Muhammadiyah Turi
![]()
Muhammadiyah Turi
![]()
Turi,Pdmsleman.or.Id Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kapanewon Turi kembali menunjukkan komitmennya dalam dakwah sosial melalui kegiatan Bakti Sosial dan Pendistribusian Daging Kurban 2026. Mengusung tema “Semangat Kurban, Menyatukan Umat dalam Kepedulian”, program ini menyasar masyarakat fakir, miskin, dan dhuafa di wilayah Sleman serta Kulon Progo yang selama ini relatif minim menerima distribusi daging kurban. Kegiatan yang dilaksanakan pada 27–28 Mei 2026 tersebut merupakan kolaborasi antara Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Turi dan Pimpinan Cabang Nasyiatul ‘Aisyiyah (PCNA) Turi. Program ini tidak hanya menjadi sarana penyaluran daging kurban, tetapi juga wahana pembinaan kader muda Muhammadiyah agar memiliki kepekaan sosial dan jiwa kepemimpinan yang kuat. Ketua panitia, Sidik Budiyanto, menjelaskan bahwa kegiatan ini dilandasi semangat meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Selain itu, kurban menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas sosial dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat sebagaimana disampaikan kepada redaksi pada Rabu 3 Juni 2026. “Melalui program ini, kami ingin menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus membentuk karakter kader muda Muhammadiyah yang peduli, disiplin, dan siap mengabdi kepada umat,” ujarnya . Program tebar daging kurban tahun ini memperoleh dukungan luas dari berbagai elemen Persyarikatan Muhammadiyah, takmir masjid, donatur, serta para sahibul kurban. Total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.878.800, berasal dari kas AMM Turi, PCM Turi, PRM, PKU Muhammadiyah Sleman, dan sejumlah donatur perseorangan. Selain dukungan dana, AMM Turi juga menerima puluhan paket daging kurban dari berbagai masjid dan kelompok masyarakat, antara lain dari Ledoknongko, Ganggong, Ngentak, Dadapan, Masjid Kelor, Masjid Ngablak, hingga Masjid Randusongo. Daging kurban kemudian disalurkan kepada warga di sejumlah wilayah, seperti Kawedan, Tegalrejo (Ngepreh), Donomulyo, Daren, kelompok dhuafa pengajian Surodadi, hingga jamaah di Ngroto, Banjarsari, Kalibawang, Kulon Progo. Sebagian paket juga diberikan kepada anggota AMM yang terlibat aktif dalam kegiatan sosial tersebut. Ketua PCPM Turi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya program ini. Menurutnya, kepercayaan para sahibul kurban menjadi amanah yang harus dikelola secara profesional dan tepat sasaran. “Kami mengucapkan terima kasih kepada para sahibul kurban dan seluruh donatur yang telah mempercayakan pengelolaan daging dan hewan kurban kepada PCPM dan PCNA Turi. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan ” . Melalui kegiatan ini, AMM Turi berharap semangat berbagi dan kepedulian sosial yang menjadi ruh ibadah kurban terus tumbuh di tengah masyarakat. Tidak hanya menghadirkan kebahagiaan bagi penerima manfaat, tetapi juga memperkuat peran kader Muhammadiyah sebagai pelopor gerakan sosial yang mencerahkan dan memberdayakan umat. Rep Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()
![]()
Suasana khidmat dan menggema takbir dan tahmid meliputi Lapangan Ngablak, Bangunkerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, pada Rabu pagi, 27 Mei 2026 atau bertepatan dengan 10 Dzulhijjah 1447 Hijriyah. Ribuan umat Muslim tumpah ruah memenuhi area lapangan untuk melaksanakan Sholat Idul Adha yang dimulai pukul 07.00 WIB. Acara yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidoharjo. Lantunan takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd” berkumandang dahsyat, mengubah lapangan terbuka tersebut menjadi lautan getaran iman. Bertindak selaku Imam dan khotib adalah Ustaz Purnomo, S.Pd.I, memimpin jama’ah yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 2.000 orang. Mereka datang dari berbagai kawasan di sekitar antara lain Kawedan, Ngablak, Ledok Nongko, Bangunsari, Ngentak, Tepan, hingga Sidoarjo. Sejak pukul 06.30 WIB, jemaah sudah mulai berdatangan dan mengatur barisan saf yang rapat dan lurus, mencerminkan semangat persatuan dan kebersamaan. Salah satu momen yang menarik perhatian adalah pengumuman jumlah hewan kurban dari para jemaah. Total hewan kurban yang terkumpul sangat luar biasa, yakni 6 ekor lembu dan 18 ekor domba. Rinciannya, Jemaah Kawedan menyumbang 6 lembu, Ngablak 4 lembu, Ledok Nongko 4 lembu dan 8 domba, Bangunsari total 7 lembu, Ngentak 6 lembu, Tepan 3 lembu, serta Sidoarjo 3 lembu dan 2 domba. Ketua panitia menyampaikan bahwa ini adalah wujud nyata ketakwaan dan rasa syukur jamaah kepada Allah Subhanahu wa taala. Dalam khutbahnya, Ustaz Purnomo mengangkat tema esensi pengorbanan yang mengutip Surat Al-Hajj ayat 37 yang menegaskan bahwa yang sampai kepada Allah bukanlah daging dan darah hewan kurban, melainkan ketakwaan dari hati para hamba-Nya. Jemaah juga diajak meneladani kishero Nabi Ibrahim dan Ismail yang menunjukkan puncak ketaatan dan kesabaran. “Ketika Ibrahim mendapat mimpi untuk menyembelih putranya, Ismail menjawab dengan tegas: ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.’ Inilah teladan keluarga idaman,” ujar khotib . Pimpinan ranting Muhammadiyah Sidoarjo, Gesang Subagio, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang mendukung jalannya acara. Beliau khususnya berterima kasih kepada Kelurahan Bangunkerto, para sohibul kurban, serta seluruh panitia dan jemaah yang telah berpartisipasi aktif. Infak yang terkumpul pada hari itu mencapai Rp11.184.800, sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian social yang nantinya akan kembali ditasyarufkan kepada masjid dan mushola asal jama’ah dan untuk penyelenggaran hari besar Islam. Arief Hartanto Turi
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Memasuki 6 Dzulhijjah 1447 H bertepatan Sabtu Kliwon (23/5/2026), Masjid Baiturrahim yang berada di barat Perempatan Turi, Sleman, menggelar kajian pagi spesial bertajuk persiapan ibadah kurban. Acara yang berlangsung pukul 04.45-05.45 WIB itu menghadirkan narasumber drh. Adik Ismaryanto, Medik Veteriner Muda dari Puskesmas Hewan (Puskeswan). Dalam materinya, drh. Adik menekankan pentingnya kriteria hewan kurban yang tidak hanya sehat secara lahir, tetapi juga memenuhi standar ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. “Hewan kurban harus memenuhi persyaratan syariat Islam, administrasi, dan teknis. Yang tak kalah penting, hewan tidak mengandung bibit penyakit seperti bakteri, virus, atau parasit, serta bebas dari residu obat dan cemaran logam berat,” papar drh. Adik di hadapan jamaah yang memenuhi area masjid. Mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 114 Tahun 2014 tentang Pemotongan Hewan Kurban, narasumber juga mengingatkan soal kondisi hewan yang tidak cacat. “Jangan sampai hewan kurban buta, pincang, patah tanduk, atau putus ekornya. Ini syarat mutlak,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa sapi yang layak harus sudah *powel* (tumbuh sepasang gigi tetap di rahang bawah), sementara kambing/domba genap satu tahun. Tidak berhenti di situ, drh. Adik juga mengingatkan protokol ketat mengingat potensi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Berdasarkan Fatwa MUI No. 32 Tahun 2022, hewan yang menunjukkan gejala klinis PMK seperti lepuh pada mulut, lidah, teracak (kuku), atau mengeluarkan air liur berlebihan tidak boleh disembelih untuk kurban. Panitia Masjid Baiturrahim menyiapkan area pemotongan tertutup ( closed area ) dengan fasilitas disinfeksi kendaraan. “Kami juga wajibkan memiliki sertifikat veteriner (SV) atau Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari otoritas setempat,” ujar salah satu takmir. Kajian yang terbuka untuk umum ini diakhiri dengan imbauan membawa infaq terbaik untuk mendukung kelancaran pemotongan dan distribusi dagaing yang higienis. Warga tampak antusias mencatat poin-poin penting, terutama soal pemeriksaan *post mortem* seperti kewaspadaan terhadap cacing hati dan perubahan warna jantung ala “kulit macan” yang mengindikasikan penyakit. Dengan pemahaman ini, panitia berharap pelaksanaan kurban di Turi tahun ini berjalan lebih berkualitas, menyejahterakan hewan, dan menghasilkan daging yang benar-benar thayyib. Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidoharjo menggelar rapat koordinasi sekaligus evaluasi pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 H dan persiapan pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 H pada Ahad (17/5/2026) sore. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 16.00 WIB tersebut dilaksanakan di Warung Makan Pecel Lele Tania, Perempatan Selobonggo Kawedan. Rapat dihadiri jajaran PRM Sidoharjo serta perwakilan jamaah dari berbagai wilayah, di antaranya Sidoharjo, Ngaglik, Ngablak, Kawedan, Ledoknongko, Tepan, dan Ngentak. Suasana penuh kekeluargaan dan semangat kebersamaan tampak mewarnai jalannya pertemuan yang menjadi forum konsolidasi dakwah dan persiapan kegiatan keagamaan masyarakat Muhammadiyah setempat. Acara dibuka oleh Ketua PRM Sidoharjo, Gesang Subagya. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya menjaga kekompakan jamaah serta meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah berjamaah, baik pada momentum Idul Fitri maupun Idul Adha. “Evaluasi ini penting agar pelaksanaan kegiatan ke depan semakin baik, tertib, dan mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” ujarnya. Selain membahas laporan pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 H, rapat juga mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan teknis untuk Sholat Idul Adha mendatang. Mulai dari kesiapan lokasi, petugas pelaksana, koordinasi jamaah, hingga penguatan semangat gotong royong warga menjadi pokok pembahasan bersama. Pada sesi iftitah, HA. Bachroni menyampaikan tausiyah tentang nilai-nilai bermuhammadiyah yang harus dijalankan dengan penuh kegembiraan dan semangat dakwah. Ia mengutip pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, bahwa dakwah harus dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan mengajak kepada tauhid yang benar serta lurus. “Bermuhammadiyah itu harus dengan rasa senang dan menyenangkan. Dakwah dilakukan untuk mengajak kepada kebaikan dan ketakwaan,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa warga Muhammadiyah harus terus menghidupkan semangat amar makruf nahi mungkar sebagaimana diajarkan dalam Al-Qur’an, khususnya Surat Ali Imran. Menurutnya, Muhammadiyah harus menjadi gerakan yang rapi, terorganisir, dan saling menguatkan layaknya bangunan kokoh yang menyatu. “Di Muhammadiyah kita diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Amal harus dilandasi ilmu, dan ilmu harus diwujudkan dalam amal,” katanya. HA. Bachroni juga mengutip kandungan Surat Al-Mujadalah bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Karena itu, warga Muhammadiyah diharapkan terus belajar, mengamalkan ajaran Islam, serta bergembira dalam perjuangan mencari ridha Allah SWT. “Berjuang di Muhammadiyah adalah bagian dari ikhtiar menuju ridha Allah dan cita-cita terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya. Rapat berlangsung hangat dan penuh musyawarah hingga menjelang malam, ditutup dengan komitmen bersama untuk menyukseskan pelaksanaan Sholat Idul Adha 1447 H secara tertib, khidmat, dan semakin mempererat ukhuwah antarjamaah. Arief Hartanto:
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Komunitas TernakMU, wadah peternak warga Muhammadiyah Turi binaan Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PCM Turi, menggelar pertemuan perdana pada Ahad 10 Mei 2026, di Rumah Akhmad Khairudin Garongan Wonokerto Turi yang sekaligus sebagai Sekertariat atau Rumah TernakMUsebagai langkah awal penerapan sistem crowdfunding untuk pendanaan usaha microfarming anggotanya. Gerakan ini menjadi aksi nyata pemberdayaan ekonomi warga Muhammadiyah melalui pengembangan ternak ayam kampung petelur jenis Elba dan Kuntara 4. “Pertemuan perdana ini tidak hanya menjadi ruang silaturahmi antarpeternak, tetapi juga menjadi momentum pembentukan struktur pengurus TernakMU” tutur Udin . Dalam forum tersebut, disusun kepengurusan awal dengan Akhmad Khairudin atau Udin sebagai ketua, Fajar sebagai wakil ketua, Sodik sebagai sekretaris, serta Mas Toni Guna sebagai bendahara. Struktur ini diharapkan menjadi fondasi awal agar gerakan TernakMU dapat berjalan lebih tertib, terarah, dan berkelanjutan. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Ketua PCM Turi, Bambang Rahmanto, yang akrab disapa Bara. Hadir pula Agung sebagai perwakilan Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PCM Turi yang juga merupakan peternak praktis yang ikut tergabung sebagai anggota TernakMU, sehingga kehadirannya menjadi penguat dalam aspek pendampingan teknis bagi para anggota. Melalui pola crowdfunding, TernakMU berupaya membangun sistem pendanaan gotong royong untuk mendukung usaha ternak anggota. Pendanaan ini diarahkan untuk membantu kebutuhan awal peternakan, seperti penyediaan bibit, pakan, pengelolaan kandang, hingga pengembangan usaha. Dengan sistem ini, warga yang ingin memulai usaha ternak tidak harus berjalan sendiri, tetapi dapat bergerak bersama dalam jaringan peternak Muhammadiyah yang saling menguatkan. Selain menjadi forum arisan bulanan, pertemuan rutin TernakMU juga dirancang sebagai ruang evaluasi teknis dan pemantauan ternak anggota yang sedang berjalan. Melalui agenda tersebut, setiap anggota dapat berbagi pengalaman, menyampaikan kendala di lapangan, mengevaluasi perkembangan ayam, serta mendapatkan masukan terkait manajemen pakan, kesehatan ternak, pencatatan produksi, dan pemasaran hasil. Dengan demikian, TernakMU tidak hanya menjadi komunitas arisan ternak, tetapi juga ruang belajar bersama bagi peternak warga Muhammadiyah. Konsep microfarming dipilih karena dapat dijalankan dalam skala kecil, memanfaatkan lahan terbatas, dan sesuai untuk dikembangkan oleh keluarga maupun kelompok masyarakat. Dalam gagasan awalnya, microfarming tidak hanya dipahami sebagai kegiatan memelihara ternak kecil, tetapi sebagai sistem usaha yang mencakup perencanaan, pemilihan bibit, manajemen pakan, kesehatan ternak, pencatatan usaha, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Pengembangan ayam kampung petelur jenis Elba dan Kuntara 4 menjadi pilihan strategis karena memiliki potensi produksi telur yang dapat mendukung kebutuhan protein keluarga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga. Dari kandang kecil, anggota TernakMU diharapkan mampu belajar menjadi peternak yang disiplin, mandiri, dan berkemajuan. Melalui pertemuan perdana ini, TernakMU menegaskan komitmennya untuk menjadikan ternak kecil sebagai gerakan besar pemberdayaan ekonomi umat. Dengan semangat gotong royong, pendampingan teknis, arisan bulanan, serta pemantauan rutin, TernakMU hadir sebagai ikhtiar nyata warga Muhammadiyah Turi dalam membangun kemandirian pangan dan ekonomi dari tingkat akar rumput. Rep Udin Turi Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) angkatan 1986 bekerja sama dengan Bidang Pengabdian Masyarakat Persatuan Dokter Gigi Indonesia Cabang Sleman menggelar kegiatan bakti sosial kesehatan gigi dan mulut bagi siswa-siswi SD Muhammadiyah Dadapan, Kamis (30/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut diisi dengan berbagai agenda edukatif dan preventif, di antaranya SiGiBer (Sikat Gigi Bersama) serta TAF (Topikal Aplikasi Fluoride). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada anak-anak usia sekolah dasar. TAF sendiri merupakan tindakan pengolesan fluoride pada permukaan gigi guna memperkuat email gigi dan mencegah terjadinya karies atau gigi berlubang. Prosedur ini dikenal aman, tidak menimbulkan rasa sakit, dan efektif sebagai langkah pencegahan dini terhadap masalah kesehatan gigi pada anak. Kegiatan ini melibatkan sekitar 70 alumni FKG UGM angkatan 1986, didukung oleh 40 tenaga dari PDGI Sleman serta sejumlah personel dari Puskesmas Turi. Kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah Sleman. Ketua PDGI Sleman drg. Isa Dharmawijaya, M.Kes, FISQUA menyatakan “selamat dan turut mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan bakti sosial di SD Muhammadiyah Dadapan Wonokerto Turi, selamat bernostalgia di Jogja dengan tetap berkiprah kepada masyarakat”. Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Dadapan, Lutfi Andari KS, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. “ terimakasih kepada para alumni FKG UGM dan PDGI Sleman atas terpilihnya Sd MuDa sebagai sasaran baksos, terimakasih atas edukasi yang diberikan dan tentunya kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kesehatan kami semua. Alhamdulillah anak-anak senang dan antusias mengikuti semua rangkaian acara hingga selesai”. Selain kegiatan pelayanan kesehatan, panitia juga memberikan plakat sebagai bentuk kenang-kenangan kepada pihak sekolah. Tak hanya itu, bantuan berupa infak pembangunan sebesar Rp10.000.000 turut diserahkan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan fasilitas pendidikan di SD Muhammadiyah Dadapan.
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Semangat menuntut ilmu dan menjaga konsistensi ibadah pasca Ramadhan menjadi penekanan utama dalam Kajian Ahad Legi yang diselenggarakan PRM dan PRA Girikerto di Masjid Aisyah, Ponosaran, Girikerto, Turi, Ahad (19/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan Ustadz H. Wildan Wahid, SHI dari PDM Sleman yang menyampaikan pentingnya istiqamah dalam beramal sebagai tanda diterimanya ibadah selama bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, Ustadz Wildan menegaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, “Barang siapa berjalan menuju majelis ilmu, maka dimudahkan jalannya menuju surga” (HR Muslim). Selain itu, ia juga mengingatkan hadits lain, “Barangsiapa dikehendaki Allah menjadi orang baik, Allah akan memahamkannya terhadap ilmu.” Menurutnya, kemudahan melangkah menuju majelis ilmu merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Lebih lanjut, Ustadz Wildan mengaitkan momentum pasca Ramadhan dengan kualitas ketakwaan seorang muslim. Ia menyampaikan pandangan ulama, Ibnu Rajab Al-Hambali, bahwa tanda diterimanya amal adalah dengan terus melanjutkan amal tersebut setelah Ramadhan. “Ketika Ramadhan, kita merasa ringan beribadah karena suasana yang mendukung. Namun setelah Ramadhan berlalu, di situlah ujian sesungguhnya, apakah kita tetap istiqamah atau justru menurun,” ujarnya. Ia mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri dengan membandingkan kualitas ibadah sebelum Ramadhan (bulan Sya’ban) dan setelahnya (bulan Syawwal). “Jika ibadah kita di bulan Syawwal lebih baik dibanding Sya’ban, maka itu tanda adanya peningkatan ketakwaan,” imbuhnya. Dalam kajian tersebut, Ustadz Wildan juga menyoroti pentingnya amal yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW ketika ditanya tentang amal yang paling dicintai Allah, yakni amal yang dikerjakan terus-menerus walaupun kecil. “Tidak harus semua amalan kita lakukan sekaligus. Pilih yang mampu kita jaga kontinuitasnya,” jelasnya. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah shalat rawatib. Menurutnya, shalat merupakan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat, sehingga perlu disempurnakan dengan shalat sunnah rawatib. “Shalat wajib sering kali belum sempurna karena kurang khusyuk atau gerakan yang belum sesuai sunnah. Maka shalat rawatib berfungsi menutup kekurangan tersebut,” terang Ustadz Wildan. Ia menjelaskan bahwa jumlah rakaat shalat rawatib muakkadah berkisar antara 10 hingga 12 rakaat, dan jika ditambah dengan yang ghairu muakkadah bisa mencapai 20 rakaat. Dari sekian banyak amalan sunnah, Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah Subuh (shalat fajar). “Keutamaannya luar biasa, lebih baik dari dunia dan seisinya,” tegasnya. Ustadz Wildan juga memberikan solusi bagi yang tertinggal shalat fajar, yakni dapat menggantinya setelah matahari terbit (syuruk), namun tidak dilakukan secara rutin. Hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam syariat sekaligus pentingnya menjaga amalan tersebut. Kajian yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh jamaah dengan antusias, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas keimanan dan keilmuan masyarakat Girikerto. Kegiatan ini turut meriahkan dengan Kegiatan pendukung: Pemeriksaan kesehatan dan bazar UMKM jamaah. Reportase H. Dr. Ir. Agus Nugroho Setiawan PCM Turi editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman.
![]()
Turi, Pdmsleman.Or.Id Masjid Baiturrahim Turi kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi pada Sabtu (18/4/2026) dengan menghadirkan Ustadz Drs. H. Sigit Warsito, MA. Kajian yang diikuti jamaah dari berbagai kalangan ini mengangkat tema “Hikmah Ibadah Pasca Ramadhan”, menyoroti pentingnya menjaga konsistensi ibadah setelah bulan suci berakhir. Menurut Takmir Masjid, DR. H. Agus Nugroho S, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan umat agar tidak mengalami penurunan kualitas ibadah setelah Ramadhan. “Kajian ini menjadi pengingat bagi kita semua agar semangat ibadah yang telah dibangun selama Ramadhan tidak hilang begitu saja, tetapi justru terus ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Dalam pemaparannya, Ustadz Sigit Warsito menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini, yakni maraknya kegiatan syawalan yang masih berlangsung meskipun sudah memasuki bulan Dzulqa’dah. Ia menegaskan bahwa tradisi syawalan tidaklah dilarang, namun perlu disikapi secara proporsional. “Syawalan itu hukumnya mubah, boleh dilakukan. Namun yang menjadi masalah adalah ketika sesuatu yang mubah justru mengalahkan amalan sunnah yang dianjurkan, seperti puasa Syawal,” jelasnya. Ia menambahkan, banyaknya agenda syawalan seringkali membuat umat Islam lalai dalam menjalankan ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar. Kondisi ini, menurutnya, perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Dalam kajian tersebut, Ustadz Sigit juga mengangkat fenomena “futur” atau melemahnya semangat ibadah pasca Ramadhan. Ia mengutip sebuah hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, yang menjelaskan bahwa setiap amal memiliki masa semangat dan masa penurunan. “Rasulullah mengingatkan bahwa siapa yang ketika semangat tetap berada dalam sunnah-Nya, maka ia termasuk orang yang beruntung. Sebaliknya, yang meninggalkan sunnah saat futur, maka ia termasuk orang yang merugi,” tuturnya. Lebih lanjut, ia menyampaikan pesan dari Umar bin Khattab terkait pentingnya menjaga keseimbangan ibadah. Ketika dalam kondisi semangat, umat dianjurkan memperbanyak amalan sunnah. Namun saat kondisi melemah, setidaknya tetap menjaga amalan wajib. Tak hanya itu, kajian juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah diri. Ustadz Sigit mengingatkan bahwa Allah telah menjanjikan berbagai keutamaan bagi orang yang bertakwa, di antaranya diberikan jalan keluar dari kesulitan dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. “Jika kita merasa belum mendapatkan apa yang dijanjikan Allah, maka perlu kita introspeksi diri. Jangan-jangan ibadah puasa kita belum benar-benar mengantarkan kita menjadi pribadi yang bertakwa,” ungkapnya. Kajian yang berlangsung khidmat ini diharapkan mampu menjadi motivasi bagi jamaah untuk terus menjaga kualitas ibadah, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, semangat beribadah tetap terjaga dan memberikan dampak positif bagi kehidupan pribadi maupun sosial masyarakat.
![]()