Bedah Buku “Ekologi Berkemajuan” Dorong Kesadaran Lingkungan Berbasis Nilai Islam

Facebook
Twitter
LinkedIn

Yogyakarta. pdmsleman.Or.Id

Majelis Lingkungan Hidup dan Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY menggelar Diskusi dan Bedah Buku Ekologi Berkemajuan: Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Muhammadiyah di Ruang Audio Visual Museum Muhammadiyah Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

MPI PDM Sleman dalam kesempatan kali ini hadir sebagai peserta bedah buku yang dihadiri oleh Arief Hartanto ketua dan Wahdan Arifudin Sekretaris bersama puluhan undangan dari Majelis Lingkungan Hidup, Majelis Pustaka dan Informasi se DIY beserta akademisi dan penggiat lingkungan dan literasi.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY, Afan Kurniawan, S.T., M.T dalam sambutannya menegaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini menuntut perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pencemaran lingkungan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya berbagai bencana ekologis menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam perlu dibangun kembali secara lebih bertanggung jawab.

“Buku ini mengajak kita memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari nilai-nilai keislaman. Manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan alam sebagai amanah Allah SWT,” ujarnya.

Afan menjelaskan bahwa konsep Ekologi Berkemajuan sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan manusia, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Ia berharap buku tersebut mampu menjadi sumber inspirasi sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun gerakan lingkungan yang berbasis ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kepedulian sosial.

Sementara itu, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY, Dr. Sapardiyono, S.Hut., M.H., mengungkapkan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini merupakan persoalan global yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Ia menyoroti tingginya angka bencana yang terjadi di Indonesia sebagai dampak dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

“Pada tahun 2024 terjadi 3.472 bencana di Indonesia, dan sekitar 70 persen di antaranya berupa banjir serta cuaca ekstrem. Ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipandang sebagai persoalan alam semata, tetapi juga akibat perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan,” katanya.

Menurut Sapardiyono, Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan, literasi, dan gerakan kolektif warga persyarikatan. “Muhammadiyah perlu menggerakkan, mendidik, dan meliterasi warganya agar pelestarian lingkungan menjadi nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Apresiasi terhadap terbitnya buku tersebut juga disampaikan Wali Kota DR. dr Hasto Wardoyo Yogyakarta melalui sambutan tertulis yang dibacakan dalam acara. Pemerintah Kota Yogyakarta menilai buku Ekologi Berkemajuan sebagai literatur yang komprehensif dalam membahas berbagai persoalan lingkungan dari beragam perspektif.

“Buku ini tidak hanya membahas aspek lingkungan hidup, tetapi juga kaitannya dengan kesehatan manusia. Lingkungan yang buruk dapat memicu berbagai penyakit, baik menular maupun tidak menular, termasuk persoalan kesehatan mental yang saat ini semakin meningkat,” demikian isi sambutan tersebut.

Dalam sesi diskusi yang dipandu Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini adalah Ahmad Ahid Mudayana, S.K.M., M.P.H. dengan bahasan oleh Prof. Warijan, S.S., M.A.,dari UAD  menyoroti pentingnya membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan dan sastra. Ia mendorong agar literasi lingkungan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah maupun perguruan tinggi, serta diperkuat melalui berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan generasi muda.

Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Prof. Dr. phil. Ridho Al Hamdi, menilai keunggulan buku ini terletak pada keberagaman perspektif para penulis yang berasal dari berbagai disiplin ilmu.

“Persoalan ekologi bukanlah domain satu bidang tertentu. Semua disiplin ilmu memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun kesadaran dan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan,” ujarnya

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya perhatian terhadap persoalan ekologis yang dihadapi Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti krisis air bersih di Gunungkidul, persoalan sampah, alih fungsi lahan pertanian, hingga ancaman bencana yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi.

Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa kesadaran ekologis harus menjadi gerakan bersama. Pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila manusia mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan upaya pelestarian lingkungan demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.

Rep Arief H & Wahdan Arifudin

Loading

Leave a Replay