Seminar Kesehatan Reproduksi Remaja Berakhlak dan Sehat: Perspektif Islam dalam Kesehatan Reproduksi

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman menggelar seminar kesehatan reproduksi bertajuk “Remaja Berakhlak dan Sehat: Perspektif Islam dalam Kesehatan Reproduksi” di Hall Baroroh, Gedung Siti Walidah Lantai 4 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti ratusan pelajar perwakilan SMU/SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman. Seminar tersebut bertujuan memberikan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi yang selaras dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Penyelenggara menilai, remaja saat ini menghadapi tantangan serius, baik dari sisi kesehatan fisik maupun degradasi moral akibat arus informasi yang tidak terbendung. Dalam sesi pemaparan, Anjarwati, S.SiT., MPH menjelaskan dari perspektif medis bahwa pemahaman terhadap fungsi organ reproduksi menjadi dasar penting bagi remaja. “Edukasi kesehatan reproduksi tidak boleh dianggap tabu. Justru dengan pemahaman yang benar, remaja dapat menjaga diri dari risiko penyakit maupun perilaku yang merugikan,” ujarnya. Sementara itu, Royan Utsany, Lc., M.S.I menyoroti aspek keislaman dalam menjaga kehormatan diri. Ia menegaskan bahwa kesehatan fisik harus berjalan beriringan dengan kekuatan iman. “Remaja harus memiliki benteng akhlak. Menjaga kehormatan diri bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga perintah syariat yang melindungi manusia dari kerusakan,” katanya. Materi edukasi juga diperkuat oleh Bhakti Gusti Walinegoro, S.IP., MPP yang memperkenalkan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sebagai institusi pendidikan yang mengintegrasikan ilmu kesehatan dengan nilai-nilai Islam. Ia mendorong peserta untuk melanjutkan pendidikan di lingkungan akademik yang mendukung pembentukan karakter. Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Dr. Ismarwati, S.ST., S.KM., M.PH dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY, Dr. Yuli Isnaeni, S.Kp., M.Kep., Sp.Kom dari unsur rektorat UNISA, serta jajaran pimpinan PDA Sleman dan Majelis Dikdasmen. Ketua PDA Sleman, Dra. Hj. Hanik Rosyada, M.Ag dalam sambutannya menegaskan pentingnya pembinaan generasi muda secara menyeluruh. “Melalui seminar ini, kita ingin mencetak remaja Muhammadiyah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sehat secara fisik dan memiliki benteng iman yang kuat,” tuturnya. Ia menambahkan, peran keluarga, sekolah, dan organisasi seperti ‘Aisyiyah sangat strategis dalam membentuk karakter remaja di tengah tantangan globalisasi. Para peserta terlihat antusias mengikuti setiap sesi, termasuk diskusi interaktif yang membahas isu-isu aktual seputar pergaulan remaja dan kesehatan reproduksi. Panitia berharap, ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan terselenggaranya seminar ini, PDA Sleman berharap para pelajar mampu menjadi agen perubahan yang mempromosikan gaya hidup sehat dan berakhlak di lingkungan sebaya. Edukasi berkelanjutan dinilai menjadi kunci dalam menciptakan generasi muda yang tangguh, berintegritas, dan berdaya saing di masa depan. Agustina Suprobowati  Sekretaris Majelis Kesehatan. PDA Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Silaturrahmi Idul Fitri 1447 H, “Aisyiyah Sleman Bergerak Untuk Mencerdaskan Generasi Unggul danPeduli Semesta

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Selasa, 14 April 2026 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Sleman menggelar acara Syawalan di Pendopo Bupati Sleman dengan tajuk Silaturrahmi Idul Fitri 1447 H, “Aisyiyah bergerak untuk mencerdaskan generasi unggul dan peduli semesta”. Acara ini diikuti oleh jajaran PDA, PCA dan PRA se kabupaten Sleman. Acara diawali dengan doa pembuka, pembacaan ayat suci Al Quran, menyanyikan lagu Indonesua Raya dan Mars Aisyiyah. Dilanjut dengan sambutan-sambutan.  Sambutan yang pertama disampaikan oleh Ketua PDA Kabupaten Sleman, Dra. Hj. Hanik Rosyadah, M.Ag. “Tugas berat bagi Aisyiyah yang harus mencerdaskan generasi unggul namun juga sekaligus harus menjaga semesta dengan peduli kepada semesta, tegas beliau mengingatkan warga Aisyiyah. Selanjutnya sambutan dari Bunda Hj. Zulaiha, Pimpinan Wilayah Aisyiyah DIY,  beliau menyampaikan ucapan terima kasih kepada warga Aisyiyah yang telah melaksanakan agenda-agenda persyarikatan termasuk juga bantuan bencana ke Aceh yang Aisyiyah Kabupaten Sleman menjadi donatur terbanyak di DIY. Aisyiyah harus berdaya, bergerak dan berdampak.  Kemudian Danang Maharsa S.E., Wakil Bupati Sleman menyampaikan sambutan  menyampaikan pesan dari Bupati Sleman untuk Aisyiyah sebagai organisasi yang kontribusinya dapat dilihat nyata dalam kegiatan di bidang pendidikan, kesehatan, sosial dan ekonomi. Aisyiyah diharapkan menjadi mitra pemerintah dalam bergerak, bermanfaat, dan menjadi teladan dalam kehidupan masyarakat.  Setelah itu, dibacakan ikrar syawalan yang dipandu oleh Sunarti, S. Pd. dan pembacaan doa  yang dipimpin H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A., ketua PDM Kabupaten Sleman. Pada hikmah syawalan, Dra. Hj. Eny Harjanti memberikan tausiah bahwa ibu mengemban amanah besar dalam menyiapkan generasi yang unggul. Maka ibu diminta bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah tersebut, sebagaimana lirik Mars Aisyiyah yang menekankan “ditanganmulah nasib bangsa”. Rep  Pamuji Subekti SSi PCA Tempel MPI PDM Sleman

Loading

PCNA Turi Luncurkan Program “Pusat Belajar Keluarga” Lewat Kajian Kemuslimahan yang Inspiratif

Turi , Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Turi sukses menyelenggarakan kegiatan “Kajian Kemuslimahan & Launching Program Pusat Belajar Keluarga” pada Sabtu (14/03/2026). Bertempat di SMK Muhammadiyah 1 Turi, acara ini dihadiri oleh 25 peserta yang berasal dari berbagai organisasi lintas sektoral, menunjukkan antusiasme yang tinggi terhadap penguatan peran perempuan dan keluarga. Kegiatan ini merupakan buah manis dari kerja sama antara PCNA Turi dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kolaborasi ini terwujud melalui salah satu dosen UMY, yakni Yunda Anisa Dwi Makrufi, M.Pd.I., yang merupakan Kepala Departemen Dakwah dan Pendidikan PCNA Turi sekaligus juga bertindak sebagai narasumber utama.  Dalam penyampaiannya, Anisa DM membawakan materi mendalam mengenai strategi menghidupkan bulan suci melalui framework Ramadan yang mindful (sadar penuh), meaningful (bermakna), dan joyful (menyenangkan). Selain itu, Yunda Anisa juga menekankan “ pentingnya empat pilar bagi wanita untuk meraih surga, yakni menjaga salat wajib, menunaikan puasa Ramadan, menjaga kehormatan diri, serta taat kepada suami”.  Suasana diskusi berlangsung sangat dinamis; para peserta tidak hanya menyimak secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam memberikan pertanyaan serta umpan balik yang kritis selama sesi materi berlangsung. Meski Ketua PCNA Turi, Yunda Dyah Harumming Kinanti, berhalangan hadir secara fisik, esensi kepemimpinannya tetap terasa kental. Keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan moril serta sumbangsih konsep yang ia rancang sejak awal. Hal ini didukung penuh oleh kerja keras jajaran Pimpinan Harian (PH) PCNA Turi yang bahu-membahu dalam mempersiapkan segala aspek teknis demi terwujudnya acara yang bermanfaat ini. Melalui peluncuran “Pusat Belajar Keluarga” hasil kolaborasi dengan akademisi UMY ini, PCNA Turi berharap dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi para perempuan di wilayah Turi dan sekitarnya untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik dalam aspek keagamaan maupun dalam membina ketahanan keluarga. Rep Nana  PCNA Turi Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Ketua PCM Turi Ajak Maksimalkan Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Turi, Drs. Bambang Rahmanto, mengajak umat Islam untuk memaksimalkan berbagai amalan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pesan tersebut disampaikan saat memberikan materi dalam kegiatan Baitul Arqam yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Bangunkerto 1 dan Bangunkerto 2, Kecamatan Turi, Sleman. Dalam kesempatan tersebut, Bambang Rahmanto menekankan pentingnya memanfaatkan malam-malam terakhir Ramadhan sebagai momentum meraih keutamaan Lailatul Qadar, malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. “Sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan yang sangat berharga bagi setiap muslim untuk memperbanyak amal ibadah. Jangan sampai kesempatan ini terlewat begitu saja,” ujarnya di hadapan para peserta Baitul Arqam. Ia menjelaskan beberapa amalan sederhana yang dapat dilakukan secara konsisten setiap malam selama sepuluh hari terakhir Ramadhan. Salah satunya adalah bersedekah setiap hari meskipun dengan nominal kecil. “Sedekahkan kepada siapa saja setiap hari minimal Rp1.000 dalam sepuluh malam terakhir. Jika Lailatul Qadar jatuh pada malam tersebut, maka pahala sedekah itu seakan-akan dilakukan selama 84 tahun,” jelas Bambang Rahmanto. Selain sedekah, ia juga menganjurkan umat Islam untuk melaksanakan shalat sunnah minimal dua rakaat setiap malam. Menurutnya, amalan sederhana namun dilakukan dengan istiqamah dapat menjadi ladang pahala besar apabila bertepatan dengan malam Lailatul Qadar. “Kerjakan shalat sunnah minimal dua rakaat setiap malam. Jika malam itu adalah Lailatul Qadar, maka seolah-olah kita melakukan shalat selama 84 tahun,” katanya. Ia juga mengingatkan pentingnya membaca Al-Qur’an, salah satunya dengan membaca Surat Al-Ikhlas minimal tiga kali setiap malam. “Jika kita membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali setiap malam dan itu bertepatan dengan Lailatul Qadar, maka pahalanya seperti mengkhatamkan Al-Qur’an selama puluhan tahun,” tambahnya. Lebih lanjut, Bambang Rahmanto mendorong umat Islam untuk memahami makna dan keagungan Lailatul Qadar dengan membaca tafsir Surat Al-Qadar. Menurutnya, pemahaman yang mendalam akan membuat seseorang lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak hanya menunggu malam ke-27 Ramadhan untuk memperbanyak ibadah. Sebab, Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam mana pun di sepuluh malam terakhir. “Jangan menunggu malam tertentu saja. Jadikan seluruh sepuluh malam terakhir sebagai target ibadah kita,” tegasnya. Dalam kesempatan itu, Bambang Rahmanto juga mengingatkan doa yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika mencari Lailatul Qadar, yaitu “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” yang berarti, Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan menyukai pengampunan, maka ampunilah aku. Selain memperbanyak ibadah, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik dengan istirahat yang cukup, seperti melakukan tidur siang sejenak atau qailulah, serta menjaga pola makan agar tidak berlebihan. Bambang Rahmanto juga mengajak umat Islam untuk melibatkan keluarga dalam ibadah malam, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang membangunkan keluarganya pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ia menutup pesannya dengan mengingatkan agar seluruh amal ibadah dilakukan dengan ikhlas dan tidak dipamerkan di media sosial. “Biarlah ibadah itu menjadi rahasia indah antara kita dengan Allah. Yang paling penting adalah kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya,” pungkasnya.

Loading

Baitul Arqam ‘Aisyiyah Turi Perkuat Kader Perempuan Berkemajuan

Turi, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Bangunkerto I dan II, Turi, Sleman menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam sebagai upaya memperkuat kaderisasi dan memperdalam pemahaman keislaman bagi anggota ‘Aisyiyah. Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Kartopranjanan Ngentak pada 6–7 Maret 2026 ini dihadiri berbagai unsur pimpinan Muhammadiyah serta tokoh masyarakat setempat. Sejumlah tamu undangan yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain perwakilan PCM Turi, PCA Turi, dukuh setempat, PRM Ngentak, serta unsur masyarakat seperti RW, RT, dan takmir masjid. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap penguatan gerakan dakwah perempuan Muhammadiyah di tingkat akar rumput. Acara diawali dengan registrasi peserta, dilanjutkan pembukaan yang dipandu oleh panitia. Rangkaian pembukaan meliputi tilawah Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, serta Mars ‘Aisyiyah, sebelum dilanjutkan dengan sambutan dari para pimpinan organisasi. Ketua PRA Ngentak, Siti Kusniah, S.Pd, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Baitul Arqam menjadi sarana penting untuk memperkuat ideologi serta komitmen kader dalam menjalankan dakwah Islam. “Melalui kegiatan ini kami berharap para kader ‘Aisyiyah semakin memahami nilai-nilai perjuangan organisasi dan mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat,” ujarnya. Sementara itu Ketua PCA Turi, Sri Winarti, M.Pd, menyampaikan bahwa kaderisasi merupakan ruh gerakan ‘Aisyiyah yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Menurutnya, kader ‘Aisyiyah tidak hanya dituntut aktif dalam organisasi, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, berilmu, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Kader ‘Aisyiyah harus memiliki iman yang kuat, ikhlas dalam beramal, serta mampu menjadi teladan di tengah masyarakat,” kata Sri Winarti. Kegiatan Baitul Arqam tersebut menghadirkan berbagai materi yang bertujuan memperkaya wawasan peserta, di antaranya dinamika perjuangan ‘Aisyiyah, ibadah praktis, kepemimpinan dalam organisasi, hingga motivasi perempuan inspiratif dan risalah perempuan berkemajuan. Materi-materi tersebut disampaikan oleh sejumlah narasumber dari unsur pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah seperti dengan materi PHIWM / Kepemimpinan, Motifasi Perempuan Inspiratif, Kreatif, Produktif dan Risalah Perempuan Berkemajuan, ke Aisyiyahan dengan pemateri MPK PDA Sleman, Firra Berlinawati, S.Psi.,M.Psi.,Psikolog, PCM TURI Drs. Bambang, Hj. Sri W Mpd. Turi, Pdmsleman.Mu.Or.Id Selain materi kelas, peserta juga mengikuti kegiatan spiritual seperti shalat tahajud, shalat subuh berjamaah, kultum, serta aktivitas kebersamaan berupa senam dan outbound untuk mempererat ukhuwah di antara peserta. Dalam perspektif organisasi, kader ‘Aisyiyah merupakan penerus, pelopor, sekaligus penggerak amal usaha yang memiliki peran strategis dalam menyebarkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar di tengah masyarakat. Melalui kegiatan ini diharapkan lahir kader-kader perempuan Muhammadiyah yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara benar, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, empati sosial, serta semangat berkhidmat bagi umat. Kegiatan Baitul Arqam tersebut ditutup dengan pembagian santunan hari raya kepada 18 Duafa dan 5 anak yatim. Eni S salah satu panitia berpesan kepada para peserta agar terus aktif dalam gerakan dakwah dan kegiatan sosial kemasyarakatan di lingkungan masing-masing. Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna memperkuat peran ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam yang berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil, makmur, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Rep : Eni S  PCA Turi Editor  ARief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Peran Perempuan Era Indonesia Emas

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Menuju Indonesia Emas, pemenuhan hak-hak demokrasi seluruh warga negara merupakan fondasi penting bagi pembangunan yang inklusif dan berkeadilan. Namun demikian, hingga saat ini partisipasi dan kepemimpinan perempuan dalam ruang publik, khususnya di tingkat lokal dan desa, masih relatif rendah dibandingkan laki-laki. “ Kondisi ini berdampak pada belum optimalnya pengakomodasian kebutuhan, aspirasi, dan kepentingan perempuan dan anak dalam proses pengambilan kebijakan publik. Rendahnya literasi mengenai hak-hak perempuan, keterbatasan kapasitas kepemimpinan, serta minimnya pendampingan advokasi menjadi permasalahan utama yang dihadapi perempuan dalam mengakses dan memanfaatkan ruang-ruang demokrasi”. Demikian Sebagian dari isi orasi Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UMY, Prof. Dr. Nur Azizah M.Si, ketika mempresentasikan idenya di hadapan para pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel Sleman pada Ahad 1 maret 2026. Dalam rangka meningkatkan spirit peran kaum Perempuan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar kegiatan masyarakat dengan berbagai  tema. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Prof. Dr. Nur Azizah M. SI. Tokoh aktifis Perempuan ini menyoroti masih rendahnya tingkat partisipasi Perempuan dalam masyarakat termasuk dalam tata Kelola birokrasi di Sleman.  Ia mencontohkan betapa peran kaum Perempuan dalam tata Kelola masyarakat telah dicontohkan sejak jaman Nab, misalnya adalah Siti Khadijah dan Aisyah yang punya peran penting dalam dakwah Nabi Muhammad. Ada juga tokoh perempuan yang ikut jihad perang, yakni Nusayba binti Ka’ab yang ikut bertempur dalam perang Uhud. Dalam rekan jejak perjuangan bangsa, ada tokoh Mahalayati yang mampu mengalahkan Cornelis de Houtman di Aceh. Orasi yang bersemangat ini menarik peserta pengabdian masyarakat yang semuanya adalah kaum Perempuan di lingkungan Muhammadiyah Cabang Tempel. Banun Rohyatiningsih, mewakili PCA Tempel, menyampaikan rasa gembira dan terimakasih nya atas penyelenggaraan program Abdimas ini. Menurutnya “ hal ini akan memberikan semangat kepada segenap pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel untuk lebih aktif lagi dan mendorong warganya terliat aktif dalam birokrasi kepemerintahan”. Dalam acara ini diserahkan pula hibah untuk mitra (PCA) berupa modal untuk pembelian bibit indukan ternak domba untuk dapat dikembang biakkan, sehingga pada akhirnya menjadi salah satu sumber pendapatan pendanaan kegiatan kegiatan PCA Tempel.   Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Wasiat Luhur Dalam Pendidikan Keluarga Aisyiyah

 Tempel. Pdmsleman.Or.Id Gen Z, sebuah generasi yang penuh dengan warna- warni karakter yanng kadang sangat mengkhawatirkan. Mereka tumbuh Bersama berkembangnya gadget dan tehnologi informasi yang membersamainya. Mereka tumbuh berkembang di dalamnya, belajar darinya, bahkan hidup bersamanya (gadget itu). Akibatnya adalah settingan norma dalam pikirannya adalah setingan gadget,bukan hasil pendidikan moral dan perilaku yang terpola dan terencana. Pola pikiran dan perilaku mereka cenderung mengikuti apa yang ada di gadget. ‘Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena remaja remaja kita terdidik oleh nilai yang entah berasal dari mana, dan banyak sekali betentangan dengan norma keseharian hidup kita. Mereka cenderung menjadi insan insan yang cuek, tak peduli lingkungan sekitar, tak banyak tahu tentang adab, tata krama dan lain sebagainya’.  Padahal, dalam masyarakat kita, banyak wasiat- wasiat yang luhur. Oleh karenanya, sebagai orang tua, apalagi ibu, tidak boleh kecolongan, mengandalkan gadget sebagai sarana edukasi anak. Ii amat berbahaya. Demikianlah disampaikan Dra. Mutia Hariati Hussin, M. Si, dosen senior di Prodi Hubungan Internasional UMY di depan 60 an pimpinan Cabang Aisyiyah se Cabang Tempel pada Ahad 1 Maret 2026, sebagai bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ber-wasiat bukan hanya mewariskan harta tetapi juga nilai moral, etika, atau filosofi hidup yang dijaga oleh keluarga atau komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wasiat juga bisa berupa pepatah dan peribahasa seperti misalnya, “alon-alon waton kelakon’, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini adalah bentuk wasiat budaya yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan solidaritas. Dalam Kehidupan Sehari-Hari, orang tua mewariskan nasihat tentang kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan sebagai wasiat moral. Desa atau masyarakat adat dapat melestarikan pepatah tradisional sebagai wasiat kolektif, yang mengatur hubungan sosial dan menjaga harmoni, dan di level nasional wasiat para pendiri bangsa berupa semboyan atau falsafah hidup, misalnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pedoman bersama yang harus terus dijaga. Secara Filosofis, wasiat dalam bentuk pepatah/peribahasa adalah penjaga identitas budaya yang menjadi pedoman hidup. Ia berfungsi sebagai jembatan antar generasi, memastikan agar generasi berikutnya tetap berpegang pada nilai luhur sehingga nilai kebijaksanaan tidak hilang ditelan zaman. Berbagi Wasiat menegaskan bahwa berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal warisan intelektual dan moral .

Loading

Wasiat Luhur Dalam Pendidikan Keluarga Aisyiyah

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Gen Z, sebuah generasi yang penuh dengan warna- warni karakter yang kadang sangat mengkhawatirkan. Mereka tumbuh Bersama berkembangnya gadget dan tehnologi inforn=masi yang membersaianya. Mereka tumbuh berkembang di dalamnya, belajar darinya, bahkan hidup bersamanya (gadget itu). Akibatnya adalah settingan norma dalam pikirannya adalah setingan gad get,bukan hasil pendidikan moral dan perilaku yang terpola dan terencana. Pola pikiran dan perilaku mereka cenderung mengikuti apa yang ada di gadget. Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena remaja remaja kita terdidik oleh nilai yang entah berasal dari mana dan banyak sekali bertentangan dengan norma keseharian hidup kita. Mereka cenderung menjadi insan insan yang cuek, tak peduli lingkungan sekitar, tak banyak tahu tentang adab, tata krama dan lain sebagainya. Padahal, dalam masyarakat kita banyak wasiat wasiat yang luhur. Oleh karenanya, sebagai orang tua apalagi ibu, tidak boleh kecolongan mengandalkan gadget sebagai sarana edukasi anak dan hal ini amat berbahaya. “ Anak anak Gen Z dewasa ini tampaknya kering akan siraman warisan nilai luhur bangsa. Berbagi wasiat bukanlah sekedar harta, tetapi juga persoalan warisan inteletual dan moral”. Sebagaimana disampaikan Dra. Mutia Hariati Hussin, M. Si, dosen senior di Prodi Hubungan Internasional UMY di depan 60-an pimpinan Cabang Aisyiyah se Cabang Tempel, sebagai bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada ahad 1 Maret 2026. “Ayo ibu-ibu, sebagai madrasah pertama dan garda depan pendidikan bagi generasi muda penerus bangsa, kita gunakan lagi pepatah dan peribahasa sebagai wasiat yang berguna untuk menjadi pedoman hidup. Ingat, bumi tempat kita hidup adalah ‘pinjaman’ dari anak cucu kita. Mari hidupkan pepatah, hijaukan desa, kembalikan bumi kepada anak cucu kita dalam kondisi yang nyaman untuk hidup dimasa depan”, tegas Bu Mutia. Ber-wasiat bukan hanya mewariskan harta tetapi juga nilai moral, etika, atau filosofi hidup yang dijaga oleh keluarga atau komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wasiat juga bisa berupa pepatah dan peribahasa seperti misalnya, “alon-alon waton kelakon’, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini adalah bentuk wasiat budaya yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan solidaritas. Dalam Kehidupan Sehari-Hari, orang tua mewariskan nasihat tentang kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan sebagai wasiat moral. Desa atau masyarakat adat dapat melestarikan pepatah tradisional sebagai wasiat kolektif, yang mengatur hubungan sosial dan menjaga harmoni, dan di level nasional wasiat para pendiri bangsa berupa semboyan atau falsafah hidup, misalnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pedoman bersama yang harus terus dijaga. Secara Filosofis, wasiat dalam bentuk pepatah/peribahasa adalah penjaga identitas budaya yang menjadi pedoman hidup. Ia berfungsi sebagai jembatan antar generasi, memastikan agar generasi berikutnya tetap berpegang pada nilai luhur sehingga nilai kebijaksanaan tidak hilang ditelan zaman. Berbagi Wasiat menegaskan bahwa berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal warisan intelektual dan moral . Rep Roy PCM Tempel Editor  arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Kajian Ekologi Bagi Warga Aisyiyah Berbah, Kebersihan Hati dan Lingkungan 

Berbah, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Berbah menyelenggarakan  pengajian Ramadhan  pada hari Sabtu, 11 Ramadhan 1447 H  bertepatan dengan 28 Februari 2026  bertempat di Masjid Al Hikmah Krikilan, Tegaltirto, Berbah, Sleman. Yogyakarta . Hadir dalam kegiatan Ketua PCA Berbah Hj. Isrodah,S.Pd beserta pengurus PCA Berbah, beserta 5 Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) di Berbah. Guru  IGABA SE Berbah. Dalam sambutannya Ketua PCA Berbah Hj. Isrodah. SPd menyampaikan bahwa pengajian ini merupakan pengajian rutin yang diadakan setiap Ramadhan, yang tempatnya bergilir dari ranting ke ranting. Di ikuti oleh seluruh jamaah Aisyiyah di seluruh Berbah. Bahkan ada jamaah bapak-bapak yang ikut serta dalam kegiatan ini. Antusiasme jamaah semakin banyak disetiap tahunnya. Dikesempatan ini dihadiri 250 jamaah Aisyiyah dari seluruh ranting di Cabang Berbah. “Semoga tahun depan bisa lebih banyak lagi jamaah yang mengikuti pengajian.” Dalam pengajian Ramadhan 1447 H diawali dengan tadarus Al Quran secara Bersama-sama dipinpin oleh Ibu Siti Aminah, S,Pd. Pengajian kali ini mengambil tema “Gerakan Aisyiyah membangun kesalehan ekologis berkeadilan” yang disampaikan oleh ustadzah Dra. Sri Sumyarsi.,M.Pd., M.S.I wakil ketua MTP PDA Sleman.  Dalam Tausyiah ustadzah  Sri  Sumyarsi  menyampaikan bahwasanya seorang ibu itu harus tangguh dalam segala hal. Terutama dalam membangun kesalehan ekologis berkeadilan sesuai dengan QS. Al Mukminin ayat 1-2. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang menjaga sholatnya shalat akan membuat manusia tenang yang tak terhingga, didalam hati. Betapa ada rasa Deket yang luar biasa (bisa dirasakan) pada Allah SWT apabila dijalankan dengan khusyuk. “Mari membangun budaya bersih melalui sholat. Sholat hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang bersih saja, sholat akan menjadikan kebersihan lahir batin bagi pelakunya.” Ajak ustadzah. Sejauh mana peran kita terhadap kebersihan? Diantaranya  pertama Aisyiyah beliau peka pada keshakihah ekologis . Berkeadilan melalui dakwah amar makruf nahi Munkar yang mengintegrasikan ajaran Islam dengan pelestarian lingkungan sekitar. Kedua Fokus utamanya menjadikan kebersihan dan pengelolaan sampah 3R Reduce, Reuse, Recycle  sebagai bagian dari Iman serta menempatkan perempuan sebagai agen perubahan. Sesuai dengan penggalan QS. Al An’am: 151 yang artinya “demikian itu yang diperintahkan Tuhan kepadamu supaya kamu berpikir(Ta’qiluun). Maka manfaatkanlah dan berupayalah menjadi muslimah yang cerdas, pintar, kaya ilmu, Energik bersemangat serta senantiasa aktif dalam menyiarkan kebenaran Allah SWT, sehingga benar-benar menjadi wanita yang berilmu dan terdidik.Ketiga Aisyiyah memandang menjaga kebersihan dan lingkungan sebagai wujud nyata iman. al thuhuru syathruliman ( Kesucian itu bagian dari iman).     Disinilah ekolagi dijadikan ladang amal Sholih untuk menyelamatkan bumi. Dengan demikian marilah kita fungsikan rumah tangga yang mampu untuk menanamkan nilai-nilai kepekaan lingkungan pada keluarga dalam mengurangi sampah dengan memanfaatkan limbah sampah organik sebagai pupuk untuk tanaman dan mengurangi sampah-sampah plastik.“Peran Ekofeminisme perempuan difungsikan sebagai manajer Rumah Tangga yang mampu menanamkan nilai kepekaan terhadap lingkungan keluarga dalam mengurangi sampah.” Tutur ustadzah mengakhiri tausyiah nya. Acara  berakhir dengan pembagian dorprice spesial untuk bapak-bapak yang selalu aktif mengikuti pengajian Ramadhan yang diadakan oleh Pimpinan Cabang Aisyiyah dan dorprice untuk para jamaah yang beruntung. Rep Kusnadi Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

PDA Sleman Gelar Kajian Ramadhan, Dorong Gerakan Zero Waste dari Keluarga ‘Aisyiyah

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Sleman menggelar Kajian Ramadhan pada Ahad, 22 Februari 2026, di Gedung ‘Aisyiyah Centre Ngepas. Sejak pagi, ruang  pertemuan aula lantai 2 dipenuhi jajaran pimpinan harian dan pleno PDA Sleman, Parmila Hardo Kiswoyo SE serta sekitar 300 jamaah dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) se-Kabupaten Sleman. Suasana khidmat berpadu hangat pengajian ini bukan sekadar rutinitas Ramadhan, melainkan ruang temu yang menguatkan semangat dakwah sekaligus kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ketua PDA Sleman, Hj. Hanik Rosyada, M.Ag menegaskan bahwa Kajian Ramadhan ini dirancang sebagai napas panjang pembinaan. “Pengajian tidak berhenti di bulan Ramadhan. Insyaallah, akan kami rutinkan sebulan sekali di luar Ramadhan agar ikatan jamaah tetap terjaga dan pembinaan terus berjalan,” tuturnya, menekankan pentingnya kesinambungan gerakan perempuan mengaji yang berkemajuan.Dalam sambutan yang sama,  Hanik juga menyampaikan kabar menggembirakan terkait pemanfaatan Gedung ‘Aisyiyah Centre Ngepas. Gedung tersebut kini telah dapat digunakan untuk berbagai aktivitas dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan warga ‘Aisyiyah. “Fasilitas ini kita buka seluas-luasnya untuk kegiatan ‘Aisyiyah. Mohon dukungan agar pembangunan lantai dua yang belum rampung dapat segera dilanjutkan, sehingga ke depan kita memiliki ruang yang lebih representatif untuk melayani umat,” ujarnya. Ibu Parmila HK, SE dalam kesempatan ini membersamai para jama’ah.  Kajian Ramadhan kali ini menghadirkan Dra. Listiati Budi Utami, Koordinator Divisi Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah DIY. Listiati mengajak jamaah memulai perubahan dari rumah melalui prinsip 5R sebagai fondasi gerakan Zero Waste yaitu Refuse, menolak barang yang tak perlu, Reduce, mengurangi penggunaan produk sekali pakai, Reuse, memanfaatkan kembali barang yang masih layak; Recycle, mendaur ulang agar bernilai guna serta Rot, mengomposkan sampah organik untuk mengurangi beban lingkungan.“Zero Waste tidak harus dimulai dari langkah besar. Mulailah dari rumah, dari keluarga kecil ‘Aisyiyah. Kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama-sama, jika konsisten, akan memberi dampak yang nyata,” kata Listiati. Ia mendorong PCA dan PRA menjadikan pengelolaan sampah sebagai program berkelanjutan mulai dari edukasi pemilahan hingga membiasakan wadah pakai ulang dalam setiap kegiatan.Melalui kajian ini, PDA Sleman kembali menegaskan komitmennya bahwa dakwah bukan hanya soal kata, tetapi juga laku dan dari ruang pengajian, nilai keimanan ditautkan dengan kepedulian pada bumi dengan harapan ada perubahan yang lahir dari keluarga ‘Aisyiyah tumbuh, menguat, dan perlahan menular ke masyarakat Sleman secara lebih luas. Rep  Nunung Sekretariat PDA Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading