NGAGLIK BERKEMAJUAN
![]()
NGAGLIK BERKEMAJUAN
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Semangat menuntut ilmu dan menjaga konsistensi ibadah pasca Ramadhan menjadi penekanan utama dalam Kajian Ahad Legi yang diselenggarakan PRM dan PRA Girikerto di Masjid Aisyah, Ponosaran, Girikerto, Turi, Ahad (19/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz H. Wildan Wahid, SHI dari PDM Sleman yang menyampaikan pentingnya istiqamah dalam beramal sebagai tanda diterimanya ibadah selama bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Wildan menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa berjalan menuju majelis ilmu, maka dimudahkan jalannya menuju surga” (HR Muslim). Selain itu, ia juga mengingatkan hadits lain, “Barangsiapa dikehendaki Allah menjadi orang baik, Allah akan memahamkannya terhadap ilmu.” Menurutnya, kemudahan melangkah menuju majelis ilmu merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Lebih lanjut, Ustadz Wildan mengaitkan momentum pasca Ramadhan dengan kualitas ketakwaan seorang muslim. Ia menyampaikan pandangan ulama, Ibnu Rajab Al-Hambali, bahwa tanda diterimanya amal adalah dengan terus melanjutkan amal tersebut setelah Ramadhan. “Ketika Ramadhan, kita merasa ringan beribadah karena suasana yang mendukung. Namun setelah Ramadhan berlalu, di situlah ujian sesungguhnya, apakah kita tetap istiqamah atau justru menurun,” ujarnya. Ia mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri dengan membandingkan kualitas ibadah sebelum Ramadhan (bulan Sya’ban) dan setelahnya (bulan Syawwal). “Jika ibadah kita di bulan Syawwal lebih baik dibanding Sya’ban, maka itu tanda adanya peningkatan ketakwaan,” imbuhnya. Dalam kajian tersebut, Ustadz Wildan juga menyoroti pentingnya amal yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW ketika ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah, yakni amal yang dikerjakan terus-menerus walaupun kecil. “Tidak harus semua amalan kita lakukan sekaligus. Pilih yang mampu kita jaga kontinuitasnya,” jelasnya. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah shalat rawatib. Menurutnya, shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat, sehingga perlu disempurnakan dengan shalat sunnah rawatib. “Shalat wajib sering kali belum sempurna karena kurang khusyuk atau gerakan yang belum sesuai sunnah. Maka shalat rawatib berfungsi menutup kekurangan tersebut,” terang Ustadz Wildan. Ia menjelaskan bahwa jumlah rakaat shalat rawatib muakkadah berkisar antara 10 hingga 12 rakaat, dan jika ditambah dengan yang ghairu muakkadah bisa mencapai 20 rakaat. Dari sekian banyak amalan sunnah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah Subuh (shalat fajar). “Keutamaannya luar biasa, lebih baik dari dunia dan seisinya,” tegasnya. Ustadz Wildan juga memberikan solusi bagi yang tertinggal shalat fajar, yakni dapat menggantinya setelah matahari terbit (syuruk), namun tidak dilakukan secara rutin. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam syariat sekaligus pentingnya menjaga amalan tersebut. Kajian yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh jamaah dengan antusias, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuan masyarakat Girikerto. Kegiatan ini turut meriahkan dengan Kegiatan pendukung: Pemeriksaan kesehatan dan bazar UMKM jamaah. Reportase H. Dr. Ir. Agus Nugroho Setiawan PCM Turi editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman.
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Masjid Baiturrahim Turi kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi pada Sabtu (18/4/2026) dengan menghadirkan Ustadz Drs. H. Sigit Warsito, MA. Kajian yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan ini mengangkat tema “Hikmah Ibadah Pasca Ramadhan”, menyoroti pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah bulan suci berakhir. Menurut Takmir Masjid, DR. H. Agus Nugroho S, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan umat agar tidak mengalami penurunan kualitas ibadah setelah Ramadhan. “Kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua agar semangat ibadah yang telah dibangun selama Ramadhan tidak hilang begitu saja, tetapi justru terus ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Dalam pemaparannya, Ustadz Sigit Warsito menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini, yakni maraknya kegiatan syawalan yang masih berlangsung meskipun sudah memasuki bulan Dzulqa’dah. Ia menegaskan bahwa tradisi syawalan tidaklah dilarang, namun perlu disikapi secara proporsional. “Syawalan itu hukumnya mubah, boleh dilakukan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sesuatu yang mubah justru mengalahkan amalan sunnah yang dianjurkan, seperti puasa Syawal,” jelasnya. Ia menambahkan, banyaknya agenda syawalan seringkali membuat umat Islam lalai dalam menjalankan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Dalam kajian tersebut, Ustadz Sigit juga mengangkat fenomena “futur” atau melemahnya semangat ibadah pasca Ramadhan. Ia mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang menjelaskan bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan masa penurunan. “Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang ketika semangat tetap berada dalam sunnah-Nya, maka ia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, yang meninggalkan sunnah saat futur, maka ia termasuk orang yang merugi,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan pesan dari Umar bin Khattab terkait pentingnya menjaga keseimbangan ibadah. Ketika dalam kondisi semangat, umat dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Namun saat kondisi melemah, setidaknya tetap menjaga amalan wajib. Tak hanya itu, kajian juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah diri. Ustadz Sigit mengingatkan bahwa Allah telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi orang yang bertakwa, di antaranya diberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. “Jika kita merasa belum mendapatkan apa yang dijanjikan Allah, maka perlu kita introspeksi diri. Jangan-jangan ibadah puasa kita belum benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa,” ungkapnya. Kajian yang berlangsung khidmat ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi jamaah untuk terus menjaga kualitas ibadah, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat beribadah tetap terjaga dan memberikan dampak positif bagi kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat.
![]()
Sleman, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman menggelar kegiatan pembinaan dan pelatihan ustadz-ustadzah bagi generasi muda dalam rangka mencetak kader dakwah yang berakhlak dan berkemajuan. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Prima SR, Jalan Magelang Km 11, pada Sabtu (11/4/2026), dan diikuti sekitar 100 peserta dari Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Kapanewon Sleman. Pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan kader yang turut didukung melalui penyaluran bantuan dari Lazismu PKU. Kegiatan dikomandoi oleh Arif Hakim selaku perwakilan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Sleman yang menekankan pentingnya peran strategis generasi muda dalam dakwah di tengah masyarakat. Ketua PCM Sleman, Zahrul Mufrodi, dalam sambutannya menegaskan bahwa kader muda Muhammadiyah harus mampu menjadi ustadz dan ustadzah yang tidak hanya cakap dalam ilmu, tetapi juga memiliki akhlak yang kuat. “Kader muda harus mampu menciptakan ustadz-ustadzah yang berakhlak, yang menebar kebaikan sebanyak-banyaknya di mana pun mereka berada. Dakwah bukan hanya soal ilmu, tetapi juga keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ia menambahkan, pembinaan ini menjadi langkah konkret dalam menyiapkan generasi penerus Muhammadiyah yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam berkemajuan. Selain itu, dukungan moral dan material juga diberikan oleh Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Sleman, Ibu Musabikah. Bantuan yang disalurkan kepada para peserta pelatihan disebut sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang kepada generasi muda Muhammadiyah. “Ini adalah bentuk kasih sayang orang tua kepada anak-anaknya, agar mereka semakin semangat dalam menuntut ilmu dan berdakwah,” ungkapnya. Kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi lintas organisasi otonom Muhammadiyah, seperti Pemuda Muhammadiyah, KOKAM, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), AMM ranting, hingga para penggiat masjid. Kehadiran berbagai elemen tersebut memperkuat konsolidasi gerakan dakwah di kalangan generasi muda. Suasana penuh semangat tampak sepanjang kegiatan, dengan para peserta berkomitmen untuk mengamalkan nilai fastabiqul khairat dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan motivasi baru dalam berdakwah di lingkungan masing-masing. “Kami bertekad untuk menghidupkan Sleman melalui kegiatan-kegiatan positif dan menjadikan masyarakat yang gemar menuntut ilmu,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, PCM Sleman bersama AMM berharap dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya aktif secara organisasi, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak dakwah yang mencerahkan dan memajukan masyarakat Sleman.
![]()
NGAGLIK BERKEMAJUAN
![]()
Seyegan, Pdmsleman.Or.Id Pengajian Ahad Pagi dan Syawalan Muhammadiyah Margokaton Seyegan digelar di Masjid Syuhada Planggok dengan sediakan 800 porsi sarapan. Acara dibuka dengan pembacaan basmalah, diikuti dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Naufal Azam dan Saudara Azam, santri TPA Al Mubarok, Planggok.Dilanjutkan dengan pembacaan ikrar syawalan oleh Bapak Setyo Widianto, yang merupakan tradisi untuk saling memaafkan dan mempererat silaturahmi. Ketua PRM Margokaton Nur Khaorudin memberikan sambutan mengenai pentingnya meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota Muhammadiyah, serta apresiasi kepada para jamaah. Tausiyah disampaikan oleh Ustaz Isngadi Marwah Admaja, SHI, MH. Dalam ceramahnya, beliau menyampaikan pentingnya silaturahmi (menyambung tali persaudaraan) yang dijamin dapat meluaskan rezeki dan memanjangkan umur. Beliau juga menyoroti pentingnya etika berkomunikasi antar generasi (terutama kepada generasi muda) agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pengajian diakhiri dengan kegiatan pentasyarufan infak kepada Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di lingkungan Margokaton, terdiri dari 1 SD Muhammadiyah, 2 Kelompok bermain Aisyiyah, 3 TK ABA, 7 TPA dan 3 Ortom di Margokaton. Pengajian yang dihadiri 980an jamaah ini berhasil mengumpulkan infak sebesar 3,5 juta rupiah. Rep Enkade Margokaton Seyegan
![]()
![]()
NGAGLIK BERKEMAJUAN https://www.youtube.com/watch?v=1ohG8-VpNWA
![]()
![]()
Moyudan, PdmSleman.Or.Id Kebersamaan yang hangat tercipta di Aula KHA Dahlan, Sabtu (4/4/2026), saat SD Muhammadiyah Semingin menggelar Syawalan dan Parenting yang tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga pengingat akan satu hal penting, yakni menjalin Silaturahmi dan Meraih Ridha Ilahi.Pengawas Sekolah Dasar Moyudan, Suranti,M.Pd dalam sambutannya menegaskan bahwa kesuksesan pendidikan anak adalah hasil dari kerja sama erat antara sekolah, paguyuban orang tua, dan pengurus komite. “Kepala sekolah, guru, dan pegawai tidak bisa bekerja sendiri. Mereka butuh dukungan dari orang tua, komite, serta pengurus Pendidikan Dasar Menengah Muhammadiyah,” ujar Suranti.Ia pun menekankan bahwa sinergi ini harus terus dipupuk demi kemajuan SD Muhammadiyah Semingin.Acara yang dihadiri oleh pengurus komite, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moyudan, Lurah Sumbersari, hingga para wali murid kelas 1–6 ini juga menghadirkan tausiyah inspiratif dari Ketua PWM Sleman, H. Harjaka, S.Ag., S.Pd., M.Pd.I. Dalam tausiyahnya, Harjaka menyampaikan bahwa memilih sekolah Muhammadiyah adalah langkah tepat. Sebab, anak-anak tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan umum, tetapi juga agama, budi pekerti, akhlakul karimah, dan karakter mulia. “Murid di Muhammadiyah dididik agama dan budi pekerti. Harapannya, mereka kelak menjadi anak sholih dan sholihah. Anak-anak inilah yang akan mendoakan orang tuanya,” paparnya.Harjaka juga mengajak seluruh orang tua untuk menjadi teladan dalam ibadah, aktif di masjid, serta mendampingi anak-anak dalam menegakkan sholat fardhu dan sunnah. Menurutnya, generasi muda yang gemar berkegiatan di masjid adalah investasi strategis bagi pembinaan umat dan regenerasi.Sementara itu, Drs. H. Sarjono,,M.Si perwakilan dari Bidang Pendidikan Dasar & Menengah (Diksdakmen) PCM Moyudan, memberikan apresiasi atas prestasi yang telah diraih SD Muhammadiyah Semingin. Namun, ia mengingatkan agar semangat inovasi tidak pernah padam. “Guru-guru harus terus berkreasi dalam pembelajaran. Dukungan orang tua, PCM, PWM, dan pemerintah kalurahan juga sangat penting. Kembalikan kejayaan sekolah ini yang telah melahirkan tokoh-tokoh nasional, salah satunya Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah,” tegasnya.Pesan penuh semangat itu pun menjadi penutup yang menggerakkan. Harapannya, melalui Syawalan dan Parenting ini, komunikasi dan kolaborasi antara sekolah, orang tua, serta pemangku kebijakan akan semakin erat—demi lahirnya generasi penerus yang cerdas, berakhlak, dan membanggakan.Reporter: Edy S Moyudan
![]()