Sleman. Pdmsleman.Or.Id Muhammadiyah Sleman menggelar perhelatan akbar yang diberi nama Muhammadiyah Sleman Expo # 1 ( MSE #1 ). Kegiatan berlangsung di Sleman City Hall ( SCH) pada tanggal 9 – 11 Januari 2026. Dalam perhelatan tersebut menampilkan beberapa produks unggulan dari Muhammadiyah Bisnis Centra ( MBC) dari masing-masing Pimpinan Cabang Muhammadiyah ( PCM) se- Kabupaten Sleman. Tidak ketinggalan MBC PCM Moyudan juga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Ketua Majlis Bisnis, Ekonomi dan Pariwisata PCM Moyudan, Anton Sudarto menuturkan bahwa dalam kegiatan MSE tersebut PCM Moyudan menampilkan produk UMKM, produk MBC, dan produk Jamaah Tani Muhammadiyah ( Jatam) Moyudan. “Tidak ketinggalan kami juga menampilkan produk unggulan lainnya yaitu Lurik Moyudan.” Imbuh Anton. Lebih lanjut Anton mengungkapkan bahwa MSE bisa menjadi sarana promosi MBC yang merupakan media Centra usaha di bawah Majlis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PCM Moyudan. “Yang selama ini kami telah membuka stand usaha di Ruko SMK Muhammadiyah I Moyudan.” Tandasnya. Ia juga mengungkapkan bahagianya karena pada Sabtu 10 Januari 2026, dalam kegiatan MSE stand PCM Moyudan dikunjungi langsung oleh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah ( PDM) Sleman H. Harjaka, yang didampingi H. Abu Hanifah Ketua PCM Moyudan. Harjaka memberikan apresiasi atas partisipasinya PCM dalam kegiatan MSE. “Semoga Muhammadiyah semakin berkembang dan berdaya untuk kepentingan umat.” Ungkap Harjaka.-Rep Sugiyanto PCM Moyudan Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Shadakoh sampah merupakan suatu program dimana masyarakat mengumpulkan sampah yang bernilai ekonomis seperti plastik, kaleng, botol, kertas, dan lain-lain. pengumpulan barang tersebut dikelola oleh komunitas tertentu, dan hasilnya dijual untuk kepentingan sosial. Salah satu komunitas pengelola shadakoh sampah di Moyudan adalah Aisyiyah Betakan, Sumberrahayu, Moyudan Sleman. Kelompok tersebut sudah berdiri sejak tahun 2018, yang diketuai oleh Sita Winayah. Shadakoh sampah teesebut bermula dari sebuah keprihatinan, dimana banyak ibu-ibu di wilayah tersebut ada yang pinjam di bank plecit. Dari hal tersebut membuahkan suatu ide dari kelompok Aisyiyah, untuk dibentuk penglola shadakoh sampah, yang hasilnya digunakan untuk membantu yang memiliki pinjaman bank plecit. ” Disaat pengajian Ibu-ibu kami sampaikan rencana tersebut dan mendapatkan respon yang positif. ” Tutur Sita di rumshnya, Jum”at ( 12/12/2025 ). Lebih lanjut Ia mengutarakan bahwa dalam perkembangannya, hasil penjualan dari shadakoh sampah tersebut bisa digunakan untuk membantu warga yang sakit, biaya pengajian Ibu-ibu dan kegiatan sosial lainnya.” Bahkan untuk menanggulangi agar warga tidak terlibat pinjaman ke bank plecit atau rentenir, kami memberikan pinjaman ke warga tanpa bunga.” Sambungnya. Salah satu anggota Aisyiyah setempat Tri Sumiati menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebit Ibu-ibu atau keluarga sewaktu-waktu bisa mengumpulkan sampah anorganik di rumah sampah.” Selanjutnya kami pilah sesuai dengan jenisnya di hari Sabtu terakhir pada setiap bulannya.” Ungkap Tri. Tri, menambahkan bahwa anggota tidak terbatas, semua warga bisa mengumpulkan sampah rumah tangga. “Dengan demikisn semua warga bisa berkontribusi dalam membantu kegiatan sosial, walau berupa sampah.” Imbuhnya.Rep Sugiyanto Moyudan Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Majelis Ekonomi, Bisnis, Pariwisata Pimpinan Cabang Muhammadiyah ( PCM) Moyudan giat mensosialisasikan Jamaah Tani Muhammadiyah ( Jatam). Hal tersebut dilatar belakangi banyaknya lahan persawahan yang dibiarkan nganggur di wilayah Moyudan. Padahal sawah merupakan sumber perekonomian keluarga, yang harus diberdayakan. Melihat kondisi tersebut Majelis ekonomi, bisnis dan Pariwisata PCM Moyudan menggelar Pelatihan pertanian tanaman terpadu bagi jamaah Tani Muhammadiyah Moyudan. Ketua Majelis ekonomi, bisnis dan Pariwisata PCM Moyudan Ihsan Efendi menyampaikan bahwa kegiatan tersebut digelar pada Minggu, 30 November 2025 yang lalu, dan diikuti oleh 20 orang petani dari Ranting Muhammadiyah se Moyudan. ” Walau cuma diikuti oleh 20 orang, semoga peserta bisa membagikan ilmu yang didapat kepada anggota masyarakat atau jamaah.” Tutur Ihsan di rumahnya, Rabu (10/12/2025 ). Ihsan menambahkan kegiatan tersebut merupakan kerjasama antara PCM Moyudan, Lazismu Moyudan dan LPK Palem Madu., ” Kami mengambil tema integrated farming pertanian berkelsnjutan.” Imbuhnya. Ia juga menuturksn bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk mensosislisasikan Jatam, dan memberikan pengetahuan pertanian terpadu. “Sementara ini yang ada di masyarakat kita masih terbatas tanam padi, padi, pantun, dan belum melakukan pola tanam yang baik.” Tambah Ihsan “Selain itu para petani belum bisa memanfaatkan, , tanaman rumput yang kadang menjadi sarang tikus. Maka dari itu akan kami integrasikan pertanian dengan peternakan.’” Ia juga berharap Jatam bisa menjadi mitra usaha Kebun Buah Bendosari. Rep : Sugiyanto Kontributor PCM Moyudan Editor : Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Moyudan, Pdmsleman.Mu.or.Id Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah ( FK PRM) Sumbersari kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pahing, kali ini berlangsung pada Ahad ( 15/11/2025 ) bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman. Pada pengajian tersebut menghadirkan Ustadz Imam Triyono, S.Ag dengan mengambil tema amal shaleh. Di awal tausihnya imam mengutarakan bahwa amal shaleh manusia dapat digambarkan sebagai bukit, apabila tidak bisa bisa menjaga bukit tersebut bisa longsor. Selain itu amal shaleh dalam kehidupan bagaikan tabungan, yang bisa bertambah dan berkurang.” Untuk menjaga dan mempertahankan amal shaleh tersebut tergantung kepada kita sebagai pemiliknya.” Tandanya. Lebih lanjut Imam menambahkan untuk menjaga agar amal shaleh tidak habis atau bangkrut harus menghindari tiga hal yaitu riya’ atau suka pamer, meremehkan orang lain dan merasa amalnya sudah cukup. “Riya’ dapat diartikan menduakan Allah dengan yang lain.” Tandasnya. “Sedangkan perbuatan merendahkan orang lain itu larangan Allah, yang ditegaskan dalam Al Qur’an Surat Al Hujrat ayat 11, yang artinya Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengilok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok.” Sambungnya. Imam pun menambahkan bahwa syarat untuk menghindari bangkrutnya amal shaleh dapat melakukan dia hal yaitu tidak sombong dan apabila diejek dibalas dengan doa. Rep Sugiyanto PRM Sombangan Raya) Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
Moyudan. Pdmsleman.Or.id Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Cabang Aisiyah (PCA) Moyudan bersama Majelis Dasmen PCA menggelar Sosialisasi Bullying, kekerasan, dan trafficing, bagi Guru Paud, TK dan perwakilan orang tua siswa Paud. Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu (2/8/2025) bertempat di Aula Kalurahan Sumberagung, Moyudan, Sleman. Pada kesempatan tersebut Ketua Penyelenggara Eni Purwaningsih S.H., S.Pd yang juga ketua Majelis Hukum dan HAM PCA Moyudan mengutarkan bahwa diselenggarakannya kegiatan tersebut merupakan sebuahn upaya untuk membekali para guru, pengasuh PAUD dan Wali Murid PAUD yang bernaung di bawah bendera Muhammadiyah dalam mengantisipasi terjadinya bullying, kekerasan maupun trafficing terhadap murid. Untuk itu kami mengambil tema’ Bersama Guru Lindungi Anak Dari Bullying, Kekerasan dan Trafficing’. Karena Guru maupun pengasuh merupakan orang tua ke dua dari peserta didik, maka perlu tahu dan mengerti cara mengatasinya, sehingga jalannya pendidikan sesuai dengan yang diharapkan oleh orang tua dan seluruh stake holder. “Pada Sosialisasi ini kami menghadirkan Ibu Titi Pratiwi Widyaningsih, S.Psi. sebagai narasumber.” Ungkapnya. Lebih lanjut Eni menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bekerjasama dengan Puspa Kasengsem ( Keluarga Sejahtera yang Sembada ) Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman. “Kami harapkan peserta untuk bisa mengikuti dengan baik, kalau ada permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan sehari-hari saat menjalankan tugas, nanti bisa untuk berkonsultasi.” Pungkasnya. Titi Pratiwi Widyaningsih sebagi narasumber memaparkan bahwa bullying adalah tindakan agresif yang biasanya dilakukan seseorang untuk mengintimidasi atau mendominasi orang lain yang dinilai lebih lemah. Perilaku penyimpangan sosial ini dapat terjadi di mana saja, mulai dari lingkungan sekolah hingga lingkungan kerja. Seseorang yang dianggap lemah sering kali menjadi target bully. Dalam kegiatan sehari-hari, orang yang di-bully akan merasa kesulitan dalam mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri. Lebih lanjut Titi Pratiwi mejelaskan bahwa keinginan untuk melakukan bullying tidak muncul dengan sendirinya. Faktor penyebabnya dapat berasal dari lingkungan keluarga, sosial, maupun dari diri sendiri. Adapun beberapa penyebab seseorang melakukan bullying diantaranya anak melihat orang tua sering bertengkar, Pola asuh orang tua yang kurang sehat, merasa brendah diri. “ Faktor lainnya adalah sulit bersosialisasi, cemburu dengan orang lain, ingin dierima dalam pergaulan, pengaruh dari game atau tontonsn yang tidak sesuai dengan usianya.” Tambahnya. Terdapat beberapa jenis bullying yang perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial anak maupun orang dewasa, seperti bullying secara fisik, lisan, sosial, hingga di internet yang biasa disebut dengan cyberbullying. Selanjutnya Titi Pratiwi juga menjelaskan cara mencegah bullying yaitu orang tua perlu mengambil peran aktif untuk mengatasi tanda-tanda perlakuan bullying yang ada pada anak. Adapun caranya untuk mencegah terjadinya bullying bagi anak yang harus dilakukan yaitu orang tua harus lebih dekat dengan anak., orang tua harus mengajari anak cara mengendalikan stress. “ Beirkutnya adalah orang tua harus mengawasi penggunaan gawai pada anak dan mendisiplinkan anak tanpa kekerasan.” Pungkasnya. (Sugiyanto PCM Moyudan )
Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (FK PRM) Sumbersari menggelar pengajian rutin setiap Ahad Pahing. Pada pengajian Ahad Pahing (3/8/2025) bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman, menghadirkan H. Harjaka, S.Pd,.S.Ag,. M.A. Ketua PDM Sleman. Dalam pengajian yang mengambil tema ‘Kebangsaan dan Hikmah Kemerdekaan’ tersebut Harjaka mengawali tausiahnya mengutip penggalan nasehat Raden Ngabehi RanggaWarsita, seorang Pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada masa Sunan Pakubuwono V hingga Paku Buwono VII. Ki Rangga Warsita lahir pada 14 Maret 1802 dan meninggal pada tanggal 24 Desember 1873. Ia merupakan Pujangga besar Tanah Air, beliau mengungkapkan kalimat yang sangat menyentuh. Kalimat tersebut samai saat ini masih sangat fmilier kita dengar. “Besuk bakal tumeka samijine jaman, Jaman mau wis padha keblinger. Kang bener dianggep salah, kang salah dianggep bener,. Kepara kang salah dibaleni nganti mati-matian. Jaman mau diarani jaman edan, lamun ora nedan ora bakal keduman. Ananging mangertia sejatine, sak beja bejane wong ngedan isih luwih beja wong kang eling lan waspada. Wong kang jujurbakale makmur. Becik ketitik ala ketara iku bakal dadi kasunyatan. Apa yang disebutkan Ki Rangga Warsita tersebut menggambarkan situasi kekinina yang menimpa Bangsa Indonesia, banyak orang melakukan kejahatan yang merugikan negara tidak mendapatkan hukuman semestinya. Tetapi sebaliknya orang yang tidak bersalah yang ingin memperbaiki negeri ini malah mendapatkan hukuman. Selanjutnya Harjoko mengajak kepada Anggota Muhammadiyah untuk tetap dan selalu waspada dalam menghadapi segala situasi tersebut.” Kita jangan ikut larut dan mengikuti arus, tetapi harus bisa menyaring sebagi wujud dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar.” Tandasnya Lebih lanjut Harjaka mengutip Hadist yang diriwayatkan oleh As Dailami dari Ibnu Abbas RA. Dalam hadist itu disebutkan ada 3 macam orang sebagi perusak agama yaitu orang pintar yang jahat, penguasa yang dzalim, dan orang yang berijtihad (berfatwa) tetapi bodoh. : Dari Sabda Nabi tersebut dikettahui bahwa kehancuran agama dimulai dari perilaku buruk ketiga golongan tersebut.:Tandas Harjaka. Ia Juga menambahkan bahwa orang-orang pandai yang berlaku jahat jika berkolaborasi dengan penguasa yang dzolim akan menghasilkan kepemimpinan yang tidak amanh. Selain itu juga akan menghasilkan produk-produk dan praktik hukum yang merugikan dan menyengsarakan rakyat. “Apalagi jika ditambah ijtihad yang tidak berdasarkan keilmuan yang memadai, makas akan menghasilkan praktik keagamaan yang menyimpang dan mendorong masyarakat jauh dari ajaran agama yang benar.” Imbuhnya. Ketiga golongan tersebut diuraikan dengan cukup menarik yang dibingkai dengan metode dakwah dengan memadukan anatar materi keagamaan dan penyampaian budaya Jawa melaui tembang Macapat. “ Tembang Macapat seperti mijil, kinanthi, sinom hungga Pocong memiliki makna yang dalam sebagi nasehat bagi manusia, kita harus tetap memperhatikan pakem tembang sepert guru gatra,guru wilangan, dan guru lagu.” Pungkas Harjaka. Pada pengajian teesebut dihadiri rausan jamaah selain itu nampak hadir Ketua PCM Moyudan H.Abu Hanifah S.Ag.M.A,Penasehat PCM Moyudan Dr,H. Zainuddin Akhid, dan beberapa pengurus PCm, PCA Moyudan. (Sugiyanto / Anton RW PCM Moyudan )
Moyudan, Pdmsleman.Or.IdForum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah ( FK PRM) Sumbersari menggelar pengajian rutin setiap Ahad Pahing, bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman.Pada pengajian Ahad Pahing (29/6/2025) menghadirkan Ustazd DR. Ir Anwarudin Hisyam M.Sc dosen Universitas Ahmad Dahlan ( UAD) Yogyakarta, sekaligus Rektor Universitas Islam Mulia Yogyakarta.” Alhamdulillah sebelum pengajian dimulai kita menyanyikan lagu Kebangsaan kita.” Ungkapnya dalam mengawali tausiahnya.Dari syair lagu tersebut terungkap kalimat bangunlah jiwanya bangunlah badannya.” Hal tersebut mengandung maksud bahwa yang dibangun adalah jiwa atau rohsninya dari pada badan atau fisiknya.” Tandanya.Untuk membangun jiwa diperlukan berbagai cara untuk bisa mencapai sasaran. Muhammadiyah merupakan suatu pergerakan, yang berasal dari kata gerak.” Maka kita semua harus gerak untuk bisa mewujudkan cita-cita dan amal usaha Muhammadiyah.” Ungkapnya.Lebih lanjut Anwarudin mengupas dari surat Quraisy. Pada ayat kedua dari surat tersebut terdapat kata rihlah yang bisa diartikan perjalanan atau lebih keren bisa disebut piknik.Dalam piknik tersebut bukan sekedar piknik tetapi untuk mendapatkan sesuatu yang lebih berharga. “Dengan piknik kita mendapatkan literasi yang bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan cara kita untuk berdakwah, sesuai perkembangan.” Pungkasnya.Selesai pengajian dilanjutkan pemeriksaan kesehatan gratis oleh Mahasiswa Universitas Aisiyah ( UNISA) Yogyakarta.Rep Sugiyanto Moyudan
Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Pelaksanaan Shalat Idul Adha 1446 H/ 2025 yang berlangsung pada Jum’at (6/6/2025) di Lapangan Sumbersari mendapatkan infak sebesar 20.403.000 rupiah. Melalui rapat Panitia yang berlangsung pada Jum’at malam ( 13/6/2025) bertempat di rumah Eka Endarto Dukuh, Sumbersari Moyudan. Adapun keputusan rapat memutuskan untuk Mentasarufkan hasil infak Shalat Idul Adha di Lapangan Sumbersari. Dari hasil Infak tersebut ditasrufkan untuk Panitia Takbir keliling 3 juta rupiah untuk PCM Moyudan melalui Panitia Pembangunan gedung dakwah sebesar 3.5 juta rupiah. Selanjutnya untuk Masjid Al Ikhlas Klisat 3 juta rupiah, mushala Al Ihllas Semingin, dan Mushala Al Islah Nasri masing-masing 1,5 juta rupiah. Untuk Lembaga Pendidikan SD Muhammadiyah Semingin dan TK Kartini Semi Asri masing-masing 500 ribu rupiah. Sedang untuk PAUD yaitu PAUD Kuncup Mekar, PAUD Aisyiah Arum Sari dan PAUD Tunas Bangsa masing-masing 250 ribu rupiah. Selain itu ditasyarufkan untuk TPA AL Hikmah Tegalrejo, TPA Al- Ihklas Klisat, TPA MMS Semingin, TPA Ibnu Sina, dan TPA AL-Falah Sombangan, masing-masing 250 ribu rupiah. Sedangkan untuk PRM Tegalrejo, Klisat, Semingin, Tiwir dan Sombangan masing-masing mendapat 300 ribu rupiah. Untuk Panitia penyelenggara yang mempersiapkan pembuatan shof dan petugas infak mendapat bagian 1 juta rupiah. Sisa dari pentasyarufan tersebut dipergunakan untuk operasional dan kas panitia. ( Sugiyanto)
Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Lomba Gema Takbir Keliling Idul Adha yang digelar Forum Komunikasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah Sumbersari berjalan dengan meriah. Lomba Gema Takbir berlangsung pada Sabtu ( 7/6/2025 ) mengambil start dan finish lapangan Sumbersari, Moyudan, Sleman.Junaidi Ketua Panitia Gema Takbir Keliling Forum Komunikasi PRM Sumbersari dalam laporannya menyampaikan bahwa lomba Gema Takbir baru pertama kali diselenggarakan oleh Forum Komunikasi PRM, semoga pada tahun-tahun berikutnya bisa berlanjut. Selanjutnya Ia melaporkan bahwa Gema Takbir diikuti oleh 13 jamaah terdiri dari 12 regu dari Sumbersari dan 1 regu dari Sumberrahayu.“Pada Lomba Gema Takbir kali ini Panitia menyediakan Trophy bergilir dan trophy tetap untuk juara 1, untuk Juara 2, dan 3 juga mendapatkan trophy tetap ditambah juara harapan 1.2dan 3.” Tuturnya.Junaidi menambahkan selain trophy paniatia juga menyediakan uang pembinaan untuk juara 1 sebesar 1.5 juta. Untuk juara 2 dan 3 Masing-masing menerima 1.250.000 rupiah dan 1 juta rupiah. Sedangkan untuk juara harapan 1 s.d 3 masing-masing menerima 500 ribu rupiah. ” Selain itu semua peserta akan menerima penghargaan dari Panitia.” Pungkasnya.Selanjutnya Lurah Sumbersari Sukadi dalam sambutannya atas nama pemerintah Sumbersari memberikan apresiasi kepada Panitia dan peserta Takbir Keliling. Lebih lanjut Lurah Sumbersari mempersilahkan untuk menggunakan fasilitas Kalurahan baik lapangan maupun pendopo Kalurahan untuk kegiatan yang positif. Ia juga merasa bangga dengan kreatifitas peserta yang lebih menonjolkan budaya.” Budaya merupakan cara hidup yang berkembang yang dimiliki kelompok masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang harus kita lestarikan.” Tuturnya.Selanjutnya Ia juga berharap agar peserta untuk menjaga ketertiban.” Jaga kebersamaan dan jalinan silaturahmi tetap diutamakan, semoga dari awal sampai akhir berjalan lancar.” Pungkasnya.Sedangkan Panewu Moyudan Agung Dwi Maryoto pada kesempatan memberikan sambutan menyampaikan atas nama Bupati Sleman mengapresiasi diselenggarakannya lomba Gema Takbir Keliling yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi PRM Sumbersari. Selanjutnya Ia juga menyampaikan terimakasihnya , sehingga bersama Forum Pimpinan Kapanewon bisa bersilaturahmi dengan warga Sumbersari. Panewu Moyudan juga berpesan kepada peserta. ” Bagi juara jangan bangga, dan yang kalah jangan kecil hati, harus tetap semangat.” Ujarnya.Selanjutnya Panewu Moyudan berkenan menyalakan obor dan menabuh beduk sebagai pertanda untuk peserta mengawali Takbir keliling.Hal yang cukup mbanggakan dari peserta mengambil berbagai tema yang memberikan semangat perjuangan umat Islam.Selain itu nuansa budaya sangarlah kental, baik dari aksesoris maupun dalam berbusana. Selain nuansa islami juga tidak meninggalkan budaya Jawa seperti kereta kencana dan lain sebagainya.( Sugiyanto / PCM Moyudan )