Mlati, Pdmsleman.Mu,Or.Id
Penguatan ideologi menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan gerakan dakwah Muhammadiyah. Pemahaman terhadap ideologi tidak cukup berhenti pada penguasaan konsep, tetapi harus diwujudkan melalui pemikiran yang berkembang dan praksis dakwah yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pokok pemikiran tersebut disampaikan Dr. Yayan Suryana, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam materi “Muhammadiyah: Ideologi, Gerakan Dakwah, dan Pemikiran” pada Pelatihan Mubaligh dan Penguatan Korp Mubaligh Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Mlati di SMP Muhammadiyah 2 Mlati, Sleman, Ahad (11/10/2026).
Kegiatan yang diikuti 102 peserta tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas mubaligh Muhammadiyah, khususnya dalam memahami landasan ideologis persyarikatan dan menerjemahkannya ke dalam kegiatan dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam paparannya, Yayan menjelaskan bahwa gerakan Muhammadiyah memiliki tiga ranah yang saling berkaitan, yakni ideologi, pemikiran, dan dakwah praksis.
Ideologi berfungsi sebagai arah gerakan yang bersifat normatif dan mengikat. Pemikiran berperan memperkaya serta menjelaskan ideologi sesuai perkembangan zaman, sedangkan dakwah praksis merupakan perwujudan konkret nilai-nilai tersebut melalui berbagai kegiatan dan amal usaha.
Ketiga ranah itu tidak dapat dipisahkan. Ideologi memberikan orientasi, pemikiran membantu memahami dan mengembangkan penerapannya, sementara dakwah praksis memastikan bahwa nilai-nilai Muhammadiyah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ideologi sebagai Fondasi Gerakan
Yayan menjelaskan, ideologi Muhammadiyah merupakan sistem pemikiran yang dirumuskan secara resmi dalam sejumlah dokumen persyarikatan. Di antaranya Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), serta Risalah Islam Berkemajuan.
Pemahaman terhadap dokumen-dokumen tersebut penting bagi setiap kader dan mubaligh agar memiliki landasan yang kuat dalam menjalankan aktivitas persyarikatan.
Materi tersebut juga mengingatkan kembali pesan HM. Djindar Tamimy tentang pentingnya pemahaman agama dan kehidupan berorganisasi dalam gerakan Muhammadiyah.
“Ber-Muhammadiyah itu, harus dimulai dari dan selanjutnya harus tetap bersandar kepada pengertian/faham dan keyakinan agama, dengan memahami sungguh-sungguh ajaran Agama Islam dengan tepat,” demikian pesan HM. Djindar Tamimy yang dikutip dalam materi presentasi.
Pesan tersebut menegaskan bahwa aktivitas Muhammadiyah harus berangkat dari pemahaman Islam yang benar. Pelaksanaan ajaran Islam, sebagaimana ditekankan dalam pesan tersebut, juga membutuhkan organisasi yang disertai kesungguhan berjuang melalui harta dan jiwa.
Dalam konteks penguatan korps mubaligh, pemahaman ideologi menjadi penting agar dakwah yang disampaikan tidak kehilangan orientasi dan tetap selaras dengan tujuan serta karakter gerakan Muhammadiyah.
Tauhid, Amar Makruf Nahi Mungkar, dan Tajdid
Materi Yayan juga menempatkan tiga prinsip sebagai landasan penting gerakan Muhammadiyah, yaitu tauhid, amar makruf nahi mungkar, dan tajdid.
Tauhid tidak hanya dimaknai sebagai penegasan keesaan Allah dan penolakan terhadap kemusyrikan, tetapi juga menjadi dasar moral, spiritual, dan sosial untuk membangun kebebasan, kesetaraan, serta kemajuan manusia.
Sementara itu, amar makruf nahi mungkar menjadi ruh dakwah Muhammadiyah. Dakwah tidak terbatas pada penyampaian ceramah atau pesan keagamaan secara lisan, melainkan juga diwujudkan melalui pemberdayaan masyarakat, pendidikan, pelayanan kesehatan, filantropi, dan perjuangan keadilan sosial.
Adapun tajdid menggabungkan pemurnian ajaran dengan dinamisasi atau pembaruan. Prinsip ini memungkinkan Muhammadiyah menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus mengembangkan pendekatan dan sistem sosial yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Ketiga prinsip tersebut memberikan landasan bagi mubaligh untuk memperluas pemahaman tentang dakwah. Keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan pengajian, tetapi juga dari kontribusinya dalam menjawab persoalan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Pemikiran yang Menggerakkan Amal Nyata
Lebih lanjut, materi tersebut menjelaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah sebagai gerakan sosial tidak dapat dilepaskan dari fondasi ideologi dan pemikirannya. Rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, panti asuhan, layanan kemanusiaan, LAZISMU, dan penanggulangan bencana merupakan contoh perwujudan Islam dalam tindakan nyata.
Selain ideologi resmi, Muhammadiyah juga memiliki tradisi pemikiran yang berkembang dari para tokoh, akademisi, pimpinan, majelis, hingga aktivis amal usaha. Pemikiran ini bersifat interpretatif, aplikatif, terbuka terhadap kritik, dan dapat berkembang mengikuti tantangan zaman.
Sejumlah tokoh yang dibahas dalam materi tersebut antara lain Kuntowijoyo melalui Ilmu Sosial Profetik, Muslim Abdurrahman melalui gagasan Islam Transformatif, M. Amin Abdullah melalui integrasi-interkoneksi ilmu, serta Ahmad Syafii Maarif melalui pemikiran Islam humanis dan kebangsaan.
Berbagai gagasan tersebut memperkaya gerakan Muhammadiyah, mulai dari penguatan ilmu pengetahuan, pemberdayaan kelompok yang lemah, keadilan sosial, hingga kontribusi Islam dalam kehidupan kebangsaan.
Bagi para mubaligh, pemahaman terhadap hubungan ideologi, pemikiran, dan dakwah praksis menjadi bekal untuk mengembangkan dakwah yang berlandaskan nilai-nilai Islam, terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, serta mampu menjawab persoalan umat.
Melalui pelatihan yang diikuti 102 peserta ini, penguatan ideologi diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi orientasi dalam menjalankan dakwah dan mengembangkan amal nyata. Dengan demikian, korps mubaligh Muhammadiyah dapat berperan lebih efektif dalam menghadirkan Islam yang mencerahkan dan berkemajuan di tengah masyarakat.
Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()







