Sleman, Pdmsleman.Or.Id
Suasana hangat dan penuh semangat terlihat di Masjid Asy Syifa PKU Muhammadiyah Sleman pada Ahad (14/6/2026). Sejumlah penyandang tuna rungu yang tergabung dalam HIDIMU (Himpunan Difabel Muhammadiyah) Sleman mengikuti kegiatan perdana Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Inklusi yang digagas oleh Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Sleman.
Program ini menjadi salah satu langkah nyata Muhammadiyah dalam menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Ketua MPKS PDM Sleman, Drs. Wahyu Purhantoro, M.M., menegaskan bahwa pendidikan agama merupakan hak setiap orang tanpa terkecuali. Karena itu, akses terhadap pembelajaran Al-Qur’an harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Mendengar bukan hanya tentang suara. Mendengar adalah tentang memahami, memberi ruang, dan menerima setiap perbedaan dengan hati yang terbuka. Melalui TPQ Inklusi ini kami ingin menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman bagi saudara-saudara berkebutuhan khusus, termasuk teman-teman tuli,” ujar Wahyu.
Menurutnya, inklusi tidak berhenti pada penyediaan akses semata, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara agar setiap individu dapat berkembang sesuai potensinya.
“Setiap orang memiliki hak yang sama untuk belajar dan mengenal Al-Qur’an. Inklusi adalah tentang memberi kesempatan agar semua bisa tumbuh, berkembang, dan bersinar bersama,” katanya.
Kegiatan TPQ Inklusi mulai dilaksanakan pada Juni 2026 dan direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan pada pekan ketiga. Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Muhammadiyah dalam memperluas layanan sosial dan pendidikan yang menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses.
Pada pelaksanaan perdana, proses pembelajaran dipandu oleh dua pengajar, yakni Andi Naim, Amin Qomariyah dan Novita Nur Alifah. Dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta, kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat sambutan positif dari para peserta maupun keluarga yang mendampingi.
Wahyu menambahkan, MPKS PDM Sleman juga tengah menyiapkan pengembangan program serupa bagi penyandang tuna netra. Persiapan tersebut telah dilakukan dengan menyediakan Al-Qur’an Braille sebagai sarana belajar.
“Insya Allah ke depan kami juga akan membuka TPQ Inklusi untuk saudara-saudara tuna netra. Al-Qur’an Braille sudah kami siapkan. Saat ini kami sedang berupaya mencari instruktur yang memiliki kemampuan mengajar membaca Al-Qur’an Braille,” ungkapnya.
Ia berharap keberadaan TPQ Inklusi tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, pemberdayaan, dan penguatan kepercayaan diri bagi para penyandang disabilitas.
Program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Ketika kesempatan belajar dibuka seluas-luasnya, tidak ada lagi yang merasa tertinggal ataupun berjalan sendirian.
“Semoga melalui langkah kecil ini semakin banyak pihak yang tergerak untuk membangun lingkungan yang inklusif. Mari belajar mendengar dengan hati, sehingga semua dapat merasakan kebersamaan dan kebermanfaatan,” pungkas Wahyu.
Melalui TPQ Inklusi, Muhammadiyah Sleman menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan keadilan dan kesempatan bagi semua.
Rep Anna Yaskuri S.Pd MPKS PDM Sleman
Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()









