Pengajian Rutin Ahad Pagi Jihadi PCM Godean: Menguatkan Iman di Tengah Tantangan Akhir Zaman

Godean, Pdmsleman,Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian Rutin Ahad Pagi atau Jihadi mulai jam 06.00-07.15 WIB pada Ahad, 16 Agustus 2026, bertempat di Masjid Al Huda Godean, Sleman, Yogyakarta. Pengajian yang dihadiri jamaah dari berbagai wilayah di Godean dan sekitarnya ini menghadirkan Ustadz Drs. Suratman sebagai pemateri dengan tema “Tanda-Tanda Akhir Zaman dan Sikap Muslim dalam Menghadapinya.” Dalam kajiannya, Ustadz Drs. Suratman menyampaikan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan banyak petunjuk mengenai berbagai fenomena yang akan terjadi menjelang akhir zaman. Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah semakin beratnya menjaga keimanan dan istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam. Rasulullah SAW mengibaratkan orang yang tetap berpegang teguh pada agamanya di akhir zaman seperti seseorang yang menggenggam bara api. Beliau menjelaskan bahwa tantangan umat Islam saat ini semakin kompleks. Berbagai bentuk kemaksiatan, lemahnya pemahaman agama, serta derasnya arus informasi menjadi ujian tersendiri bagi kaum muslimin. Oleh karena itu, diperlukan kesabaran, keteguhan hati, dan komitmen yang kuat untuk tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa Islam akan kembali dianggap asing sebagaimana pada awal kemunculannya. Namun, orang-orang yang tetap istiqamah dan berusaha melakukan perbaikan di tengah kerusakan masyarakat merupakan golongan yang beruntung (ghuraba). Ustadz Drs. Suratman mengajak jamaah untuk tidak sekadar memahami tanda-tanda akhir zaman, tetapi menjadikannya sebagai sarana muhasabah diri. Berbagai fenomena seperti maraknya fitnah, berkurangnya ilmu agama, rusaknya amanah kepemimpinan, dan melemahnya moral masyarakat hendaknya menjadi pengingat agar umat Islam semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagai bekal menghadapi zaman yang penuh tantangan, beliau menekankan pentingnya menghidupkan majelis ilmu, memperkuat akidah, memperbanyak ibadah, menjaga ukhuwah Islamiyah, serta senantiasa bertaubat dan memperbaiki diri. Pengajian Ahad Pagi Jihadi PCM Godean ini berlangsung dengan penuh khidmat dan antusiasme jamaah. Melalui kegiatan rutin ini, PCM Godean berharap masyarakat semakin memahami ajaran Islam secara benar, memperkuat keimanan, serta mampu menghadapi berbagai tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kegiatan pengajian jihadi dilaksanakan setiap Ahad Pagi di Masjid Alhuda Godean Sleman Yogyakarta dari jam 06.00-07.15 serta ada pasar tiban kebutuhan sehari-hari dari sayur, telor, gorengan dan makanan harian lain. Rep H. wahdan Arifudin S.Pd PCM Godean

Loading

Ustadz H. Hadi Suprapto: Aqidah Adalah Ikatan Kokoh antara Manusia dan Allah SWT

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Kajian Ahad Pagi (Jihadi) pada Ahad, 9 Agustus 2026, pukul 06.00–07.30 WIB di Masjid Al Huda, Pandean VII, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. Kajian yang dihadiri jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah di wilayah Godean tersebut menghadirkan Ustadz H. Hadi Suprapto, BA sebagai pemateri. Dalam kajiannya, Ustadz H. Hadi Suprapto menjelaskan pentingnya aqidah sebagai fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Menurutnya, aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan atau simpul yang sangat kuat. Karena itu, aqidah bukan sekadar pengetahuan atau hafalan, melainkan keyakinan yang mengikat hati manusia dengan Allah SWT. “Aqidah adalah ikatan yang tidak boleh terputus sampai akhir hayat. Seorang mukmin harus menjaga ikatan tersebut dalam seluruh aspek kehidupannya,” jelas beliau. Lebih lanjut, beliau menerangkan bahwa inti aqidah Islam terletak pada kalimat tauhid Laa ilaaha illallah, yang bermakna tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah SWT. Kalimat tersebut merupakan pernyataan penghambaan total kepada Allah sekaligus penolakan terhadap segala bentuk penyekutuan kepada-Nya. Dalam pemaparannya, Ustadz Hadi juga mengingatkan bahwa setiap manusia pada hakikatnya telah mengikrarkan pengakuan kepada Allah SWT sejak alam ruh. Oleh karena itu, syahadat yang diucapkan seorang Muslim merupakan bentuk peneguhan kembali atas perjanjian tersebut. Beliau menekankan bahwa iman merupakan cahaya kehidupan. Hati yang dipenuhi iman akan memiliki arah, keteguhan, dan kekuatan dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebaliknya, hati yang kosong dari iman akan mudah terombang-ambing oleh godaan dan tantangan zaman. “Aqidah yang kuat akan melahirkan istiqamah. Dengan istiqamah kita mampu menghadapi berbagai persoalan hidup, menjaga nilai-nilai Islam, serta tetap teguh di tengah berbagai godaan dunia,” tuturnya. Kajian berlangsung dengan penuh perhatian dari jamaah. Peserta tampak antusias mengikuti uraian materi yang mengajak umat Islam untuk terus memperkuat aqidah, menjaga keimanan, serta mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui Kajian Ahad Pagi (Jihadi) ini, PCM Godean berharap jamaah semakin memahami pentingnya aqidah sebagai pondasi kehidupan, sehingga mampu menjadi pribadi Muslim yang kokoh, istiqamah, dan senantiasa berpegang teguh pada ajaran Islam hingga akhir hayat.  Dalam penjelasannya, Ustadz H. Hadi Suprapto juga menegaskan bahwa aqidah adalah perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hati dan hati nurani seorang mukmin. Aqidah tidak dibangun semata-mata berdasarkan apa yang dapat dilihat oleh mata atau didengar oleh telinga, melainkan berdasarkan keyakinan yang kokoh terhadap wahyu Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa banyak perkara dalam aqidah yang bersifat gaib, seperti keberadaan Allah SWT, malaikat, hari akhir, surga, neraka, serta qada dan qadar. Meskipun tidak dapat dilihat secara langsung, seluruhnya wajib diimani karena telah diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya. “Aqidah adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati. Dasarnya bukan sekadar penglihatan dan pendengaran, tetapi keimanan yang lahir dari hati yang menerima kebenaran wahyu Allah,” ungkapnya. Menurut beliau, hati memiliki peran yang sangat penting dalam keimanan. Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah SWT, maka seluruh perilaku manusia akan mengikuti keyakinan tersebut. Sebaliknya, apabila hati kosong dari iman, maka seseorang akan mudah terpengaruh oleh keraguan dan berbagai penyimpangan. Oleh karena itu, umat Islam perlu senantiasa memelihara dan memperkuat aqidah melalui pembelajaran agama, tadabbur Al-Qur’an, memperbanyak ibadah, serta bergaul dengan lingkungan yang dapat menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam kajian tersebut, Ustadz H. Hadi Suprapto menjelaskan bahwa keimanan dan aqidah yang kuat akan melahirkan keteguhan dalam menjalani kehidupan. Seorang Muslim hendaknya memiliki pendirian yang kokoh, tidak mudah goyah oleh berbagai pengaruh, godaan, maupun tekanan yang datang silih berganti. Beliau mengingatkan bahwa kehidupan selalu menghadirkan ujian. Namun, orang yang memiliki aqidah yang benar akan tetap teguh memegang prinsip-prinsip Islam. Keteguhan itu bukan karena kekuatan dirinya semata, melainkan karena keyakinannya kepada Allah SWT. Sikap jujur juga menjadi salah satu buah dari keimanan. Kejujuran merupakan cerminan hati yang bersih dan keyakinan yang lurus. Oleh karena itu, seorang mukmin harus berusaha menjaga kejujuran dalam perkataan maupun perbuatan, serta menjauhkan diri dari sikap berpura-pura atau mencari pujian manusia. Dengan aqidah yang kokoh, kejujuran yang terjaga, dan istiqamah dalam beramal, seorang Muslim akan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan serta tetap berada di jalan yang diridhai Allah SWT. Rep H Wahdan Arifudin SPd  PCM Godean Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Aqidah: Ikatan Perjanjian yang Tidak Terputus dengan Allah SWT

Godean, Pdmsleman.Or.Id Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti ikatan, simpul, perjanjian, atau sesuatu yang terikat sangat kuat. Oleh karena itu, aqidah bukan sekadar keyakinan biasa, melainkan ikatan yang kokoh antara seorang hamba dengan Allah SWT. Para ulama menjelaskan bahwa aqidah adalah keyakinan yang mengikat hati sehingga tidak mudah goyah atau terlepas. Ibarat sebuah tali yang diikat kuat, aqidah menyatukan seorang mukmin dengan Tuhannya sepanjang hidup. Kalimat tauhid yang menjadi inti aqidah Islam adalah: Laa ilaaha illallah Artinya, “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” Kata ilah berarti sesembahan atau tuhan. Dengan mengucapkan kalimat tauhid, seorang Muslim menyatakan bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan penghambaan, tempat bergantung, tempat memohon pertolongan, dan tempat kembali. Aqidah juga berkaitan dengan perjanjian manusia dengan Allah sebelum dilahirkan ke dunia. Allah SWT berfirman: «”Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul, kami bersaksi.”(QS. Al-A’raf: 172)» Ayat ini menjelaskan bahwa seluruh ruh manusia pernah bersaksi di hadapan Allah bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa. Kesaksian inilah yang menjadi fitrah setiap manusia. Ketika seseorang mengucapkan syahadat: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah maka sesungguhnya ia memperbarui dan meneguhkan kembali perjanjian yang telah diikrarkan di hadapan Allah SWT. Karena itu, aqidah bukan hanya urusan lisan, tetapi juga urusan hati dan ruh. Jasad manusia memang berasal dari tanah, namun ruh adalah urusan Allah. Sebagaimana firman-Nya: «”Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.”(QS. Al-Isra’: 85)» Di dalam ruh yang Allah tiupkan kepada manusia terdapat fitrah untuk mengenal dan menyembah-Nya. Oleh sebab itu, seorang mukmin harus menjaga aqidahnya sepanjang hayat. Aqidah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan hingga ajal menjemput. Dengan aqidah yang kokoh, seorang Muslim akan tetap teguh dalam keimanan, istiqamah dalam ibadah, serta senantiasa merasa dekat dengan Allah SWT dalam setiap keadaan. Aqidah menjadi sumber kekuatan, ketenangan, dan arah hidup yang membimbing manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat. Disampaikan oleh Ustadz Hadi Suprapto dalam Pengajian Ahad Pagi Jihadi PCM Godean Ahad, 9 Agustus 2026 di Masjid Al Huda Godean Sleman Yogyakarta Rep H Wahdan Arifudin SPd  PCM Godean Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

UMY dan PCM Godean Perkuat Sinergi Dakwah Berkemajuan Melalui Masjid, AUM dan Pemberdayaan Masyarakat

Godean, PdmSleman.Or.Id– Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean bersama Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar Silaturahmi di Pengajian Rutin Ahad Pagi atau Jihadi serta penyerahan dosen dan tendik UMY yang tinggal di Cabang Muhammadiyah Godean berlangsung di Masjid Al Huda Pandean VII Sidoluhur Godean Sleman Yogyakarta (2/8/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan persyarikatan dalam mengembangkan dakwah Islam berkemajuan di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Haris Darmawan, S.Pd selaku Ketua PCM Godean menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kehadiran tim dosen serta civitas akademika UMY yang berkenan menjalin kerja sama dengan Muhammadiyah Godean. Kehadiran UMY diharapkan dapat memberikan penguatan dalam bidang dakwah, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). “Kolaborasi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dengan persyarikatan di tingkat cabang merupakan langkah strategis untuk mempercepat kemajuan dakwah dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Dengan dukungan keilmuan dan pengalaman akademik yang dimiliki UMY, berbagai program pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan secara lebih terarah dan berkelanjutan” ungkap Haris Dalam tausiyahnya, Ustadz Gita Danupranata, S.E., M.M. menegaskan bahwa seluruh Amal Usaha Muhammadiyah didirikan bukan semata-mata sebagai lembaga pelayanan, melainkan sebagai instrumen dakwah yang bertujuan menghadirkan kemaslahatan bagi umat. Oleh karena itu, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, maupun lembaga sosial Muhammadiyah harus senantiasa menjaga ruh persyarikatan dan nilai-nilai dakwah dalam setiap aktivitasnya. “Amal usaha Muhammadiyah harus menjadi corong dakwah Persyarikatan. Keberadaannya bukan hanya untuk melayani masyarakat, tetapi juga untuk menyebarluaskan nilai-nilai Islam yang berkemajuan dan mencerahkan,” papar Ustadz Gita. Selain membahas peran amal usaha, Ustadz Gita Danupranata yang juga Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta juga menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk masalah lingkungan, pengelolaan sampah, pendidikan, dan penguatan karakter generasi muda.Muhammadiyah diharapkan mampu hadir sebagai bagian dari solusi melalui gerakan dakwah yang membumi dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Ia menegaskan bahwa tujuan tertinggi dakwah Islam adalah menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, dakwah Muhammadiyah harus diwujudkan dalam bentuk karya nyata yang memberikan manfaat bagi sesama manusia, lingkungan, dan kehidupan secara luas. Pada kesempatan tersebut juga ditekankan pentingnya mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah ritual, tetapi juga harus menjadi pusat pendidikan, pemberdayaan ekonomi, pelayanan sosial, konsultasi masyarakat, dan penguatan ukhuwah Islamiyah. “Apabila persoalan masyarakat dapat dibahas dan dicarikan solusi di masjid, maka masjid benar-benar akan menjadi pusat kehidupan umat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW,” jelasnya. Ustadz Gita Danupranata yang juga aktif di lingkungan Majelis Tabligh Muhammadiyah mengajak seluruh jamaah untuk memberi ruang yang lebih luas kepada generasi muda dalam memakmurkan masjid. Menurutnya, banyak anak muda memiliki potensi besar, namun sering kali belum mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dan mengembangkan kreativitasnya dalam kegiatan masjid. “Anak-anak muda bukan tidak mau ke masjid. Mereka perlu diberikan kepercayaan, kesempatan, dan panggung untuk berkontribusi. Jika itu dilakukan, masjid akan menjadi lebih hidup dan dekat dengan generasi penerus,” tuturnya. Dalam sesi dialog, peserta juga membahas tantangan organisasi Muhammadiyah, khususnya terkait kader yang kurang aktif setelah terpilih menjadi pimpinan. Menanggapi hal tersebut, Ustadz Gita Danupranata menekankan pentingnya pendekatan silaturahmi, komunikasi personal, dan budaya saling menguatkan dalam organisasi. “Jangan mudah meninggalkan kader yang mulai jarang hadir. Datangi, ajak berbicara, dan bangun kembali semangat perjuangannya. Muhammadiyah dibangun dengan ukhuwah dan kebersamaan,” pesannya. Kegiatan yang berlangsung penuh keakraban tersebut ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan dakwah Muhammadiyah, keberkahan amal usaha, kesehatan seluruh warga persyarikatan, serta kemajuan bangsa dan umat. Sebagai simbol penguatan kerja sama, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyerahkan bantuan dan cendera mata secara simbolis oleh Sub Direktorat Dakwah dan Internalisasi AIK, Ustadz Mukhlis Rahmanto, Lc., M.A., Ph.D kepada PCM Godean. Penyerahan tersebut menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat sinergi dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan program-program Muhammadiyah yang berkemajuan. Melalui kolaborasi yang terus dibangun antara UMY dan PCM Godean, diharapkan lahir berbagai program inovatif yang mampu memperkuat dakwah Islam, memakmurkan masjid, mengembangkan amal usaha, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Kegiatan ini cukup meriah dan dihadiri oleh 400an jamaah termasuk 20 orang dosen dan tendik dari UMY Yogyakarta. Rep H. Wahdan Arifudin SP.d PCM Godean

Loading

PRA Sidoarum Raih Juara II Lomba Penulisan Sejarah PRA se-Kapanewon Godean

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Sidoarum berhasil meraih Juara II dengan judul “Aisyiyah dan Gerakan Perempuan” dalam Lomba Penulisan Sejarah PRA se-Kapanewon Godean yang diselenggarakan sebagai salah satu rangkaian kegiatan Milad ‘Aisyiyah ke-198. Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus bentuk apresiasi atas upaya mendokumentasikan perjalanan dakwah dan pengabdian PRA Sidoarum selama puluhan tahun. Dalam naskah yang dilombakan, tim penulis menyusun paparan sejarah dalam lima bab. Dengan berbekal berbagai sumber data, antara lain wawancara dengan tokoh dan kader, arsip organisasi, foto dokumentasi, serta berbagai sumber pendukung lainnya, naskah tersebut kemudian bisa mengungkap bahwa awal mula lahirnya PRA Sidoarum dilandasi adanya rasa keprihatinan dengan keadaan perempuan dan keinginan untuk berperan aktif dalam gerakan dakwah Islam yang diwujudkan melalui kegiatan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan. Sejarah mencatat bahwa PRA Sidoarum berdiri pada 17 Juli 1968 atau 15 Dzulhijjah 1387 H. Organisasi ini dirintis oleh Ibu Hindun dan teman-teman beliau serta termasuk putri beliau dan beberapa ibu dari berbagai padukuhan di wilayah Sidoarum dalam fase perkembangan organisasi selanjutnya. Pada masa awal, kegiatan masih dilakukan secara sederhana dan bergilir dari rumah ke rumah, meliputi pengajian rutin, belajar mengaji bersama, rapat, serta diskusi mengenai persoalan sosial kemasyarakatan. Perjalanan organisasi ranting ternyata tidak selalu mudah. Pada periode 1968–2004, berbagai kendala masih dihadapi. Organisasi ranting masih belum mempunyai kantor, administrasi yang sederhana, jumlah anggota pimpinan yang masih sedikit, dan pendanaan yang sering kurang. Namun sejak tahun 2005 hingga sekarang, PRA Sidoarum menunjukkan perkembangan yang pesat. Salah satu tonggak pentingnya adalah pendirian Taman Penitipan Anak yang kemudian berkembang menjadi Kelompok Bermain dan TK ABA “Bunda Aisyah”. Dari pendirian TPA lalu menginspirasi lahirnya berbagai program unggulan lain seperti Pengajian Hari Libur Nasional, Pengajian Keliling, dan Arisan Qurban. Selain bergerak di bidang pendidikan, PRA Sidoarum juga aktif dalam dakwah sosial melalui gerakan Al-Ma’un dan pengentasan buta huruf Al-Qur’an, bidang ekonomi melalui Koperasi WARMUSS, serta bidang kesehatan melalui layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Dalam penutup naskah, para pengurus PRA Sidoarum tetap mengenang jasa para pendiri dan mengabadikan cerita semangat perjuangan kader terdahulu sebagai tonggak sejarah. PRA Sidoarum diharapkan terus menjadi pelopor gerakan perempuan Islam berkemajuan serta bisa selalu menjaga jejak dakwah ranting sebagai fondasi dalam mewujudkan peradaban yang adil, sejahtera, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Penulis Hp 081915495060

Loading

 Milad ke-109 Aisyiyah, PRM dan PRA Sidoarum Lakukan Soft Launching Griya Syiar Muhammadiyah Aisyiyah [GSMA]

Godean,Pdmsleman.Or.Id Momentum peringatan Milad ke-109 Aisyiyah di wilayah Sleman ditandai dengan capaian penting di bidang infrastruktur dakwah dan pendidikan. Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Sidoarum menggelar Pengajian Akbar sekaligus Soft Launching Griya Syiar Muhammadiyah Aisyiyah (GSMA) Sidoarum, Godean, Sleman, pada Selasa (16/5/2026). Acara yang berlangsung khidmat di depan Gedung GSMA tersebut bertepatan dengan momentum tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah. Ketua Panitia Pembangunan, Miftahulhaq, mengungkapkan bahwa berdirinya gedung pusat syiar ini melalui proses perjuangan yang cukup panjang. Prosesnya telah dimulai sejak pembebasan lahan pada tahun 2022, sementara konstruksi fisik bangunan baru dimulai pada Mei 2025 lalu. “Rencananya gedung ini ingin dibangun dua lantai, tetapi untuk saat ini baru terealisasi satu lantai. Seluruh pembiayaan pembangunan ini murni berasal dari para donatur, baik perorangan maupun lembaga,” ujar Miftahulhaq saat memberikan laporan kepanitiaan. Kehadiran Griya Syiar ini dipastikan langsung membawa dampak nyata bagi sektor pendidikan anak usia dini di lingkungan setempat. Ketua PRA Sidoarum, Ana Rusmiyati, menjelaskan bahwa di dalam Gedung Syiar tersebut, terdapat dua ruang keas baru yang digunakan khusus untuk kelas tambahan TK Aisyiyah Bunda Aisyah. “Mudah-mudahan fasilitas baru ini menambah semangat Ibu-ibu Aisyiyah Sidoarum untuk terus berkhidmat dalam dakwah, baik di bidang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun bidang lainnya,” tutur Ana penuh harap. Acara ini turut dihadiri langsung oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Dr. Hj. Siti Aisyah, M.Ag. Dalam tausiyahnya di hadapan ratusan jamaah, Siti Aisyah mengajak seluruh kader perempuan Muhammadiyah tersebut untuk terus merawat semangat berdakwah demi kemuliaan manusia, sekaligus dalam upaya mewujudkan Islam Rahmatan lil ‘Alamin. Ia juga menyampaikan apresiasi mendalam atas kolaborasi solid yang ditunjukkan oleh pengurus persyarikatan di tingkat ranting. “Saya merasa sangat bahagia, PRM dan PRA Sidoarum mampu bersinergi dengan baik dalam dakwah hingga berhasil membangun Gedung Syiar ini. Semoga gedung ini betul-betul bisa menyiarkan dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah, khususnya di wilayah Sidoarum ini,” pungkas Siti Aisyah. Rep Miftahudin

Loading

Pelepasan Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Godean Berlangsung Khidmat dengan Nuansa Budaya Jawa

Godean, Pdmsleman.Or.Id Suasana haru, bangga, dan penuh kebersamaan mewarnai acara Pelepasan dan Penyerahan Kembali Siswa Kelas IX SMP Muhammadiyah 2 Godean yang digelar di Balai Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Mengusung tema “Nggayuh Prestasi Luhur Mbangun Nagari”, kegiatan berlangsung khidmat dengan balutan budaya Jawa yang begitu kental.Sejak awal acara, para tamu disambut nuansa tradisional yang elegan. Murid, guru, dan karyawan mengenakan busana adat Jawa, sementara pembawa acara, Nurkasiadi, memandu jalannya kegiatan menggunakan bahasa Jawa. Sentuhan budaya tersebut tidak hanya menambah kekhidmatan acara, tetapi juga menjadi sarana menanamkan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa kepada generasi muda. Dan dipra acara ditampilkan seni tapak suci oleh 3 murid yang cukup memukau.Dalam pembacaan hasil kelulusan, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Ari Niken Tyastutik, menyampaikan bahwa SMP Muhammadiyah 2 Godean berhasil meluluskan seluruh siswa kelas IX Tahun Pelajaran 2025/2026.“Alhamdulillah, sebanyak 90 siswa yang terdiri atas 62 siswa putra dan 28 siswa putri dinyatakan lulus 100 persen,” ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah, orang tua, dan para siswa yang telah menyelesaikan proses pendidikan selama tiga tahun dengan penuh perjuangan.Dalam sambutan pembukaan, Kepala SMP Muhammadiyah 2 Godean, Wahdan Arifudin, menyampaikan sejumlah pesan penting sebagai bekal para lulusan dalam menapaki jenjang pendidikan berikutnya.“Jagalah nama baik sekolah dan almamater SMP Muhammadiyah 2 Godean di mana pun kalian berada. Tunjukkan sikap yang baik sehingga masyarakat mengenal lulusan Muhammadiyah sebagai pribadi yang berakhlak mulia dan berprestasi,” pesannya.Ia juga mengingatkan para lulusan untuk senantiasa menjaga ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, terutama dalam melaksanakan ibadah salat lima waktu secara tertib dan istiqamah.“Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kualitas iman, takwa, dan akhlak yang dimiliki,” tegasnya.Selain itu, Wahdan berharap para lulusan tetap menjadi kader Muhammadiyah yang mampu membawa nilai-nilai Islam Berkemajuan di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Ia mendorong para siswa untuk terus belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita.“Teruslah belajar, jangan mudah menyerah, dan yakini bahwa masa depan yang gemilang hanya dapat diraih dengan usaha, doa, dan kesungguhan,” ujarnya.Menutup sambutannya, ia berpesan agar para lulusan senantiasa menghormati orang tua dan guru serta menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.Taklupa disampaikan ucapan terimakasih atas kepercayaan orang tua/wali mendidik putra-putrinya di SMP Muhammadiyah 2 Godean seraya meminta maaf jika terdapat kekurangan dan sudah berusaha meningkatkan layanan pendidikan lebih baik. “Dengan demikian setelah melewati masa pendidikan di SMP Muhammadiyah 2 Godean dengan ini kami kembalikan kepada orang tua dan wali untuk seterusnya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.” Pada kesempatan tersebut, anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Sri Maryani, M.Pd., berkenan mewisuda tiga siswa terbaik sekolah, yaitu Alfino, Favian, dan Reyna. Sementara itu, penghargaan prestasi bidang keagamaan diraih oleh Ghina, sedangkan prestasi bidang olahraga diraih oleh Tegar.Ketua Komite Sekolah, Suripto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa prosesi wisuda dan pelepasan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.“Wisuda ini adalah langkah awal untuk terus meningkatkan diri dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kami juga berharap orang tua terus mendampingi dan memberikan dukungan kepada putra-putrinya,” tuturnya.Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean, Haris Darmawan, mengingatkan pentingnya menyiapkan generasi yang kuat dan berkualitas sebagaimana pesan Al-Qur’an.“Allah mengingatkan kita dalam Surah An-Nisa ayat 9 agar tidak meninggalkan generasi yang lemah. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan anak-anak dengan sebaik-baiknya, baik dari sisi akidah, ilmu pengetahuan, kesehatan, maupun kemandirian ekonomi,” ungkapnya.Acara pelepasan berlangsung semakin haru saat sekolah secara simbolis menyerahkan kembali para siswa kepada orang tua dan wali murid. Momen tersebut menjadi penanda berakhirnya perjalanan mereka sebagai siswa SMP Muhammadiyah 2 Godean sekaligus awal langkah baru menuju pendidikan yang lebih tinggi.Kegiatan ini turut dihadiri Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean, PRM Sidomulyo, Lurah Sumbersari Sukadi, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Sumbersari, Dukuh Sembuh Kidul, Komite Sekolah, serta seluruh guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 2 Godean.Kemeriahan acara semakin terasa dengan berbagai penampilan seni dari para siswa, di antaranya penampilan Seni Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang dibawakan 3 personil, permainan angklung yang membawakan lagu “Rayuan Pulau Kelapa” serta paduan suara dengan lagu “Prau Layar” dan “Sampai Jumpa”, persembahan dari IPM SMP Muhammadiyah 2 Godean, serta tari tradisional yang dibawakan siswa kelas VII dan VIII. Suasana haru juga menyelimuti ruangan saat Kirania mewakili siswa kelas IX menyampaikan kesan dan pesan perpisahan, yang kemudian disambung dengan sambutan perwakilan orang tua siswa yang disampaikan oleh orang tua Zada.Dengan kelulusan 100 persen serta bekal nilai-nilai keislaman, kemuhammadiyahan, dan karakter yang kuat, para lulusan SMP Muhammadiyah 2 Godean diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi unggul, berilmu, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan masa depan demi mewujudkan cita-cita dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, dan negara. Reportase: Wahdan A Editor: Arif Hartanto

Loading

Steeds meer Nederlanders ontdekken de spanning van online gokken, waarbij ze op zoek gaan naar een betrouwbaar platform met een uitgebreid aanbod. Nyx Bets Casino voldoet aan deze wens met een ruime collectie gokkasten, tafelspellen en live casinospellen, aangevuld met aantrekkelijke bonussen en een gebruiksvriendelijke interface.
Modern casino reviewers tend to weigh bonus wagering terms, slot RTP listings, and live dealer game variety before publishing their take, and Odinfortune often pops up in those side-by-side breakdowns.
Wie in Nederland graag een gokje waagt online, let tegenwoordig scherp op betrouwbaarheid, snelle uitbetalingen en een overzichtelijk spelaanbod; een platform als KIKI weet daar met transparante voorwaarden en een breed scala aan slots en live tafelspelenvolop op in te spelen.