Takbir dan Budaya Menyatu di Tempel, Syiar Islami Dikemas dalam Nuansa Tradisi

SLEMAN — Gema takbir yang mengalun di sepanjang jalan Kapanewon Tempel pada malam Iduladha tidak hanya menjadi ungkapan syukur kepada Allah SWT, tetapi juga menjelma menjadi perayaan budaya yang sarat makna. Melalui gelaran Tempel Takbiran 2026 bertema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya”, masyarakat menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam dan kearifan lokal dapat berpadu harmonis dalam suasana penuh kebersamaan. Kegiatan yang digelar oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kapanewon Tempel bersama berbagai elemen masyarakat ini berlangsung meriah pada Jumat (29/5/2026). Ratusan peserta memadati jalur takbir keliling yang dimulai dari Masjid At-Taqwa Sono Kulon, Merdikorejo, dan berakhir di Lapangan Lumbungrejo. Tak sekadar iring-iringan takbir, acara juga menghadirkan berbagai kreasi budaya melalui display takbir kreatif yang menampilkan perpaduan seni, tradisi, dan pesan-pesan Islami. Kehadiran pelaku UMKM lokal turut menambah semarak perayaan, menjadikan kegiatan ini sebagai ruang silaturahmi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Ketua Panitia, Ilham Syukron, mengatakan bahwa tema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” dipilih sebagai upaya menghadirkan syiar Islam yang dekat dengan kehidupan masyarakat tanpa meninggalkan akar budaya yang telah tumbuh dan berkembang di tengah warga. “Kami ingin menghadirkan takbiran yang tidak hanya meriah, tetapi juga bermakna. Takbir menjadi sarana memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kreativitas, dan membangun semangat kebersamaan dalam nuansa Islami,” ujarnya. Tahun ini, lomba takbir diikuti tujuh kontingen dari enam kalurahan di wilayah Tempel, yakni Margorejo, Merdikorejo, Sumberrejo, Mororejo, Tambakrejo, serta dua kontingen dari Lumbungrejo. Dengan jumlah peserta sekitar 50 orang di setiap kontingen, total peserta yang terlibat mencapai kurang lebih 350 orang. Antusiasme warga terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, ikut ambil bagian dalam memeriahkan malam takbiran yang berlangsung tertib dan penuh kegembiraan. Setelah melalui penilaian dewan juri berdasarkan aspek kreativitas, kekompakan, nuansa budaya, dan semangat syiar, Kontingen Lumbungrejo 1 (Sedogan) berhasil meraih Juara I. Posisi kedua diraih Lumbungrejo 2 (Krasakan), sementara Kalurahan Margorejo menempati Juara III. Ilham menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah menampilkan karya terbaik mereka. “Semua kontingen telah menunjukkan kreativitas luar biasa. Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi wadah memperkuat persatuan dan syiar Islam yang menyejukkan,” katanya. Makna tema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” sendiri menggambarkan semangat mengagungkan Allah SWT yang dihiasi dan diperkaya dengan budaya serta tradisi masyarakat. Filosofi tersebut menjadi simbol bahwa dakwah Islam dapat disampaikan secara santun, membumi, dan tetap relevan dengan kehidupan sosial masyarakat. Sementara itu, Panewu Tempel, Drs. Rasyid Ratnadi Sosiawan, M.Si., memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai mampu menjaga tradisi keagamaan sekaligus memperkuat harmoni sosial. “Kegiatan ini membuktikan bahwa tradisi keagamaan dan budaya lokal dapat berjalan berdampingan secara positif. Takbiran bukan hanya perayaan, tetapi juga ruang untuk mempererat persatuan dan kebersamaan masyarakat,” ungkapnya. Kesuksesan Tempel Takbiran 2026 juga didukung oleh sinergi berbagai pihak. Unsur Linmas, Kokam, Banser, Tapak Suci, relawan, dan jaga warga turut terlibat dalam pengamanan dan pengaturan jalur sehingga kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Di tengah derasnya arus modernisasi, Tempel Takbiran 2026 menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Melalui lantunan takbir, kreativitas budaya, dan semangat gotong royong, warga Tempel menghadirkan pesan kuat bahwa nilai spiritual dan budaya dapat menjadi perekat sosial yang menjaga keharmonisan kehidupan bersama. (SBD/KIM Senyum Tempel) Editor: Wahdan Arifudin

Loading

Godean Bertakbir #11 Memukau Puluhan Ribu Penonton

Godean — Gemuruh takbir menggema memenuhi langit Godean dalam gelaran Festival Godean Bertakbir #11 pada Jumat malam (29/5/2026). Ribuan warga memadati sepanjang rute acara, menjadikan festival tahunan yang diprakarsai oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean bersama Angkatan Muda Muhammadiyah Godean ini berlangsung sangat meriah, semarak, dan memukau puluhan ribu penonton. Lantunan takbir yang berpadu dengan kreativitas peserta menghadirkan suasana syiar Islam yang menggembirakan. Tidak sekadar pawai takbir biasa, festival ini menjadi ruang dakwah kultural yang mempererat ukhuwah serta menumbuhkan semangat syiar Islam di kalangan generasi muda. Ketua panitia, Alamuddien Asyrozi menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki makna lebih dari sekadar seremoni Hari Raya Idul Adha 1447 H. “Acara ini bukan sekadar takbir biasa, tetapi menjadi media syiar, mempererat silaturahmi, serta memperkuat semangat dakwah bagi anak muda,” ujarnya. Festival tahun ini diikuti 10 kontingen jamaah, terdiri atas delapan jamaah dari wilayah Godean serta dua kontingen dari Banguntapan dan Sewon Bantul. Masing-masing peserta jamaah atau kontingen terdiri lebih dari ratusan personil dan menampilkan kreativitas terbaik dengan berbagai ornamen, kendaraan hias atau maskot, tata cahaya, hingga atraksi yang memukau masyarakat. Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean, Haris Darmawan dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Godean Bertakbir ke-11 merupakan bagian dari dakwah berkemajuan yang menggembirakan masyarakat. “Festival Godean Bertakbir ke-11 ini merupakan ajang dakwah berkemajuan sekaligus menggembirakan bagi warga masyarakat di tengah dinamika dan berbagai persoalan keumatan,” tuturnya. Kemeriahan acara semakin terasa dengan hadirnya sejumlah tokoh dan pejabat daerah, di antaranya Bupati Sleman Harda Kiswaya, jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman, Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Sleman, Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Sleman, Kepala KUA Godean Abdul Rohim, Ketua PCA Godean, unsur Muspika, serta para lurah dari Sidokarto, Sidoagung, dan Sidoluhur. Bupati Sleman Harda Kiswaya menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya Festival Godean Bertakbir ke-11 yang berlangsung meriah di kawasan Godean. Dalam sambutannya, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh panitia pelaksana serta Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean yang dinilai konsisten menghadirkan syiar Islam yang menyejukkan dan mampu mempersatukan masyarakat. “Kami selaku Pemerintah Kabupaten Sleman menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap panitia dan juga PCM Godean atas pelaksanaan Godean Bertakbir ke-11 ini. Kami mengajak untuk terus melakukan dan meningkatkan syiar dakwah di tengah masyarakat,” ujar Harda Kiswaya. “Event takbiran baik level desa maupun kecamatan secara tidak langsung sudah menjadi aset daerah (agama, seni dan budaya) yang positif patut dilestarikan sebenarnya oleh pemerintah, dibanding seni budaya yg selama ini menjurus kesyirikan.” imbuh Harda Kiswaya Semangatnya luar biasa para peserta bahkan dari jamaah Sidomulyo ada yang jauh hari menggalang dana dengan membuka usaha cuci motor empat bulan sebelumnya. Ini juara umum dan hasil lengkapnya Selain menjadi ajang syiar dan kreativitas Islami, Festival Godean Bertakbir #11 juga memperebutkan berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Piala Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman serta hadiah kambing bagi para pemenang. Selanjutnya dewan yuri menetapkan sebagai pemenang atau juara umum adalah Jamaah Al Manaar dari Kalangan Baturetno Banguntapan Bantul. Masyarakat berharap Festival Godean Bertakbir dapat terus menjadi tradisi dakwah yang menyejukkan, mempersatukan umat, sekaligus menjadi ikon syiar Islam yang membanggakan bagi wilayah Godean dan sekitarnya. Kontributor: Wahdan Arifudin, PCM Godean

Loading

Sholat Idul Adha 1447,  Jadilah Ibrahim yang Taat dan Berjiwa Besar

 Suasana religius menyelimuti Kantor DPU Sleman, Rabu pagi 10 Dzulhijjah 1447 H – 27 Mei 2026  Bertempat di Jalan Magelang, Bangun Rejo, Tridadi, Sleman, puluhan pegawai dan audiens umum tampak antusias mengikuti rangkaian sholat Idul Adha 1447 Hijriah yang dimulai pukul 06.30 WIB hingga selesai. Mengusung tema “Menjadi Ibrahim yang Taat dan Berjiwa Besar – Keajaibanpun Datang,   dengan khatib Da’i Kampung  , Randi Pratama, Lc. Dalam tausiyahnya, Randi Pratama mengupas tuntas makna di balik Surat As-Shoffat ayat 102 yang menjadi ruh dari ibadah kurban dan haji. Ayat tersebut artinya Maka ketika anak itu sampai (pada umur) cukup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!’ Dia (Ismail) menjawab: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar . Menurut Randi, ayat ini bukan sekadar cerita sejarah, melainkan panggilan abadi bagi setiap Muslim untuk meneladani enam nilai luhur. Pertama,ketaatan kepada Allah tanpa syarat . “Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah Allah meskipun sangat berat. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus mendahulukan kebenaran dan perintah Allah di atas kepentingan pribadi,” . Kedua,  keikhlasan dalam berkorban, bahwa pengorbanan bukan hanya soal materi atau hewan kurban, tetapi juga kesiapan melepas sesuatu yang paling dicintai demi ridha Allah. Ketiga,  kesabaran dan tawakal Sikap Nabi Ismail yang menjawab dengan tenang, “Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar,” mengajarkan keteguhan hati saat menghadapi ujian hidup. Keempat, pendidikan keluarga yang baik  bagaimana Nabi Ibrahim mengajak Ismail berdialog, bukan memaksa.  Ini menunjukkan pentingnya komunikasi, keteladanan, dan pendidikan iman dalam keluarga . Kelima,  ujian hidup memiliki hikmah  Randi mengutip bahwa Allah akhirnya mengganti Ismail dengan hewan sembelihan. Artinya, Allah melihat ketakwaan dan ketulusan hati manusia, bukan semata hasil akhirnya.   Keenam,  ilai sosial dan kepedulian Dari peristiwa ini lahir ibadah kurban pada Idul Adha yang mengajarkan berbagi rezeki, membantu sesama, dan mempererat persaudaraan imbuhnya. Dengan meneladani sosok Ibrahim yang taat dan berjiwa besar. “Keajaiban itu datang setelah ketaatan dan kesabaran diuji,” pungkas Randi . Dengan meneladani sosok Ibrahim yang taat dan berjiwa besar. “Keajaiban itu datang setelah ketaatan dan kesabaran diuji,” pungkas Riandi Pratama,Lc  pendiri Tabon Quran center   ustadz. Ditemui setelah acara Riandi menuturkan salah satu kerjasamanya dengan Sembada Farm  Lukita Wahyu Permadi melakukan pendistribusian daging kurban kepada santri, jamaah Majlis taklim hingga warga sekitar .

Loading

Khutbah Idul Adha 1447 H di Sumbersari Tekankan Ketaatan Dilandasi Sabar, Ikhlas, dan Pengorbanan

Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Ribuan umat Muslim di Sumbersari, Moyudan, Sleman melaksanakan Shalat Idul Adha 1447 H secara serentak pada Rabu, 27 Mei 2026 di Lapangan Semingin, Sumbersari, Moyudan. Shalat dipimpin Imam dan Khatib H. Muhammad Wazid, S.Ag., M.A. Dalam khutbahnya, Wazid mengingatkan bahwa Idul Adha dan ibadah kurban mengajak umat meneladani keimanan, kesabaran, keikhlasan, dan ketaatan Nabi Ibrahim A.S. “Ibrahim adalah hamba Allah yang melalui proses pencarian Tuhan hingga menemukan keyakinan penuh. Ia menyerahkan diri secara bulat tanpa keraguan,” tegasnya. Wazid mencontohkan ketaatan Nabi Ibrahim saat diperintah meninggalkan istri dan anaknya yang masih bayi di lembah tandus. Peristiwa itu justru membawa keberkahan berupa munculnya air Zamzam yang kini menjadi sumber kehidupan bagi jutaan manusia. Lebih lanjut, Wazid menegaskan bahwa ketaatan yang dilandasi kesabaran, keikhlasan, cinta, dan pengorbanan harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. “Tidak sempurna keimanan seseorang jika dirinya kenyang sedangkan tetangganya kelaparan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa harta dalam pandangan Islam adalah titipan dunia yang sifatnya sementara. Mengutip hadis riwayat Muslim, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i, ” Anak Adam mengatakan hartaku, hartaku. Tidaklah kamu mendapatkan dari hartamu itu kecuali apa yang kamu makan sampai kenyang, apa yang kamu kenakan sampai usang, atau akan kamu sedekahkan dijalan Allah sehingga pahalanya akan terus mengalir.” Di akhir khutbah, Wazid mengajak jamaah merenungi momentum Idul Adha sebagai ujian ketaatan dan keikhlasan. Menurutnya, setiap orang harus siap mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan keluarga demi menjalankan perintah Allah. “Hidup adalah perjuangan, dan setiap perjuangan memerlukan pengorbanan. Justru kesediaan berkorban itulah yang menguji keimanan seseorang.” tutupnyaSugiyanto Rep Moyudan

Loading

Milad Aisyiyah ke-109, PRA Condongcatur Barat Gelar Pengajian Keluarga dan Cek Kesehatan Gratis

Sebanyak 500 jamaah dari masyarakat Kayen dan sekitarnya menghadiri Pengajian Milad Aisyiyah ke-109 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Aisyiyah Condongcatur Barat di Masjid Nurul Hidayah Kayen pada Ahad (24/5/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Mengusung semangat dakwah pencerahan dan penguatan keluarga, panitia menghadirkan Dosen Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Mir’atun Nisa, sebagai narasumber utama. Dalam kajian bertajuk “Mengelola Marah Sebelum Merusak Rumah Tangga”, jamaah diajak memahami pentingnya pengendalian emosi demi membangun keluarga yang harmonis, sakinah, dan penuh kasih sayang. Kajian berlangsung interaktif dan mendapat perhatian besar dari jamaah yang hadir. Tak hanya pengajian, rangkaian Milad Aisyiyah ke-109 juga diramaikan dengan layanan pemeriksaan kesehatan gratis hasil kerja sama dengan RS PKU Muhammadiyah Sleman. Layanan ini dimanfaatkan masyarakat untuk memeriksa kondisi kesehatan dasar sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya hidup sehat. Keceriaan jamaah semakin terasa saat panitia membagikan berbagai doorprize menarik. Kebersamaan yang terjalin sepanjang acara menjadi momentum mempererat silaturahmi warga Kayen dan sekitarnya sekaligus memperkuat peran dakwah sosial Aisyiyah di tengah masyarakat. Ketua PRA Condongcatur Barat, Meika Kurnia Puji Rahayu, menyampaikan bahwa Aisyiyah Condongcatur Barat terus berikhtiar berkhidmat untuk umat melalui berbagai bidang, mulai dari pemberdayaan jamaah, pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan. Menurutnya, berbagai program akan terus digerakkan agar pelayanan kepada masyarakat semakin mencerahkan dan menyejahterakan. “Semangat Milad ini menjadi penguat bagi kami untuk terus bergerak melayani dan mencerahkan masyarakat,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan, saat ini PRA Condongcatur Barat tengah melakukan revitalisasi TK ABA Kentungan melalui rehabilitasi ruang belajar guna menghadirkan suasana belajar yang lebih nyaman, aman, dan menyenangkan bagi anak-anak. PRA Condongcatur Barat juga membutuhkan dukungan semua pihak, terutama dari segi pembiayaan, infaq, dan shodaqoh jariyah masyarakat agar proses revitalisasi tersebut dapat berjalan lancar dan segera rampung serta memberi manfaat yang lebih luas bagi generasi masa depan. Kontributor: Ahmad Maftuhin, PCM Depok Editor: Wahdan Arifudin, MPI PDM Sleman

Loading

Ribuan Warga Muhammadiyah Sleman Padati HBM, Prof Din Syamsuddin: “Setiap Hari adalah Hari Bermuhammadiyah”

Ribuan warga Muhammadiyah dari berbagai ranting dan cabang se-Kabupaten Sleman memadati Lapangan Sendangadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta, dalam kegiatan Pengajian Hari Bermuhammadiyah, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan yang berlangsung tertib, rapi, dan penuh semangat ukhuwah itu menghadirkan Din Syamsuddin sebagai penceramah utama. Dengan mengusung tema “Umat Bersatu, Islam Kuat: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Persatuan di Tengah Gejolak dan Perang Narasi”, acara tersebut menjadi momentum penguatan nilai persatuan dan dakwah berkemajuan di tengah dinamika bangsa. Dalam tausyiyahnya, Prof Din Syamsuddin menyampaikan bahwa Hari Bermuhammadiyah telah menjadi tradisi yang hidup di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan juga saat ini di Sleman Yogyakarta. “Hari Bermuhammadiyah menjadi ciri khas di daerah Jawa Tengah, seperti Wonosobo, Magelang, Purworejo, dan besok InsyaAllah ke Kebumen,” ungkapnya mengawali tausyiyah. Sejak selepas Subuh, para jamaah telah mempersiapkan diri untuk menghadiri kegiatan tersebut. Antusiasme warga Muhammadiyah terlihat dari penuhnya lapangan oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, guru, tokoh masyarakat, hingga keluarga besar Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Prof Din menegaskan bahwa semangat Bermuhammadiyah sejatinya tidak hanya diwujudkan dalam acara bulanan semata, melainkan menjadi karakter hidup setiap waktu. “Hari Bermuhammadiyah sebaiknya tidak hanya tiap bulan, tetapi tiap hari dan tiap waktu kita jadikan sebagai Hari Bermuhammadiyah,” tandasnya. Menurutnya, menjadi warga Muhammadiyah berarti menisbatkan diri kepada perjuangan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW dengan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ia juga menekankan bahwa ciri khas warga Muhammadiyah bukan hanya kuat dalam keyakinan, tetapi juga nyata dalam amal nyata bagi umat dan bangsa. “Mukmin dan mukminah itu tidak hanya beriman dalam hati, tetapi juga beramal. Maka doa kita adalah: Allahumma ja‘alna minal mukmininal ‘amilin — Ya Allah, jadikan kami orang-orang yang beriman dan beramal.” Semangat iman yang diwujudkan dalam amal, lanjutnya, tampak dalam berkembangnya Amal Usaha Muhammadiyah di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Ia mencontohkan keberadaan sekolah Muhammadiyah di Papua yang telah melahirkan tokoh-tokoh daerah. Tidak hanya berhenti pada amal, Prof Din juga mengajak seluruh warga Muhammadiyah meningkatkan kualitas pengabdian agar menjadi amal yang unggul dan memberi manfaat luas. “Amal-amal kita harus berkualitas sehingga doa kita menjadi “Allahumma ja’alna minal mukmininal ‘amilinal muhsinin — Yaa Allah jadikan kami orang beriman, beramal, dan berbuat ihsan.” Pada bagian akhir tausyiyah, Prof Din mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan, keterbukaan, dan toleransi dalam kehidupan umat Islam. “Ummatan wahidah adalah umat yang satu kiblat, penuh kelapangan dada, tasamuh, dan hanif — lurus dalam prinsip namun tetap toleran.” Menjelang penutupan acara, beliau memimpin doa bersama untuk umat Islam dan bangsa Indonesia, sekaligus mendoakan Hamim Ilyas yang pada hari ini wafat. “Semoga beliau diterima di sisi Allah SWT dan segala amal baktinya menjadi jariyah yang terus mengalir. Aamiin.” Sebelumnya sambutan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman H. Harjaka, S.Pd, S.Ag, M.A. menyampaikan sambutan dengan penuh semangat diantaranya kita telah melaksanakan kegiatan hampir bersamaan diantaranya :pertama milad ‘Aisyiyah ke-109kedua, hari jadi Kabupaten Sleman ke-110ketiga, hari kebangkitan Nasional 20 Mei utk menyatukan umat.Keempat, hari ini Sabtu tanggal 23 Mei 2026 kita kumpul di Lapangan Sendangadi umat islam harus bersatu, kita bangkit dan kuatKelima, mari kita mendoakan kepada Prof Hamim Ilyas dimana pagi ini beliau wafat meninggal dunia Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah SWT. Aamiin. Sebelumnya disampaikan pula kajian pembuka oleh Ustadz Mujiman dari Bantul yang sangat inspiratif dan saat ini lagi naik daun yakni tentang 7 prinsip penting dalam membangun dan menjaga persatuan umat Islam. Kontributor: Wahdan Arifudin, MPI PDM Sleman

Loading

Musywil AmbulanMu ke-II Dorong Digitalisasi dan Penguatan Layanan Dakwah Muhammadiyah

Yogyakarta — Musyawarah Wilayah (Musywil) AmbulanMu ke-II sukses digelar di Aula Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Sabtu (17/5/2026). Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat layanan sosial kesehatan Muhammadiyah melalui pengembangan sistem organisasi dan digitalisasi pelayanan. Musywil dihadiri relawan serta pengurus AmbulanMu dari berbagai titik layanan di lima daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, hadir pula perwakilan FORPAM/FORSIKAMU tingkat daerah maupun wilayah. Sejumlah pimpinan Muhammadiyah turut mengikuti kegiatan tersebut, di antaranya Ketua PWM DIY Dr. H. Muhammad Ikhwan Ahada dan Wakil Ketua MPKS PP Muhammadiyah Dr. Ridwan Furqoni, S.Pd.I., M.P.I.. Selain menjadi agenda pemilihan kepengurusan FORPAM/FORSIKAMU wilayah yang baru, Musywil AmbulanMu ke-II juga membahas arah pengembangan pelayanan AmbulanMu untuk periode 2026–2030. Forum ini menitikberatkan pada penguatan sistem organisasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta optimalisasi layanan berbasis digital guna menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial, Zainal Arifin, dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga kualitas pelayanan dan solidaritas antarrelawan sebagai bagian dari wajah dakwah Muhammadiyah di tengah masyarakat. “Karena kita ini adalah bagian dari etalase dakwahnya persyarikatan (Muhammadiyah), sehingga layanan itu harus kita jaga bareng-bareng,” ujarnya di hadapan peserta Musywil. Menurutnya, pelayanan AmbulanMu tidak hanya berkaitan dengan bantuan sosial dan kesehatan semata, namun juga menjadi representasi nilai-nilai kemanusiaan dan dakwah Muhammadiyah yang harus dijaga profesionalismenya. Dalam forum tersebut juga dipaparkan sejumlah inovasi yang telah dijalankan AmbulanMu, salah satunya sistem pendataan dan pelaporan layanan berbasis aplikasi digital. Pengembangan teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efektivitas koordinasi antarlayanan sekaligus mempermudah masyarakat dalam mengakses bantuan AmbulanMu. Panitia pelaksana juga menerapkan sistem quick count pada proses penghitungan suara pemilihan kepengurusan wilayah. Pemanfaatan teknologi tersebut membuat hasil pemilihan dapat diketahui dengan lebih cepat, efektif, dan efisien, sekaligus mencerminkan semangat modernisasi organisasi. Musywil AmbulanMu ke-II diharapkan mampu melahirkan kepengurusan baru yang solid dan progresif dalam memperkuat koordinasi antarwilayah. Selain itu, forum ini juga menjadi langkah strategis untuk mendorong pelayanan AmbulanMu yang semakin profesional, terstandarisasi, dan adaptif terhadap perkembangan kebutuhan masyarakat di era digital. Dengan semangat kolaborasi dan penguatan sistem pelayanan, AmbulanMu diharapkan terus hadir sebagai layanan kemanusiaan Muhammadiyah yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus menjadi etalase dakwah yang menebarkan nilai kepedulian dan pelayanan sosial. Rep MPKS

Loading

“Panggilan Allah untuk Menjadi Hamba yang Bertaqwa”

Godean-PdmSleman.or.id Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Surah Al-Baqarah ayat 21: “Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” Ayat ini sangat istimewa, karena Allah tidak hanya memanggil orang beriman, tetapi memanggil seluruh manusia: “Yaa ayyuhan naas…” — Wahai manusia… Artinya, siapa pun kita, apa pun latar belakang kita, kaya atau miskin, muda atau tua, pejabat atau rakyat biasa, semuanya dipanggil oleh Allah untuk kembali kepada-Nya dan menjadi hamba yang bertaqwa. Taqwa adalah tujuan hidup Karena kemuliaan seseorang di sisi Allah bukan ditentukan oleh usia, jabatan, atau penampilan, tetapi oleh ketakwaannya. Demikian inti Pengajian Ahad Pagi atau Jihadi PCM Godean bersama Prof. Muchlasin di Masjid Al Huda Godean Ahad, 17 Mei 2026. Disampaikan bahwa hidup manusia tidak selalu sama. Dalam kehidupan, kita sering melihat kenyataan yang menggetarkan hati. Ada orang yang ketika mudanya rajin ibadah: aktif mengaji, menjaga shalat, dekat dengan masjid, namun ketika tua justru lalai dan tenggelam dalam maksiat. Sebaliknya, ada pula orang yang masa mudanya jauh dari agama: penuh dosa, lalai beribadah, hidup dalam kesalahan, tetapi menjelang akhir hidupnya Allah bukakan pintu hidayah. Ia bertaubat, menangis dalam sujud, lalu wafat dalam keadaan baik. Inilah yang mengajarkan kepada kita bahwa: yang paling penting bukan bagaimana kita memulai, tetapi bagaimana kita mengakhiri hidup. Karena tidak ada seorang pun yang bisa memastikan: apakah esok masih hidup, bagaimana akhir hayatnya, dan dalam keadaan apa Allah memanggilnya. Husnul khatimah adalah harapan setiap mukmin Dan orang yang hari ini masih banyak dosa jangan berputus asa dari rahmat Allah. Selama nyawa belum sampai tenggorokan, pintu taubat masih terbuka. Karena hidayah bukan milik manusia, tetapi milik Allah. Maka apa yang harus kita lakukan? Menjaga shalat dan ibadah setiap hari. Memohon kepada Allah agar diberi istiqamah. Memperbanyak taubat dan dzikir. Berkumpul dengan orang-orang shalih. Memperbaiki hati, bukan hanya penampilan agama. Berdoa agar diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. “Ya Allah, jangan Engkau cabut nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.” Dalam Al-Qur’an, manusia disebut dengan beberapa istilah. Masing-masing memiliki makna dan penekanan yang berbeda. Tiga yang paling sering dikenal adalah: an-naas, al-basyar, dan al-insaan. Selain itu masih ada beberapa istilah lain yakni bani Adam, Al Insi  Ketika Allah memanggil: “Yaa ayyuhan naas…” itu artinya semua manusia dipanggil untuk kembali kepada fitrah dan ketakwaan. Kita bukan sekadar basyar yang hanya makan dan tidur. Kita adalah insan yang diberi hati dan amanah. Kita juga Bani Adam yang dimuliakan Allah. Selanjutnya disampaikan Prof. Muchlasin tentang Ibadah 1. Ibadah Hati, Ibadah yang dilakukan dalam batin. Contohnya: ikhlas, sabar, tawakal, syukur, takut kepada Allah, berharap rahmat Allah. Amal besar tanpa hati yang ikhlas bisa menjadi sia-sia. 2. Ibadah Lisan, Ibadah dengan ucapan. Contohnya: dzikir, membaca Al-Qur’an, dakwah, mengucap salam, berkata baik, menasihati, mengajar ilmu. Kadang satu ucapan baik bisa menjadi sebab seseorang mendapat pahala besar. Sebaliknya satu ucapan buruk bisa menghancurkan pahala. Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan agar menjaga lisan. 3. Ibadah Badan, Ibadah yang menggunakan anggota tubuh. Contohnya: shalat, puasa, membantu orang lain, menolong yang kesusahan, hadir ke majelis ilmu, bekerja keras dalam kebaikan. tubuh yang sehat seharusnya digunakan untuk taat, bukan maksiat. 4. Ibadah Harta, Ibadah melalui materi dan kekayaan. Contohnya: zakat, infak, sedekah, wakaf, membantu fakir miskin, membangun masjid, membantu pendidikan, menyantuni yatim. Harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. 5. Ibadah Sosial, Ibadah dalam hubungan dengan manusia. Contohnya: menghormati orang tua, menyayangi pasangan, mendidik anak, menjaga silaturahmi, menjaga lingkungan, tidak menyakiti tetangga. Islam bukan hanya hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Kontributor: Wahdan Arifudin, PCM Godean

Loading

Siapa Pemakmur Masjid-masjid Allah, Ust Ahmad Fauzi Satriyono, S.Ag, M.A.

“Syarat menjadi penghuni surga adalah salah satunya menjadi pemakmur masjid. Menjadi pemakmur masjid itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah sebagaimana terdapat dalam Surat At-Taubah ayat 18, pemakmur masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Mereka adalah orang-orang yang menjaga, membangun, dan meramaikan masjid dengan aktivitas ibadah.” Hal di atas disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Fauzi Satriyono, S.Ag, M.A. dalam Pengajian Ahad Pagi atau Jihadi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean tadi pagi Ahad, 10 Mei 2026 dan rutin dilaksanakan setiap Ahad Pagi di Masjid Al Huda Godean Sleman Yogyakarta mulai jam 06.00-07.15 tepat. Pengajian dihadiri lebih dari 300 orang jamaah yang rutin hadir dari sekitar masjid Al Huda Godean dan masyarakat umum. Selanjutnya disampaikan bahwa perbuatan pemakmur masjid diantaranya Pertama, Iman dan Takwa: Memiliki keimanan yang baik dan takut hanya kepada Allah. Kedua, Mendirikan Shalat: Senantiasa mendirikan shalat, terutama berjamaah di masjid. Ketiga, Menunaikan Zakat: Mengeluarkan zakat sebagai bentuk kepedulian sosial. Keempat, Aktivitas fisik dan ruhiyah: Membangun, membersihkan, merawat, dan memakmurkan masjid dengan taklim, zikir, serta bacaan Al-Qur’an. Kelima, Istiqomah: Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan yang bermanfaat. Allah menjanjikan pahala besar, termasuk dibangunkan istana di surga, bagi mereka yang memakmurkan rumah-Nya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Seorang wanita yang biasa menyapu masjid wafat, Rasul menanyakannya ketika dikatakan bahwa ia wafat, Rasul berkata, “Mengapa kamu tak mengabariku agar Aku sholatkan? tunjukkan di mana kuburnya maka Rasul mendatangi kuburan itu, lalu sholat di atasnya. jelas Ustadz Ahmad Fauzi Satriyono. Kontributor: Wahdan Arifudin, MPI PDM Sleman

Loading

Hadirilah Hari BerMuhammadiyah se-Sleman Bersama Din Syamsuddin dan Ust Mujiman

Sleman, PdmSleman.or.id Warga Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman bersiap menyambut gelaran akbar Semarak dan Pengajian Hari Ber-Muhammadiyah se-Sleman yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini akan berlangsung di Lapangan Sendangadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Mengusung tema “Umat Bersatu, Islam Kuat: Ikhtiar Muhammadiyah Menjaga Persatuan di Tengah Gejolak Dunia dan Perang Narasi”, kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus merespons tantangan global yang kian kompleks, termasuk derasnya arus informasi dan pertarungan narasi di era digital. Acara ini akan menghadirkan tokoh nasional dan juga tokoh perdamaian dunia yaitu Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A. serta dai inspiratif Ustadz Mujiman yang keduanya Insya Allah akan memberikan tausiyah kebangsaan dan keumatan. Kehadiran keduanya diharapkan mampu memperkuat kesadaran kolektif umat untuk tetap bersatu, cerdas dalam menyikapi informasi, serta kokoh dalam menjaga nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman bersama panitia lokal dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mlati. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen kuat Muhammadiyah dalam membangun gerakan yang solid, terarah, dan berdampak luas bagi masyarakat. Selain sebagai forum pengajian, Hari Ber-Muhammadiyah juga menjadi ajang silaturahmi lintas cabang, amal usaha, serta warga persyarikatan dari berbagai kalangan. Momentum ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat kebersamaan dan memperkuat peran Muhammadiyah sebagai pilar persatuan umat di tengah dinamika zaman. Panitia mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat umum untuk hadir dan meramaikan kegiatan ini sebagai bagian dari ikhtiar bersama menjaga persatuan dan memperkuat kontribusi umat bagi bangsa. “Mari hadir, bersatu, dan kuatkan langkah dalam ber-Muhammadiyah, catat waktunya, Sabtu, 23 Mei 2026 di Lapangan Sendangadi Mlati yang masih se-komplek dengan SMP Muhammadiyah 1 Mlati, Jalan Magelang barat Jalan utara makam Pahlawan nasional Wahidin Sudiro Husodo.” ungkap salah satu panitia, H. Muh. Yusuf Sugeng Suryono, M.S.I Kontributor: Wahdan Arifudin, S.Pd, MPI PDM Sleman

Loading