Hari Ber-Muhammadiyah Sleman 2026 Teguhkan Dakwah Lereng Merapi yang Mencerahkan Peradaban

Delapan Ribuan warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai kapanewon di Kabupaten Sleman memadati kawasan Museum Gunung Merapi (MGM), Hargobinangun, Pakem, Sabtu (1/8/2026), untuk mengikuti Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman Tahun 2026. Mengusung tema “Dakwah Lereng Merapi: Mencerahkan, Memberdayakan, dan Memajukan Peradaban”, kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah sekaligus memperkuat peran Muhammadiyah dalam dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Sejak pagi buta, ribuan jamaah telah berdatangan menggunakan bus, kendaraan pribadi hingga rombongan dari berbagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Suasana kawasan Museum Gunung Merapi berubah menjadi lautan warga Muhammadiyah yang memadati arena utama, bazar UMKM, layanan kesehatan, hingga area donor darah. Sebelum acara inti dimulai, panitia menyuguhkan praacara yang dipandu dua pembawa acara dengan mengajak jamaah mengunjungi puluhan stan UMKM binaan PCA Pakem dan masyarakat Hargobinangun. Beragam produk lokal mulai dari olahan salak, jadah khas Kaliurang, bakso, soto, kebab, burger, susu kambing etawa, hingga aneka jajanan tradisional menarik perhatian para pengunjung. Selain bazar UMKM, panitia juga menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah bekerja sama dengan PMI, serta promo khusus tiket masuk Museum Gunung Merapi bagi seluruh peserta kegiatan. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah menggerakkan ekonomi umat sekaligus menghadirkan pelayanan sosial bagi masyarakat. Suasana semakin semarak ketika panggung praacara menampilkan berbagai kreativitas siswa-siswi sekolah Muhammadiyah di Pakem. Penampilan diawali Tari Anugraha Pari dari SMP Muhammadiyah Pakem yang merupakan peraih Juara Harapan II Festival Lomba Seni Nasional Kabupaten Sleman. Tarian yang menggambarkan semangat para petani tersebut berhasil memukau ribuan jamaah. Tepuk tangan panjang mengiringi setiap gerakan para penari yang tampil anggun dengan kostum bernuansa budaya Jawa. Kemeriahan berlanjut melalui penampilan Drum Band TK ABA Boyong bertajuk “Mahaguru Merapi”. Pertunjukan tersebut mengangkat kisah kehidupan masyarakat lereng Merapi, mulai dari suasana damai sebelum erupsi, kepanikan saat bencana, hingga bangkitnya masyarakat membangun kehidupan baru dengan semangat gotong royong. Penampilan itu mendapat apresiasi luar biasa karena dimainkan oleh puluhan anak usia dini dengan penuh percaya diri dan kekompakan. Tak kalah memukau, siswa SD Muhammadiyah 2 Pakem yang merupakan Juara I Angklung Tingkat DIY juga tampil membawakan sejumlah lagu bertema nasionalisme dan kecintaan kepada Tuhan. Harmoni angklung yang dimainkan para siswa membuat suasana pagi di lereng Merapi terasa semakin khidmat. Sementara itu, penyanyi cilik Zaura dari SD Muhammadiyah Pakem membawakan lagu religi “Kebesaran-Mu” yang berhasil menyentuh hati para jamaah. Penampilannya mendapat sambutan meriah dari ribuan peserta yang memenuhi area Museum Gunung Merapi. Acara inti dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars ‘Aisyiyah sebagai simbol perpaduan nilai keislaman, kebangsaan, serta semangat dakwah berkemajuan. Ketua PCM Pakem, H. Raden Agung Nugroho, M.A., dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan menjadikan Pakem sebagai tuan rumah Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman tahun ini. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah Pakem terus berkembang melalui berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan ekonomi. Mulai dari PAUD hingga SMA/SMK, Klinik Pratama PKU Muhammadiyah Pakem yang sedang berproses menjadi Klinik Utama, Panti Asuhan Putri Muhammadiyah, pengajian Ahad pagi di sembilan titik, koperasi, hingga Muhammadiyah Business Corner. Menurutnya, kegiatan tersebut juga didukung bazar UMKM, layanan kesehatan gratis, donor darah, serta ribuan paket konsumsi hasil gotong royong jamaah dan takmir masjid di wilayah Pakem. “Kami berharap Hari Ber-Muhammadiyah ini semakin menggembirakan dakwah dan memperkuat ukhuwah warga Muhammadiyah Kabupaten Sleman,” ujarnya. Bupati Sleman H. Harda Kiswoyo, S.Si., M.Si. memberikan apresiasi tinggi kepada Muhammadiyah atas kontribusinya dalam pembangunan daerah. Menurutnya, pengajian seperti Hari Ber-Muhammadiyah bukan sekadar kegiatan keagamaan, tetapi juga ruang membangun karakter masyarakat yang religius, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial. Ia mengajak seluruh jamaah menjaga persatuan, toleransi, gotong royong, serta terus mendukung pendidikan generasi muda melalui lembaga-lembaga Muhammadiyah. Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Klinik PKU Muhammadiyah Pakem agar segera meningkat statusnya menjadi Klinik Utama. Ketua PDM Sleman H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A. menyampaikan bahwa keberhasilan menghadirkan lebih dari tujuh ribu jamaah menjadi bukti kuatnya semangat warga Muhammadiyah Sleman. Ia mengingatkan lima kekuatan utama warga Muhammadiyah, yakni keimanan sebagai aset terbesar, kejujuran sebagai harta terbaik, kesabaran sebagai senjata utama, doa sebagai alat tercanggih, dan persatuan sebagai modal terbaik untuk membangun organisasi yang semakin berkemajuan. Sementara itu, mewakili PWM DIY, Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag. menegaskan bahwa pengajian merupakan jantung gerakan Muhammadiyah sejak didirikan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, hampir seluruh amal usaha Muhammadiyah lahir dari budaya pengajian yang terus melahirkan gagasan dan inovasi bagi kemajuan umat. Ia mengapresiasi antusiasme warga Muhammadiyah Sleman yang mampu menghadirkan ribuan jamaah dalam satu kegiatan besar. Selain pengajian, panitia juga memberikan penghargaan kepada guru-guru TK ABA, para takmir masjid Muhammadiyah, serta menghadirkan penampilan Polisi Cilik SD Muhammadiyah Pakem yang memukau hadirin dengan atraksi baris-berbaris dan seni budaya Nusantara. Selama kegiatan berlangsung, panitia juga menggalang dana melalui Lazismu sebagai bentuk kepedulian sosial warga Muhammadiyah kepada masyarakat yang membutuhkan. Hari Ber-Muhammadiyah Kabupaten Sleman 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar pengajian akbar. Kegiatan ini menunjukkan wajah Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang tidak hanya mengajarkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga menghadirkan pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, kepedulian sosial, pelestarian budaya, hingga penguatan persaudaraan di tengah masyarakat. Dengan semangat “Dakwah Lereng Merapi: Mencerahkan, Memberdayakan, dan Memajukan Peradaban”, ribuan warga Muhammadiyah membuktikan bahwa dakwah dapat diwujudkan melalui aksi nyata yang memberi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan. Rep Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Rayakan Milad Ke-1, BikersMu Chapter Sleman Gelar Touring Dakwah, Bakti Sosial, dan Layanan Kesehatan di Ndeles Indah

Klaten, Pdmsleman.Or.Id Mengusung semangat berdakwah di atas roda, BikersMu Chapter Sleman sukses menggelar peringatan Milad ke-1 pada Minggu (26/7/2026). Rangkaian acara yang memadukan aksi sosial, dakwah Islam, dan silaturahmi antaranggota ini dipusatkan di kawasan wisata Ndeles Indah, Klaten, dengan melibatkan sekitar 200 peserta. Rombongan peserta memulai perjalanan (start) pada pukul 07.15 WIB dari RSU PKU Muhammadiyah Sleman. Tempat perhentian pertama difokuskan di SD Muhammadiyah Kregan, Cangkringan, untuk menyerahkan donasi bakti sosial guna mendukung operasional dan fasilitas sekolah setempat. Setelah aksi sosial di Cangkringan, rombongan melanjutkan perjalanan touring menuju lokasi utama resepsi Milad di Ndeles Indah, Sidorejo, Klaten. Memanfaatkan momentum berkumpulnya para penikmat roda dua ini, BikersMu Sleman juga bekerja sama dengan PKU Gamping dan PKU Cangkringan untuk menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar Desa Sidorejo. Syiar di Jalanan dan Kepedulian untuk SesamaAcara puncak resepsi diisi dengan pengajian yang disampaikan oleh Ust. Arif Munajat. Dalam tausiyahnya, beliau mengajak seluruh anggota BikersMu untuk menjadikan kegiatan touring bukan sekadar hobi, melainkan sarana efektif untuk berdakwah dan menebar kebaikan di sepanjang jalan. Bentuk nyata dari pesan tersebut dibuktikan dengan penyerahan donasi senilai kurang lebih Rp8.000.000,- yang digalang oleh anggota BikersMu Sleman. Donasi tersebut diserahkan langsung untuk membantu rehabilitasi mushola/masjid di kampung Desa Sidorejo. Atas bantuan ini, Ketua RT beserta Takmir Masjid setempat menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang mendalam. Mereka mengungkapkan bahwa bantuan ini sangat berarti bagi kelancaran renovasi rumah ibadah warga. Kegiatan Milad ke-1 ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan tamu undangan penting, di antaranya Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM DIY, Ketua Korwil BikersMu DIY, serta para Ketua BikersMu Chapter se-DIY. Sekretaris PDM Sleman, Arif Mahfud, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi BikersMu Sleman dalam mengemban misi dakwah komunitas yang humanis dan berdampak langsung bagi masyarakat luas. Apresiasi senada disampaikan oleh Ketua Korwil BikersMu DIY, Ndan Soni. Dalam sambutannya, ia menyatakan, “BikersMu Chapter Sleman telah menunjukkan kinerja dan kepedulian yang luar biasa. Inisiatif serta kebersamaan ini sangat layak menjadi contoh dan inspirasi bagi chapter-chapter BikersMu lainnya.” Momen kebahagiaan milad ditutup secara khidmat dan meriah melalui prosesi pemotongan tumpeng, dilanjutkan dengan pembagian puluhan doorprize menarik bagi para peserta yang hadir. Melalui perayaan Milad ke-1 ini, BikersMu Chapter Sleman berharap dapat terus mempererat tali silaturahmi, menjaga konsistensi dalam aksi-aksi kemanusiaan, serta memperluas jangkauan dakwah Muhammadiyah melalui jalur komunitas otomotif. Rep Edy Purwanto S.Pd Bikermu Turi, KS SMKM Minggir Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Pelatihan ToT SATUMU Perkuat Digitalisasi Keanggotaan Muhammadiyah di Sleman

Godean, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman menyelenggarakan Pelatihan Training of Trainer (ToT) SATUMU di SMP Muhammadiyah 1 Gamping pada Sabtu, 18 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempercepat implementasi aplikasi SATUMU dalam menyambut Muktamar Muhammadiyah. Pelatihan dipandu langsung oleh Tim SATUMU Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta. Para peserta mendapatkan pendampingan mengenai penggunaan aplikasi SATUMU agar mampu menjadi pendamping bagi cabang dan ranting di wilayah masing-masing. Sekretaris PDM Sleman, Arif Mahfud, menyampaikan bahwa seluruh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di Sleman telah aktif menggunakan aplikasi SATUMU. Namun, dari 153 Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM), masih terdapat 52 ranting yang belum aktif. “Melalui pelatihan ini diharapkan seluruh ranting sudah aktif menggunakan SATUMU sebelum 31 Agustus 2026. Khusus ranting-ranting di wilayah Moyudan akan diadakan pelatihan tersendiri. Apabila masih ada ranting yang belum aktif, pendampingannya dapat ditangani oleh PCM,” ujar Arif Mahfud. Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah anggota yang telah aktif menggunakan e-KTAM kini telah mencapai lebih dari 35.000 anggota. Kehadiran e-KTAM dan aplikasi SATUMU diharapkan mampu mendata seluruh anggota Muhammadiyah secara lebih akurat, sekaligus memetakan berbagai potensi dan sumber daya yang dimiliki organisasi sebagai dasar penyusunan program serta penguatan dakwah dan kemajuan Muhammadiyah. Menurut Ridwan W dari Sekretariat PDM Sleman menuturkan bahwa update yang telah melakukan migrasi E KTAM untuk PDM Sleman telan mencapai anggota sebanyak 2.500 orang. Melalui kegiatan ToT ini, PDM Sleman berharap seluruh cabang dan ranting dapat segera mengoptimalkan penggunaan SATUMU sehingga proses pendataan keanggotaan dan pengelolaan organisasi semakin tertata, terintegrasi, dan siap mendukung suksesnya penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah. Rep Totok Sekretariat PDM Sleman Editorr Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

TPQ Inklusi Muhammadiyah Sleman Buka Ruang Belajar Al-Qur’an bagi Penyandang Tuna Netra

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Suasana hangat dan penuh semangat terlihat di Masjid Asy Syifa PKU Muhammadiyah Sleman pada Ahad (14/6/2026). Sejumlah penyandang tuna rungu yang tergabung dalam HIDIMU (Himpunan Difabel Muhammadiyah) Sleman mengikuti kegiatan perdana Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Inklusi yang digagas oleh Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Sleman.Program ini menjadi salah satu langkah nyata Muhammadiyah dalam menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.Ketua MPKS PDM Sleman, Drs. Wahyu Purhantoro, M.M., menegaskan bahwa pendidikan agama merupakan hak setiap orang tanpa terkecuali. Karena itu, akses terhadap pembelajaran Al-Qur’an harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.“Mendengar bukan hanya tentang suara. Mendengar adalah tentang memahami, memberi ruang, dan menerima setiap perbedaan dengan hati yang terbuka. Melalui TPQ Inklusi ini kami ingin menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman bagi saudara-saudara berkebutuhan khusus, termasuk teman-teman tuli,” ujar Wahyu.Menurutnya, inklusi tidak berhenti pada penyediaan akses semata, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara agar setiap individu dapat berkembang sesuai potensinya.“Setiap orang memiliki hak yang sama untuk belajar dan mengenal Al-Qur’an. Inklusi adalah tentang memberi kesempatan agar semua bisa tumbuh, berkembang, dan bersinar bersama,” katanya.Kegiatan TPQ Inklusi mulai dilaksanakan pada Juni 2026 dan direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan pada pekan ketiga. Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Muhammadiyah dalam memperluas layanan sosial dan pendidikan yang menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses.Pada pelaksanaan perdana, proses pembelajaran dipandu oleh dua pengajar, yakni Andi Naim, Amin Qomariyah dan Novita Nur Alifah. Dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta, kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat sambutan positif dari para peserta maupun keluarga yang mendampingi.Wahyu menambahkan, MPKS PDM Sleman juga tengah menyiapkan pengembangan program serupa bagi penyandang tuna netra. Persiapan tersebut telah dilakukan dengan menyediakan Al-Qur’an Braille sebagai sarana belajar.“Insya Allah ke depan kami juga akan membuka TPQ Inklusi untuk saudara-saudara tuna netra. Al-Qur’an Braille sudah kami siapkan. Saat ini kami sedang berupaya mencari instruktur yang memiliki kemampuan mengajar membaca Al-Qur’an Braille,” ungkapnya.Ia berharap keberadaan TPQ Inklusi tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, pemberdayaan, dan penguatan kepercayaan diri bagi para penyandang disabilitas.Program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Ketika kesempatan belajar dibuka seluas-luasnya, tidak ada lagi yang merasa tertinggal ataupun berjalan sendirian.“Semoga melalui langkah kecil ini semakin banyak pihak yang tergerak untuk membangun lingkungan yang inklusif. Mari belajar mendengar dengan hati, sehingga semua dapat merasakan kebersamaan dan kebermanfaatan,” pungkas Wahyu.Melalui TPQ Inklusi, Muhammadiyah Sleman menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan keadilan dan kesempatan bagi semua.Rep Anna Yaskuri S.Pd MPKS PDM SlemanEditor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Empat Produk UMKM Sleman Masuk Program Muhammadiyah One Brand UMKM

Kebumen , Pdmsleman.Or.Id Komitmen Muhammadiyah dalam memperkuat ekonomi umat kembali ditunjukkan melalui dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dalam Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman yang digelar di Sagara View, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (13/6/2026), dilakukan penyerahan simbolis empat produk unggulan UMKM Sleman yang terpilih masuk dalam Program Muhammadiyah One Brand UMKM. Raker tersebut dihadiri secara lengkap oleh 13 pimpinan harian PDM Sleman, serta para ketua dan sekretaris majelis, lembaga, dan organisasi otonom (ortom) tingkat daerah se-Kabupaten Sleman. Selain membahas program strategis organisasi, forum ini juga menjadi momentum penguatan sektor ekonomi melalui pemberdayaan UMKM Muhammadiyah. Penyerahan simbolis dilakukan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LP UMKM) PDM Sleman, Muhamad Iskandar, S.E., M.E., kepada Ketua PDM Kabupaten Sleman. Empat produk yang diserahkan merupakan produk UMKM Sleman yang telah terpilih sebagai bagian dari program Muhammadiyah One Brand UMKM. Muhamad Iskandar menjelaskan bahwa penyerahan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi bentuk dukungan nyata agar produk-produk UMKM binaan Muhammadiyah dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas melalui jaringan Muhammadiyah. “Penyerahan simbolis ini memiliki harapan agar PDM Sleman memberikan restu sekaligus dukungan penuh kepada UMKM Sleman untuk masuk dalam Program Muhammadiyah One Brand UMKM sebagai upaya mengatasi persoalan pemasaran yang selama ini menjadi tantangan utama pelaku usaha kecil,” ujarnya. Program Muhammadiyah One Brand UMKM sendiri secara resmi diluncurkan oleh Lembaga Pengembangan UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY pada 10 Maret 2026 di Hotel SM Tower Yogyakarta. Program tersebut dirancang sebagai model kolaboratif yang memungkinkan satu merek digunakan oleh berbagai pelaku UMKM Muhammadiyah untuk produk yang sama dengan standar kualitas dan desain yang seragam. Menurut Iskandar, konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk UMKM Muhammadiyah di pasar yang semakin kompetitif. Dengan menggunakan satu identitas merek yang kuat, produk akan lebih mudah dikenali konsumen dan memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar yang lebih luas. Ia mencontohkan produk RendangMu yang telah diluncurkan pada Maret lalu. Produk tersebut berasal dari UMKM Sleman, namun ke depan dapat diproduksi oleh UMKM Muhammadiyah dari daerah lain dengan tetap menggunakan merek dan desain yang sama sesuai standar yang telah ditetapkan. “Produsennya bisa berbeda-beda, tetapi brand dan desain kemasan harus sama sehingga tercipta kekuatan merek yang terintegrasi,” jelasnya. Pada tahap awal, terdapat empat produk yang dipilih sebagai pilot project dalam Program Muhammadiyah One Brand UMKM, yaitu Sambel PecelMu, AbonMu, RendangMu, dan SambelMu. Menariknya, keempat produk tersebut seluruhnya berasal dari UMKM Kabupaten Sleman. Keberhasilan produk-produk UMKM Sleman masuk dalam program percontohan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Muhammadiyah Sleman. Selain menunjukkan kualitas produk yang dimiliki, pencapaian tersebut juga membuka peluang lebih besar bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan pemasaran melalui ekosistem Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah. Melalui sinergi antara organisasi dan pelaku usaha, Muhammadiyah berharap Program One Brand UMKM mampu menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kemandirian ekonomi umat sekaligus memperkuat keberadaan produk-produk lokal di pasar nasional. Reportase Tetra LP UMKM PDM Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Belajar dari PCM Gombong, Kaderisasi jadi kata kunci Pengembangan

Agenda rapat kerja PDM Kabupaten Sleman diantaranya mengundang Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong sebagai juara 1 Best of The Best PCM dalam Cabang Ranting Muhammadiyah Award 2026 di Banjarmasin Kalimantan Timur baru-baru ini. Bertempat di Sagara View, Pantai Karang Bolong Kebumen Jawa Tengah, Sabtu-Ahad, 13-14 Juni 2026. Dalam pertemuan tersebut PCM Gombong, menyampaikan best practice oleh Heri Pramono selaku wakil ketua PCM Gombong. Di bidang pendidikan, kondisi sekolah-sekolah Muhammadiyah juga beragam. Ada yang jumlah siswanya sudah besar, ada pula yang masih memerlukan perhatian dan penguatan. Namun yang terpenting bukan hanya jumlah siswa, melainkan bagaimana sekolah tersebut mampu menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan kaderisasi dengan baik. “Di Kabupaten Kebumen terdapat 26 kecamatan, dan Muhammadiyah telah hadir di sebagian besar wilayah tersebut. Kehadiran Muhammadiyah tidak hanya melalui sekolah dan masjid, tetapi juga melalui ranting-ranting yang aktif menggerakkan dakwah di tengah masyarakat.” Ungkap Heri Pramono Pengalaman menunjukkan bahwa ketika sebuah ranting berdiri dan aktif, banyak manfaat yang dirasakan masyarakat. Ada warga yang sebelumnya belum mengenal Muhammadiyah dengan baik kemudian menjadi bagian dari persyarikatan. Ada pula yang semakin memahami agama dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan serta dakwah. “Karena itu, salah satu strategi yang kami lakukan adalah memperkuat ranting dan membangun basis kader di tingkat akar rumput. Tanah wakaf, masjid, sekolah, maupun amal usaha lainnya diarahkan untuk memperkuat gerakan dakwah dan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan berbagai program sosial juga terus dikembangkan untuk membantu anak yatim, kaum dhuafa, dan masyarakat yang membutuhkan.” Tegas Heri Selain itu, pengembangan sumber daya manusia di PCM Gombong menjadi perhatian utama. Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak hanya menjadi anggota, tetapi juga bersedia aktif mengambil peran dan tanggung jawab dalam organisasi. Sebab organisasi yang besar tidak mungkin berjalan hanya oleh segelintir orang. “Kita juga perlu memperkuat sinergi dengan berbagai lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan amal usaha yang ada. Persaingan tidak boleh menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam membangun umat. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh potensi yang ada dapat saling menguatkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.” Papar Heri Pramono Menciptakan Kader melalui AMM Kaderisasi harus dirancang berdasarkan kebutuhan organisasi di masa depan. Kita harus mampu memetakan kebutuhan sumber daya manusia yang akan mengelola amal usaha, memimpin organisasi, mengembangkan dakwah, serta melayani masyarakat. Jika kebutuhan itu tidak dipersiapkan sejak sekarang, maka suatu saat kita akan mengalami kekurangan kader. Karena itu, rekrutmen dan pembinaan kader harus dilakukan secara terencana. Anak-anak muda yang memiliki potensi perlu didampingi, diberikan ruang berkembang, dan dibina secara berkelanjutan. Mereka bukan hanya dipersiapkan menjadi anggota Muhammadiyah, tetapi juga menjadi pemimpin, penggerak, dan pelanjut estafet perjuangan. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika Muhammadiyah membutuhkan guru, mubaligh, pengasuh pesantren, dokter, perawat, dan berbagai profesi lainnya, semuanya harus dipersiapkan melalui proses kaderisasi yang panjang. Kita tidak bisa berharap kader muncul secara tiba-tiba tanpa pembinaan. Karena itu, Muhammadiyah harus terus melahirkan kader ulama, kader guru, kader dokter, kader perawat, kader profesional, dan kader pemimpin masyarakat. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) akan tetap kuat apabila dikelola oleh kader-kader yang memahami nilai dan ideologi Muhammadiyah. Target idealnya adalah semakin banyak kader yang terlibat dalam pengelolaan AUM. Jika sebagian besar pengelola AUM adalah kader Muhammadiyah, maka keberlanjutan gerakan akan lebih terjamin. Sebaliknya, apabila kader yang terlibat sangat sedikit, maka risiko melemahnya identitas dan arah perjuangan akan semakin besar. Oleh karena itu, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) menjadi modal utama kaderisasi. Anak-anak para aktivis dan pimpinan Muhammadiyah juga perlu mendapatkan perhatian khusus melalui berbagai program pembinaan, seperti Baitul Arqam, pengkaderan Ortom, dan berbagai kegiatan pembentukan karakter lainnya. Yang tidak kalah penting adalah menanamkan kecintaan kepada Muhammadiyah sejak usia dini. Anak-anak harus mengenal Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan amal saleh yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kita perlu meyakinkan generasi muda bahwa berkhidmat di Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah dan jalan kebaikan. Ketika nilai-nilai ini tertanam kuat, mereka akan memiliki kebanggaan dan komitmen untuk terus melanjutkan perjuangan persyarikatan. Karena itu, kaderisasi bukan sekadar program organisasi, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Muhammadiyah. Dari kaderisasi yang kuat akan lahir pemimpin-pemimpin baru, pengelola amal usaha yang profesional, dan penggerak dakwah yang mampu membawa Muhammadiyah terus maju dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi umat. Semua proses organisasi harus berjalan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi, namun semuanya harus diselesaikan melalui musyawarah dan tetap dalam koridor persyarikatan. Dengan demikian, Muhammadiyah akan tetap kokoh, berkembang, dan mampu menjawab tantangan zaman. Semoga semangat perjuangan para pendahulu dapat terus kita lanjutkan, sehingga Muhammadiyah semakin maju, semakin kuat kaderisasinya, dan semakin besar manfaatnya bagi umat, bangsa, dan negara. Kontributor: Wahdan Arifudin Editor: Arif Hartanto

Loading