Refeksi Pendidikan Muhammadiyah Masa Depan : Tantangan Pendidikan Muhammadiyah Masa Lalu, Masa Kini dan Masa Depan

Pamuji Sri Subekti, S.Si. Mahasiswa Sekolah Ideologi Muhammadiyah Angkatan I Refleksi terhadap masa depan Muhammadiyah tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang dan kontribusi nyatanya di masa lalu dan masa kini. Muhammadiyah memiliki peran besar dalam setiap dinamika kehidupan bangsa Indonesia bahkan dunia. Dengan berpegang teguh pada aqidah yang kuat dan berprinsip pada Islam Berkemajuan, wasathiyah, dan tajdid, Muhammadiyah menorehkan catatan sejarah sebagai sebuah gerakan Islam moderat yang memberi sumbangsih besar dalam perkembangan kemajuan bidang pendidikan. Dilihat dari kiprahnya sepanjang 113 tahun ini, Muhammadiyah dapat dipredeksi memiliki masa depan cerah sebagai gerakan yang kiprah di bidang pendidikan semakin mendunia. Bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi rujukan organisasi-organisasi lain di dunia dalam pengelolaan pendidikan bahkan juga bidang-bidang lain, seperti ekonomi, kesehatan, sosial dan bidang-bidang kehidupan lainnya. Pendidikan Muhammadiyah pada Masa Awal Berdiri Ketika kita menoleh ke masa lalu, Muhammadiyah lahir dari keresahan dalam aspek pendidikan. Tahun 1912, ketika Indonesia masih dikuasai oleh kolonialisme, kemiskinan dan kebodohan menjadi pemandangan yang biasa, hanya orang dari kalangan tertentu yang bisa mengenyam pendidikan. K.H. Ahmad Dahlan yang memandang santri-santrinya dan masyarakat di sekelilingnya miskin akan ilmu pengetahuan, merasa perlu melakukan langkah konkrit dalam menyelamatkan warga dari kebodohan. Pemahaman bahwa Islam harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, mendorong perlunya penguasaan yang seimbang pula antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka didasari semangat itulah K.H. Ahmad Dahlan mendirikan madrasah yang tidak hanya mengajar ilmu agama namun juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum. K.H. Ahmad Dahlan mengubah ruang tamu menjadi ruang kelas. Pendidikan dengan metode baru yang berbeda dengan pondok-pondok pesantren yang ada pada saat itu menjadi tantangan tersendiri. Kelas dengan menggunakan meja kursi, beberapa pelajaran tentang ilmu pengetahuan termasuk seni diklaim sebagai ajaran kafir karena dianggap meniru budaya barat. Tantangan ini beliau hadapi dengan langkah bijak, dengan terus menerus memberi pengajaran yang benar tentang Islam kepada santri dan masyarakat. Tidak dengan kekerasan ataupun dengan memaksakan kehendak. Dan dapat kita lihat saat ini, sistem kelas yang beliau terapkan menjadi rujukan hampir semua sekolah dan madrasah di negeri ini. Kemudian yang tidak kalah penting untuk dijadikan catatan sejarah bahwa pendidikan menjadi salah satu pilar berdirinya organisasi Muhammadiyah. Salah satu murid K.H. Ahmad Dahlan menyampaikan keresahannya tentang keberlangsungan madrasah, keberlangsungan ajaran-ajaran beliau, sepeninggal beliau nanti. Dari situlah awal muncul keinginan mendirikan organisasi. Hingga kemudian berdirilah Organisasi Muhammadiyah. Dunia Pendidikan Muhammadiyah Masa Kini Saat ini terdapat puluhan ribu sekolah dan madrasah Muhammadiyah, ratusan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang tersebar di seluruh daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri tepatnya di Australia terdapat Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Sekolah, madrasah maupun Perguruan Tinggi dengan kategori Unggul juga tersebar di mana-mana. Kepercayaan masyarakat terhadap Lembaga Pendidikan Muhammadiyah sudah tidak perlu diragukan lagi. Semangat tajdid (pembaruan) dan prinsip Islam berkemajuan mendorong Muhammadiyah terus berkomitmen memperbaiki sistem pendidikannya agar tetap relevan dan kompetitif di era global namun tetap berpegang teguh pada dasar tauhid yang benar. Pendidikan Muhammadiyah masa kini telah menunjukkan peran besar dalam membentuk generasi cerdas dan berkarakter, sekaligus menjadi model pendidikan Islam modern di Indonesia. Amal Usaha Bidang Pendidikan tidak hanya sebatas tempat mendapat ilmu, namun amal usaha ini didirikan dalam rangka perluasan dakwah Muhammadiyah. Harapannya, dari AUM pendidikan, Muhammadiyah dapat melahirkan generasi unggul yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia sesuai cita-cita K.H. Ahmad Dahlan. Generasi yang akan menjadi kader-kader Muhammadiyah dan kader bangsa. Tantangan Masa Depan Pendidikan Muhammadiyah “Dadio Islam sik kemajuan, lan ojo kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah”, pesan K.H. Ahmad Dahlan. Sebuah pesan yang memiliki makna besar untuk menggerakkan warga Muhammadiyah untuk memiliki cara pandang Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, yang untuk mewujudkannya harus dengan iman, ilmu dan amal. Sebuah visi yang memandang bahwa Muhammadiyah di masa depan harus maju, mendunia dan menjadi rujukan dunia dalam mewujudkan masyarakat baldatun thoyyibatun warobbun ghofur sebagai manifestasi dari rahmatan lil ‘alamin. Tentu saja banyak tantangan besar yang harus dihadapi oleh Muhammadiyah, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Beberapa tantangan dunia pendidikan di masa depan diantaranya adalah tantangan kemajuan teknologi dan diigitalisasi, degradasi moral, kader-kader penerus gerakan Muhammadiyah, keselarasan kurikulum dengan kebutuhan dunia. Kemajuan teknologi dan digital, menjadi tantangan bagi Muhammadiyah agar terus berinovasi dalm memanfaatkan teknologi dan digital untuk pembelajaran dengan meminimalisir dampak negatif dari teknologi dan digital itu sendiri. Disisi lain pendidikan Muhammadiyah harus memberi benteng aqidah dan akhlak yang kuat ditengah kondisi masyarakat yang mengalami degradasi moral. Sehingga generasi yang dilahirkan dari pendidikan di Muhammadiyah haruslah generasi emas yang memiliki iman yang kuat dan ilmu pengetahuan yang mumpuni. AUM di bidang pendidikan dapat berperan mencetak kader-kader militan untuk meneruskan perjuangan gerakan Muhammadiyah. Untuk itu kurikulum di sekolah-sekolah Muhammadiyah harus disusun dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah, yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yang berkemajuan, yang beramar ma’ruf nahi munkar dan menjadi rahmmat bagi seluruh alam. Dan untuk melaksanakan itu semua perlu kerja keras, tidak merasa lelah sebagaimana dipesankan oleh K.H. Ahmad Dahlan.

Loading

Mengenal Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM)

Sleman, pdmsleman.Or.Id Review Mata Kuliah Landasan Ideologi Muhammadiyah Dosen  Ustadz Andy Putra Wijaya, M.S.I. Oleh : Pamuji Sri Subekti,  Mahasiswa SIM Angkatan 1 Muhammadiyah kini berusia 112 tahun (per November 2024). Sebagai sebuah gerakan, Muhammadiyah mampu menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi besar di dunia. Muhammadiyah menjadi organisasi terbersar ke-4 di dunia dan menjadi organisasi terkaya di dunia. Perkembangan ini tentu tidak lepas dari kuatnya dasar ideologi Muhammadiyah yang ditanamkan pada kader-kadernya. Sehingga kader Muhammadiyah memiliki pedoman sebagai petunjuk arah gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan cita-citanya. Salah satu dasar ideologi Muhammadiyah termaktup dalam dokumen Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM). Pada awal pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1966-1968, terjadi perubahan keadaan social, politik, dan keagamaan di Indonesia. Situasi ini menuntun para pemimpin Muhammadiyah mengambil langkah solutif. Muhammadiyah memandang perlu mengambil langkah untuk penyelamatan pergerakan agar Muhammadiyah tidak dibubarkan dan perjuangannya terhenti. Maka pada tahun 1968 dibuatlah rumusan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (KCHM). Kemudian pada saat Tanwir Muhammadiyah tahun 1969 di Ponorogo, dokumen tersebut disahkan. Dalam perjalanannya KCHM ini dibagian depan ditambah kata Matan, sehingga menjadi MKCHM. MKCHM memiliki peran penting dalam membimbing Muhammadiyah untuk tetap relevan terhadap perkembangan kehidupan dan memberikan arah bagi umat Islam dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dokumen MKCHM berisi lima point pokok yang dapat dikategorikan kedalam tiga kelompok. Penjelasan singkatnya sebagai berikut. Penjelasan diatas adalah penjelasan singkat dari pokok-pokok isi MKCHM. Untuk isi lengkap dokumen MKHCM bisa didapatkan dari berbagai sumber, diantaranya pada link https://muhammadiyah.or.id/matan-keyakinan-dan-cita-cita-hidup-muhammadiyah/  .

Loading

“Shalat sebagai Madrasah kehidupan

Pdmsleman.Or,Id Shalat bukan hanya sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebuah madrasah (sekolah) kehidupan yang mengajarkan kita tentang kedisiplinan Bagaimana tidak? Dalam shalat, kita terikat dengan waktu-waktu yang telah ditentukan secara pasti. Dari Subuh hingga Isya, kita diajarkan untuk tepat waktu, tidak boleh terlambat. . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Quran:  …إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا…  *Artinya:* “…Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103) Kedisiplinan yang kita latih dalam shalat ini adalah modal utama bagi seorang pemimpin Seorang pemimpin harus disiplin dalam menggunakan waktu, menepati janji, dan memprioritaskan tugas-tugasnya. Ia tidak boleh menunda pekerjaan atau mengabaikan tanggung jawabnya. Karena itu, shalat mengajarkan kita untuk menghargai waktu dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Shalat Madrasah: Latihan Menjadi Pribadi Amanah Selain disiplin, shalat juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang amanah  (dapat dipercaya). Setiap gerakan, setiap bacaan, dan setiap rukun dalam shalat adalah amanah dari Allah yang harus kita tunaikan dengan benar dan khusyuk. Jika kita menunaikan shalat dengan sempurna, berarti kita telah berhasil menjaga amanah tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: > أَيَّمَا رَجُلٍ أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوْبَةُ فَأَحْسَنَ وُضُوْءَهَا وَخُشُوْعَهَا وَرُكُوْعَهَا، كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَمْ يَأْتِ كَبِيْرَةً، وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ. *Artinya:* “Siapa saja yang mendapati waktu shalat wajib, lalu ia menyempurnakan wudhunya, khusyuknya, dan ruku’nya, maka itu akan menjadi penebus dosa-dosa yang telah lalu selama ia tidak melakukan dosa besar. Itulah waktu yang selalu ada.” (HR. Muslim) Dengan menjaga amanah dalam shalat, seorang pemimpin akan terbiasa menjaga amanah yang lebih besar, yaitu amanah kepemimpinan. Ia akan bertanggung jawab penuh atas rakyatnya, tidak akan melakukan korupsi, dan akan senantiasa jujur dalam setiap tindakan dan perkataannya. Shalat yang khusyuk akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah, sehingga ia tidak berani berkhianat. Kesimpulan Shalat adalah tiang agama dan juga tiang pembentukan karakter. Melalui shalat, kita dilatih untuk menjadi pribadi yang disiplin dan amanah. Karakter inilah yang sangat dibutuhkan oleh para pemimpin bangsakita saat ini. Maka, marilah kita senantiasa menjaga shalat kita dengan sebaik-baiknya. Jadikan shalat sebagai momen untuk berintrospeksi dan memperbaiki diri. Dengan shalat yang baik, Insya Allah, kita akan menjadi generasi penerus yang berkarakter, yang siap memimpin bangsa menuju masa depan yang lebih baik, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Nashrum minallahi wafathun qariib H. Arif Munajat S.Pd. Majelis Tabligh PDM Sleman

Loading

Menghidupkan Puasa Ayyamul Bidh: Ibadah Sunnah dan Pilar Kesadaran Hijriah

Penulis: Yayan Suryana Wakil Ketua PWM DIY Puasa Ayyamul Bidh—yakni puasa yang dilakukan pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan hijriah—merupakan salah satu sunnah yang konsisten diamalkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash, Rasulullah saw. bersabda: صيامُ ثلاثةِ أيَّامٍ من كلِّ شَهرٍ صيامُ الدَّهرِPuasa tiga hari setiap bulan adalah seperti puasa sepanjang tahun.”(HR. al-Bukhari dan Muslim) Tiga hari yang dimaksud dalam hadits ini dijelaskan oleh sebagian riwayat dan penjelasan ulama sebagai Ayyamul Bidh, yaitu hari-hari di pertengahan bulan ketika bulan purnama bersinar terang di malam hari. Keutamaan puasa ini tidak hanya terletak pada pahala yang besar, melainkan juga pada makna simboliknya sebagai momen pengendalian diri di tengah terang dunia, agar tidak larut dalam godaan yang tampak memesona. Menariknya, puasa Ayyamul Bidh juga memiliki dimensi peradaban yang luas. Dengan menjadikannya kebiasaan kolektif, umat Islam seolah diingatkan secara periodik untuk senantiasa merujuk pada kalender hijriah. Dalam konteks membangun peradaban Islam yang berbasis spiritualitas, kesadaran terhadap waktu hijriah sangat penting. Ia menanamkan identitas kultural dan religius yang berbeda dari kalender masehi yang mendominasi ruang publik global. Puasa ini menjadi penguat pengamalan hijrah sebagai orientasi transformasi diri dan masyarakat secara berkelanjutan. Namun, sering kali umat Islam mengalami kesulitan dalam memastikan kapan tanggal 13, 14, dan 15 hijriah itu jatuh, terutama karena minimnya perhatian terhadap penanggalan hijriah. Di sinilah peran penting Kriteria Hisab Global Terpadu (KHGT) yang telah diusulkan dan dikembangkan oleh Muhammadiyah. KHGT memungkinkan penetapan awal bulan hijriah secara ilmiah, global, dan konsisten. Dengan dukungan KHGT, umat Islam dapat mengetahui awal bulan hijriah dengan pasti dan serempak, sehingga dapat melaksanakan puasa Ayyamul Bidh secara kolektif dan terkoordinasi. Puasa sunnah ini, yang dulu tampak sebagai ibadah pribadi, kini berpotensi menjadi sarana membangun kesadaran kolektif terhadap sistem waktu Islam. Dalam masyarakat yang kehilangan orientasi terhadap waktu-waktu ibadah berbasis hijriah, Ayyamul Bidh bisa menjadi tonggak pengingat bulanan yang bukan hanya menyehatkan tubuh dan jiwa, tetapi juga menyehatkan peradaban umat. Karenanya, sudah semestinya umat Islam kembali menghidupkan sunnah ini. Bukan hanya untuk meneladani Rasulullah SAW, tapi juga untuk meneguhkan identitas peradaban Islam yang berbasis waktu ilahiah. Maka, puasa Ayyamul Bidh bukan hanya bentuk ibadah individual, tapi juga gerakan kolektif umat menuju pemurnian spiritual dan kemajuan peradaban. Wallahu a’lam bish-shawab

Loading

Mabrur: Antara Spiritualitas Haji dan Realitas Sosial

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Penulis: DR. Yayan Suryana Wakil Ketua PWM DIY. Musim haji kembali usai. Jamaah haji Indonesia mayoritas sudah tiba kembali di tanah air, membawa segudang pengalaman spiritual dan doa yang tak putus dipanjatkan di Tanah Suci. Doa yang paling sering terdengar dari kerabat dan masyarakat adalah, “Semoga menjadi haji yang mabrur.” Sebuah harapan yang mulia, karena haji mabrur, menurut sabda Nabi Muhammad saw. “tidak ada balasan baginya kecuali surga.” Namun, dalam euforia penyambutan ini, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan penting dan reflektif, benarkah kemabruran itu akan terwujud dalam wajah masyarakat kita? Secara kuantitas, Indonesia adalah negara dengan jumlah jemaah haji terbesar di dunia. Setiap tahun, ratusan ribu umat Islam dari negeri ini memenuhi panggilan Allah untuk menunaikan rukun Islam kelima. Namun ironisnya, negeri ini masih diliputi oleh praktik korupsi yang merajalela, pelanggaran hukum yang tak kunjung surut, serta perilaku tak beretika yang kerap menghiasi panggung publik. Dalam banyak kasus, kita justru menemukan para pelaku korupsi atau ketidakadilan adalah mereka yang secara simbolik telah menunaikan ibadah haji, bahkan menyandang gelar “haji” di depan namanya. Realitas ini tentu menohok nurani kita. Sebab haji mabrur sejatinya bukan sekadar gelar atau status sosial, melainkan bukti nyata dari transformasi diri. Ia adalah komitmen untuk hidup jujur, adil, bersih, dan membawa kemaslahatan bagi sesama. Mabrur berarti kembali dari haji dengan membawa semangat keberpihakan kepada kebenaran dan kebaikan—dalam konteks hubungan kepada Tuhan maupun kepada manusia. Ketika seseorang telah menapaki Arafah dan melempar jumrah di Mina, seharusnya ia telah menaklukkan hawa nafsu, membersihkan hati, dan menyiapkan diri untuk hidup dalam kejujuran dan amanah sosial. Tentu kita tidak bisa serta-merta menilai kemabruran seseorang, karena itu adalah urusan antara dirinya dan Allah. Namun kita bisa menakar dampaknya dari perubahan sikap, dari kontribusinya terhadap lingkungan, dan dari sejauh mana ia menjadi pribadi yang lebih baik dalam kehidupan sosial. Haji yang mabrur bukan hanya dilihat dari kekhusyukan doa atau tangisan di Multazam, melainkan dari keberanian menolak sogokan, dari integritas saat memegang jabatan, dari kesetiaan pada keadilan, serta kepedulian pada sesama yang lemah. Oleh karena itu, momentum kepulangan jemaah haji harus menjadi titik refleksi kolektif. Bukan sekadar seremonial penjemputan, tetapi peringatan moral bahwa negeri ini membutuhkan lebih banyak orang-orang yang sungguh-sungguh mabrur. Semoga mereka yang baru saja menunaikan ibadah haji benar-benar membawa pulang semangat kesucian, membersihkan ruang-ruang publik dari dosa sosial, dan menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang jujur, adil, dan beradab. Jika haji tidak mengubah laku, maka kita sedang mengabaikan inti ibadah itu sendiri. Jika kemabruran hanya sebatas harapan tanpa realisasi, maka ibadah haji hanya akan menjadi ritual kosong. Mari jadikan kepulangan ini bukan hanya sebagai akhir perjalanan fisik, tetapi awal dari perjalanan moral yang lebih luhur.Wallahu a’lam bish-shawwab

Loading

KHGT: Bukti Peradaban Islam Berkemajuan

Oleh: Yayan Suryana*  sleman, Pdmsleman.Mu.Or.Id Hari ini, Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), sebuah ikhtiar besar yang tidak hanya menjawab amanat Muktamar, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun peradaban Islam berkemajuan. KHGT menjadi bukti konkrit bahwa umat Islam mampu menyatukan komitmen spiritual, kecanggihan intelektual, dan visi global dalam satu sistem penanggalan yang ilmiah, rasional, dan berakar pada tradisi Islam yang otentik. Dalam sejarah umat Islam, kalender Hijriyah memang lebih dari sekadar alat ukur waktu. Sebagaimana ditegaskan oleh Nurcholish Madjid, sistem penanggalan komariah memiliki karakteristik khusus. Ia lahir dari realitas kosmik yang kasatmata, yakni penampakan rembulan (hilal). Keistimewaannya terletak pada sifatnya yang alami dan universal. Seperti kata Cak Nur, manusia sejak awal mengenali siklus waktu dari perubahan bentuk rembulan, dari sabit hingga purnama. Maka tidak mengherankan, bulan dalam bahasa Arab disebut “syahr” yang bermakna “yang nampak”, sebab dimulai dari terlihatnya bulan sabit. Lebih dari itu, al-Qur’an menegaskan fungsi spiritual dari sistem komariah,  bahwa “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, itu adalah penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji” (QS. al-Baqarah: 189). Artinya, sistem waktu dalam Islam dirancang bukan demi kepentingan duniawi semata seperti pertanian, melainkan demi penyatuan ritme ibadah umat Islam lintas ruang dan waktu. Di sinilah letak keadilan dan keunikan sistem ini. Ibadah seperti puasa dan haji tidak terkungkung oleh musim, tetapi berputar di seluruh musim dalam siklus 30 tahun, menjamin keadilan geografis dan iklim bagi seluruh umat Islam di bumi. KHGT hadir sebagai jawaban atas fragmentasi kalender Islam yang selama ini menjadi sumber ketidaksatuan umat dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, dan bahkan hari-hari penting lainnya. Di tengah dunia yang semakin terintegrasi secara teknologi dan informasi, umat Islam membutuhkan integrasi spiritual melalui kesatuan waktu. KHGT adalah ikhtiar Muhammadiyah untuk mempersatukan umat dalam dimensi yang paling mendasar, yaiti waktu ibadah. Tanpa kesatuan waktu, kesatuan umat hanya akan menjadi ilusi. Lebih jauh, KHGT juga merupakan manifestasi kecanggihan ilmu pengetahuan Islam. Dengan metode hisab hakiki kontemporer yang dipadukan dengan prinsip ijtihad, KHGT tidak hanya berpijak pada langit, tetapi juga pada akal sehat manusia. Ia menjembatani tradisi dan modernitas, teks dan konteks, syariah dan sains. KHGT adalah proyek peradaban, bukan sekadar agenda organisasi. Nurcholish Madjid juga menyoroti bagaimana kalender matahari yang diadopsi oleh dunia modern cenderung bersifat geografis dan eksklusif terhadap musim. Jika umat Islam mengikuti sistem itu, maka akan terjadi ketimpangan. Misalnya, umat Islam di belahan bumi selatan akan terus-menerus berpuasa di musim panas, sementara di utara di musim dingin. Standar waktu dalam menjllankan ibadah yang berbasiskan rembulan ini menghapus ketidakadilan itu. Maka dalam kerangka ini, KHGT menjadi simbol keadilan dan inklusivitas Islam sebagai agama universal. Peluncuran KHGT hari ini bukan hanya peristiwa seremonial, tetapi adalah momen sejarah. Ini adalah langkah monumental Muhammadiyah dalam mengambil tanggung jawab global demi menyatukan umat. KHGT menjadi salah satu pilar peradaban Islam yang menjunjung ilmu, keadilan, dan persatuan. KHGT bukan hanya simbol kemajuan, tetapi menjadi bukti bahwa Islam mampu menghadirkan solusi visioner untuk dunia yang sedang mencari arah dan makna. Allah mengingatkan dalam firmannya:  Dan demikian (pula) Kami jadikan kamu umat yang wasath (adil dan seimbang), agar kamu menjadi saksi atas (segala perilaku) manusia…”(QS. al-Baqarah: 143) Muhammadiyah Melalui KHGT, sedang menunjukkan saksi peradaban itu. Wallahu a’lam bish-shawab. Salam Yansur.  )*Penulis adalah Wakil Ketua PWM DIY. 

Loading

JANGAN BIARKAN RAMADHAN BERLALU TANPA PERUBAHAN DIRI YANG BERARTI

Materi Hari Ke 30 Disusun oleh : Musa Jundana, Lc Pendahuluan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan yang diberikan Allah sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri, meningkatkan ibadah, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Namun, jangan sampai Ramadhan berlalu begitu saja tanpa adanya perubahan yang berarti dalam diri kita. Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Perubahan Diri Allah SWT berfirman: إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11) Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari No. 38, Muslim No. 760) Mengapa Harus Ada Perubahan Diri setelah Ramadhan? Cara Memastikan Ramadhan Membawa Perubahan dalam Hidup Kesimpulan Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan perubahan berarti dalam diri kita. Jadikan bulan suci ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan menanamkan kebiasaan baik yang terus berlanjut sepanjang tahun. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan. Aamiin.

Loading

DIDIK ANAK DENGAN NILAI-NILAI ISLAM SEJAK DINI, AGAR HIDUP PENUH MAKNA DAN ARTI

Materi Hari Ke 29 Disusun oleh : Musa Jundana, Lc Pendahuluan Mendidik anak dengan nilai-nilai Islam sejak dini adalah kewajiban bagi setiap orang tua Muslim. Pendidikan yang baik akan membentuk karakter anak yang berakhlak mulia, mencintai agama, dan memiliki tujuan hidup yang penuh makna serta arti. Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Pendidikan Anak Allah SWT berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (QS. At-Tahrim: 6) Rasulullah ﷺ bersabda: مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ خَيْرًا مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ “Tidak ada pemberian terbaik dari seorang ayah kepada anaknya selain pendidikan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi No. 1952) Mengapa Harus Mendidik Anak dengan Nilai-Nilai Islam? Cara Mendidik Anak dengan Nilai-Nilai Islam Kesimpulan Mendidik anak dengan nilai-nilai Islam adalah investasi terbaik bagi masa depan mereka dan juga bagi orang tua di akhirat. Dengan pendidikan yang baik, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang beriman, bertakwa, dan bermanfaat bagi umat. Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk mendidik anak-anak kita dengan nilai-nilai Islam sejak dini. Aamiin.

Loading

JAUHI RIYA’, IKHLASKAN NIAT DALAM BERIBADAH UNTUK ALLAH SEMATA

Materi Hari Ke 28 Disusun oleh : Musa Jundana, Lc Pendahuluan Riya’ adalah salah satu penyakit hati yang dapat merusak amal ibadah seorang Muslim. Beribadah dengan tujuan mendapatkan pujian manusia akan menghilangkan keberkahan dan pahala dari Allah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mengikhlaskan niat dalam setiap ibadah yang kita lakukan agar diterima oleh Allah SWT. Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Bahaya Riya’ Allah SWT berfirman: فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ ٱلَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ٱلَّذِينَ هُمْ يُرَآءُونَ “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4-6) Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad No. 23630) Mengapa Harus Menjauhi Riya’? Cara Mengikhlaskan Niat dalam Beribadah Kesimpulan Riya’ adalah penyakit hati yang dapat merusak ibadah dan menjauhkan kita dari ridha Allah. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mengikhlaskan niat hanya untuk Allah semata. Dengan demikian, amal ibadah kita akan diterima dan membawa keberkahan di dunia serta pahala di akhirat. Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat riya’ dan menjadikan kita hamba yang ikhlas dalam setiap ibadah. Aamiin.

Loading

GUNAKAN HARTA UNTUK SEDEKAH, BUKAN UNTUK FOYA-FOYA, AGAR HIDUP SEMAKIN BERKAH

Materi Hari Ke 27 Disusun oleh : Musa Jundana, Lc Pendahuluan Harta adalah salah satu nikmat yang diberikan Allah kepada manusia sebagai amanah. Penggunaan harta yang baik akan membawa keberkahan dalam hidup, sementara pemborosan dan foya-foya hanya akan mendatangkan kerugian. Salah satu cara terbaik dalam memanfaatkan harta adalah dengan bersedekah, karena sedekah tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menjadi investasi pahala di akhirat. Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Sedekah Allah SWT berfirman: وَأَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ “Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sedikit waktu lagi, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?’” (QS. Al-Munafiqun: 10) Rasulullah ﷺ bersabda: الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi No. 614, Ahmad No. 17336) Allah SWT berfirman: إِنَّ ٱلْمُبَذِّرِينَ كَانُوا۟ إِخْوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ۖ وَكَانَ ٱلشَّيْطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورًۭا “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 27) Mengapa Harus Bersedekah dan Menjauhi Gaya Hidup Boros? Cara Memanfaatkan Harta dengan Baik Kesimpulan Menggunakan harta untuk sedekah adalah bentuk syukur kepada Allah SWT dan cara untuk meraih keberkahan hidup. Sebaliknya, hidup berfoya-foya dan boros hanya akan membawa kerugian. Dengan bersedekah, kita tidak hanya membantu sesama, tetapi juga menabung pahala untuk akhirat. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang dermawan dan jauh dari sifat boros. Aamiin.

Loading