjaga sumber daya air, menanam pohon, serta mengelola sampah dengan baik, masyarakat diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman serta menjadi bagian dari upaya menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Rep  H Wahdan Arifudin SPd  PCM Godean

Loading

Pengajian PERAK PCM Godean, Meraih Kebahagiaan dengan Syukur dan Meneladani Rasulullah SAW

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian PERAK (Pengajian Malam Rabu Kliwon) Selasa 25 Agustus 2026 di Masjid Nurul Islam, Juragan, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. Pengajian menghadirkan Ustadz Drs. H. Purwono, M.A., yang dikenal pula sebagai Syekh Poerji, sebagai mubalig. Kegiatan pengajian berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan. Jamaah dari masjid Nurul Islam dan berbagai unsur warga Muhammadiyah Cabang Godean dan ranting hadir untuk memperkuat silaturahmi sekaligus mengikuti kajian keislaman, terutama PRM Sidoluhur Selatan yang jadi tuan rumah. Dalam kajiannya, Ustadz Purwono mengangkat sejumlah pesan penting mengenai hakikat kebahagiaan, pentingnya bersyukur kepada Allah SWT, tauhid, kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keteladanan Rasulullah, serta tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat. Kebahagiaan Berawal dari SyukurUstadz Purwono mengajak jamaah memahami bahwa setiap manusia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang bahagia. Namun, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, kedudukan, maupun berbagai fasilitas duniawi. Menurutnya, salah satu kunci kebahagiaan adalah bersyukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan. Ucapan Alhamdulillah harus diikuti kesadaran bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan harus digunakan untuk kebaikan.Rasa syukur juga akan membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih positif. Sekalipun nikmat yang diterima terasa kecil, seorang muslim tetap harus mampu mensyukurinya. Dengan bersyukur, hati menjadi lebih tenang dan manusia tidak mudah larut dalam keluhan. Tauhid sebagai Dasar KehidupanDalam kajian tersebut, Ustadz Purwono juga menekankan pentingnya menjaga kemurnian tauhid. Seorang muslim harus meyakini bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah dan tidak boleh menyekutukan-Nya dengan apa pun.Beliau mengingatkan prinsip yang terkandung dalam firman Allah:“Wa’budullāha wa lā tusyrikū bihi syai’an.”Artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Tauhid tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam seluruh kehidupan. Keimanan kepada Allah harus tercermin dalam ibadah, akhlak, pekerjaan, kehidupan keluarga, maupun hubungan dengan masyarakat. Mengapa Kita Mencintai Rasulullah SAW?Ustadz Purwono kemudian mengajak jamaah memahami alasan seorang muslim harus mencintai Rasulullah Muhammad SAW.Rasulullah SAW adalah utusan Allah yang menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.  Melalui beliau, manusia mendapatkan petunjuk tentang keimanan, ibadah, akhlak, dan tata kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT.Kecintaan kepada Rasulullah juga berkaitan erat dengan dua kalimat syahadat. Seorang muslim bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Syahadat bukan sekadar kalimat yang diucapkan, tetapi merupakan ikrar iman dan komitmen untuk mentauhidkan Allah sekaligus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.Karena itu, semakin kuat kecintaan seseorang kepada Rasulullah, seharusnya semakin kuat pula keinginannya untuk mengikuti ajaran dan keteladanan beliau. Rasulullah sebagai Teladan TerbaikUstadz Purwono mengingatkan jamaah bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia.Hal tersebut ditegaskan Allah SWT dalam QS Al-Ahzab ayat 21:“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” Keteladanan Rasulullah mencakup seluruh aspek kehidupan. Rasulullah memberikan contoh dalam shalat dan ibadah, dalam kehidupan keluarga, dalam memperlakukan sahabat, dalam bermasyarakat, serta dalam menunjukkan kasih sayang kepada sesama.Karena itu, cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Cinta tersebut harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah, meneladani akhlak, memperbanyak shalawat, serta menjalankan ajaran yang dibawa beliau. Rasulullah Mencintai UmatnyaDalam kajian tersebut juga disampaikan gambaran tentang besarnya kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya.Rasulullah membedakan antara para sahabat yang hidup dan berjumpa langsung dengan beliau dengan umat yang datang setelah masa beliau. Dalam konteks ini dikenal istilah ashabi untuk para sahabat dan ikhwani yang menggambarkan saudara-saudara beliau dari kalangan umat yang beriman meskipun tidak pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah. Pesan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki perhatian dan kecintaan yang sangat besar kepada umatnya.Maka, umat Islam pun harus membalas kecintaan tersebut dengan beriman kepada beliau, mengikuti petunjuknya, menjaga sunnahnya, serta berusaha menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari. Kepemimpinan adalah AmanahUstadz Purwono juga mengingatkan tentang tanggung jawab manusia sebagai pemimpin.Setiap manusia memiliki amanah sesuai dengan kedudukannya. Terlebih seseorang yang mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin, ia tidak boleh menjadikan jabatan sebagai sumber kebanggaan semata.  Kepemimpinan adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.Seorang pemimpin harus berusaha menjadi sumber kebaikan dan kemaslahatan bagi orang-orang yang dipimpinnya.  Jangan sampai kekuasaan, jabatan, atau pengaruh yang dimiliki justru menjadi sebab munculnya kesengsaraan bagi orang lain.Tanggung jawab kepemimpinan tersebut dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.Keluarga sebagai Amanah PertamaKeluarga merupakan tempat pertama untuk membangun keimanan dan akhlak.  Seorang kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk membimbing, melindungi, mendidik, dan mengarahkan anggota keluarganya menuju kebaikan.Keluarga bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak-anak dan generasi berikutnya.Karena itu, Ustadz Purwono mengajak jamaah untuk tidak menunggu menjadi orang besar dalam melakukan kebaikan.  Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, dan selanjutnya lingkungan masyarakat.Jika keluarga mampu dibangun dengan iman, kasih sayang, keteladanan, dan tanggung jawab, maka akan lahir masyarakat yang lebih baik. Mengambil Ibrah dari Berbagai KisahDalam kajian tersebut, Ustadz Purwono juga menyampaikan sejumlah kisah dan contoh kehidupan sebagai bahan renungan bagi jamaah.Kisah-kisah tersebut mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi.  Karena itu, seseorang harus berhati-hati dalam berbicara, mengambil keputusan, menggunakan kekuasaan, maupun memperlakukan orang lain.Jangan sampai persoalan kecil berkembang menjadi konflik besar karena ketidakmampuan mengendalikan emosi dan perkataan. Sebaliknya, setiap persoalan hendaknya diselesaikan dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan mengutamakan kemaslahatan. Berbagai kisah tersebut bukan sekadar cerita, tetapi harus diambil ibrah atau pelajaran untuk memperbaiki kehidupan. Muhammadiyah Harus Menjadi Gerakan KebaikanPesan-pesan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan persyarikatan Muhammadiyah. Setiap warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menjadikan persyarikatan sebagai sarana dakwah dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Silaturahmi, kebersamaan, saling menghormati, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan menjadi modal penting untuk membangun persyarikatan yang semakin kuat. Kegiatan Pengajian PERAK PCM Godean tidak hanya menjadi forum untuk menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah dan membangun kesadaran bersama. Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian masyarakat. Pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati bukan hanya kebahagiaan duniawi, tetapi kebahagiaan yang membawa keberkahan dan keselamatan hingga akhirat. Jalan menuju kebahagiaan tersebut antara lain ditempuh dengan bersyukur kepada Allah SWT, menjaga tauhid, mencintai dan meneladani Rasulullah SAW, menjalankan amanah, memperbaiki keluarga, serta memberikan …

Loading

Pengajian Ahad Pagi PCM Godean Bahas Makna Tuma’ninah dan Kesempurnaan Shalat

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pengajian Ahad Pagi atau Jihadi PCM Godean kembali dilaksanakan pada Ahad, 23 Agustus 2026, pukul 06.00–07.15 WIB. Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Moh. Wildan Wahied, S.H.I. sebagai narasumber dengan pembahasan tentang kesempurnaan shalat, khususnya tuma’ninah dalam setiap gerakan shalat. Dalam kajiannya, Ustadz Moh. Wildan menjelaskan bahwa ” shalat bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, tetapi ibadah yang harus dilakukan dengan tenang, tertib, dan sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah tuma’ninah, terutama ketika rukuk, i‘tidal, sujud, dan duduk di antara dua sujud.” Beliau mengingatkan hadis tentang seseorang yang melaksanakan salat dengan tergesa-gesa. Rasulullah ﷺ memintanya mengulangi salatnya dan mengajarkan agar setiap gerakan dilakukan dengan tuma’ninah. Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa ketenangan dalam salat merupakan bagian penting dalam menyempurnakan ibadah. Sujud: Saat Terdekat Seorang Hamba dengan AllahSalah satu bagian kajian yang menarik adalah pembahasan mengenai sujud. Ustadz Moh. Wildan menjelaskan bahwa sujud merupakan posisi yang sangat istimewa dalam salat. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang hamba berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya ketika sedang sujud, sehingga dianjurkan untuk memperbanyak doa.Karena itu, sujud hendaknya tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Seorang muslim perlu memastikan posisi tubuhnya benar-benar tenang sebelum berpindah ke gerakan berikutnya. Namun demikian, tuma’ninah tidak berarti harus sujud dalam waktu yang sangat lama. Yang menjadi ukuran adalah tercapainya ketenangan dan kesempurnaan posisi, bukan semata-mata lamanya waktu.Imam Perlu Memperhatikan Kondisi Makmum Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan mengenai sujud yang terlalu lama ketika salat berjamaah. Menanggapi hal tersebut, Ustadz Moh. Wildan menjelaskan bahwa imam hendaknya memperhatikan kondisi para makmum.Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang imam meringankan salat dengan tetap menjaga kesempurnaan rukun dan tuma’ninah, karena di antara makmum terdapat orang yang lemah, sakit, lanjut usia, maupun memiliki keperluan. Dengan demikian, imam tidak perlu terburu-buru, tetapi juga tidak semestinya memperpanjang salat secara berlebihan sehingga menyulitkan makmum.Tuma’ninah Bukan Sekadar Lamanya Gerakan Di akhir penjelasan, Ustadz Moh. Wildan menegaskan bahwa inti tuma’ninah adalah ketenangan dan kesempurnaan dalam setiap gerakan salat. Sujud yang sempurna bukan berarti harus lama, tetapi dilakukan dengan posisi yang benar, tenang, bacaan yang baik, serta menghadirkan hati kepada Allah SWT. Kajian tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar tidak hanya memperhatikan banyaknya ibadah, tetapi juga kualitas dan kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah ﷺ. Pengajian Ahad Pagi atau Jihadi PCM Godean diharapkan terus menjadi ruang untuk meningkatkan pemahaman keislaman sekaligus memperbaiki kualitas ibadah jamaah dalam kehidupan sehari-hari.Semoga setiap shalat dan setiap sujud kita diterima oleh Allah SWT serta menjadi sarana semakin dekat kepada-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Rep H. Wahsan Arifudin S.Pd   PCM Godean

Loading

Pengajian Rutin Ahad Pagi Jihadi PCM Godean: Menguatkan Iman di Tengah Tantangan Akhir Zaman

Godean, Pdmsleman,Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Ahad Pagi atau Jihadi mulai jam 06.00-07.15 WIB pada Ahad, 16 Agustus 2026, bertempat di Masjid Al Huda Godean, Sleman, Yogyakarta. Pengajian yang dihadiri jamaah dari berbagai wilayah di Godean dan sekitarnya ini menghadirkan Ustadz Drs. Suratman sebagai pemateri dengan tema “Tanda-Tanda Akhir Zaman dan Sikap Muslim dalam Menghadapinya.” Dalam kajiannya, Ustadz Drs. Suratman menyampaikan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan banyak petunjuk mengenai berbagai fenomena yang akan terjadi menjelang akhir zaman. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah semakin beratnya menjaga keimanan dan istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam. Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya di akhir zaman seperti seseorang yang menggenggam bara api. Beliau menjelaskan bahwa tantangan umat Islam saat ini semakin kompleks. Berbagai bentuk kemaksiatan, lemahnya pemahaman agama, serta derasnya arus informasi menjadi ujian tersendiri bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran, keteguhan hati, dan komitmen yang kuat untuk tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa Islam akan kembali dianggap asing sebagaimana pada awal kemunculannya. Namun, orang-orang yang tetap istiqamah dan berusaha melakukan perbaikan di tengah kerusakan masyarakat merupakan golongan yang beruntung (ghuraba). Ustadz Drs. Suratman mengajak jamaah untuk tidak sekadar memahami tanda-tanda akhir zaman, tetapi menjadikannya sebagai sarana muhasabah diri. Berbagai fenomena seperti maraknya fitnah, berkurangnya ilmu agama, rusaknya amanah kepemimpinan, dan melemahnya moral masyarakat hendaknya menjadi pengingat agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagai bekal menghadapi zaman yang penuh tantangan, beliau menekankan pentingnya menghidupkan majelis ilmu, memperkuat akidah, memperbanyak ibadah, menjaga ukhuwah Islamiyah, serta senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri. Pengajian Ahad Pagi Jihadi PCM Godean ini berlangsung dengan penuh khidmat dan antusiasme jamaah. Melalui kegiatan rutin ini, PCM Godean berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara benar, memperkuat keimanan, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kegiatan pengajian jihadi dilaksanakan setiap Ahad Pagi di Masjid Alhuda Godean Sleman Yogyakarta dari jam 06.00-07.15 serta ada pasar tiban kebutuhan sehari-hari dari sayur, telor, gorengan dan makanan harian lain. Rep H. wahdan Arifudin S.Pd PCM Godean

Loading

Ustadz H. Hadi Suprapto: Aqidah Adalah Ikatan Kokoh antara Manusia dan Allah SWT

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi (Jihadi) pada Ahad, 9 Agustus 2026, pukul 06.00–07.30 WIB di Masjid Al Huda, Pandean VII, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. Kajian yang dihadiri jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah di wilayah Godean tersebut menghadirkan Ustadz H. Hadi Suprapto, BA sebagai pemateri. Dalam kajiannya, Ustadz H. Hadi Suprapto menjelaskan pentingnya aqidah sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Menurutnya, aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan atau simpul yang sangat kuat. Karena itu, aqidah bukan sekadar pengetahuan atau hafalan, melainkan keyakinan yang mengikat hati manusia dengan Allah SWT. “Aqidah adalah ikatan yang tidak boleh terputus sampai akhir hayat. Seorang mukmin harus menjaga ikatan tersebut dalam seluruh aspek kehidupannya,” jelas beliau. Lebih lanjut, beliau menerangkan bahwa inti aqidah Islam terletak pada kalimat tauhid Laa ilaaha illallah, yang bermakna tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah SWT. Kalimat tersebut merupakan pernyataan penghambaan total kepada Allah sekaligus penolakan terhadap segala bentuk penyekutuan kepada-Nya. Dalam pemaparannya, Ustadz Hadi juga mengingatkan bahwa setiap manusia pada hakikatnya telah mengikrarkan pengakuan kepada Allah SWT sejak alam ruh. Oleh karena itu, syahadat yang diucapkan seorang Muslim merupakan bentuk peneguhan kembali atas perjanjian tersebut. Beliau menekankan bahwa iman merupakan cahaya kehidupan. Hati yang dipenuhi iman akan memiliki arah, keteguhan, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebaliknya, hati yang kosong dari iman akan mudah terombang-ambing oleh godaan dan tantangan zaman. “Aqidah yang kuat akan melahirkan istiqamah. Dengan istiqamah kita mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, menjaga nilai-nilai Islam, serta tetap teguh di tengah berbagai godaan dunia,” tuturnya. Kajian berlangsung dengan penuh perhatian dari jamaah. Peserta tampak antusias mengikuti uraian materi yang mengajak umat Islam untuk terus memperkuat aqidah, menjaga keimanan, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Kajian Ahad Pagi (Jihadi) ini, PCM Godean berharap jamaah semakin memahami pentingnya aqidah sebagai pondasi kehidupan, sehingga mampu menjadi pribadi Muslim yang kokoh, istiqamah, dan senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam hingga akhir hayat.  Dalam penjelasannya, Ustadz H. Hadi Suprapto juga menegaskan bahwa aqidah adalah perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hati dan hati nurani seorang mukmin. Aqidah tidak dibangun semata-mata berdasarkan apa yang dapat dilihat oleh mata atau didengar oleh telinga, melainkan berdasarkan keyakinan yang kokoh terhadap wahyu Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa banyak perkara dalam aqidah yang bersifat gaib, seperti keberadaan Allah SWT, malaikat, hari akhir, surga, neraka, serta qada dan qadar. Meskipun tidak dapat dilihat secara langsung, seluruhnya wajib diimani karena telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. “Aqidah adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati. Dasarnya bukan sekadar penglihatan dan pendengaran, tetapi keimanan yang lahir dari hati yang menerima kebenaran wahyu Allah,” ungkapnya. Menurut beliau, hati memiliki peran yang sangat penting dalam keimanan. Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah SWT, maka seluruh perilaku manusia akan mengikuti keyakinan tersebut. Sebaliknya, apabila hati kosong dari iman, maka seseorang akan mudah terpengaruh oleh keraguan dan berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, umat Islam perlu senantiasa memelihara dan memperkuat aqidah melalui pembelajaran agama, tadabbur Al-Qur’an, memperbanyak ibadah, serta bergaul dengan lingkungan yang dapat menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam kajian tersebut, Ustadz H. Hadi Suprapto menjelaskan bahwa keimanan dan aqidah yang kuat akan melahirkan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Seorang Muslim hendaknya memiliki pendirian yang kokoh, tidak mudah goyah oleh berbagai pengaruh, godaan, maupun tekanan yang datang silih berganti. Beliau mengingatkan bahwa kehidupan selalu menghadirkan ujian. Namun, orang yang memiliki aqidah yang benar akan tetap teguh memegang prinsip-prinsip Islam. Keteguhan itu bukan karena kekuatan dirinya semata, melainkan karena keyakinannya kepada Allah SWT. Sikap jujur juga menjadi salah satu buah dari keimanan. Kejujuran merupakan cerminan hati yang bersih dan keyakinan yang lurus. Oleh karena itu, seorang mukmin harus berusaha menjaga kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan, serta menjauhkan diri dari sikap berpura-pura atau mencari pujian manusia. Dengan aqidah yang kokoh, kejujuran yang terjaga, dan istiqamah dalam beramal, seorang Muslim akan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Rep H Wahdan Arifudin SPd  PCM Godean Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Aqidah: Ikatan Perjanjian yang Tidak Terputus dengan Allah SWT

Godean, Pdmsleman.Or.Id Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan, simpul, perjanjian, atau sesuatu yang terikat sangat kuat. Oleh karena itu, aqidah bukan sekadar keyakinan biasa, melainkan ikatan yang kokoh antara seorang hamba dengan Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa aqidah adalah keyakinan yang mengikat hati sehingga tidak mudah goyah atau terlepas. Ibarat sebuah tali yang diikat kuat, aqidah menyatukan seorang mukmin dengan Tuhannya sepanjang hidup. Kalimat tauhid yang menjadi inti aqidah Islam adalah: Laa ilaaha illallah Artinya, “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” Kata ilah berarti sesembahan atau tuhan. Dengan mengucapkan kalimat tauhid, seorang Muslim menyatakan bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan, tempat bergantung, tempat memohon pertolongan, dan tempat kembali. Aqidah juga berkaitan dengan perjanjian manusia dengan Allah sebelum dilahirkan ke dunia. Allah SWT berfirman: «”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.”(QS. Al-A’raf: 172)» Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh ruh manusia pernah bersaksi di hadapan Allah bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Kesaksian inilah yang menjadi fitrah setiap manusia. Ketika seseorang mengucapkan syahadat: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah maka sesungguhnya ia memperbarui dan meneguhkan kembali perjanjian yang telah diikrarkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, aqidah bukan hanya urusan lisan, tetapi juga urusan hati dan ruh. Jasad manusia memang berasal dari tanah, namun ruh adalah urusan Allah. Sebagaimana firman-Nya: «”Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.”(QS. Al-Isra’: 85)» Di dalam ruh yang Allah tiupkan kepada manusia terdapat fitrah untuk mengenal dan menyembah-Nya. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus menjaga aqidahnya sepanjang hayat. Aqidah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan hingga ajal menjemput. Dengan aqidah yang kokoh, seorang Muslim akan tetap teguh dalam keimanan, istiqamah dalam ibadah, serta senantiasa merasa dekat dengan Allah SWT dalam setiap keadaan. Aqidah menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan arah hidup yang membimbing manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat. Disampaikan oleh Ustadz Hadi Suprapto dalam Pengajian Ahad Pagi Jihadi PCM Godean Ahad, 9 Agustus 2026 di Masjid Al Huda Godean Sleman Yogyakarta Rep H Wahdan Arifudin SPd  PCM Godean Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

UMY dan PCM Godean Perkuat Sinergi Dakwah Berkemajuan Melalui Masjid, AUM dan Pemberdayaan Masyarakat

Godean, PdmSleman.Or.Id– Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Silaturahmi di Pengajian Rutin Ahad Pagi atau Jihadi serta penyerahan dosen dan tendik UMY yang tinggal di Cabang Muhammadiyah Godean berlangsung di Masjid Al Huda Pandean VII Sidoluhur Godean Sleman Yogyakarta (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan persyarikatan dalam mengembangkan dakwah Islam berkemajuan di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Haris Darmawan, S.Pd selaku Ketua PCM Godean menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kehadiran tim dosen serta civitas akademika UMY yang berkenan menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah Godean. Kehadiran UMY diharapkan dapat memberikan penguatan dalam bidang dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). “Kolaborasi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dengan persyarikatan di tingkat cabang merupakan langkah strategis untuk mempercepat kemajuan dakwah dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan dukungan keilmuan dan pengalaman akademik yang dimiliki UMY, berbagai program pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan” ungkap Haris Dalam tausiyahnya, Ustadz Gita Danupranata, S.E., M.M. menegaskan bahwa seluruh Amal Usaha Muhammadiyah didirikan bukan semata-mata sebagai lembaga pelayanan, melainkan sebagai instrumen dakwah yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Oleh karena itu, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, maupun lembaga sosial Muhammadiyah harus senantiasa menjaga ruh persyarikatan dan nilai-nilai dakwah dalam setiap aktivitasnya. “Amal usaha Muhammadiyah harus menjadi corong dakwah Persyarikatan. Keberadaannya bukan hanya untuk melayani masyarakat, tetapi juga untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang berkemajuan dan mencerahkan,” papar Ustadz Gita. Selain membahas peran amal usaha, Ustadz Gita Danupranata yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta juga menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk masalah lingkungan, pengelolaan sampah, pendidikan, dan penguatan karakter generasi muda.Muhammadiyah diharapkan mampu hadir sebagai bagian dari solusi melalui gerakan dakwah yang membumi dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tujuan tertinggi dakwah Islam adalah menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, dakwah Muhammadiyah harus diwujudkan dalam bentuk karya nyata yang memberikan manfaat bagi sesama manusia, lingkungan, dan kehidupan secara luas. Pada kesempatan tersebut juga ditekankan pentingnya mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga harus menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, konsultasi masyarakat, dan penguatan ukhuwah Islamiyah. “Apabila persoalan masyarakat dapat dibahas dan dicarikan solusi di masjid, maka masjid benar-benar akan menjadi pusat kehidupan umat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW,” jelasnya. Ustadz Gita Danupranata yang juga aktif di lingkungan Majelis Tabligh Muhammadiyah mengajak seluruh jamaah untuk memberi ruang yang lebih luas kepada generasi muda dalam memakmurkan masjid. Menurutnya, banyak anak muda memiliki potensi besar, namun sering kali belum mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dan mengembangkan kreativitasnya dalam kegiatan masjid. “Anak-anak muda bukan tidak mau ke masjid. Mereka perlu diberikan kepercayaan, kesempatan, dan panggung untuk berkontribusi. Jika itu dilakukan, masjid akan menjadi lebih hidup dan dekat dengan generasi penerus,” tuturnya. Dalam sesi dialog, peserta juga membahas tantangan organisasi Muhammadiyah, khususnya terkait kader yang kurang aktif setelah terpilih menjadi pimpinan. Menanggapi hal tersebut, Ustadz Gita Danupranata menekankan pentingnya pendekatan silaturahmi, komunikasi personal, dan budaya saling menguatkan dalam organisasi. “Jangan mudah meninggalkan kader yang mulai jarang hadir. Datangi, ajak berbicara, dan bangun kembali semangat perjuangannya. Muhammadiyah dibangun dengan ukhuwah dan kebersamaan,” pesannya. Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban tersebut ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan dakwah Muhammadiyah, keberkahan amal usaha, kesehatan seluruh warga persyarikatan, serta kemajuan bangsa dan umat. Sebagai simbol penguatan kerja sama, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyerahkan bantuan dan cendera mata secara simbolis oleh Sub Direktorat Dakwah dan Internalisasi AIK, Ustadz Mukhlis Rahmanto, Lc., M.A., Ph.D kepada PCM Godean. Penyerahan tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat sinergi dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan program-program Muhammadiyah yang berkemajuan. Melalui kolaborasi yang terus dibangun antara UMY dan PCM Godean, diharapkan lahir berbagai program inovatif yang mampu memperkuat dakwah Islam, memakmurkan masjid, mengembangkan amal usaha, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Kegiatan ini cukup meriah dan dihadiri oleh 400an jamaah termasuk 20 orang dosen dan tendik dari UMY Yogyakarta. Rep H. Wahdan Arifudin SP.d PCM Godean

Loading

نصيحة للاعبي الكازينو الجدد: قبل التسجيل في أي منصة للمراهنات، تحقق من سرعة إجراءات السحب وتنوع ألعاب الطاولة المباشرة، وتعرّف على عرض الترحيب الخاص بـ 1xbet مصر لتجربة آمنة وممتعة.
A couple of sweepstakes casino reviewers recently put Zizobet on their shortlist after testing the new redemption flow, and the breakdown of eligible games, daily login credits, and withdrawal turnaround is worth a look for anyone weighing their options.
Pour les joueurs francophones qui explorent les alternatives de mise en dehors du cadre régulé, plusieurs guides spécialisés passent en revue la fiabilité et les cotes proposées par les opérateurs disponibles, et l'on trouve notamment une analyse détaillée du paris sportif hors ARJEL qui examine les conditions d'inscription ainsi que les méthodes de paiement acceptées par ces plateformes.
Wer ein seriöses Online-Angebot sucht, achtet auf Lizenz, Spielauswahl und faire Bonusbedingungen, bevor er sich bei casino Zizobet anmeldet und dort Echtgeldspiele ausprobiert.
Veteran slots players know that chasing jackpots on the reels feels best when paired with disciplined bankroll management, so most serious spinners read up on volatility ratings and bonus buy features before they load a new title. Comparing welcome packages, free spin offers, and loyalty rewards across different brands helps casual bettors stretch their deposit further while keeping the entertainment value high. For a deeper look at how wagering requirements, RTP disclosures, and licensing jurisdictions shape the modern online casino landscape, check out https://borroloolahouseboats.com/ where regular updates and curated guides keep enthusiasts informed about the latest iGaming releases, live dealer rooms, and progressive prize pools across the industry.
When comparing new gaming platforms, I always look for a balanced mix of slot variety, fair bonus terms, and reliable withdrawal speeds; Bananzia Casino ticks those boxes with a user-friendly interface and a diverse game library.
Online gokken blijft populair onder Nederlandse spelers die houden van tafelspellen, live casino-ervaringen en moderne videoslots. Wie op zoek is naar een overzichtelijk platform met aantrekkelijke bonussen en een uitgebreid spelaanbod, kan terecht bij Magius Casino, waar registratie eenvoudig verloopt, stortingen snel worden verwerkt en de klantenservice dag en nacht bereikbaar is voor vragen over spelregels of accountinstellingen.
Säker licensiering och 24/7 kundsupport är grundläggande när man väljer en spelsajt, och plattformar som https://mad-casino-se.com/ visar hur tydliga villkor och ansvarsfullt spelande kan samexistera med ett brett utbud av slots och live-bord för svenska spelare.
Steeds meer Nederlanders ontdekken de spanning van online gokken, waarbij ze op zoek gaan naar een betrouwbaar platform met een uitgebreid aanbod. Nyx Bets Casino voldoet aan deze wens met een ruime collectie gokkasten, tafelspellen en live casinospellen, aangevuld met aantrekkelijke bonussen en een gebruiksvriendelijke interface.
Modern casino reviewers tend to weigh bonus wagering terms, slot RTP listings, and live dealer game variety before publishing their take, and Odinfortune often pops up in those side-by-side breakdowns.
Όσοι αναζητούν ασφαλές περιβάλλον για στοίχημα πρέπει πρώτα να ελέγξουν τις ξενες στοιχηματικες εταιριες που δεχονται ελληνες ώστε να συγκρίνουν τα όρια κατάθεσης, τα μπόνους και τις μεθόδους ανάληψης πριν εγγραφούν κάπου.
Australian players looking for a polished online gaming hub often compare what Zoome brings to the table against locally licensed competitors, noting its broad pokies catalogue, AUD-friendly banking, and a loyalty setup that feels tuned to the way punters in Sydney, Melbourne, and Perth tend to play across long weekend sessions.
Wie graag verschillende online casino's naast elkaar zet, kan letten op de mobiele app en de snelheid van uitbalingen, en bekijkt daarnaast Casoola casino Nederland voor een actueel overzicht.
Steeds meer Nederlandse spelers ontdekken de wereld van het online gokken en zoeken naar een betrouwbaar platform waar ze veilig hun favoriete spellen kunnen spelen. Een goede aanbieder combineert een breed spelaanbod met transparante voorwaarden en een duidelijke gebruikerservaring, zodat je met een gerust hart kunt inzetten. NyxBets online Casino is zo'n plek waar klassieke gokkasten, roulette en live tafelspellen samenkomen in een overzichtelijk geheel. Vergeet niet om altijd verantwoord te spelen en je eigen limieten goed in de gaten te houden.
Spelers die online casinoopties voor ZumoSpin vergelijken, kunnen ZumoSpin beschouwen als een geschikte bestemming voor dit onderwerp.
Wie in Nederland graag een gokje waagt online, let tegenwoordig scherp op betrouwbaarheid, snelle uitbetalingen en een overzichtelijk spelaanbod; een platform als KIKI weet daar met transparante voorwaarden en een breed scala aan slots en live tafelspelenvolop op in te spelen.
Players looking for hassle-free ways to enjoy classic table games and slots online often compare welcome bonuses and payout speeds before signing up, and a solid resource like ModernGhana - bingo sites no ID verification UK can help simplify the decision when you want to skip lengthy signup checks and get straight to the action.
Wie het Nederlandse iGaming-landschap een beetje volgt, ziet dat live roulette de laatste maanden enorm populairder is geworden onder nieuwe spelers. Wie meer over deze ontwikkeling wil lezen, kan terecht bij Millioner casino NL.
Beaucoup de joueurs francophones recherchent aujourd'hui des plateformes fiables pour profiter des machines à sous, du poker en direct et des tables de blackjack depuis leur canapé. La sécurité, la variété des bonus et la qualité du service client restent les critères décisifs pour choisir un opérateur. Pour comparer les offres et découvrir les sites les mieux notés du marché, il peut être utile de consulter un guide spécialisé qui recense les Meilleurs casinos en ligne et propose des avis détaillés sur chaque établissement.
Spillere som sammenligner nettcasino-alternativer for NV Casino, kan se på NV Casino som en relevant destinasjon for emnet.
Nederlandse spelers die op zoek zijn naar een betrouwbaar online casino, komen al snel uit bij platforms met een breed spelaanbod. Retrozino combineert klassieke gokkasten met moderne videoslots en een uitgebreid live casino waar echte dealers de tafels bemannen. Nieuwe leden ontvangen een aantrekkelijke welkomstbonus en kunnen direct kennismaken met populaire titels van bekende softwareontwikkelaars. Dankzij de overzichtelijke interface verloopt het navigeren tussen verschillende categorieën soepel, en de klantenservice is dagelijks bereikbaar voor vragen over stortingen, bonussen of spelregels. Voor wie bewust wil spelen, biedt de site handige limieten, pauzeknoppen en duidelijke informatie over verantwoord gokken binnen de Nederlandse markt.
Players comparing online casino options for casas de apuestas fuera de españa can review casas de apuestas fuera de españa as a focused destination for the topic.