Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan bagi orangtua dalam mendidik anak semakin besar. Anak-anak sekarang tumbuh di dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya, di mana perangkat digital dan internet hampir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam situasi ini, orangtua dihadapkan pada tugas berat : bagaimana mengasuh anak agar tetap memiliki karakter yang kuat, kemampuan menghadapi tekanan, serta ketangguhan dalam menghadapi perubahan yang datang begitu cepat. Parenting adalah hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, pola asuh orang tua di rumah, dan lebih menekankan kepada permasalahan orang tua dalam menghadapi anak sehingga dapat menumbuhkan perilaku keluarga ramah anak (Ganevi, 2013). Sebagai orangtua, kita bukan hanya mengajarkan anak bagaimana memanfaatkan teknologi, tetapi juga memberikan panduan tentang bagaimana teknologi harus digunakan secara bijak. Dunia maya penuh dengan informasi yang belum tentu sesuai dengan usia atau nilai-nilai yang kita anut. Oleh karena itu, kita harus terlibat aktif dalam mengawasi penggunaan perangkat digital oleh anak-anak, tanpa membuat mereka merasa dikekang. Ini bukan hanya tentang membatasi waktu layar, tetapi juga tentang mengenalkan mereka pada dunia maya yang penuh dengan peluang positif, seperti pembelajaran melalui kursus online, diskusi ilmiah, dan eksplorasi topik-topik yang sesuai dengan minat mereka. Dalam artikel yang ditulis oleh Wawan Setiawan bahwa anak tidak dapat dipisahkan dari barang-barang teknologi, maka sistem pendidikan yang tepat untuk diberikan kepada anak-anak yang hidup di era digital ini adalah sistem pendidikan “Immune Selfer Parenting Model”. Model pendidikan ini, sebagai orang tua menjadi pendamping bagi anak, ketika 22 anak bermain dengan teknologi, dengan tujuan agar anak tidak menjadi kecanduan terhadap barang-barang teknologi (Setiawan, 2017). Jika ditilik sekilas, hal ini juga ada benarnya, namun jika ditelaah lebih dalam, terlihat bahwa orang tua mempunyai kesibukan masing-masing untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, antara lain sandang, papan, dan pangan. Jadi rasanya mustahil, orang tua selalu mendampingi anaknya setiap saat. Selain itu, dalam penelitian Nasrun Faisal dengan judul artikel “Pola pengasuhan dalam mendidik anak di era digital” lebih menekankan pada interaksi kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis, seperti rasa aman, kasih sayang, dan sosialisasi. dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan terkait asumsi pendidikan anak di era digital, Faisal menekankan pada pola pengasuhan otoriter, dimana orang tua tidak perlu memaksakan kehendak, karena anak tidak suka dipaksa, namun sebagai orang tua harus mengontrol teknologi yang dimiliki anaknya. Kontrol ini sebagai orang tua memeriksa aplikasi apa saja yang ada pada smartphone yang dimiliki anak (Faisal, 2016). Menurut Hurlock, untuk mensiasati anak di era digital saat ini, hal yang paling berkesan adalah gaya pengasuhan. Sistem pengasuhan ini juga menampilkan teladan yang baik dari orang tua kepada anaknya (Tridonanto, 2014). Selain itu, orang tua yang hidup di era digital ini tidak hanya sekedar menguasai teknologi saat ini saja, namun memiliki pengetahuan tentang perkembangan anaknya (Hayyumas, 2008). Pengetahuan yang lebih itulah, yang perlu dimiliki oleh orangtua sehingga selama berjalannya usia anak, maka perkembangan anak ikut juga menampilkan tingkah laku yang berbeda-beda. Dalam Jurnal POLA ASUH ORANGTUA DI ERA TEKNOLOGI DIGITAL DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH 29 PADANG oleh Setyowati menyimpulkan bahwa bahwa pola asuh orang tua di era teknologi digital di TK Aisyiyah 29 Padang menggunakan pola asuh otoriter sebanyak 59%, dan persentase orang tua memilih demokrati sebanyak 15%, pada pola asuh permisif sebanyak 26%. Dan pada umumnya orang tua yang anaknya bersekolah di TK Aisyiyah 29 Padang ini menggunakan pola asuh orang tua Otoriter sebanyak 59%. Selain mengatur penggunaan teknologi, tugas besar lainnya adalah membentuk karakter anak di tengah tekanan dunia digital. Dalam era media sosial, anak-anak seringkali terpapar pada standar kecantikan, popularitas, atau prestasi yang seringkali tidak realistis. Hal ini bisa memengaruhi rasa percaya diri mereka, bahkan menyebabkan stres atau kecemasan. Sebagai orangtua, kita perlu mengajarkan anak untuk memiliki ketangguhan emosional. Mereka harus tahu bagaimana membedakan antara dunia nyata dan dunia maya, serta bagaimana menghadapi tantangan, seperti perundungan online atau komentar negatif, dengan kepala tegak. Kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa harga diri sejati datang dari dalam diri, bukan dari jumlah “likes” atau komentar yang mereka terima di media sosial. Selain itu, dalam dunia digital yang serba cepat ini, kita perlu mengajarkan anak untuk tetap fokus pada pengembangan diri. Dunia maya memang menawarkan hiburan yang tak terbatas, namun anak-anak perlu diajarkan untuk menemukan keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab mereka, dalam hal belajar terutama belajar tentang agama. Teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi alat yang sangat berharga untuk mendukung pendidikan mereka. Dengan memberikan akses pada platform belajar, e-book, atau tutorial online, kita memberi mereka kesempatan untuk memperluas wawasan dan keterampilan mereka. Namun, kita juga harus membantu mereka untuk tidak terjebak dalam ketergantungan pada teknologi yang bisa mengganggu konsentrasi atau kesehatan mental mereka. Menurut Ibu Dr. Widiastuti S.Ag MM, Ketua PP Aisyiyah. Di era digital yang semakin berkembang pesat, tantangan dalam mengasuh anak menjadi semakin kompleks. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi oleh teknologi, informasi, dan interaksi virtual. Meskipun dunia digital menawarkan banyak keuntungan, seperti akses informasi yang cepat dan komunikasi global, ada pula risiko dan tantangan yang harus dihadapi. Dalam konteks ini, orang tua memiliki peran penting dalam membangun karakter dan ketangguhan anak agar dapat beradaptasi dengan baik. Karakter yang baik menjadi fondasi penting bagi anak untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia digital. Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan nilai-nilai moral yang kuat dalam diri anak. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab, jujur, dan memiliki empati adalah langkah awal dalam membentuk karakter yang kokoh. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: *”Dan Kami telah memangil Tuhanku, agar Engkau tidak besuk kepada Nya, dan harus bersyukur kepada orang tuanya.” (Luqman: 14)*. Ayat ini menunjukkan pentingnya pengajaran dan bimbingan orang tua dalam membentuk karakter anak. Selain itu, dalam banyak ayat, Allah menekankan pentingnya akhlak dan perilaku baik sebagai bagian dari karakter yang harus ditanamkan. Ketangguhan adalah kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, menghadapi kesulitan, dan tetap optimis dalam menjalani kehidupan. Dalam dunia yang penuh dengan informasi dan perubahan yang cepat, anak-anak perlu belajar bagaimana beradaptasi dan menghadapi tekanan. Salah satu cara untuk menanamkan ketangguhan adalah dengan mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan dengan sikap positif. Aktivitas seperti olahraga, seni, atau proyek kelompok dapat membantu anak belajar tentang kerja sama, disiplin, dan ketekunan. Rasulullah …
![]()