Di Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi — Arif Jamali Muis —- Di tengah dunia yang bergerak cepat, ketika perhatian anak muda mudah berpindah dan kepercayaan terhadap institusi semakin menipis, Muhammadiyah justru masih berdiri dengan daya tarik yang tidak kecil. Ini bukan sesuatu yang biasa. Banyak organisasi besar kehilangan relevansinya di mata generasi baru. Tetapi Muhammadiyah tampaknya tetap punya daya pikat. Laporan survei yang diterbitkan Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahamd Dahlan (UAD) berjudul Muhammadiyah di Mata Anak Muda memberi gambaran yang menarik sekaligus menggugah. Sebanyak 91 persen responden menyatakan bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari itu, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya untuDi Mata Anak Muda, Muhammadiyah Bukan Sekadar Organisasi: Antara Kepercayaan, Kinerja, dan Harapan Baru Liputan Khusus Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan gaya hidup generasi muda, tidak banyak organisasi yang mampu tetap relevan. Banyak yang perlahan ditinggalkan, dianggap usang, atau sekadar simbol masa lalu. Namun, di antara dinamika itu, Muhammadiyah justru menunjukkan fenomena berbedaโia tetap hidup, bahkan dipercaya. Sebuah laporan survei dari Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan menghadirkan potret yang tak hanya menarik, tetapi juga menggugah cara pandang. Dalam laporan bertajuk โMuhammadiyah di Mata Anak Mudaโ, mayoritas responden menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap Muhammadiyah. Sebanyak 91 persen responden mengaku bangga terhadap Muhammadiyah. Lebih dari sekadar kebanggaan, 82,8 persen menjadikannya rujukan terpercaya dalam isu-isu terkini. Angka lainnya tak kalah mencolok: 89,3 persen melihat Muhammadiyah sebagai pemersatu bangsa, 87,3 persen menilai sebagai panutan dalam politik nasional, dan 82,6 persen percaya pada kinerja pejabat publik yang berasal dari organisasi ini. Namun, di balik angka-angka impresif tersebut, tersimpan cerita yang lebih dalam: tentang bagaimana anak muda hari ini membaca Muhammadiyahโbukan dari simbol, tetapi dari dampak nyata. Dari Simbol ke Manfaat Nyata Menariknya, generasi muda tidak lagi menempatkan Muhammadiyah dalam bingkai perdebatan identitas keagamaan. Hal-hal yang dulu sering menjadi sorotan publik, seperti perbedaan penentuan awal puasa atau jumlah rakaat tarawih, justru tidak lagi dominan dalam ingatan mereka. Sebaliknya, yang paling diingat adalah kontribusi konkret. Sebanyak 44,1 persen responden mengasosiasikan Muhammadiyah dengan sekolah dan kampus berkualitas. Sementara 42,3 persen melihatnya sebagai organisasi Islam yang modern dan rasional. Ini menjadi penanda penting: telah terjadi pergeseran cara pandang. Muhammadiyah tidak lagi sekadar dikenal, tetapi dirasakan. Ia hadir dalam ruang-ruang kehidupan sehari-hariโdi bangku sekolah, di layanan kesehatan, hingga dalam aktivitas sosial masyarakat. Amal Usaha yang Menjadi Wajah Nyata Kepercayaan itu bukan tanpa alasan. Amal usaha Muhammadiyah menjadi wajah yang paling nyata dari nilai-nilai yang selama ini diusung. Sebanyak 88,1 persen responden menilai sekolah dan kampus Muhammadiyah worth it. Di sektor kesehatan, 86,1 persen menilai layanannya sangat baik, dan 80,5 persen menyebutnya terjangkau. Di sinilah kekuatan utama Muhammadiyah terlihat: ia tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. Tidak hanya menyuarakan nilai, tetapi menghadirkannya dalam bentuk layanan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketika Kepercayaan Bertemu Sikap Kritis Meski demikian, generasi muda tidak serta-merta memberikan kepercayaan tanpa batas. Survei yang sama juga mencatat adanya respons kritis, terutama ketika Muhammadiyah bersentuhan dengan isu konsesi tambang. Tingkat penolakan mencapai 46 persen. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal. Anak muda tetap mendukung Muhammadiyah, tetapi mereka juga mulai lebih peka terhadap isu lingkungan dan potensi konflik kepentingan. Di titik ini, terlihat jelas bahwa relasi antara Muhammadiyah dan generasi muda bukan hubungan pasif. Ia adalah hubungan yang hidupโdipenuhi apresiasi, tetapi juga diwarnai ekspektasi. Antara Kualitas dan Akses Catatan lain muncul di sektor pendidikan. Meski dinilai berkualitas, sekitar 31 persen responden di wilayah perkotaan merasa biaya pendidikan Muhammadiyah belum sepenuhnya terjangkau. Hal ini menjadi pengingat bahwa identitas Muhammadiyah sejak awal tidak hanya dibangun dari kualitas, tetapi juga dari keberpihakan. Ia tumbuh sebagai gerakan yang menghadirkan layanan modern tanpa meninggalkan akses bagi masyarakat luas. Jika kualitas terus meningkat namun akses semakin terbatas, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar citra, melainkan jati diri. Harapan yang Tidak Berlebihan Di balik semua penilaian itu, tersimpan satu benang merah: harapan. Sebanyak 89,4 persen responden menilai Muhammadiyah mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Bahkan 87,8 persen melihat organisasi ini ramah terhadap seni, musik, dan media populerโruang-ruang yang selama ini menjadi dunia anak muda. Namun harapan itu sederhana: Muhammadiyah diminta tetap menjadi dirinya sendiri. Tetap rasional, membumi, tidak kaku, dan terus menghadirkan manfaat. Bagi generasi muda, Muhammadiyah bukan sekadar organisasi keagamaan. Ia adalah representasi bagaimana agama seharusnya hadir di ruang publikโtidak hanya sebagai wacana, tetapi sebagai solusi. Cermin yang Perlu Dijaga Laporan ini pada akhirnya bukan hanya tentang pujian. Ia adalah cerminโyang memantulkan bahwa Muhammadiyah masih dicintai, tetapi juga sedang diawasi. Masih dipercaya, tetapi sekaligus diuji. Dalam dunia yang terus berubah, sejarah memang bisa membuat sebuah organisasi bertahan. Namun hanya relevansi dan konsistensi yang mampu membuatnya tetap dicintai lintas generasi. Dan di mata anak muda hari ini, pesan itu terdengar jelas:Muhammadiyah tidak perlu menjadi sempurna.Ia hanya perlu tetap menjadi Muhammadiyah yang mereka percaya.
![]()