Pendampingan Guru SD Muhammadiyah 1 Ngaglik, Dr. Sutipyo Ajak Guru Menjadi Hebat dengan Mental yang Sehat

Facebook
Twitter
LinkedIn

Ngaglik, Pdmsleman.Or.Id

Upaya meningkatkan kualitas guru terus dilakukan di lingkungan sekolah Muhammadiyah. Salah satunya melalui kegiatan pendampingan guru yang digelar di SD Muhammadiyah 1 Ngaglik, Sleman, Rabu (4/3/2026). Dalam kegiatan tersebut, Dr. Sutipyo Ru’iya, S.Ag., M.Si., dari Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD) hadir untuk berbagi pemikiran dan pengalaman melalui materi berjudul “Menjadi Guru Hebat dan Bermental Sehat.”

Kegiatan ini diikuti para guru sebagai bagian dari penguatan kapasitas pendidik. Bukan hanya soal cara mengajar di kelas, tetapi juga bagaimana guru mampu menjaga kesehatan mental dan terus mengembangkan dirinya.

Dalam suasana yang santai namun tetap penuh makna, Dr. Sutipyo mengajak para guru melihat kembali makna menjadi seorang pendidik. Menurutnya, guru hebat tidak hanya dinilai dari kemampuan akademik atau metode mengajar yang canggih.

“Guru hebat itu biasanya dicintai murid-muridnya, karena membuat mereka merasa nyaman dan bahagia saat belajar. Ia juga dihormati karena ilmu dan akhlaknya, dan yang paling penting, dikenang sepanjang hidup karena pernah memberi pencerahan dalam hidup muridnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, seorang guru sejatinya meninggalkan jejak dalam kehidupan murid. Jejak itulah yang sering kali diingat hingga mereka dewasa.

Meski demikian, menjadi guru hebat tentu tidak selalu mudah. Dalam pemaparannya, Dr. Sutipyo juga mengajak peserta melihat berbagai tantangan yang sering dihadapi para guru.

Dari sisi pribadi, misalnya, masih ada tantangan seperti kurangnya komitmen jangka panjang, keterbatasan kompetensi, hingga kurang disiplin dalam mengembangkan diri. Belum lagi persoalan pola pikir yang kadang masih “fixed mindset” atau merasa sudah cukup dengan kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, kelelahan kerja atau burnout juga kerap dialami para pendidik.

Selain faktor pribadi, ada pula tantangan dari lingkungan keluarga. Tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga yang tinggi, hingga persoalan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga sering kali memengaruhi kondisi guru.

Di tingkat yang lebih luas, masyarakat juga memberikan tantangan tersendiri. Beban administrasi yang cukup berat, keterbatasan fasilitas pendidikan, hingga kurangnya penghargaan terhadap profesi guru sering kali menjadi kenyataan yang harus dihadapi.

Karena itu, menurut Dr. Sutipyo, hal pertama yang perlu dimiliki seorang guru adalah kesadaran diri atau self consciousness. Guru perlu memahami siapa dirinya, apa perannya, dan bagaimana tanggung jawab yang diemban sebagai pendidik.

“Kadang musuh terbesar kita justru diri kita sendiri. Maka penting bagi guru untuk terus belajar, bersyukur, dan meningkatkan kapasitas dirinya,” ungkapnya.

Selain kesadaran diri, pengembangan diri juga menjadi hal yang tidak kalah penting. Ia mengajak para guru untuk memegang empat prinsip utama dalam proses berkembang, yaitu komitmen, kompeten, konsisten, dan konsekuen.

Dengan terus bertumbuh, guru tidak hanya memperbaiki kualitas dirinya, tetapi juga memberi dampak positif bagi sekolah dan lingkungan sekitarnya.

Di akhir pemaparannya, Dr. Sutipyo menekankan pentingnya kontribusi nyata dari seorang guru. Guru diharapkan mampu memaksimalkan potensi diri, bekerja sama dalam tim, berpikir logis namun tetap penuh empati, serta memberikan kontribusi terbaik bagi lembaga pendidikan tempatnya mengabdi.

Ia kemudian menutup materinya dengan sebuah perumpamaan sederhana. Menurutnya, dalam kehidupan seorang guru, ilmu pengetahuan ibarat setir yang mengarahkan perjalanan. Rasa syukur menjadi gas yang mendorong langkah ke depan, sementara kesabaran berfungsi seperti rem yang menjaga agar tetap terkendali.

Melalui kegiatan pendampingan ini, para guru diharapkan semakin termotivasi untuk terus berkembang, menjaga kesehatan mental, dan menjalankan profesinya dengan penuh dedikasi dalam mendidik generasi masa depan.

Rep editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Leave a Replay