Anak-anak yang lahir antara tahun 2010 – 2025 atau sering disebut sebagai generasi alpha diyakini akan menghadapi banyak tantangan, sekaligus kesempatan di masa depan.
Menurut Wahyu Purhantara, selaku Ketua MPKS PDM Sleman, mereka lahir langsung bisa menikmati teknologi dunia maya. Bagaimana tidak, ibunya sambil menyusui bayinya sambil menikmati tiktok, youtube, IG, medsos lainnya. Secara psikologis perilaku oknom ini telah menanamkan dunia gaget kepada putra putrinya. Maka, lanjut Wahyu Pur yang juga sebagai Ketua Forum Lembaga Kesejahteraan Anak (FLKSA) Kabupaten Sleman, perilaku yang demikian itu secara tidak langsung telah menanamkan nilai-nilai instant kepada generasinya. Sehingga ke depannya, di dalam pengasuhan dan pendidikan keluarga perlu dibekali muatan nilai-nilai keagaam dan ketimurandalam penggunaan gawai. Dan ini memerlukan keteladaan dari orang tua atau pengasuhnya, komitmen untuk menggunakan medsos secara cerdas, serta pentingnya komunikasi yang dialogis antara orang tua/ pengasuh dengan anak, dan lain-lain. Ini agar hak anak untuk tumbuhkembang tetap terpenuhi.
Paparan Wahyu Pur itu disampaikan pada acara Penguatan Kapasitas Kepengasuhan yang diadakan oleh PSAA Muhammadiyah Seyegan beberapa waktu yang lalu. Sebagai anak panti asuhan kadang rentan terhadap pengaruh negatif yang ada di dunia maya. Akibatnya, menurut pengurus Forum Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiah (FORPAMA) Prop. DIY, anak asuhsangat sensitif terkena kekerasan, baikverbal maupun non-verbal, seperti: perundungan, grooming, dll.
Sementara itu menurut Wuri Astuti, generasi alpha terlahir sudah menikmati kemajuan teknologi yang luar biasa, sehingga mental mereka sangat rapuh dan tidak mandiri. Mereka, menurut KetuaMajelis Kesejahteraan Sosial (MKS PWA DIY), memiliki kemampuan belajar yang progresif, disamping beberapa hal, seperti: a) Punya sumber informasi yang luas. Maka orang tua/ pengasuh panti perlu memberikan pendampingan supaya informasi yang didapat anak dapat sesuai kebutuhannya. b) Sulit mengikuti aturan. Menurut Wuri yang juga Wakil Ketua PDA Kota Yogyakarta, Generasi alpha tidak dapat dibatasi oleh aturan seperti generasi sebelumnya. Energi yang mereka miliki sulit ditahan karena dunia digital yang menghubungkan mereka dengan perspektif tak terbatas untuk membendung kebutuhan diri sendiri.
c) Interaksi melalui media social. Generasi alpha biasanya sudah akrab dengan sosialisasi melalui media sosial. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian, Beliau menekankan bahwa, supaya anak tidak kesulitan untuk sewaktu-waktu harus melakukan interaksi tatap muka. Namun secara kemasyarakatan, mereka cenderung kurang sosialisasi. Mereka terlalu asik dengan ponselnya masing-masing. Bahkan mereka cenderung abai. d) Sulit diprediksi dan individualistis. Anak dari generasi alpha cenderung terus berubah-ubah dan tak bisa diprediksi. Mereka juga cenderung lebih individualistis dan karenanya generasi alpha tidak termasuk dalam kategori orang yang dominan. Dan e) Cenderung terlalu santai. Mereka terlahir dalam kondisi segalanya sudah ada. Adanya Atificial Inteligent (AI) telah merubah segalanya. Anak-anak menyerahkan pekerjaan ilmiahnya kepada AI. Tren hidup saat ini menjadi kian populer di antara para generasi alpha. Yang mana, anak-anak ini hanya mengkhawatirkan hidup yang dijalani hari ini. Mereka juga cenderung tidak suka terlalu banyak berbagi.
Rep H. Wahyu Poerhantoro
![]()









