Moyudan.Pdmsleman.Or.id
Ramadhan telah memberi kesempatan kepada umat untuk memperbaiki diri, mengantarkan umat pada hari kemenangan. Berkat rahmat Allah SWT., umat mampu menahan lapar, dahaga, mengendalikan hawa nafsu hingga memperbanyak ibadah. Allah SWT. telah memberikan kehidupan, kesehatan, dan kesempatan menyambut Idul FItri dengan kebersihan hati.
“Banyak orang yang tahun lalu besama kita, kini telah kembali ke kepada Tuhan. Banyak orang ingin bersujud, namun terhalang kondisi badan yang tak memungkinkan,” tegas Sekretaris Pimpinan Cabang Muhamadiyah Moyudan Ustad H. Heru Suprayitno, S. Ag. saat menyampaikan Khuthbah Idul Fitri di hadapan ribuan Jama’ah sholat Ied, di Lapangan Sumbersari Moyudan pada Jumat (20/3/2026). Sementra bertindak sebagai imam H. Bunyamin Adib.
Ustad Heru Suprayitno menegaskan Idul Fitri bukan sekedar perayaan, tetapi awal dari ujian sesungguhnya. Bukan hanya merayakan kemenangan tetapi juga harus merenungkan apa yang harus dilakukan pasca Ramadan. Sebagai insan bertaqwa, sebagai alumni madrasah Ramadan, ada 3 JJJKperan penting umat.
Pertama berperan untuk diri sendiri. Ramadan telah membentuk diri kita disiplin sholat, disiplin membaca Qur’an, disiplin menahan amarah, memperbanyak sedekah, serta manjauhi maksiat. “Kita harus menjadikan ibadah dan amal baik sebagai bagian dari hidup kita, bukan sekedar ritual musiman, dengan tetap istiqomah. Jangan biarkan semangat Ramadan mati begitu saja. Khusus kaum muda, remaja masjid, teruslah bersemangat mengurus kegiatan di masjid, jangan jauhkan dirimu dari masjid.” tegasnya.
Kedua, berperan untuk keluarga, membangun rumah tangga dengan nilai-nilai Ramadan. Karena keluarga adalah benteng utama dalam membentuk peradaban. Jika ingin membangun bangsa yang kuat, mulailah dari keluarga yang kuat. Ramadan telah mengajarkan kepada kita arti kasih sayang, kebersamaan, dan tanggung jawab.
Maka, setelah Ramadhan, kita harus terus membimbing keluarga dalam kebaikan, jangan biarkan rumah tangga diisi dengan kemaksiatan, pertengkaran dan kelalaian. Jadikan rumah tangga sebagai tempat penuh dengan ketenangan, ketaqwaan dan keberkahan. Sebagai suami, jadilah pemimpin yang adil dan bertanggung jawab. Sebagai istri, jadilah pendamping yang sholihah penuh kasih sayang. Sebagai orang tua, jadilah teladan bagi anak-anaknya. “Kita didik anak-anak menjadi generasi unggul dan kuat, kuat fisik, mental, ekonomi dan kuat keimanannya,” tegas khatib.
Kedepan, anak-anak kita menghadapi tantangan yang tidak mudah, diperlukan mental kuat dengan terus memohon pertolongan Allah dengan sabar dan doa.
Ketiga, berberan untuk bangsa, menjadi umat yang bermanfaat. Menukil Hadits Riwayat Ahmad, Khoirunnaas anfa’uhum linnaas. “Sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.” Bangsa kita tidak hanya membutuhkan umat soleh individu, tetapi juga Soleh sosial yang peduli sesama dan peduli sosial. “Jangan hanya sibuk dengan ibadah pribadi, tetapi melupakan tanggungjawab sosial. Jangan hanya mencari pahala untuk diri sendiri, tetapi lupa menegakkan keadilan dan membela kebenaran di masyarakat,” tegasnya.
Qur’an Al-Maidah: 2 mengajarkan umat untuk saling tolong-menolong dalam hal kebaikan dan taqwa, jangan bertolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Di sinilah pentingnya sebuah organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, sebagai sarana untuk bersama-sama mencapai tujuan mulia dengan dakwah yang lebih baik, lebih terarah dan sistematis. Karena kebaikan yang tak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.
“Idul Fitri bukan akhir perjalanan ibadah, melainkan awal tantangan baru. Ramadhan telah menempa kita menjadi pribadi yang lebih baik, dan harus kita jaga dan kita terapkan nilai-nilai yang telah kita pelajari,” pungkasnya.
Rep Sugiyanto Moyudan
Editor Arief Hartanto MPI PDM SLeman
![]()





