Seorang Pejuang Persyarikatan yang Telah Menunaikan Amanah
Hari ini Selasa 22 September 2026 kita kehilangan seorang pejuang Persyarikatan Muhammadiyah.
Seorang yang memilih jalan dakwah melalui Persyarikatan, bukan sekadar sebagai aktivitas organisasi, tetapi sebagai bagian dari pengabdian hidupnya kepada Allah dan umat.
Pak H. Ichsan—begitu kami biasa menyapanya—telah berpulang menghadap Allah SWT. Begitu cepat Allah memanggilnya. Rasanya baru kemarin kita masih berbincang, berdiskusi, dan menyaksikan semangat beliau dalam menggerakkan dakwah Muhammadiyah.
Saya mengenal beliau, baik ketika beliau berada di level PDM sebagai ketua majelis, maupun ketika mengemban amanah sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Depok. Di mana pun berada, ada satu hal yang terasa kuat dari diri beliau: komitmen untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai jalan pengabdian dan dakwah.
Saya juga teringat perjalanan beliau ketika menunaikan ibadah haji pada tahun 2023.
Saya pernah mendengar tekad beliau: ingin memperoleh haji yang mabrur.
Haji bagi beliau tampaknya tidak berhenti pada selesainya rangkaian manasik dan kepulangan ke tanah air. Kemabruran haji justru harus dibuktikan dalam kehidupan setelah haji: semakin dekat kepada Allah, semakin bermanfaat bagi sesama, dan semakin sungguh-sungguh dalam mengabdikan diri di jalan dakwah.
Dan salah satu jalan yang beliau pilih adalah Persyarikatan Muhammadiyah.
Beliau seakan memahami bahwa dakwah melalui Persyarikatan memungkinkan pengabdian menjadi lebih terorganisasi, lebih terukur, dan memiliki dampak yang lebih luas. Bukan hanya berbuat baik untuk dirinya sendiri, tetapi membangun kebaikan yang dapat dirasakan oleh banyak orang.
Inilah yang membuat kepergian beliau terasa begitu berarti.
Sebab yang pergi bukan sekadar seorang individu.
Yang pergi adalah seorang pejuang, seorang yang telah menanam benih-benih kebaikan melalui Muhammadiyah.
Kita memang tidak pernah tahu kapan Allah akan memanggil kita.
Tetapi kehidupan Pak H. Ichsan memberikan pelajaran bahwa yang paling penting bukanlah berapa lama kita diberi kesempatan hidup, melainkan apa yang kita lakukan dengan kesempatan hidup tersebut.
Beliau telah memilih untuk mengabdikan sebagian hidupnya dalam perjuangan Persyarikatan.
Kini amanah itu berpindah kepada kita yang masih diberi kesempatan untuk hidup.
Maka kepergian beliau seharusnya tidak hanya membuat kita bersedih, tetapi juga mengingatkan kita untuk melanjutkan kebaikan yang telah beliau mulai.
Selamat jalan, Pak H. Ichsan.
Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, persahabatan, dan perjuangan yang telah diberikan untuk Persyarikatan dan umat.
Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT, segala kekhilafannya diampuni, dan segala kebaikannya dilipatgandakan pahalanya.
Semoga Allah menempatkan beliau di alam barzakh pada tempat yang menggembirakan, dilapangkan kuburnya, diberikan cahaya dan ketenteraman, serta dipertemukan dengan orang-orang saleh.
Dan kelak, semoga Allah membangkitkan beliau bersama rombongan ahli surga, sebagaimana doa dan harapan kita semua.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, sejahterakanlah beliau, dan maafkanlah segala kesalahannya.
Selamat jalan, Pak H. Ichsan.
Perjuangan boleh berganti generasi,
tetapi jejak kebaikan tidak akan pernah sia-sia.
Semoga Allah menerima pengabdianmu sebagai amal jariyah dan menjadikan perjuanganmu di Persyarikatan sebagai bagian dari bekal menuju kehidupan yang abadi. Salam
Yayan Suryana Wakil Ketua PWM DIY
![]()








