Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja Berakhlak dan Sehat: Perspektif Islam dalam Kesehatan Reproduksi

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman menggelar seminar kesehatan reproduksi bertajuk “Remaja Berakhlak dan Sehat: Perspektif Islam dalam Kesehatan Reproduksi” di Hall Baroroh, Gedung Siti Walidah Lantai 4 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti ratusan pelajar perwakilan SMU/SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman. Seminar tersebut bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi yang selaras dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Penyelenggara menilai, remaja saat ini menghadapi tantangan serius, baik dari sisi kesehatan fisik maupun degradasi moral akibat arus informasi yang tidak terbendung. Dalam sesi pemaparan, Anjarwati, S.SiT., MPH menjelaskan dari perspektif medis bahwa pemahaman terhadap fungsi organ reproduksi menjadi dasar penting bagi remaja. “Edukasi kesehatan reproduksi tidak boleh dianggap tabu. Justru dengan pemahaman yang benar, remaja dapat menjaga diri dari risiko penyakit maupun perilaku yang merugikan,” ujarnya. Sementara itu, Royan Utsany, Lc., M.S.I menyoroti aspek keislaman dalam menjaga kehormatan diri. Ia menegaskan bahwa kesehatan fisik harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman. “Remaja harus memiliki benteng akhlak. Menjaga kehormatan diri bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga perintah syariat yang melindungi manusia dari kerusakan,” katanya. Materi edukasi juga diperkuat oleh Bhakti Gusti Walinegoro, S.IP., MPP yang memperkenalkan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sebagai institusi pendidikan yang mengintegrasikan ilmu kesehatan dengan nilai-nilai Islam. Ia mendorong peserta untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan akademik yang mendukung pembentukan karakter. Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Dr. Ismarwati, S.ST., S.KM., M.PH dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, Dr. Yuli Isnaeni, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom dari unsur rektorat UNISA, serta jajaran pimpinan PDA Sleman dan Majelis Dikdasmen. Ketua PDA Sleman, Dra. Hj. Hanik Rosyada, M.Ag dalam sambutannya menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda secara menyeluruh. “Melalui seminar ini, kita ingin mencetak remaja Muhammadiyah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara fisik dan memiliki benteng iman yang kuat,” tuturnya. Ia menambahkan, peran keluarga, sekolah, dan organisasi seperti ‘Aisyiyah sangat strategis dalam membentuk karakter remaja di tengah tantangan globalisasi. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, termasuk diskusi interaktif yang membahas isu-isu aktual seputar pergaulan remaja dan kesehatan reproduksi. Panitia berharap, ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terselenggaranya seminar ini, PDA Sleman berharap para pelajar mampu menjadi agen perubahan yang mempromosikan gaya hidup sehat dan berakhlak di lingkungan sebaya. Edukasi berkelanjutan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing di masa depan. Agustina Suprobowati  Sekretaris Majelis Kesehatan. PDA Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Istiqamah Pasca Ramadhan, Kunci Diterimanya Amal, Kajian PRM-PRA Girikerto di Masjid Aisyah Turi

Turi, Pdmsleman.Or.Id Semangat menuntut ilmu dan menjaga konsistensi ibadah pasca Ramadhan menjadi penekanan utama dalam Kajian Ahad Legi yang diselenggarakan PRM dan PRA Girikerto di Masjid Aisyah, Ponosaran, Girikerto, Turi, Ahad (19/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz H. Wildan Wahid, SHI dari PDM Sleman yang menyampaikan pentingnya istiqamah dalam beramal sebagai tanda diterimanya ibadah selama bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Wildan menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa berjalan menuju majelis ilmu, maka dimudahkan jalannya menuju surga” (HR Muslim). Selain itu, ia juga mengingatkan hadits lain, “Barangsiapa dikehendaki Allah menjadi orang baik, Allah akan memahamkannya terhadap ilmu.” Menurutnya, kemudahan melangkah menuju majelis ilmu merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Lebih lanjut, Ustadz Wildan mengaitkan momentum pasca Ramadhan dengan kualitas ketakwaan seorang muslim. Ia menyampaikan pandangan ulama, Ibnu Rajab Al-Hambali, bahwa tanda diterimanya amal adalah dengan terus melanjutkan amal tersebut setelah Ramadhan. “Ketika Ramadhan, kita merasa ringan beribadah karena suasana yang mendukung. Namun setelah Ramadhan berlalu, di situlah ujian sesungguhnya, apakah kita tetap istiqamah atau justru menurun,” ujarnya. Ia mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri dengan membandingkan kualitas ibadah sebelum Ramadhan (bulan Sya’ban) dan setelahnya (bulan Syawwal). “Jika ibadah kita di bulan Syawwal lebih baik dibanding Sya’ban, maka itu tanda adanya peningkatan ketakwaan,” imbuhnya. Dalam kajian tersebut, Ustadz Wildan juga menyoroti pentingnya amal yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW ketika ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah, yakni amal yang dikerjakan terus-menerus walaupun kecil. “Tidak harus semua amalan kita lakukan sekaligus. Pilih yang mampu kita jaga kontinuitasnya,” jelasnya. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah shalat rawatib. Menurutnya, shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat, sehingga perlu disempurnakan dengan shalat sunnah rawatib. “Shalat wajib sering kali belum sempurna karena kurang khusyuk atau gerakan yang belum sesuai sunnah. Maka shalat rawatib berfungsi menutup kekurangan tersebut,” terang Ustadz Wildan. Ia menjelaskan bahwa jumlah rakaat shalat rawatib muakkadah berkisar antara 10 hingga 12 rakaat, dan jika ditambah dengan yang ghairu muakkadah bisa mencapai 20 rakaat. Dari sekian banyak amalan sunnah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah Subuh (shalat fajar). “Keutamaannya luar biasa, lebih baik dari dunia dan seisinya,” tegasnya. Ustadz Wildan juga memberikan solusi bagi yang tertinggal shalat fajar, yakni dapat menggantinya setelah matahari terbit (syuruk), namun tidak dilakukan secara rutin. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam syariat sekaligus pentingnya menjaga amalan tersebut. Kajian yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh jamaah dengan antusias, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuan masyarakat Girikerto. Kegiatan ini turut meriahkan dengan Kegiatan pendukung: Pemeriksaan kesehatan dan bazar UMKM jamaah. Reportase H. Dr. Ir. Agus Nugroho Setiawan PCM Turi editor   Arief Hartanto MPI PDM Sleman.

Loading

Kajian Sabtu Pagi Masjid Baiturrahim Turi, Menguatkan Ibadah Pasca Ramadhan di Tengah Fenomena Syawalan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Masjid Baiturrahim Turi kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi pada Sabtu (18/4/2026) dengan menghadirkan Ustadz Drs. H. Sigit Warsito, MA. Kajian yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan ini mengangkat tema “Hikmah Ibadah Pasca Ramadhan”, menyoroti pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah bulan suci berakhir. Menurut Takmir Masjid, DR. H. Agus Nugroho S, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan umat agar tidak mengalami penurunan kualitas ibadah setelah Ramadhan. “Kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua agar semangat ibadah yang telah dibangun selama Ramadhan tidak hilang begitu saja, tetapi justru terus ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Dalam pemaparannya, Ustadz Sigit Warsito menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini, yakni maraknya kegiatan syawalan yang masih berlangsung meskipun sudah memasuki bulan Dzulqa’dah. Ia menegaskan bahwa tradisi syawalan tidaklah dilarang, namun perlu disikapi secara proporsional. “Syawalan itu hukumnya mubah, boleh dilakukan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sesuatu yang mubah justru mengalahkan amalan sunnah yang dianjurkan, seperti puasa Syawal,” jelasnya. Ia menambahkan, banyaknya agenda syawalan seringkali membuat umat Islam lalai dalam menjalankan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Dalam kajian tersebut, Ustadz Sigit juga mengangkat fenomena “futur” atau melemahnya semangat ibadah pasca Ramadhan. Ia mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang menjelaskan bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan masa penurunan. “Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang ketika semangat tetap berada dalam sunnah-Nya, maka ia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, yang meninggalkan sunnah saat futur, maka ia termasuk orang yang merugi,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan pesan dari Umar bin Khattab terkait pentingnya menjaga keseimbangan ibadah. Ketika dalam kondisi semangat, umat dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Namun saat kondisi melemah, setidaknya tetap menjaga amalan wajib. Tak hanya itu, kajian juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah diri. Ustadz Sigit mengingatkan bahwa Allah telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi orang yang bertakwa, di antaranya diberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. “Jika kita merasa belum mendapatkan apa yang dijanjikan Allah, maka perlu kita introspeksi diri. Jangan-jangan ibadah puasa kita belum benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa,” ungkapnya. Kajian yang berlangsung khidmat ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi jamaah untuk terus menjaga kualitas ibadah, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat beribadah tetap terjaga dan memberikan dampak positif bagi kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat.

Loading

Halal Bihalal BKS SMP/MTs Muhammadiyah DIY: Perkuat Sinergi dan Kepemimpinan Visioner

Kulon Progo — Badan Kerja Sama (BKS) SMP/MTs Muhammadiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar kegiatan Halal Bihalal pada Kamis, 16 April 2026 di Nanggulan, Kulon Progo. Kegiatan ini mengusung tema “Silaturahmi yang Menggembirakan, Bersinergi, dan Berkemajuan.” Ketua BKS SMP/MTs Muhammadiyah DIY, Hasanuddin, S.Pd.I., M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan ucapan taqabbalallahu minna wa minkum di penghujung bulan Syawal. Ia juga mengapresiasi BKS SMP/MTs Muhammadiyah Kulon Progo atas kesiapan tempat dan penyelenggaraan acara ini. Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya pembaruan dan modernisasi pendidikan di sekolah Muhammadiyah sebagai bagian dari jati diri gerakan yang sejak awal menjadi pelopor pendidikan modern, bukan sekadar bernostalgia pada masa lalu. Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kulon Progo, Drs. H. Fauzan, menyampaikan doa bagi dua kepala sekolah dari Kulon Progo, yakni Sarwidi dan Supriyono, yang akan menunaikan ibadah haji 1447 H agar memperoleh predikat haji mabrur. Ia juga menekankan pentingnya sinergi dalam pengelolaan sekolah. “Kepala sekolah bisa menjadi ‘kepolo’ jika tidak membangun sinergi,” ujarnya mengingatkan. Dalam sambutannya, ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Achmad Muhammad, M.Ag. mengajak seluruh peserta untuk memaknai Syawal tidak hanya sebagai kembali ke fitrah, tetapi juga sebagai momentum menghadirkan kegembiraan tanpa melupakan nikmat Allah. Ia menegaskan bahwa kemajuan sekolah tidak bisa berdiri sendiri, melainkan lahir dari kolaborasi guru yang mengajar dengan hati, kepemimpinan kepala sekolah yang visioner, serta dukungan seluruh warga sekolah. Pengajian inti disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY, Ustadz H. Gita Danupranata, S.E., M.M. Ia menyoroti pentingnya kepemimpinan berbasis visi yang jelas sebagai peta jalan pengembangan sekolah. Menurutnya, kepala sekolah perlu adaptif dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) yang penuh perubahan cepat dan ketidakpastian. Ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang demokratis dan egaliter, dengan mengedepankan apresiasi terhadap kompetensi guru dan tenaga kependidikan. Pendekatan kolektif-kolegial dinilai menjadi kunci dalam membangun budaya kerja yang sehat. Dalam menghadapi era digital, Gita mengingatkan agar transformasi tidak hanya pada alat, tetapi juga pada metode. “Kita harus beralih dari sekadar menggunakan digital menuju pembelajaran digital yang total,” ungkapnya. Selain itu, ia menegaskan pentingnya menjaga identitas keislaman dan kemuhammadiyahan serta mengembangkan pendidikan berbasis kearifan lokal. Menutup tausiyahnya, Gita menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dan jejaring sebagai fondasi pengembangan amal usaha Muhammadiyah dengan growth mindset. “Keunggulan tidak lahir dengan sendirinya. Sekolah maju karena sinergi, guru mengajar dengan hati, dan kepala sekolah memimpin dengan visi,” pungkasnya. Kontributor: Wahdan Arifudin, S.Pd, SMP Muhammadiyah 2 Godean

Loading

Silaturrahmi Idul Fitri 1447 H, “Aisyiyah Sleman Bergerak Untuk Mencerdaskan Generasi Unggul danPeduli Semesta

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Selasa, 14 April 2026 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Sleman menggelar acara Syawalan di Pendopo Bupati Sleman dengan tajuk Silaturrahmi Idul Fitri 1447 H, “Aisyiyah bergerak untuk mencerdaskan generasi unggul dan peduli semesta”. Acara ini diikuti oleh jajaran PDA, PCA dan PRA se kabupaten Sleman. Acara diawali dengan doa pembuka, pembacaan ayat suci Al Quran, menyanyikan lagu Indonesua Raya dan Mars Aisyiyah. Dilanjut dengan sambutan-sambutan.  Sambutan yang pertama disampaikan oleh Ketua PDA Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Hanik Rosyadah, M.Ag. “Tugas berat bagi Aisyiyah yang harus mencerdaskan generasi unggul namun juga sekaligus harus menjaga semesta dengan peduli kepada semesta, tegas beliau mengingatkan warga Aisyiyah. Selanjutnya sambutan dari Bunda Hj. Zulaiha, Pimpinan Wilayah Aisyiyah DIY,  beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Aisyiyah yang telah melaksanakan agenda-agenda persyarikatan termasuk juga bantuan bencana ke Aceh yang Aisyiyah Kabupaten Sleman menjadi donatur terbanyak di DIY. Aisyiyah harus berdaya, bergerak dan berdampak.  Kemudian Danang Maharsa S.E., Wakil Bupati Sleman menyampaikan sambutan  menyampaikan pesan dari Bupati Sleman untuk Aisyiyah sebagai organisasi yang kontribusinya dapat dilihat nyata dalam kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Aisyiyah diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam bergerak, bermanfaat, dan menjadi teladan dalam kehidupan masyarakat.  Setelah itu, dibacakan ikrar syawalan yang dipandu oleh Sunarti, S. Pd. dan pembacaan doa  yang dipimpin H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A., ketua PDM Kabupaten Sleman. Pada hikmah syawalan, Dra. Hj. Eny Harjanti memberikan tausiah bahwa ibu mengemban amanah besar dalam menyiapkan generasi yang unggul. Maka ibu diminta bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah tersebut, sebagaimana lirik Mars Aisyiyah yang menekankan “ditanganmulah nasib bangsa”. Rep  Pamuji Subekti SSi PCA Tempel MPI PDM Sleman

Loading

Silaturahmi Syawwal Keluarga Besar Muhammadiyah Sleman

Keluarga besar Muhammadiyah Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Pengajian Silaturahmi Syawwal yang dirangkai dengan acara pamitan haji, bertempat di Masjid Agung Sleman pada Ahad pagi sampai siang tanggal 12 April 2026. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan dan kehangatan, dihadiri oleh pimpinan daerah, warga persyarikatan, serta masyarakat sekitar. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Indonesia Raya dan Sang surya, dilanjutkan dengan sambutan ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman, H. Harjaka, S.Ag, S.Pd, M.A., menyampaikan bahwa menjadi warga Muhammadiyah itu harus mantab dan semangat. Alhamdulillah dari Sleman ada 390 orang calhaj dari KBIHU atau Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh Aisyiyah dan berangkat dalam satu kloter. Harjaka menekankan bahwa biro haji dan umroh yang resmi di Muhammadiyah Sleman dan di Yogyakarta adalah KBIHU Aisyiyah. “Semoga menjadi haji yang mabrur membawa manfaat bagi masyarakat yang banyak”, tegas Harjaka Drs. Susmiarto,  M.M. selaku pemerintah mewakili bupati Sleman mengucapkan terimakasih dan mengucapkan taqobbalallahu minna waminkum mohon maaf lahir dan batin kedapan lebih baik lagi, peran Muhammadiyah sangat besar, indek 86,5 persen krn peran pendidikan di Muhammadiyah, kualitas harus ditingkatkan,  bidang kesehatan juga meningkat usia harapan hidup, kepada calon jamaah haji semoga dapat menunaikan segala sunah rukun dan wajib. Semoga Muhammadiyah Sleman makin semangat untuk membawa masyarakat lebih maju. Pengajian inti disampaikan oleh Muhammad Rofiq Muzzakir, Lc, M.A., Ph.D, sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah yang menyampaikan 3 hal yaitu: Pertama, siapa yang menguasai algoritma maka akan menguasai dunia, sekarang ini ada pengajian di roblox sambil main game. Bahkan Muhammadiyah sudah punya universitas siber Muhammadiyah bahkan mahasiswa sejak 4 tahun lalu ada 5.000 mahasiswa serta kuliah dengan virtual. Muhammadiyah masuk disitu melalui universitas siber. Serta kapling2 didunia digital. Muhammadiyah juga sudah mengeluarkan produk berupa kripto. Dulu yang berharga itu emas dan perak selama beberapa dekade tapi sejak terjadi peristiwa tahun 1971 perang vietnam. Uang dicetak tanpa melihat cadangan emas. Yang berharga bukan lagi barang bongkahan tapi algoritma kripto yang tercatat. Majelis tarjih menyebut bahwa kripto sebagai alat transaksi yang jika sudah nisob maka dizakati. Kedua, masalah kepadatan penduduk. Saat ini jumlah penduduk ada 8 milyar. Fatwa tarjih tentang pembayaran dam, setelah mengkaji bahwa penyembelihan hewan qurban bisa dialihkan ke tanah air. Problemnya karena jumlah jamaah haji di tanah suci meningkat jadi 1,6 juta jamaah sehingga terjadi problem. Melihat naas dalil tentang dam, perintah menyembelih hewan qurban awalnya untuk logistik jamaah haji, untuk fakir miskin di sekitar arab saudi. Tetapi saat ini sudah terjamin kedua hal itu. Sehingga diperluas untuk membantu masyarakat yang tidak mampu di tanah air. Data dari 200ribu. 27.000 memilih menyembelih hewan dam di tanah air. Tugas kita bersama adalah untuk mensuplai merata bagi fakir miskin untuk meningkatkan protein masyarakat. Ketiga, Memaknai Ulil Amri, secara ilmiah tafsir tentang Ulil Amri bersumber dari Surat Annisa ayat 59. Disampaikan juga asbabul nuzul ayat ini, secara umum bahwa barang siapa beriman, untuk taat kepada Allah, Rasul (Nabi Muhammad SAW), dan Ulil Amri (pemimpin/pemegang kekuasaan). Jika terjadi perselisihan, perkara wajib dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ketaatan kepada pemimpin dibatasi selama tidak memerintahkan maksiat. Namun secara khusus asbabul nuzulnya tentang ulil amri itu bisa berupa ulama, pemimpin ormas Islam Muhammadiyah bisa disebut sebagai ulil amri dalam ibadah, para dokter juga ulil amri dibidang kesehatan, insyinyur juga ulil amri di bidang bangunan, kepala sekolah juga ulil amri serta bidang lain yang secara khosos Dengan terselenggaranya kegiatan silaturahmi syawwal 1447 H ini, keluarga besar Muhammadiyah Sleman meneguhkan kembali peran dakwahnya sebagai gerakan Islam yang berkemajuan, sekaligus menghadirkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian di tengah masyarakat. Acara ini dihadiri 5.000 an jamaah yang terdiri dari berbagai unsur Muhammadiyah serta Amal Usaha Muhammadiyah sebagai kalender tahunan di Bulan Syawwal. Kontributor: Wahdan Arifudin

Loading

PCM Sleman Laksanakan Pembinaan Ustadz-Ustadzah, Cetak Generasi Muda Berkemajuan

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman menggelar kegiatan pembinaan dan pelatihan ustadz-ustadzah bagi generasi muda dalam rangka mencetak kader dakwah yang berakhlak dan berkemajuan. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Prima SR, Jalan Magelang Km 11, pada Sabtu (11/4/2026), dan diikuti sekitar 100 peserta dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Kapanewon Sleman. Pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan kader yang turut didukung melalui penyaluran bantuan dari Lazismu PKU. Kegiatan dikomandoi oleh Arif Hakim selaku perwakilan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Sleman yang menekankan pentingnya peran strategis generasi muda dalam dakwah di tengah masyarakat. Ketua PCM Sleman, Zahrul Mufrodi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kader muda Muhammadiyah harus mampu menjadi ustadz dan ustadzah yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga memiliki akhlak yang kuat. “Kader muda harus mampu menciptakan ustadz-ustadzah yang berakhlak, yang menebar kebaikan sebanyak-banyaknya di mana pun mereka berada. Dakwah bukan hanya soal ilmu, tetapi juga keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ia menambahkan, pembinaan ini menjadi langkah konkret dalam menyiapkan generasi penerus Muhammadiyah yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Selain itu, dukungan moral dan material juga diberikan oleh Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sleman, Ibu Musabikah. Bantuan yang disalurkan kepada para peserta pelatihan disebut sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang kepada generasi muda Muhammadiyah. “Ini adalah bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, agar mereka semakin semangat dalam menuntut ilmu dan berdakwah,” ungkapnya. Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi lintas organisasi otonom Muhammadiyah, seperti Pemuda Muhammadiyah, KOKAM, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), AMM ranting, hingga para penggiat masjid. Kehadiran berbagai elemen tersebut memperkuat konsolidasi gerakan dakwah di kalangan generasi muda. Suasana penuh semangat tampak sepanjang kegiatan, dengan para peserta berkomitmen untuk mengamalkan nilai fastabiqul khairat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan motivasi baru dalam berdakwah di lingkungan masing-masing. “Kami bertekad untuk menghidupkan Sleman melalui kegiatan-kegiatan positif dan menjadikan masyarakat yang gemar menuntut ilmu,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, PCM Sleman bersama AMM berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak dakwah yang mencerahkan dan memajukan masyarakat Sleman.

Loading