Hari Pertama Sekolah, TK ABA Semesta Kenalkan Lingkungan Belajar yang Ramah Anak

Facebook
Twitter
LinkedIn


TK ABA Semesta resmi memulai kegiatan belajar mengajar melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Senin (13/7) Mejing Kidul, Ambarketawang, Gamping, Sleman . Hari pertama sekolah diawali dengan perkenalan guru, doa bersama, serta pengenalan lingkungan sekolah yang diikuti dengan antusias oleh para peserta didik.

Kepala TK ABA Semesta, Shofia Amalia, menjelaskan bahwa proses pembelajaran di sekolah dirancang dengan pendekatan yang menyenangkan sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini.

“Kami mengajarkan nilai-nilai Islam melalui pendekatan bermain. Namun, pada hari pertama ini fokus kami masih pada pengenalan lingkungan sekolah. Proses pembelajaran akan dilakukan secara bertahap,” ujarnya.

Menurut Shofia, fase MPLS menjadi momentum penting untuk membangun rasa aman dan nyaman bagi anak-anak sebelum memasuki proses belajar yang lebih intensif.
“Kami ingin anak-anak terlebih dahulu merasa nyaman dengan lingkungan sekolah. Ketika mereka sudah merasa aman, proses pembelajaran akan berlangsung lebih kondusif,” katanya.
Ia menjelaskan, kurikulum TK ABA Semesta disusun untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak secara menyeluruh. Berbagai aktivitas belajar telah dipetakan dalam sejumlah pos pembelajaran sehingga setiap pekan peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang beragam.

“Kami telah memetakan berbagai kegiatan pembelajaran, mulai dari practical life, project-based learning, hingga berbagai aktivitas lainnya yang mendukung perkembangan anak secara optimal,” ungkapnya.
Shofia juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya bergantung pada sekolah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif orang tua dalam proses pembelajaran.
Karena itu, TK ABA Semesta menghadirkan program Ayah Bercerita sebagai salah satu bentuk penguatan kolaborasi antara keluarga dan sekolah.
“Salah satu program unggulan kami adalah Ayah Bercerita. Program seperti ini masih belum banyak diterapkan di taman kanak-kanak, padahal keterlibatan ayah memiliki peran penting dalam tumbuh kembang anak,” jelasnya.

Sebagai bagian dari orientasi menuju sekolah berstandar internasional, para guru juga mulai mengenalkan penggunaan bahasa Inggris sejak hari pertama pembelajaran. Setiap hari Rabu, bahasa Inggris akan digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan belajar.
“Target kami bukan agar anak-anak langsung fasih berbahasa Inggris, tetapi membiasakan mereka berkomunikasi secara bilingual sejak usia dini,” ujarnya.

Mengusung tagline “Play, Pray, Lead the Future”, Shofia berharap terbangun kolaborasi yang erat antara sekolah dan orang tua. Sinergi tersebut diharapkan mampu menghadirkan lingkungan belajar yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sehingga mereka memiliki bekal untuk menjadi generasi dan pemimpin masa depan yang berkarakter, berakhlak, serta berkemajuan.

Loading

Leave a Replay