Mengapa Rokok Haram menurut Muhammadiyah: Telaah Medis dan Syariat

Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt Keputusan Majelis Tarjih dan Tajdid Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah pada tahun 2010 sempat mengejutkan banyak pihak.Melalui Fatwa Nomor 6/SM/MTT/III/2010, Muhammadiyah secara resmi mengubah pandangan hukum rokok yang sebelumnya berkategori makruh (sebaiknya dihindari) menjadi HARAM (mutlak dilarang).Langkah berani ini tidak diambil secara tergesa-gesa, melainkan melalui kajian mendalam yang mengintegrasikan realitas medis modern dengan prinsip-prinsip hukum Islam (maqasid asy-syariah).Berikut adalah narasi detail mengenai alasan kuat di balik fatwa haram tersebut: Secara medis, sebatang rokok adalah “bom waktu” bagi tubuh.Rokok mengandung ribuan zat kimia beracun, termasuk tar, nikotin, karbon monoksida, hingga arsenik yang memicu berbagai penyakit mematikan seperti kanker, jantung, dan stroke.Dalam perspektif Islam, tubuh adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga kesehatannya. Menghisap rokok secara sengaja dinilai sama saja dengan menimbun racun yang merusak organ tubuh secara perlahan. Tindakan ini secara tegas dilarang dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195). Islam membagi segala sesuatu di dunia ini menjadi dua kategori besar:Thayyibat (yang baik, suci, dan bermanfaat) danKhabaits (yang buruk, kotor, dan menjijikkan).Muhammadiyah menilai rokok tidak memiliki unsur kebaikan (thayyib) sedikit pun bagi tubuh. Dari segi bau yang mengganggu, asap yang mengotori udara, hingga dampak buruk zat adiktif di dalamnya, rokok diposisikan berada dalam rumpun yang sama dengan narkoba.Berdasarkan kaidah fikih, segala sesuatu yang masuk dalam kategori khabaits hukum asalnya adalah dilarang, sesuai firman Allah: “..dan yang menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” (QS. Al-A’raf: 157). Salah satu poin krusial dalam fatwa Muhammadiyah adalah perhatian terhadap aspek sosial. Perokok tidak hanya merusak dirinya sendiri, tetapi juga merenggut hak sehat orang-orang di sekitarnya. Asap rokok yang dihirup oleh anak-anak, istri, atau rekan kerja (perokok pasif) justru menyimpan bahaya medis yang tidak kalah mengerikan.Islam sangat melarang tindakan yang merugikan orang lain. Muhammadiyah menyandarkan argumen ini pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menjadi kaidah hukum Islam fundamental: “Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (dharar) dan tidak boleh membalas dampak buruk (dhirar).” (HR. Ibn Majah). Dari sisi ekonomi, rokok dinilai sebagai bentuk pembakaran harta demi sesuatu yang tidak membawa manfaat, baik untuk kebutuhan pokok keluarga (pangan, pendidikan, kesehatan) maupun untuk urusan akhirat.Ketika seseorang memprioritaskan membeli rokok di atas kebutuhan gizi keluarganya, ia telah terjebak dalam perilaku tabzir (hambur-hambur harta).Dalam Al-Qur’an, orang-orang yang melakukan pemborosan secara sengaja disebut sebagai “saudara-saudara setan” (QS. Al-Isra: 27). Nikotin di dalam rokok menciptakan efek kecanduan yang sangat kuat. Ketergantungan ini tidak hanya merusak fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi mental dan psikis perokok. Ketika tidak merokok, seseorang bisa menjadi gelisah, mudah marah, dan kehilangan fokus. Belenggu adiksi ini dinilai merenggut kemerdekaan diri seorang muslim untuk hidup sehat dan prima, serta berpotensi merusak kontrol diri yang seharusnya dijaga dalam Islam. Melalui fatwa ini, Muhammadiyah ingin menegaskan bahwa hukum Islam bersifat adaptif dan responsif terhadap kemaslahatan manusia.Ketika sains dan kedokteran modern telah sepakat bahwa rokok adalah sumber penyakit dan kematian, maka syariat Islam hadir untuk melindungi jiwa (hifz an-nafs) dan harta (hifz al-mal) umat manusia dengan menyatakan rokok sebagai hal yang diharamkan.

Loading

Urip Kuwi Urup: Lentera Muhammadiyah, Menerangi Semesta

Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt Di tanah Jawa yang sarat akan makna dan kebijaksanaan, sebait falsafah kuno berbunyi begitu magis: urip kuwi urup. Sebuah untaian kata sederhana namun sarat kedalaman, yang menegaskan bahwa hidup sejatinya adalah sebuah nyala. Hidup bukanlah seonggok napas yang egois, melainkan sepotong lilin yang merelakan dirinya terbakar demi mengusir pekatnya kegelapan di sekelilingnya. Ketika api kebijaksanaan lokal ini bertemu dengan ruh pergerakan Muhammadiyah yang lahir di jantung Yogyakarta, terciptalah sebuah simfoni spiritual yang agung. Asimilasi antara kosmologi Jawa dan nilai filantropi Islam ini melahirkan sebuah gerakan dakwah yang tidak hanya sibuk menatap langit, tetapi membumi dengan jemari yang kokoh merengkuh kemanusiaan melalui laku nyata amal ma’ruf nahi munkar. Muhammadiyah menerjemahkan esensi nyala api tersebut bukan sebagai wacana teologis yang sunyi di menara gading, melainkan sebagai sebuah manifestasi konkret yang benderang. Bagai lentera yang menolak memprivatisasi cahayanya, organisasi yang diinisiasi oleh K.H. Ahmad Dahlan ini menjelmakan diri ke dalam ribuan ruang kelas tempat anak-anak bangsa menjemput mimpi, bangsal-bangsal rumah sakit tempat harapan akan kesembuhan dirawat, serta panti-panti asuhan yang menjadi pelukan hangat bagi mereka yang terpinggirkan. Melalui amal usaha yang tersebar di pelosok negeri, gerakan ini membuktikan bahwa hidup yang menyala adalah hidup yang menolak membiarkan sesamanya tersesat dalam gulita kebodohan, penyakit, dan kemiskinan, tanpa pernah memandang sekat suku, ras, maupun golongan. Di dalam riak gerakannnya, mengalir pula spirit beramal tanpa pamrih yang menjadi DNA para kadernya. Seperti api sejati yang tak pernah menagih imbalan pada malam atas cahaya yang diberikannya, para penggerak Muhammadiyah diajarkan untuk selesai dengan ego diri sendiri sebelum mereka turun tangan menyalakan lentera bagi orang lain. Nilai kemandirian dan kerelaan berkorban yang diletakkan oleh pendirinya menjadi tameng agar nyala dakwah ini tidak mudah padam ditiup angin pragmatisme zaman. Menghidup-hidupi organisasi, dan bukan mencari hidup di dalamnya, adalah bentuk kesetiaan tertinggi dari sepotong kayu bakar yang rela hangus demi melahirkan kehangatan dan kedamaian bagi semesta. Dakwah yang diusung pun bergerak secara solutif dan berkemajuan melalui jalan tajdid atau pembaruan. Muhammadiyah hadir membawa obor pencerahan untuk membebaskan kaum mustadh’afin—mereka yang lemah dan dilemahkan oleh keadaan. Islam tidak lagi sekadar diajarkan sebagai deretan teks yang kaku, melainkan sebagai agama pembebas yang responsif terhadap tantangan zaman, meruntuhkan belenggu keterbelakangan, dan menegakkan martabat kemanusiaan. Pada akhirnya, menautkan filosofi urip kuwi urup dengan Muhammadiyah adalah sebuah refleksi tentang bagaimana sebuah nilai lokal mampu menjiwai gerakan sosial keagamaan yang universal. Ia menjadi penanda bahwa setiap insan dan amal usaha di dalamnya adalah pemantik cahaya yang diutus untuk membumikan mandat suci langit, yakni menjadi rahmatan lil ‘alamin—sebuah kebaikan yang tulus, meluas, dan abadi menerangi semesta.

Loading

Di Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi

Di Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi — Arif Jamali Muis —- Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika perhatian anak muda mudah berpindah dan kepercayaan terhadap institusi semakin menipis, Muhammadiyah justru masih berdiri dengan daya tarik yang tidak kecil. Ini bukan sesuatu yang biasa. Banyak organisasi besar kehilangan relevansinya di mata generasi baru. Tetapi Muhammadiyah tampaknya tetap punya daya pikat. Laporan survei yang diterbitkan Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahamd Dahlan (UAD) berjudul Muhammadiyah di Mata Anak Muda memberi gambaran yang menarik sekaligus menggugah. Sebanyak 91 persen responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari itu, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya untuDi Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi: Antara Kepercayaan, Kinerja, dan Harapan Baru Liputan Khusus Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, tidak banyak organisasi yang mampu tetap relevan. Banyak yang perlahan ditinggalkan, dianggap usang, atau sekadar simbol masa lalu. Namun, di antara dinamika itu, Muhammadiyah justru menunjukkan fenomena berbeda—ia tetap hidup, bahkan dipercaya. Sebuah laporan survei dari Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan menghadirkan potret yang tak hanya menarik, tetapi juga menggugah cara pandang. Dalam laporan bertajuk “Muhammadiyah di Mata Anak Muda”, mayoritas responden menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap Muhammadiyah. Sebanyak 91 persen responden mengaku bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari sekadar kebanggaan, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya dalam isu-isu terkini. Angka lainnya tak kalah mencolok: 89,3 persen melihat Muhammadiyah sebagai pemersatu bangsa, 87,3 persen menilai sebagai panutan dalam politik nasional, dan 82,6 persen percaya pada kinerja pejabat publik yang berasal dari organisasi ini. Namun, di balik angka-angka impresif tersebut, tersimpan cerita yang lebih dalam: tentang bagaimana anak muda hari ini membaca Muhammadiyah—bukan dari simbol, tetapi dari dampak nyata. Dari Simbol ke Manfaat Nyata Menariknya, generasi muda tidak lagi menempatkan Muhammadiyah dalam bingkai perdebatan identitas keagamaan. Hal-hal yang dulu sering menjadi sorotan publik, seperti perbedaan penentuan awal puasa atau jumlah rakaat tarawih, justru tidak lagi dominan dalam ingatan mereka. Sebaliknya, yang paling diingat adalah kontribusi konkret. Sebanyak 44,1 persen responden mengasosiasikan Muhammadiyah dengan sekolah dan kampus berkualitas. Sementara 42,3 persen melihatnya sebagai organisasi Islam yang modern dan rasional. Ini menjadi penanda penting: telah terjadi pergeseran cara pandang. Muhammadiyah tidak lagi sekadar dikenal, tetapi dirasakan. Ia hadir dalam ruang-ruang kehidupan sehari-hari—di bangku sekolah, di layanan kesehatan, hingga dalam aktivitas sosial masyarakat. Amal Usaha yang Menjadi Wajah Nyata Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Amal usaha Muhammadiyah menjadi wajah yang paling nyata dari nilai-nilai yang selama ini diusung. Sebanyak 88,1 persen responden menilai sekolah dan kampus Muhammadiyah worth it. Di sektor kesehatan, 86,1 persen menilai layanannya sangat baik, dan 80,5 persen menyebutnya terjangkau. Di sinilah kekuatan utama Muhammadiyah terlihat: ia tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. Tidak hanya menyuarakan nilai, tetapi menghadirkannya dalam bentuk layanan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketika Kepercayaan Bertemu Sikap Kritis Meski demikian, generasi muda tidak serta-merta memberikan kepercayaan tanpa batas. Survei yang sama juga mencatat adanya respons kritis, terutama ketika Muhammadiyah bersentuhan dengan isu konsesi tambang. Tingkat penolakan mencapai 46 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal. Anak muda tetap mendukung Muhammadiyah, tetapi mereka juga mulai lebih peka terhadap isu lingkungan dan potensi konflik kepentingan. Di titik ini, terlihat jelas bahwa relasi antara Muhammadiyah dan generasi muda bukan hubungan pasif. Ia adalah hubungan yang hidup—dipenuhi apresiasi, tetapi juga diwarnai ekspektasi. Antara Kualitas dan Akses Catatan lain muncul di sektor pendidikan. Meski dinilai berkualitas, sekitar 31 persen responden di wilayah perkotaan merasa biaya pendidikan Muhammadiyah belum sepenuhnya terjangkau. Hal ini menjadi pengingat bahwa identitas Muhammadiyah sejak awal tidak hanya dibangun dari kualitas, tetapi juga dari keberpihakan. Ia tumbuh sebagai gerakan yang menghadirkan layanan modern tanpa meninggalkan akses bagi masyarakat luas. Jika kualitas terus meningkat namun akses semakin terbatas, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar citra, melainkan jati diri. Harapan yang Tidak Berlebihan Di balik semua penilaian itu, tersimpan satu benang merah: harapan. Sebanyak 89,4 persen responden menilai Muhammadiyah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Bahkan 87,8 persen melihat organisasi ini ramah terhadap seni, musik, dan media populer—ruang-ruang yang selama ini menjadi dunia anak muda. Namun harapan itu sederhana: Muhammadiyah diminta tetap menjadi dirinya sendiri. Tetap rasional, membumi, tidak kaku, dan terus menghadirkan manfaat. Bagi generasi muda, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan. Ia adalah representasi bagaimana agama seharusnya hadir di ruang publik—tidak hanya sebagai wacana, tetapi sebagai solusi. Cermin yang Perlu Dijaga Laporan ini pada akhirnya bukan hanya tentang pujian. Ia adalah cermin—yang memantulkan bahwa Muhammadiyah masih dicintai, tetapi juga sedang diawasi. Masih dipercaya, tetapi sekaligus diuji. Dalam dunia yang terus berubah, sejarah memang bisa membuat sebuah organisasi bertahan. Namun hanya relevansi dan konsistensi yang mampu membuatnya tetap dicintai lintas generasi. Dan di mata anak muda hari ini, pesan itu terdengar jelas:Muhammadiyah tidak perlu menjadi sempurna.Ia hanya perlu tetap menjadi Muhammadiyah yang mereka percaya.

Loading

Refeksi Pendidikan Muhammadiyah Masa Depan : Tantangan Pendidikan Muhammadiyah Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Pamuji Sri Subekti, S.Si. Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan I Refleksi terhadap masa depan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang dan kontribusi nyatanya di masa lalu dan masa kini. Muhammadiyah memiliki peran besar dalam setiap dinamika kehidupan bangsa Indonesia bahkan dunia. Dengan berpegang teguh pada aqidah yang kuat dan berprinsip pada Islam Berkemajuan, wasathiyah, dan tajdid, Muhammadiyah menorehkan catatan sejarah sebagai sebuah gerakan Islam moderat yang memberi sumbangsih besar dalam perkembangan kemajuan bidang pendidikan. Dilihat dari kiprahnya sepanjang 113 tahun ini, Muhammadiyah dapat dipredeksi memiliki masa depan cerah sebagai gerakan yang kiprah di bidang pendidikan semakin mendunia. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi rujukan organisasi-organisasi lain di dunia dalam pengelolaan pendidikan bahkan juga bidang-bidang lain, seperti ekonomi, kesehatan, sosial dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pendidikan Muhammadiyah pada Masa Awal Berdiri Ketika kita menoleh ke masa lalu, Muhammadiyah lahir dari keresahan dalam aspek pendidikan. Tahun 1912, ketika Indonesia masih dikuasai oleh kolonialisme, kemiskinan dan kebodohan menjadi pemandangan yang biasa, hanya orang dari kalangan tertentu yang bisa mengenyam pendidikan. K.H. Ahmad Dahlan yang memandang santri-santrinya dan masyarakat di sekelilingnya miskin akan ilmu pengetahuan, merasa perlu melakukan langkah konkrit dalam menyelamatkan warga dari kebodohan. Pemahaman bahwa Islam harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, mendorong perlunya penguasaan yang seimbang pula antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka didasari semangat itulah K.H. Ahmad Dahlan mendirikan madrasah yang tidak hanya mengajar ilmu agama namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. K.H. Ahmad Dahlan mengubah ruang tamu menjadi ruang kelas. Pendidikan dengan metode baru yang berbeda dengan pondok-pondok pesantren yang ada pada saat itu menjadi tantangan tersendiri. Kelas dengan menggunakan meja kursi, beberapa pelajaran tentang ilmu pengetahuan termasuk seni diklaim sebagai ajaran kafir karena dianggap meniru budaya barat. Tantangan ini beliau hadapi dengan langkah bijak, dengan terus menerus memberi pengajaran yang benar tentang Islam kepada santri dan masyarakat. Tidak dengan kekerasan ataupun dengan memaksakan kehendak. Dan dapat kita lihat saat ini, sistem kelas yang beliau terapkan menjadi rujukan hampir semua sekolah dan madrasah di negeri ini. Kemudian yang tidak kalah penting untuk dijadikan catatan sejarah bahwa pendidikan menjadi salah satu pilar berdirinya organisasi Muhammadiyah. Salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan menyampaikan keresahannya tentang keberlangsungan madrasah, keberlangsungan ajaran-ajaran beliau, sepeninggal beliau nanti. Dari situlah awal muncul keinginan mendirikan organisasi. Hingga kemudian berdirilah Organisasi Muhammadiyah. Dunia Pendidikan Muhammadiyah Masa Kini Saat ini terdapat puluhan ribu sekolah dan madrasah Muhammadiyah, ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri tepatnya di Australia terdapat Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Sekolah, madrasah maupun Perguruan Tinggi dengan kategori Unggul juga tersebar di mana-mana. Kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga Pendidikan Muhammadiyah sudah tidak perlu diragukan lagi. Semangat tajdid (pembaruan) dan prinsip Islam berkemajuan mendorong Muhammadiyah terus berkomitmen memperbaiki sistem pendidikannya agar tetap relevan dan kompetitif di era global namun tetap berpegang teguh pada dasar tauhid yang benar. Pendidikan Muhammadiyah masa kini telah menunjukkan peran besar dalam membentuk generasi cerdas dan berkarakter, sekaligus menjadi model pendidikan Islam modern di Indonesia. Amal Usaha Bidang Pendidikan tidak hanya sebatas tempat mendapat ilmu, namun amal usaha ini didirikan dalam rangka perluasan dakwah Muhammadiyah. Harapannya, dari AUM pendidikan, Muhammadiyah dapat melahirkan generasi unggul yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia sesuai cita-cita K.H. Ahmad Dahlan. Generasi yang akan menjadi kader-kader Muhammadiyah dan kader bangsa. Tantangan Masa Depan Pendidikan Muhammadiyah “Dadio Islam sik kemajuan, lan ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah”, pesan K.H. Ahmad Dahlan. Sebuah pesan yang memiliki makna besar untuk menggerakkan warga Muhammadiyah untuk memiliki cara pandang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, yang untuk mewujudkannya harus dengan iman, ilmu dan amal. Sebuah visi yang memandang bahwa Muhammadiyah di masa depan harus maju, mendunia dan menjadi rujukan dunia dalam mewujudkan masyarakat baldatun thoyyibatun warobbun ghofur sebagai manifestasi dari rahmatan lil ‘alamin. Tentu saja banyak tantangan besar yang harus dihadapi oleh Muhammadiyah, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Beberapa tantangan dunia pendidikan di masa depan diantaranya adalah tantangan kemajuan teknologi dan diigitalisasi, degradasi moral, kader-kader penerus gerakan Muhammadiyah, keselarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia. Kemajuan teknologi dan digital, menjadi tantangan bagi Muhammadiyah agar terus berinovasi dalm memanfaatkan teknologi dan digital untuk pembelajaran dengan meminimalisir dampak negatif dari teknologi dan digital itu sendiri. Disisi lain pendidikan Muhammadiyah harus memberi benteng aqidah dan akhlak yang kuat ditengah kondisi masyarakat yang mengalami degradasi moral. Sehingga generasi yang dilahirkan dari pendidikan di Muhammadiyah haruslah generasi emas yang memiliki iman yang kuat dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. AUM di bidang pendidikan dapat berperan mencetak kader-kader militan untuk meneruskan perjuangan gerakan Muhammadiyah. Untuk itu kurikulum di sekolah-sekolah Muhammadiyah harus disusun dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang berkemajuan, yang beramar ma’ruf nahi munkar dan menjadi rahmmat bagi seluruh alam. Dan untuk melaksanakan itu semua perlu kerja keras, tidak merasa lelah sebagaimana dipesankan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Loading

Mengenal Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM)

Sleman, pdmsleman.Or.Id Review Mata Kuliah Landasan Ideologi Muhammadiyah Dosen  Ustadz Andy Putra Wijaya, M.S.I. Oleh : Pamuji Sri Subekti,  Mahasiswa SIM Angkatan 1 Muhammadiyah kini berusia 112 tahun (per November 2024). Sebagai sebuah gerakan, Muhammadiyah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi besar di dunia. Muhammadiyah menjadi organisasi terbersar ke-4 di dunia dan menjadi organisasi terkaya di dunia. Perkembangan ini tentu tidak lepas dari kuatnya dasar ideologi Muhammadiyah yang ditanamkan pada kader-kadernya. Sehingga kader Muhammadiyah memiliki pedoman sebagai petunjuk arah gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan cita-citanya. Salah satu dasar ideologi Muhammadiyah termaktup dalam dokumen Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM). Pada awal pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1966-1968, terjadi perubahan keadaan social, politik, dan keagamaan di Indonesia. Situasi ini menuntun para pemimpin Muhammadiyah mengambil langkah solutif. Muhammadiyah memandang perlu mengambil langkah untuk penyelamatan pergerakan agar Muhammadiyah tidak dibubarkan dan perjuangannya terhenti. Maka pada tahun 1968 dibuatlah rumusan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (KCHM). Kemudian pada saat Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo, dokumen tersebut disahkan. Dalam perjalanannya KCHM ini dibagian depan ditambah kata Matan, sehingga menjadi MKCHM. MKCHM memiliki peran penting dalam membimbing Muhammadiyah untuk tetap relevan terhadap perkembangan kehidupan dan memberikan arah bagi umat Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dokumen MKCHM berisi lima point pokok yang dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok. Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Penjelasan diatas adalah penjelasan singkat dari pokok-pokok isi MKCHM. Untuk isi lengkap dokumen MKHCM bisa didapatkan dari berbagai sumber, diantaranya pada link https://muhammadiyah.or.id/matan-keyakinan-dan-cita-cita-hidup-muhammadiyah/  .

Loading

“Shalat sebagai Madrasah kehidupan

Pdmsleman.Or,Id Shalat bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebuah madrasah (sekolah) kehidupan yang mengajarkan kita tentang kedisiplinan Bagaimana tidak? Dalam shalat, kita terikat dengan waktu-waktu yang telah ditentukan secara pasti. Dari Subuh hingga Isya, kita diajarkan untuk tepat waktu, tidak boleh terlambat. . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:  …إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا…  *Artinya:* “…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103) Kedisiplinan yang kita latih dalam shalat ini adalah modal utama bagi seorang pemimpin Seorang pemimpin harus disiplin dalam menggunakan waktu, menepati janji, dan memprioritaskan tugas-tugasnya. Ia tidak boleh menunda pekerjaan atau mengabaikan tanggung jawabnya. Karena itu, shalat mengajarkan kita untuk menghargai waktu dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Shalat Madrasah: Latihan Menjadi Pribadi Amanah Selain disiplin, shalat juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang amanah  (dapat dipercaya). Setiap gerakan, setiap bacaan, dan setiap rukun dalam shalat adalah amanah dari Allah yang harus kita tunaikan dengan benar dan khusyuk. Jika kita menunaikan shalat dengan sempurna, berarti kita telah berhasil menjaga amanah tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: > أَيَّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوْبَةُ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا، كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يَأْتِ كَبِيْرَةً، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ. *Artinya:* “Siapa saja yang mendapati waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, khusyuknya, dan ruku’nya, maka itu akan menjadi penebus dosa-dosa yang telah lalu selama ia tidak melakukan dosa besar. Itulah waktu yang selalu ada.” (HR. Muslim) Dengan menjaga amanah dalam shalat, seorang pemimpin akan terbiasa menjaga amanah yang lebih besar, yaitu amanah kepemimpinan. Ia akan bertanggung jawab penuh atas rakyatnya, tidak akan melakukan korupsi, dan akan senantiasa jujur dalam setiap tindakan dan perkataannya. Shalat yang khusyuk akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah, sehingga ia tidak berani berkhianat. Kesimpulan Shalat adalah tiang agama dan juga tiang pembentukan karakter. Melalui shalat, kita dilatih untuk menjadi pribadi yang disiplin dan amanah. Karakter inilah yang sangat dibutuhkan oleh para pemimpin bangsakita saat ini. Maka, marilah kita senantiasa menjaga shalat kita dengan sebaik-baiknya. Jadikan shalat sebagai momen untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Dengan shalat yang baik, Insya Allah, kita akan menjadi generasi penerus yang berkarakter, yang siap memimpin bangsa menuju masa depan yang lebih baik, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Nashrum minallahi wafathun qariib H. Arif Munajat S.Pd. Majelis Tabligh PDM Sleman

Loading

Menghidupkan Puasa Ayyamul Bidh: Ibadah Sunnah dan Pilar Kesadaran Hijriah

Penulis: Yayan Suryana Wakil Ketua PWM DIY Puasa Ayyamul Bidh—yakni puasa yang dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah—merupakan salah satu sunnah yang konsisten diamalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, Rasulullah saw. bersabda: صيامُ ثلاثةِ أيَّامٍ من كلِّ شَهرٍ صيامُ الدَّهرِPuasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.”(HR. al-Bukhari dan Muslim) Tiga hari yang dimaksud dalam hadits ini dijelaskan oleh sebagian riwayat dan penjelasan ulama sebagai Ayyamul Bidh, yaitu hari-hari di pertengahan bulan ketika bulan purnama bersinar terang di malam hari. Keutamaan puasa ini tidak hanya terletak pada pahala yang besar, melainkan juga pada makna simboliknya sebagai momen pengendalian diri di tengah terang dunia, agar tidak larut dalam godaan yang tampak memesona. Menariknya, puasa Ayyamul Bidh juga memiliki dimensi peradaban yang luas. Dengan menjadikannya kebiasaan kolektif, umat Islam seolah diingatkan secara periodik untuk senantiasa merujuk pada kalender hijriah. Dalam konteks membangun peradaban Islam yang berbasis spiritualitas, kesadaran terhadap waktu hijriah sangat penting. Ia menanamkan identitas kultural dan religius yang berbeda dari kalender masehi yang mendominasi ruang publik global. Puasa ini menjadi penguat pengamalan hijrah sebagai orientasi transformasi diri dan masyarakat secara berkelanjutan. Namun, sering kali umat Islam mengalami kesulitan dalam memastikan kapan tanggal 13, 14, dan 15 hijriah itu jatuh, terutama karena minimnya perhatian terhadap penanggalan hijriah. Di sinilah peran penting Kriteria Hisab Global Terpadu (KHGT) yang telah diusulkan dan dikembangkan oleh Muhammadiyah. KHGT memungkinkan penetapan awal bulan hijriah secara ilmiah, global, dan konsisten. Dengan dukungan KHGT, umat Islam dapat mengetahui awal bulan hijriah dengan pasti dan serempak, sehingga dapat melaksanakan puasa Ayyamul Bidh secara kolektif dan terkoordinasi. Puasa sunnah ini, yang dulu tampak sebagai ibadah pribadi, kini berpotensi menjadi sarana membangun kesadaran kolektif terhadap sistem waktu Islam. Dalam masyarakat yang kehilangan orientasi terhadap waktu-waktu ibadah berbasis hijriah, Ayyamul Bidh bisa menjadi tonggak pengingat bulanan yang bukan hanya menyehatkan tubuh dan jiwa, tetapi juga menyehatkan peradaban umat. Karenanya, sudah semestinya umat Islam kembali menghidupkan sunnah ini. Bukan hanya untuk meneladani Rasulullah SAW, tapi juga untuk meneguhkan identitas peradaban Islam yang berbasis waktu ilahiah. Maka, puasa Ayyamul Bidh bukan hanya bentuk ibadah individual, tapi juga gerakan kolektif umat menuju pemurnian spiritual dan kemajuan peradaban. Wallahu a’lam bish-shawab

Loading

Mabrur: Antara Spiritualitas Haji dan Realitas Sosial

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Penulis: DR. Yayan Suryana Wakil Ketua PWM DIY. Musim haji kembali usai. Jamaah haji Indonesia mayoritas sudah tiba kembali di tanah air, membawa segudang pengalaman spiritual dan doa yang tak putus dipanjatkan di Tanah Suci. Doa yang paling sering terdengar dari kerabat dan masyarakat adalah, “Semoga menjadi haji yang mabrur.” Sebuah harapan yang mulia, karena haji mabrur, menurut sabda Nabi Muhammad saw. “tidak ada balasan baginya kecuali surga.” Namun, dalam euforia penyambutan ini, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting dan reflektif, benarkah kemabruran itu akan terwujud dalam wajah masyarakat kita? Secara kuantitas, Indonesia adalah negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia. Setiap tahun, ratusan ribu umat Islam dari negeri ini memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan rukun Islam kelima. Namun ironisnya, negeri ini masih diliputi oleh praktik korupsi yang merajalela, pelanggaran hukum yang tak kunjung surut, serta perilaku tak beretika yang kerap menghiasi panggung publik. Dalam banyak kasus, kita justru menemukan para pelaku korupsi atau ketidakadilan adalah mereka yang secara simbolik telah menunaikan ibadah haji, bahkan menyandang gelar “haji” di depan namanya. Realitas ini tentu menohok nurani kita. Sebab haji mabrur sejatinya bukan sekadar gelar atau status sosial, melainkan bukti nyata dari transformasi diri. Ia adalah komitmen untuk hidup jujur, adil, bersih, dan membawa kemaslahatan bagi sesama. Mabrur berarti kembali dari haji dengan membawa semangat keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan—dalam konteks hubungan kepada Tuhan maupun kepada manusia. Ketika seseorang telah menapaki Arafah dan melempar jumrah di Mina, seharusnya ia telah menaklukkan hawa nafsu, membersihkan hati, dan menyiapkan diri untuk hidup dalam kejujuran dan amanah sosial. Tentu kita tidak bisa serta-merta menilai kemabruran seseorang, karena itu adalah urusan antara dirinya dan Allah. Namun kita bisa menakar dampaknya dari perubahan sikap, dari kontribusinya terhadap lingkungan, dan dari sejauh mana ia menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sosial. Haji yang mabrur bukan hanya dilihat dari kekhusyukan doa atau tangisan di Multazam, melainkan dari keberanian menolak sogokan, dari integritas saat memegang jabatan, dari kesetiaan pada keadilan, serta kepedulian pada sesama yang lemah. Oleh karena itu, momentum kepulangan jemaah haji harus menjadi titik refleksi kolektif. Bukan sekadar seremonial penjemputan, tetapi peringatan moral bahwa negeri ini membutuhkan lebih banyak orang-orang yang sungguh-sungguh mabrur. Semoga mereka yang baru saja menunaikan ibadah haji benar-benar membawa pulang semangat kesucian, membersihkan ruang-ruang publik dari dosa sosial, dan menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang jujur, adil, dan beradab. Jika haji tidak mengubah laku, maka kita sedang mengabaikan inti ibadah itu sendiri. Jika kemabruran hanya sebatas harapan tanpa realisasi, maka ibadah haji hanya akan menjadi ritual kosong. Mari jadikan kepulangan ini bukan hanya sebagai akhir perjalanan fisik, tetapi awal dari perjalanan moral yang lebih luhur.Wallahu a’lam bish-shawwab

Loading

KHGT: Bukti Peradaban Islam Berkemajuan

Oleh: Yayan Suryana*  sleman, Pdmsleman.Mu.Or.Id Hari ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), sebuah ikhtiar besar yang tidak hanya menjawab amanat Muktamar, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun peradaban Islam berkemajuan. KHGT menjadi bukti konkrit bahwa umat Islam mampu menyatukan komitmen spiritual, kecanggihan intelektual, dan visi global dalam satu sistem penanggalan yang ilmiah, rasional, dan berakar pada tradisi Islam yang otentik. Dalam sejarah umat Islam, kalender Hijriyah memang lebih dari sekadar alat ukur waktu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nurcholish Madjid, sistem penanggalan komariah memiliki karakteristik khusus. Ia lahir dari realitas kosmik yang kasatmata, yakni penampakan rembulan (hilal). Keistimewaannya terletak pada sifatnya yang alami dan universal. Seperti kata Cak Nur, manusia sejak awal mengenali siklus waktu dari perubahan bentuk rembulan, dari sabit hingga purnama. Maka tidak mengherankan, bulan dalam bahasa Arab disebut “syahr” yang bermakna “yang nampak”, sebab dimulai dari terlihatnya bulan sabit. Lebih dari itu, al-Qur’an menegaskan fungsi spiritual dari sistem komariah,  bahwa “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, itu adalah penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji” (QS. al-Baqarah: 189). Artinya, sistem waktu dalam Islam dirancang bukan demi kepentingan duniawi semata seperti pertanian, melainkan demi penyatuan ritme ibadah umat Islam lintas ruang dan waktu. Di sinilah letak keadilan dan keunikan sistem ini. Ibadah seperti puasa dan haji tidak terkungkung oleh musim, tetapi berputar di seluruh musim dalam siklus 30 tahun, menjamin keadilan geografis dan iklim bagi seluruh umat Islam di bumi. KHGT hadir sebagai jawaban atas fragmentasi kalender Islam yang selama ini menjadi sumber ketidaksatuan umat dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan bahkan hari-hari penting lainnya. Di tengah dunia yang semakin terintegrasi secara teknologi dan informasi, umat Islam membutuhkan integrasi spiritual melalui kesatuan waktu. KHGT adalah ikhtiar Muhammadiyah untuk mempersatukan umat dalam dimensi yang paling mendasar, yaiti waktu ibadah. Tanpa kesatuan waktu, kesatuan umat hanya akan menjadi ilusi. Lebih jauh, KHGT juga merupakan manifestasi kecanggihan ilmu pengetahuan Islam. Dengan metode hisab hakiki kontemporer yang dipadukan dengan prinsip ijtihad, KHGT tidak hanya berpijak pada langit, tetapi juga pada akal sehat manusia. Ia menjembatani tradisi dan modernitas, teks dan konteks, syariah dan sains. KHGT adalah proyek peradaban, bukan sekadar agenda organisasi. Nurcholish Madjid juga menyoroti bagaimana kalender matahari yang diadopsi oleh dunia modern cenderung bersifat geografis dan eksklusif terhadap musim. Jika umat Islam mengikuti sistem itu, maka akan terjadi ketimpangan. Misalnya, umat Islam di belahan bumi selatan akan terus-menerus berpuasa di musim panas, sementara di utara di musim dingin. Standar waktu dalam menjllankan ibadah yang berbasiskan rembulan ini menghapus ketidakadilan itu. Maka dalam kerangka ini, KHGT menjadi simbol keadilan dan inklusivitas Islam sebagai agama universal. Peluncuran KHGT hari ini bukan hanya peristiwa seremonial, tetapi adalah momen sejarah. Ini adalah langkah monumental Muhammadiyah dalam mengambil tanggung jawab global demi menyatukan umat. KHGT menjadi salah satu pilar peradaban Islam yang menjunjung ilmu, keadilan, dan persatuan. KHGT bukan hanya simbol kemajuan, tetapi menjadi bukti bahwa Islam mampu menghadirkan solusi visioner untuk dunia yang sedang mencari arah dan makna. Allah mengingatkan dalam firmannya:  Dan demikian (pula) Kami jadikan kamu umat yang wasath (adil dan seimbang), agar kamu menjadi saksi atas (segala perilaku) manusia…”(QS. al-Baqarah: 143) Muhammadiyah Melalui KHGT, sedang menunjukkan saksi peradaban itu. Wallahu a’lam bish-shawab. Salam Yansur.  )*Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY. 

Loading

JANGAN BIARKAN RAMADHAN BERLALU TANPA PERUBAHAN DIRI YANG BERARTI

Materi Hari Ke 30 Disusun oleh : Musa Jundana, Lc Pendahuluan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan yang diberikan Allah sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, jangan sampai Ramadhan berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan yang berarti dalam diri kita. Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Perubahan Diri Allah SWT berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari No. 38, Muslim No. 760) Mengapa Harus Ada Perubahan Diri setelah Ramadhan? Cara Memastikan Ramadhan Membawa Perubahan dalam Hidup Kesimpulan Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan perubahan berarti dalam diri kita. Jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan menanamkan kebiasaan baik yang terus berlanjut sepanjang tahun. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan. Aamiin.

Loading