Pendidikan Anak Dan Kaderisasi Dini Muhammadiyah

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Dua dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta melakukan pengabdian masyarakat Kepada para pimpinan ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah di lingkungan ranting Merdikorejo Tempel Sleman. Pengabdian masyarakat yang digelar di Aula SD Muhammadiyah Gondang legi ini, mendapatkan antusias luar biasa dari 60 orang peserta pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah Merdikorejo. Pada kesempatan ini, Dr. Siti Syah Handayani, dosen prodi Manajemen memberikan uraian tentang pendidikan anak secara Islami, bagaimana Islam meberikan panduan untuk mendidik anak. Dalam era gempuran media sosial yang bertubi tubi, bisa jadi anak lebih didoktrin oleh konten media sosial yang tidak jelas arahnya ketimbang didikan orang tua yang pasti jelas tujuannya. Maka orang tua memegang peran penting dalam membangun karakter anak. Pertama, adalah kewajiban orang tua mendidik anaknya sebagaiama al Qur’an telah menggariskannya. “Dalam Pandangan Islam, Anak adalah titipan Alloh, anak adalah ladang pahala, anak juga merupakan ujian keimanan sekaligus menjadi perhiasan dunia. Maka perlu kehati-hatian orang tua untuk memberikan input dan asupan nilai pada pemikiran anaknya”. Beberapa karakter dan prinsip yang harus diberikan kepada anak anak antara lain pendidikan tentang ketauhidan, pengenalan tentang moral, adab dan soppan sanntun, serta membangun karakter anak dengan nilai kejujuran, disiplin, tanggungjawab, mandiri, dan menghargai orang lain. Sementara itu Dr. Sugeng Riyanto, dosen hubungan internasional membeberkan tentang “ pentingnya pengenalan tentang Muhammadiyah sejak dini sebagai awal pengkaderan di lingkungan warga Muhammadiyah. Hal ini dapat dilakukan melalui audio visul dengan memasang symbol Muhammadiyah di rumah, mengajak anak ke situs situs dan amal usaha Muhammadiyah, serta mengajak mereka dalam kegiatan dan aktifitas Muhammadiyah”. Ketua Pimpinan Rantig Muhammadiyah Merdikorejo, Ida Eri Kurniawati S. Pd. sangat menyambut baik program ini dan berharap ada kelanjutan di masa yang akan datang. Pada kesempatan ini diserahkan pula hibah dari UMY berupa 1 speaker aktif dan beberapa gulung tikar sebagai sarana penjunjang kegiatan Aisyiyah maupun Muhammadiyah di Merdikorejo. Rep S Roy PCM Tempel Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Kuatkan Manajemen Organisasi Muhammadiyah, 7 Prinsip Ajaran KH Ahmad Dahlan

Tempel, Pdmsleman.Or.id Kolaborasi antara dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Akademi Manajemen Putrajaya (AMPJ) terjalin dalam program pengabdian masyarakat. Dr. Sugeng Riyanto dari FISIPOL UMY dan Muhammad Ichsan SE MM dari AMPJ, membagikan keilmuannya dalam workshop penguatan manajemen organisasi kepada para pimpinan ranting Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Ranting Merdikorejo Tempel Sleman pada Jumat 3 April 2026. Workshop yang dilaksanakan di Aula SD Muhammadiyah Gondanglegi ini menitik beratkan pada manajeman organisasi Muhammadiyah yang berbasis pada 7 prinsip ajaran KH Ahmad Dahlan. Dalam paparannya Muhammad Ichsan menjabarkan 7 prinsip tersebut antara lain ” hidup adalah pertaruhan, bahaya takabur, hati hati dengan kebiasaan, pemurnian keyakinan, teguh pendirian, pengorbanan pemimpin, dan belajar dan beramal “. Sementara itu Sugeng Riyanto menekankan kembali bahwa “ Muhammadiyah adalah sebuah gerakan, jadi pengurusnya harus menjadi mesin penggerak, yang memberi energi bagi laju roda organisasi. Maju mundurnya Muhammadiyah di tingkat manapun tergantung pada gerak dari para manajer atau pengurusnya. Pengurus Muhammadiyah harus menjadi ujung tombak, bahkan ujung tombok, kadang malah menerima resiko sasaran tembak. Tetapi itulah ajaran Kyai Dahlan, hidup adalah pertaruhan, hidup hanya sekali, jadi harus memberikan kemanfaatan”. Pengabdian dalam skema khusus ini mendapat sambutan yang antusias dari sekita 60 pimpinan ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah yang terundang. Selain memberikan pembekalan, dalam pengabdian ini UMY juga memberikan hibah berupa 2 ekor kambing betina indukan senilai 4.025.000 rupiah untuk dikembangbiakkan sehingga hasilnya diharapkan mampu memberikan kontribusi pendanaan dalam kegiatan Muhammadiyah di lingkup Ranting Merdikorejo. Rep S Roy PCM Tempel Editor  Arief hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Saatnya Warga Muhammadiyah Harus Melek Hukum Dan Digital

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Di tengah derasnya arus informasi yang membanjiri gawai masyarakat, diperlukan sikap hati hati dan mitigasi untuk membaca, memahami dan menerukan atau menindaklanjuti  setiap informasi yang masuk. Jika tidak, maka warga Masyarakat akanmudah terjebak dalam beritah bohong, hoak, fitnah penipuan, bahkan yang lebih parah adalah tindakan melanggar hukum. Mengantisipasi hal tersebut, Tanto Lailam S.H LLM (Dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) membeberkan pandangan dan sarannya untuk warga Muhammadiyah di kapanewon Tempel, sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat skema khusus UMY Sabtu lalu. Program pengabdian ini merupakan solusi atas ketimpangan informasi di era digitial yang memberikan pengaruh signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Era digital telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, berinteraksi, dan berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam paparannya Tanto mengemukakan “ Berbagai informasi yang valid dan hoax – deepfake saling bersaing untuk mempengaruhi masyarakat. Hoax merupakan informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya atau upaya penutarbalikan fakta menggunakan informasi yang seolah-olah meyakinkan tetapi tidak dapat diverifikasi kebenarannya”. Hoax juga bisa diartikan sebagai tindakan mengaburkan informasi yang sebenarnya, dengan cara membanjiri suatu media dengan pesan yang salah agar bisa menutupi pesan yang benar. Berdasarkan riset Mafindo, tema politik tercatat menjadi tema disinformasi yang menonjol, yaitu sebanyak 773 hoaks atau 48,5 persen dari total hoaks setahun terakhir. Sementara itu, dalam kasus deepfake yang seolah merupakan video yang sangat realistis, tetapi sepenuhnya palsu dan digunakan untuk menipu publik atau merusak reputasi seseorang, termasuk tokoh-tokoh politik dan tokoh masyarakat, seperti halnya video deepfake Prabowo, Jokowi, Sri Mulyani. Untuk mengatasi persoalan di masyarakat tersebut, workshop membangun kesadaran hukum dan politik menjadi semakin penting agar masyarakat tidak hanya aktif secara digital, tetapi juga cerdas, kritis, dan bertanggung jawab secara hukum dan etika. Kesadaran hukum membantu masyarakat memahami hak dan kewajiban, mencegah pelanggaran hukum (seperti ujaran kebencian, hoaks, dan kejahatan siber), serta mendorong kepatuhan pada aturan hukum yang berlaku. Kesadaran politik mendorong partisipasi yang sehat dalam proses demokrasi dan tatanan masyarakat yang baik dan berkeadilan. Untuk membangun kesadaran hukum dan politik masyarakat di era digital, beberapa point penting dibawah ini menjadi acuan meliputi Pola pendidikan dan sosialisasi literasi digital berbasis Masyarakat, Pendidikan politik berbasis masyarakat melalui kempanye publik di media social dan Gotong royong di masyarakat untuk saling menginformasikan dan mengingatkan mengenai konten-konten hukum dan politik yang sekiranya menimbulkan kontroversi. Rep  : Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM sleman

Loading

Celengan Wakaf, Inovasi Pemberdayaan Ekonomi Jamaah Aisyiyah di Tempel Sleman

Tempel, Pdmsleman.Or.Id  Gagasan pemberdayaan ekonomi berbasis wakaf mulai diperkenalkan kepada masyarakat akar rumput di Kabupaten Sleman guna mendorong lahirnya model pendanaan ekonomi syariah yang berkelanjutan bagi anggota organisasi perempuan Muhammadiyah. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Dr. Yuli Utami, S.Ag., M.Ec., dosen Fakultas Ekonomi UMY saat memberikan pemaparan konsep celengan wakaf pada Sabtu lalu di hadapan pengurus Aisyiyah Cabang Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada penguatan organisasi Muhammadiyah di tingkat cabang dan ranting. Dalam paparannya, Yuli menjelaskan bahwa celengan wakaf merupakan konsep sederhana namun memiliki dampak jangka panjang bagi penguatan ekonomi masyarakat. Melalui mekanisme ini, wakaf tunai dihimpun dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota lembaga keuangan rintisan, kemudian dikelola sebagai dana abadi untuk pembiayaan usaha berbasis syariah. “Celengan wakaf ini pada dasarnya adalah cara kolektif menghimpun wakaf tunai dari anggota. Dana tersebut kemudian menjadi modal abadi yang dapat digunakan untuk pembiayaan usaha syariah bagi masyarakat,” ujar Yuli dalam pemaparannya. Ia menilai, model ini dapat menjadi solusi bagi organisasi di tingkat ranting dan cabang yang selama ini masih bergantung pada iuran dan infak anggota untuk menjalankan berbagai kegiatan organisasi. Menurut Yuli, ketergantungan pada iuran rutin seringkali membuat gerak organisasi menjadi terbatas. Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembiayaan yang tidak membebani anggota secara langsung, namun tetap mampu menopang kegiatan organisasi secara berkelanjutan. “Selama ini kemandirian organisasi di tingkat cabang dan ranting masih mengandalkan iuran dan infak anggota. Padahal, jika dikelola dengan konsep wakaf produktif, dana kecil yang terkumpul bisa menjadi sumber pembiayaan jangka panjang,” jelasnya. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, tim pengabdian masyarakat UMY juga memberikan simulasi praktik pembiayaan berbasis ekonomi syariah kepada para peserta. Beberapa skema yang diperkenalkan antara lain pembiayaan mudharabah, musyarakah, murabahah, hingga ijarah. Simulasi tersebut dilakukan agar para peserta tidak hanya memahami konsep wakaf produktif, tetapi juga mampu mengelola dana secara profesional sesuai prinsip ekonomi syariah. Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Para ibu anggota Aisyiyah aktif mengajukan berbagai pertanyaan yang berkaitan dengan praktik pembiayaan usaha kecil, pengelolaan dana wakaf, hingga kemungkinan penerapan konsep tersebut di lingkungan mereka. Diskusi bahkan berlangsung hingga menjelang waktu berbuka puasa, menandakan besarnya minat peserta untuk memahami sistem ekonomi syariah yang lebih aplikatif bagi masyarakat. Program pengabdian ini juga mendapat dukungan dari pihak kampus. Kepala Sub Direktorat Pengabdian Masyarakat UMY, Dr. drg. Laelia Dwi Anggaeni, Sp.KGA., menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan UMY pada tahun ini. Menurutnya, UMY menjalankan berbagai program pengabdian melalui dua skema besar, yakni skema reguler dan skema khusus. “UMY meluncurkan 14 program pengabdian masyarakat dalam skema khusus. Ada program di Desa Binaan Wirokerten, Wirobrajan, pendampingan Koperasi Merah Putih, edukasi mitigasi bencana, pendampingan bagi penyandang disabilitas, hingga penguatan organisasi Muhammadiyah seperti di PCM Tempel, Cangkringan, dan Tamantirto,” jelas dr. Lia. Ia menambahkan, beberapa tim pengabdian bahkan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di lembaga pemasyarakatan. “Bahkan ada tim yang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di Lapas Wirogunan. Ini menunjukkan komitmen UMY untuk hadir di berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya. Melalui program seperti celengan wakaf ini, UMY berharap literasi keuangan syariah di tengah masyarakat semakin meningkat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi jamaah, khususnya di lingkungan organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Loading

Ngoding Iman, Bangun Website, Digital Branding PCM Tempel Berbasis WordPress

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Ir. Asroni. MT. M. Eng, ahli IT sekaligus dosen Tehnik Informatika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengabdikan sebagian ilmunya untuk kemajuan Muhammadiyah di Cabang Tempel, Sleman. Asroni membimbing PCM Tempel yang diwakili oleh Angkatan Muda Muhammadiyah nya untuk sigap merespon perkembangan jaman dalam melakukan dakwah. Kegiatan yang bertajuk Ngoding Iman, Bangun Website: Digital Branding PCM Tempel Berbasis WordPress tersebut dilaksanakan di Kompleks SMK Muhammadiyah Tempel dan diikuti oleh Angkatan Muda Muhammadiyah Cabang Tempel. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini dilaksanakan oleh tim dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempel, Sleman. Program dikemas dalam bentuk pelatihan satu hari bertema Ngoding Iman, Bangun Website yang berfokus pada penguatan digital branding dan pengelolaan website organisasi berbasis WordPress untuk menjangkau Generasi Z. “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan, umat, dan bangsa; karena itu harus lahir pemimpin-pemimpin muda dari rahim Muhammadiyah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan mampu mengelola ruang digital secara professional” tegas Asroni. Berangkat dari semangat tersebut, penguatan kapasitas digital menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem dakwah yang relevan dengan karakter Generasi Z. Sementara itu, Ketua AMM Tempel, Ilham Sukron S. IP. mengakui bahwa sejauh ini di level PCM Tempel masih masih belum mengoptimalkan penggunaan web site untuk sarana pengembangan organisasi dan dakwah. Permasalahan tersebut meliputi belum optimalnya pemanfaatan website sebagai pusat informasi resmi, belum tertatanya struktur konten organisasi, serta keterbatasan keterampilan pengurus dalam mengelola platform digital. Pelatihan dirancang berbasis praktik langsung (hands-on), meliputi login dan setup WordPress, pembuatan halaman dasar (Beranda, Profil, Program, Berita, Kontak), penyusunan menu navigasi, publikasi berita dan media, desain halaman menggunakan Elementor atau Block Editor, instalasi plugin penting (SEO, Form Kontak, WhatsApp Button, Social Feed), hingga uji tampilan desktop dan mobile. Syukon menyambut baik kegiatan ini karena akhirnya PCM Tempel website resmi memiliki web site dengan struktur konten yang tertata, serta meningkatnya kompetensi peserta dalam manajemen website dan branding digital. Kegiatan ini diharapkan memperkuat citra organisasi, meningkatkan publikasi dakwah, serta membangun ekosistem dakwah digital yang adaptif dan berkelanjutan di kalangan Generasi Z. Dalam kegiatan ABdimas ini juga diserahkan dana hibah dari UMY kepada PCM Tempel untuk pengembangan ternak domba. Rep Roy Tempel editor Arief hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Saatnya AMM Berperan Dalam Pembangunan Desa

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Sirkulasi kepemimpinan pemerintahan di tingkat desa di wilayah Sleman dan sekitarnya beberapa waktu yang lalu, banyak memunculkan wajah- wajah kaum muda. Banyak Pamong dan Kepala Dukuh yang usianya masih tergolong muda dan belia. Sayangnya dari sekian banyak tokoh muda yang muncul dalam tampuk kepemimpinan desa dan komunitas tersebut, jarang yang menyertakan kader Muhammadiyah. Alasannya utamanya adalah minimnya ketertarikan kader Muhammadiyah untuk berkiprah dalam birokrasi pemerintah di Tingkat desa. Untuk itu Aangkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Tempel menggelar Focus Group Discussiaon (FGD) bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyarta yang sedang mengembangkan program Pengabdian Masyarakat bertajuk “ Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Tingkat Cabang”. Tampil sebagai leader dalam FGD tersebut adalah Zain Maulana, S. IP. M.A., Ph. D., dosen Prodi Hubungan Internasional UMY.  Kader kader Muhammadiyah yang tergabung dalam AMM Tempel sebenarnya sangat potensial tampil sebagai pemimpin desa atau Lembaga dan komunitas setempat. AMM Tempel yang pengurusnya lebih dari 60 orang ini, mempunyai kapasitas yang bagus, karena mereka umumnya terdidik di berbagai universitas, mempunyai pengalaman dalam pengelolaan organisasi, percaya diri dan dididik untuk mempunyai integritas yang baik sebagai warga persyarikatan maupun sebagai warga negara.  “Angkatan Muda Muhammadiyah adalah masa depan persyarikatan,  umat dan bangsa, maka harus muncul pemimpin-pemimpin muda dari rahim muhammadiyah” ungkap Zain di sela sela acara yang diselenggarakan di Kompleks Pondok Pesantre Darul Ulum Tempel itu. Di bagian lain, Ilham Sukron, ketua AMM Tempel, menyambut baik adanya FGD ini, yang mampu menambah motivasi  dan wawasan sebagai calon pemimpin masa depan. Peran serta kader Muhhamadiyah dalam kepemimpinan bangsa akan memperkuat pula keorganisasian Muhammadiyah di level cabang dan ranting. Rep : Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Aisyiyah Tempel Perlu Optimalkan Peluang Bisnis Exit Tol

Tempel, Pdmsleman.Or.Id Pembangunan Jalan Tol Jogja-Bawen, termasuk Exit Tol Banyurejo di Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Sleman, Yogyakarta, merupakan proyek strategis nasional yang meningkatkan konektivitas transportasi antarprovinsi menuju Magelang dan Semarang. Proyek infrastruktur ini merupakan bagian penting dari upaya pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan efisiensi sistem waktu dan logistik, serta daya saing daerah. “Dalam rangkaian jalan tol yang dibangun, dibangun pula pintu jalan keluar atau exit tol. Jalan keluar atau exit tol merupakan kesempatan baik bagi masyarakat sekitar karena mengandung potensi untuk menumbuhkan perekonomian local”. Demikian sebagian dari paparan dosen Ilmu Hubungan Internasional UMY, Dr. Wahyuni Kartikasari, S.T., S.I.P., M.Si, dalam kegiatan diskusi di hadapan para Pimpinan Cabang Aisyiyah Tempel Sleman beberapa waktu lalu. Penjelasan Wahyuni tersebut merupakan rangkaian dari program pengabdian masyarakat Universitas Yogyakarta yang bertemakan penguatan organisasi Muhammadiyah di lingkungan Cabang Tempel. Aisyiyah merupakan bagian dari Muhammadiyah. Dosen HI UMY ini mengamati bahwa dengan dibangunnya jalan tol dan exit tol, maka diperlukan kawasan-kawasan UMKM yang terletak di luar jalan tol. “ Keberadaan exit tol ini merupakan peluang usaha dan bisnis bagi PCA Tempel”. Sebagai Lembaga yang mempunyai bidang garap di wilayah Tempel, kini PCA Tempel melalui Majelis Ekonominya, mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan kebijakan pemerintah untuk membangun Jalan Tol Bawen – Yogyakarta. Karakter pengguna jalan tol yang memerlukan rest area karena menempuh perjalanan jauh ataupun pengguna jalan tol yang bertujuan wisata yang menyukai wilayah-wilayah yang mempunyai keunikan dan kekhasan daerah merupakan celah potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang bisnis ataupun menumbuhkan dan meningkatkan berbagai bentuk perekonomian lokal. Di area Tempel terdapat exit tol yang diperkirakan akan banyak masyarakat pengguna jalan yang ingin beristirahat dan mencari kebutuhan seperti makanan, minuman, atau barang lain yang dibutuhkan. Artinya, ini berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi usaha kecil dan menengah (UMKM) lokal, seperti peningkatan akses pasar dan distribusi barang. Panitian Pelaksana kegiatan Abdimas UMY, Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa “kegiatan Abdimas di merupakan bagian dari Skema khusus untuk penguatan Cabang dan Ranting Muhammadiyah”.  Menurutnya, terdapat 10 dosen UMY yang melakukan pengabdian di Muhammadiyah Cabang Tempel, sesuai dengan bidang mereka masing masing. Dalam acara ini diserahkan pula hibah untuk mitra yaitu PCA Tempel berupa modal untuk pembelian bibit indukan ternak domba untuk dapat dikembangbiakkan, sehingga pada akhirnya menjadi salah satu sumber usaha dan pendapatan bagi pendanaan kegiatan yang dilakukan PCA Tempel.  rep Roy Tempel Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Wasiat Luhur Dalam Pendidikan Keluarga Aisyiyah

 Tempel. Pdmsleman.Or.Id Gen Z, sebuah generasi yang penuh dengan warna- warni karakter yanng kadang sangat mengkhawatirkan. Mereka tumbuh Bersama berkembangnya gadget dan tehnologi informasi yang membersamainya. Mereka tumbuh berkembang di dalamnya, belajar darinya, bahkan hidup bersamanya (gadget itu). Akibatnya adalah settingan norma dalam pikirannya adalah setingan gadget,bukan hasil pendidikan moral dan perilaku yang terpola dan terencana. Pola pikiran dan perilaku mereka cenderung mengikuti apa yang ada di gadget. ‘Tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena remaja remaja kita terdidik oleh nilai yang entah berasal dari mana, dan banyak sekali betentangan dengan norma keseharian hidup kita. Mereka cenderung menjadi insan insan yang cuek, tak peduli lingkungan sekitar, tak banyak tahu tentang adab, tata krama dan lain sebagainya’.  Padahal, dalam masyarakat kita, banyak wasiat- wasiat yang luhur. Oleh karenanya, sebagai orang tua, apalagi ibu, tidak boleh kecolongan, mengandalkan gadget sebagai sarana edukasi anak. Ii amat berbahaya. Demikianlah disampaikan Dra. Mutia Hariati Hussin, M. Si, dosen senior di Prodi Hubungan Internasional UMY di depan 60 an pimpinan Cabang Aisyiyah se Cabang Tempel pada Ahad 1 Maret 2026, sebagai bagian dari Pengabdian Masyarakat Skema khusus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ber-wasiat bukan hanya mewariskan harta tetapi juga nilai moral, etika, atau filosofi hidup yang dijaga oleh keluarga atau komunitas dan diwariskan dari generasi ke generasi. Wasiat juga bisa berupa pepatah dan peribahasa seperti misalnya, “alon-alon waton kelakon’, “Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit” atau “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Ini adalah bentuk wasiat budaya yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan solidaritas. Dalam Kehidupan Sehari-Hari, orang tua mewariskan nasihat tentang kejujuran, kerja keras, dan kesederhanaan sebagai wasiat moral. Desa atau masyarakat adat dapat melestarikan pepatah tradisional sebagai wasiat kolektif, yang mengatur hubungan sosial dan menjaga harmoni, dan di level nasional wasiat para pendiri bangsa berupa semboyan atau falsafah hidup, misalnya Bhinneka Tunggal Ika, menjadi pedoman bersama yang harus terus dijaga. Secara Filosofis, wasiat dalam bentuk pepatah/peribahasa adalah penjaga identitas budaya yang menjadi pedoman hidup. Ia berfungsi sebagai jembatan antar generasi, memastikan agar generasi berikutnya tetap berpegang pada nilai luhur sehingga nilai kebijaksanaan tidak hilang ditelan zaman. Berbagi Wasiat menegaskan bahwa berbagi bukan hanya soal harta, tetapi juga soal warisan intelektual dan moral .

Loading

Milad UMY 45, Beri Penguatan Organisasi Muhammadiyah Di Kapanewon Tempel Sleman

 Tempel, Pdmsleman.Or.Id Pada Ahad 1 Maret 2026 bertepatan dengan hari kelahiran (Milad) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang ke 45, sejumlah dosen UMY melakukan pengabdian Masyarakat (Abdimas) di lingkup organisasi Muhammadiyah se Cabang Tempel. Kegiatan Abdimas ini merupakan komitmen UMY dalam memberdayakan masyarakat melalui implementasi dari hasil kajian dan riset pada dosen. Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY, apt. RR. Sabtanti Harimurti M. Sc. Ph. D.  menegaskan bahwa “ UMY sangat komit terhadap pemberdayaan masyarakat tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, tetapi juga kepada masyarakat luas secara umum”. Komitmen tersebut ditunjuukan dengan program pengabdian masyarakat yang terstruktur setiap tahunnya, baik itu melalui program KKN mahasiswa atau program pengabdian masyarakat oleh para dosennya.  Menurut Dr. drg. Laelia Dwi Anggaeni, sp. KGA., program pengabdian masyarakat tahun ini terbagi dalam dua skema besar, yakni skema regular dan skema khusus. “UMY meluncurkan 14 program Abdimas skema khusus, ada skema Desa Binaan Wirokerten, Wirobrajan, ada yang ke Koperasi Merah putih, ada edukasi dan mitigasi bencana alam, ada yang mendampingi teman teman yang menyandang disabilitas, penguatan pada PCM Tempel, Cangkringan, Tamantirto dan lain lain, bahkan ada yang melakukan abdimas di Lapas Wirogunan” tegas dr Lia, sapaan akrabnya. Kick Off Pengabdian masyarakat skema khusus ini juga dihadiri oleh Ketua Badan Pembinan Harian UMY, Dr. H. Agung Danarto M. Ag yang juga menyambut baik Upaya ini, sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan semua dosen UMY dalam perstyarikatan Muhammadiyah dari Pusat, Wilayah, Daerah, Cabang, Ranting, termasuk dalam organisasi otonomnya. Program Abdimas di Kapanewon tempel ini diikuti oleh 10 dosen, yang terbagi dalam 4 kelompok masyarakat yakni pimpinan Cabang Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Aisyiyah, Angkatan Muda Muhammadiyah dan satu Pimpinan Ranting Muhammadiyah. Ketua pelaksana, Dr. Sugeng Riyanto, menambahkan bahwa kegiatan yang berlangsung di PP darul Ulum Tempel tersebut berlangsung sangat meriah dan diikuti oleh 150 peserta, perwakilan dari PCM, PCA dan AMM. Sementara kegiatan dengan PRM/PRA Merdikorejo baru akan dilaksanakan setelah lebaran.  Pada kesempatan ini Dr. H. Agung Danarto M.Ag., juga menyerahkan dana bantuan kepada PCM Tempel sebesar Rp. 44.250.000, untuk modal peternakan domba yang hasilnya nanti dapat membatu kegiatan kegiatan Muhammadiyah di lingkup Kapanewon Tempel. Ketua PCM Tempel, Samsul Alam, S. Ag., M. Si. Menyambut baik acara ini. Menurutnya warga Muhammadiyah Tempel telah mendapatkan edukasi yang sangat bermakna dan menggugah semangat warga Muhammadiyah untuk lebih giat lagi mengembangkan Muhammadiyah.  Rep Roy Riyanto Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Bakti Sosial Siswa Kelas XII B SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta di TK ABA Krasakan

Tempel, PDMSleman.Or.Id Sebanyak 35 siswa Kelas XII B SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta melaksanakan kegiatan bakti sosial di TK ABA Krasakan, Lumbungrejo, Tempel, Sleman, Sabtu (14/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman sosial yang bertujuan menumbuhkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab di kalangan pelajar. Sejak pagi, para siswa hadir dengan mengenakan jas almamater. Mereka terlibat langsung dalam berbagai aktivitas bersama anak-anak TK, mulai dari permainan edukatif, pengajian singkat, hingga pendampingan belajar. Suasana berlangsung hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak tampak antusias mengikuti kegiatan, sementara para guru TK mendampingi proses pembelajaran yang dikemas ringan dan menyenangkan. Ketua panitia kegiatan, Al-May Chanief Abiyyu, mengatakan bahwa bakti sosial ini dirancang untuk melatih kerja sama tim sekaligus memperkuat karakter sosial siswa. “Kami ingin teman-teman belajar hadir di tengah masyarakat, memahami kebutuhan nyata, dan membangun kepekaan sosial. Bukan hanya memberi bantuan, tetapi juga membangun hubungan yang baik,” ujarnya di sela kegiatan. Dalam kesempatan tersebut, panitia menyerahkan bantuan simbolis berupa alat tulis, perlengkapan kelas, serta mushaf Al-Qur’an untuk menunjang kegiatan belajar di TK. Pihak sekolah mitra menyambut baik dukungan tersebut. Kepala TK ABA Krasakan Sri Widayati menyampaikan apresiasi atas kepedulian para siswa. “Kehadiran kakak-kakak SMA memberi semangat baru bagi anak-anak. Bantuan perlengkapan belajar ini sangat bermanfaat untuk kegiatan sehari-hari,” tuturnya.  Bakti sosial ini merupakan program pembinaan karakter yang mendorong siswa belajar langsung di tengah masyarakat. Kegiatan dirancang untuk menumbuhkan empati, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial sebagai bekal setelah lulus sekolah. Rangkaian acara ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dan foto bersama. Para siswa berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi kebiasaan baik yang terus berlanjut. “Kami ingin meninggalkan manfaat kecil, sekaligus membawa pulang pelajaran besar tentang arti peduli,” pungkas Al-May. Rep edirtor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading