Pamuji Sri Subekti, S.Si. Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan I Refleksi terhadap masa depan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang dan kontribusi nyatanya di masa lalu dan masa kini. Muhammadiyah memiliki peran besar dalam setiap dinamika kehidupan bangsa Indonesia bahkan dunia. Dengan berpegang teguh pada aqidah yang kuat dan berprinsip pada Islam Berkemajuan, wasathiyah, dan tajdid, Muhammadiyah menorehkan catatan sejarah sebagai sebuah gerakan Islam moderat yang memberi sumbangsih besar dalam perkembangan kemajuan bidang pendidikan. Dilihat dari kiprahnya sepanjang 113 tahun ini, Muhammadiyah dapat dipredeksi memiliki masa depan cerah sebagai gerakan yang kiprah di bidang pendidikan semakin mendunia. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi rujukan organisasi-organisasi lain di dunia dalam pengelolaan pendidikan bahkan juga bidang-bidang lain, seperti ekonomi, kesehatan, sosial dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pendidikan Muhammadiyah pada Masa Awal Berdiri Ketika kita menoleh ke masa lalu, Muhammadiyah lahir dari keresahan dalam aspek pendidikan. Tahun 1912, ketika Indonesia masih dikuasai oleh kolonialisme, kemiskinan dan kebodohan menjadi pemandangan yang biasa, hanya orang dari kalangan tertentu yang bisa mengenyam pendidikan. K.H. Ahmad Dahlan yang memandang santri-santrinya dan masyarakat di sekelilingnya miskin akan ilmu pengetahuan, merasa perlu melakukan langkah konkrit dalam menyelamatkan warga dari kebodohan. Pemahaman bahwa Islam harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, mendorong perlunya penguasaan yang seimbang pula antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka didasari semangat itulah K.H. Ahmad Dahlan mendirikan madrasah yang tidak hanya mengajar ilmu agama namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. K.H. Ahmad Dahlan mengubah ruang tamu menjadi ruang kelas. Pendidikan dengan metode baru yang berbeda dengan pondok-pondok pesantren yang ada pada saat itu menjadi tantangan tersendiri. Kelas dengan menggunakan meja kursi, beberapa pelajaran tentang ilmu pengetahuan termasuk seni diklaim sebagai ajaran kafir karena dianggap meniru budaya barat. Tantangan ini beliau hadapi dengan langkah bijak, dengan terus menerus memberi pengajaran yang benar tentang Islam kepada santri dan masyarakat. Tidak dengan kekerasan ataupun dengan memaksakan kehendak. Dan dapat kita lihat saat ini, sistem kelas yang beliau terapkan menjadi rujukan hampir semua sekolah dan madrasah di negeri ini. Kemudian yang tidak kalah penting untuk dijadikan catatan sejarah bahwa pendidikan menjadi salah satu pilar berdirinya organisasi Muhammadiyah. Salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan menyampaikan keresahannya tentang keberlangsungan madrasah, keberlangsungan ajaran-ajaran beliau, sepeninggal beliau nanti. Dari situlah awal muncul keinginan mendirikan organisasi. Hingga kemudian berdirilah Organisasi Muhammadiyah. Dunia Pendidikan Muhammadiyah Masa Kini Saat ini terdapat puluhan ribu sekolah dan madrasah Muhammadiyah, ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri tepatnya di Australia terdapat Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Sekolah, madrasah maupun Perguruan Tinggi dengan kategori Unggul juga tersebar di mana-mana. Kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga Pendidikan Muhammadiyah sudah tidak perlu diragukan lagi. Semangat tajdid (pembaruan) dan prinsip Islam berkemajuan mendorong Muhammadiyah terus berkomitmen memperbaiki sistem pendidikannya agar tetap relevan dan kompetitif di era global namun tetap berpegang teguh pada dasar tauhid yang benar. Pendidikan Muhammadiyah masa kini telah menunjukkan peran besar dalam membentuk generasi cerdas dan berkarakter, sekaligus menjadi model pendidikan Islam modern di Indonesia. Amal Usaha Bidang Pendidikan tidak hanya sebatas tempat mendapat ilmu, namun amal usaha ini didirikan dalam rangka perluasan dakwah Muhammadiyah. Harapannya, dari AUM pendidikan, Muhammadiyah dapat melahirkan generasi unggul yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia sesuai cita-cita K.H. Ahmad Dahlan. Generasi yang akan menjadi kader-kader Muhammadiyah dan kader bangsa. Tantangan Masa Depan Pendidikan Muhammadiyah “Dadio Islam sik kemajuan, lan ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah”, pesan K.H. Ahmad Dahlan. Sebuah pesan yang memiliki makna besar untuk menggerakkan warga Muhammadiyah untuk memiliki cara pandang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, yang untuk mewujudkannya harus dengan iman, ilmu dan amal. Sebuah visi yang memandang bahwa Muhammadiyah di masa depan harus maju, mendunia dan menjadi rujukan dunia dalam mewujudkan masyarakat baldatun thoyyibatun warobbun ghofur sebagai manifestasi dari rahmatan lil ‘alamin. Tentu saja banyak tantangan besar yang harus dihadapi oleh Muhammadiyah, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Beberapa tantangan dunia pendidikan di masa depan diantaranya adalah tantangan kemajuan teknologi dan diigitalisasi, degradasi moral, kader-kader penerus gerakan Muhammadiyah, keselarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia. Kemajuan teknologi dan digital, menjadi tantangan bagi Muhammadiyah agar terus berinovasi dalm memanfaatkan teknologi dan digital untuk pembelajaran dengan meminimalisir dampak negatif dari teknologi dan digital itu sendiri. Disisi lain pendidikan Muhammadiyah harus memberi benteng aqidah dan akhlak yang kuat ditengah kondisi masyarakat yang mengalami degradasi moral. Sehingga generasi yang dilahirkan dari pendidikan di Muhammadiyah haruslah generasi emas yang memiliki iman yang kuat dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. AUM di bidang pendidikan dapat berperan mencetak kader-kader militan untuk meneruskan perjuangan gerakan Muhammadiyah. Untuk itu kurikulum di sekolah-sekolah Muhammadiyah harus disusun dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang berkemajuan, yang beramar ma’ruf nahi munkar dan menjadi rahmmat bagi seluruh alam. Dan untuk melaksanakan itu semua perlu kerja keras, tidak merasa lelah sebagaimana dipesankan oleh K.H. Ahmad Dahlan.
![]()