Agenda rapat kerja PDM Kabupaten Sleman diantaranya mengundang Pimpinan Cabang Muhammadiyah Gombong sebagai juara 1 Best of The Best PCM dalam Cabang Ranting Muhammadiyah Award 2026 di Banjarmasin Kalimantan Timur baru-baru ini. Bertempat di Sagara View, Pantai Karang Bolong Kebumen Jawa Tengah, Sabtu-Ahad, 13-14 Juni 2026.
Dalam pertemuan tersebut PCM Gombong, menyampaikan best practice oleh Heri Pramono selaku wakil ketua PCM Gombong.
Di bidang pendidikan, kondisi sekolah-sekolah Muhammadiyah juga beragam. Ada yang jumlah siswanya sudah besar, ada pula yang masih memerlukan perhatian dan penguatan. Namun yang terpenting bukan hanya jumlah siswa, melainkan bagaimana sekolah tersebut mampu menjalankan fungsi pendidikan, dakwah, dan kaderisasi dengan baik.
“Di Kabupaten Kebumen terdapat 26 kecamatan, dan Muhammadiyah telah hadir di sebagian besar wilayah tersebut. Kehadiran Muhammadiyah tidak hanya melalui sekolah dan masjid, tetapi juga melalui ranting-ranting yang aktif menggerakkan dakwah di tengah masyarakat.” Ungkap Heri Pramono

Pengalaman menunjukkan bahwa ketika sebuah ranting berdiri dan aktif, banyak manfaat yang dirasakan masyarakat. Ada warga yang sebelumnya belum mengenal Muhammadiyah dengan baik kemudian menjadi bagian dari persyarikatan. Ada pula yang semakin memahami agama dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan serta dakwah.
“Karena itu, salah satu strategi yang kami lakukan adalah memperkuat ranting dan membangun basis kader di tingkat akar rumput. Tanah wakaf, masjid, sekolah, maupun amal usaha lainnya diarahkan untuk memperkuat gerakan dakwah dan pelayanan kepada masyarakat. Bahkan berbagai program sosial juga terus dikembangkan untuk membantu anak yatim, kaum dhuafa, dan masyarakat yang membutuhkan.” Tegas Heri
Selain itu, pengembangan sumber daya manusia di PCM Gombong menjadi perhatian utama. Muhammadiyah membutuhkan kader yang tidak hanya menjadi anggota, tetapi juga bersedia aktif mengambil peran dan tanggung jawab dalam organisasi. Sebab organisasi yang besar tidak mungkin berjalan hanya oleh segelintir orang.
“Kita juga perlu memperkuat sinergi dengan berbagai lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan amal usaha yang ada. Persaingan tidak boleh menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam membangun umat. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh potensi yang ada dapat saling menguatkan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.” Papar Heri Pramono
Menciptakan Kader melalui AMM
Kaderisasi harus dirancang berdasarkan kebutuhan organisasi di masa depan. Kita harus mampu memetakan kebutuhan sumber daya manusia yang akan mengelola amal usaha, memimpin organisasi, mengembangkan dakwah, serta melayani masyarakat. Jika kebutuhan itu tidak dipersiapkan sejak sekarang, maka suatu saat kita akan mengalami kekurangan kader.
Karena itu, rekrutmen dan pembinaan kader harus dilakukan secara terencana. Anak-anak muda yang memiliki potensi perlu didampingi, diberikan ruang berkembang, dan dibina secara berkelanjutan. Mereka bukan hanya dipersiapkan menjadi anggota Muhammadiyah, tetapi juga menjadi pemimpin, penggerak, dan pelanjut estafet perjuangan.
Pengalaman menunjukkan bahwa ketika Muhammadiyah membutuhkan guru, mubaligh, pengasuh pesantren, dokter, perawat, dan berbagai profesi lainnya, semuanya harus dipersiapkan melalui proses kaderisasi yang panjang. Kita tidak bisa berharap kader muncul secara tiba-tiba tanpa pembinaan.
Karena itu, Muhammadiyah harus terus melahirkan kader ulama, kader guru, kader dokter, kader perawat, kader profesional, dan kader pemimpin masyarakat. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) akan tetap kuat apabila dikelola oleh kader-kader yang memahami nilai dan ideologi Muhammadiyah.
Target idealnya adalah semakin banyak kader yang terlibat dalam pengelolaan AUM. Jika sebagian besar pengelola AUM adalah kader Muhammadiyah, maka keberlanjutan gerakan akan lebih terjamin. Sebaliknya, apabila kader yang terlibat sangat sedikit, maka risiko melemahnya identitas dan arah perjuangan akan semakin besar.
Oleh karena itu, Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) menjadi modal utama kaderisasi. Anak-anak para aktivis dan pimpinan Muhammadiyah juga perlu mendapatkan perhatian khusus melalui berbagai program pembinaan, seperti Baitul Arqam, pengkaderan Ortom, dan berbagai kegiatan pembentukan karakter lainnya.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan kecintaan kepada Muhammadiyah sejak usia dini. Anak-anak harus mengenal Muhammadiyah bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai gerakan dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan amal saleh yang menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kita perlu meyakinkan generasi muda bahwa berkhidmat di Muhammadiyah adalah bagian dari ibadah dan jalan kebaikan. Ketika nilai-nilai ini tertanam kuat, mereka akan memiliki kebanggaan dan komitmen untuk terus melanjutkan perjuangan persyarikatan.
Karena itu, kaderisasi bukan sekadar program organisasi, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan Muhammadiyah. Dari kaderisasi yang kuat akan lahir pemimpin-pemimpin baru, pengelola amal usaha yang profesional, dan penggerak dakwah yang mampu membawa Muhammadiyah terus maju dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi umat.
Semua proses organisasi harus berjalan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi, namun semuanya harus diselesaikan melalui musyawarah dan tetap dalam koridor persyarikatan. Dengan demikian, Muhammadiyah akan tetap kokoh, berkembang, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Semoga semangat perjuangan para pendahulu dapat terus kita lanjutkan, sehingga Muhammadiyah semakin maju, semakin kuat kaderisasinya, dan semakin besar manfaatnya bagi umat, bangsa, dan negara.
Kontributor: Wahdan Arifudin
Editor: Arif Hartanto
![]()








