Mengasuh Anak di Era Digital : Membangun Karakter dan Ketangguhan di Tengah Perubahan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, tantangan bagi orangtua dalam mendidik anak semakin besar. Anak-anak sekarang tumbuh di dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya, di mana perangkat digital dan internet hampir menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam situasi ini, orangtua dihadapkan pada tugas berat : bagaimana mengasuh anak agar tetap memiliki karakter yang kuat, kemampuan menghadapi tekanan, serta ketangguhan dalam menghadapi perubahan yang datang begitu cepat. Parenting adalah hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, pola asuh orang tua di rumah, dan lebih menekankan kepada permasalahan orang tua dalam menghadapi  anak  sehingga  dapat  menumbuhkan  perilaku  keluarga  ramah  anak (Ganevi, 2013). Sebagai orangtua, kita bukan hanya mengajarkan anak bagaimana memanfaatkan teknologi, tetapi juga memberikan panduan tentang bagaimana teknologi harus digunakan secara bijak. Dunia maya penuh dengan informasi yang belum tentu sesuai dengan usia atau nilai-nilai yang kita anut. Oleh karena itu, kita harus terlibat aktif dalam mengawasi penggunaan perangkat digital oleh anak-anak, tanpa membuat mereka merasa dikekang. Ini bukan hanya tentang membatasi waktu layar, tetapi juga tentang mengenalkan mereka pada dunia maya yang penuh dengan peluang positif, seperti pembelajaran melalui kursus online, diskusi ilmiah, dan eksplorasi topik-topik yang sesuai dengan minat mereka. Dalam artikel yang ditulis oleh Wawan Setiawan bahwa anak tidak dapat dipisahkan dari barang-barang  teknologi,  maka  sistem  pendidikan  yang  tepat  untuk  diberikan  kepada  anak-anak yang hidup di era digital ini adalah sistem pendidikan “Immune Selfer Parenting Model”. Model  pendidikan  ini,  sebagai  orang  tua  menjadi  pendamping  bagi  anak, ketika 22 anak bermain  dengan  teknologi,  dengan  tujuan  agar  anak  tidak  menjadi  kecanduan  terhadap barang-barang teknologi (Setiawan, 2017). Jika ditilik sekilas, hal ini juga ada benarnya, namun jika  ditelaah  lebih  dalam,  terlihat  bahwa  orang  tua  mempunyai  kesibukan  masing-masing untuk  memenuhi  kebutuhan  keluarganya,  antara  lain  sandang,  papan,  dan  pangan.  Jadi rasanya mustahil, orang tua selalu mendampingi anaknya setiap saat. Selain itu, dalam penelitian Nasrun Faisal dengan judul artikel “Pola pengasuhan dalam mendidik anak di era digital” lebih menekankan pada interaksi kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis,  seperti  rasa  aman,  kasih  sayang,  dan  sosialisasi.  dalam  kehidupan  masyarakat. Sedangkan  terkait  asumsi  pendidikan  anak  di  era  digital,  Faisal  menekankan  pada  pola pengasuhan otoriter, dimana orang tua tidak perlu memaksakan kehendak, karena anak tidak suka  dipaksa,  namun  sebagai  orang  tua  harus  mengontrol  teknologi  yang  dimiliki  anaknya. Kontrol  ini  sebagai  orang  tua  memeriksa  aplikasi  apa  saja  yang  ada  pada  smartphone  yang dimiliki anak (Faisal, 2016). Menurut Hurlock, untuk mensiasati anak di era digital saat ini, hal yang paling berkesan adalah  gaya  pengasuhan.  Sistem  pengasuhan  ini  juga  menampilkan  teladan  yang  baik  dari orang tua kepada anaknya (Tridonanto, 2014). Selain itu, orang tua yang hidup di era digital ini tidak hanya sekedar menguasai teknologi saat ini saja, namun memiliki pengetahuan tentang perkembangan anaknya (Hayyumas, 2008). Pengetahuan yang lebih itulah, yang perlu dimiliki oleh  orangtua  sehingga  selama  berjalannya  usia  anak,  maka  perkembangan  anak  ikut  juga menampilkan tingkah laku yang berbeda-beda. Dalam Jurnal POLA ASUH ORANGTUA DI ERA TEKNOLOGI DIGITAL DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH 29 PADANG oleh Setyowati menyimpulkan bahwa bahwa pola asuh orang tua di era teknologi digital di TK Aisyiyah 29 Padang menggunakan pola asuh otoriter sebanyak 59%, dan persentase orang tua memilih demokrati sebanyak 15%, pada pola asuh permisif sebanyak 26%. Dan pada umumnya orang tua yang anaknya bersekolah di TK Aisyiyah 29 Padang ini menggunakan pola asuh orang tua Otoriter sebanyak 59%. Selain mengatur penggunaan teknologi, tugas besar lainnya adalah membentuk karakter anak di tengah tekanan dunia digital. Dalam era media sosial, anak-anak seringkali terpapar pada standar kecantikan, popularitas, atau prestasi yang seringkali tidak realistis. Hal ini bisa memengaruhi rasa percaya diri mereka, bahkan menyebabkan stres atau kecemasan. Sebagai orangtua, kita perlu mengajarkan anak untuk memiliki ketangguhan emosional. Mereka harus tahu bagaimana membedakan antara dunia nyata dan dunia maya, serta bagaimana menghadapi tantangan, seperti perundungan online atau komentar negatif, dengan kepala tegak. Kita harus menunjukkan kepada mereka bahwa harga diri sejati datang dari dalam diri, bukan dari jumlah “likes” atau komentar yang mereka terima di media sosial. Selain itu, dalam dunia digital yang serba cepat ini, kita perlu mengajarkan anak untuk tetap fokus pada pengembangan diri. Dunia maya memang menawarkan hiburan yang tak terbatas, namun anak-anak perlu diajarkan untuk menemukan keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab mereka, dalam hal belajar terutama belajar tentang agama. Teknologi, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi alat yang sangat berharga untuk mendukung pendidikan mereka. Dengan memberikan akses pada platform belajar, e-book, atau tutorial online, kita memberi mereka kesempatan untuk memperluas wawasan dan keterampilan mereka. Namun, kita juga harus membantu mereka untuk tidak terjebak dalam ketergantungan pada teknologi yang bisa mengganggu konsentrasi atau kesehatan mental mereka. Menurut Ibu Dr. Widiastuti S.Ag MM, Ketua PP Aisyiyah. Di era digital yang semakin berkembang pesat, tantangan dalam mengasuh anak menjadi semakin kompleks. Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang dipenuhi oleh teknologi, informasi, dan interaksi virtual. Meskipun dunia digital menawarkan banyak keuntungan, seperti akses informasi yang cepat dan komunikasi global, ada pula risiko dan tantangan yang harus dihadapi. Dalam konteks ini, orang tua memiliki peran penting dalam membangun karakter dan ketangguhan anak agar dapat beradaptasi dengan baik. Karakter yang baik menjadi fondasi penting bagi anak untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia digital. Sebagai orang tua, kita perlu menanamkan nilai-nilai moral yang kuat dalam diri anak. Mengajarkan anak untuk bertanggung jawab, jujur, dan memiliki empati adalah langkah awal dalam membentuk karakter yang kokoh. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: *”Dan Kami telah memangil Tuhanku, agar Engkau tidak besuk kepada Nya, dan harus bersyukur kepada orang tuanya.” (Luqman: 14)*. Ayat ini menunjukkan pentingnya pengajaran dan bimbingan orang tua dalam membentuk karakter anak. Selain itu, dalam banyak ayat, Allah menekankan pentingnya akhlak dan perilaku baik sebagai bagian dari karakter yang harus ditanamkan. Ketangguhan adalah kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, menghadapi kesulitan, dan tetap optimis dalam menjalani kehidupan. Dalam dunia yang penuh dengan informasi dan perubahan yang cepat, anak-anak perlu belajar bagaimana beradaptasi dan menghadapi tekanan. Salah satu cara untuk menanamkan ketangguhan adalah dengan mengajarkan anak untuk menghadapi tantangan dengan sikap positif. Aktivitas seperti olahraga, seni, atau proyek kelompok dapat membantu anak belajar tentang kerja sama, disiplin, dan ketekunan. Rasulullah …

Loading

Peran Ibu Dalam Pengasuhan Remaja Di Eura digital

Kemajuan teknologi memberikan berbagai kemudahan dalam kehidupan sehari-hari, namun bagi ibu, hal ini menjadi tantangan baru dalam pengasuhan. Bagaimana memastikan remaja tetap bijak menggunakan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai moral di tengah arus digital yang terus berkembang? Peran ibu dalam pengasuhan remaja menjadi semakin kompleks di era digital ini. Di satu sisi teknologi memberikan peluang besar untuk mendukung pendidikan dan kreativitas anak. Diantaranya remaja dapat mengakses berbagai informasi, hiburan dan media sosial dengan lebih mudah. Mempermudah mereka untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi pendidikan, serta terhubung dengan teman sebaya dimanapun. Namun, disisi lain, penggunaan teknologi yang tidak terkendali dapat membawa dampak yang negatif, mulai dari kecanduan media sosial hingga paparan konten yang tidak sesuai. Oleh karena itu, ibu memiliki tanggung jawab penting untuk menjadi pembimbing, pendamping, dan teladan bagi remaja dalam menghadapi tantangan dunia digital. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, pola asuh anak dan remaja di era digital berfokus pada pendampingan dan bimbingan kepada anak dalam memanfaatkan gadget, diantaranya yaitu :  Dalam perspektif Islam peran seorang ibu dianggap sebagai madrasah utama dalam membangun peradaban Islam, yang dibangun berdasarkan al-Qur’an dan sunnah. Bebarapa peran strategis ibu yaitu pendidik dalam keluarga, peletak dasar pendidikan Masyarakat dan pendukung Pembangunan pendidikan., Bahkan Islam menegaskan bahwa kepengasuhan dan pendidikan kedua orang tua-lah yang menentukan nasib akhir anaknya akan beragama seperti yang dibelajarkan oleh orang tua, hususnya peran Ibu. Hadits Rasulullah SAW : كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ (رواه البخاري ومسلم) “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, sesungguhnyalah kedua orang tuanya yang menjadikan mereka yahudi, Nasrani ataupun majusi (HR. Bukhari dan Muslim) وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا.. الحديث (رواه البخاري)             “Dan seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” (HR Al Bukhari )(1) Demikianlah Islam memposisikan peran Ibu yang sangat penting bagi tumbuh kembang dan pendidikan anak, tidak hanya sebatas kognitif tetapi afektif bahkan psicomotor mereka, namun demikian kadangkala peran itu menjadi kurang optimal dengan hilangnya waktu yang berkualitas bersama anak, dimana karena kesibukan dalam pekerjaan dan profesi tertentu ataupun anak yang sibuk dengan gadgetnya, membuat tugas utama dalam pendidikan keluarga menjadi ter-abaikan ataupun tidak terlaksana dengan maksimal. Perhatian terhadap pendidikan anak, komunikasi  dengan mereka dengan baik agar tujuan kepengasuhan secara umum tercapai banyak dibahas ahli psikologi seperti Bowlby, Khairudin Bashori dll bahwa Kelekatan yang baik dengan orang tua akan  membuat anak memiliki rasa percaya dan menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua, dan sebaliknya kelekatan yang kurang baik akan membuat anak merasa marah atau diabaikan sehingga kepercayaan akan berkurang, bahkan kelekatan yang baik akan meminimalisir tindakan criminal, kekerasan atau perilaku negative.(2)  Lalu apa yang harus dilakukan agar peran ibu dalam tugasnya dapat berjalan dengan baik ? Pertama, Bagi anak-anak ibu adalah sumber keteladanan pertama  dan utama dalam hidup mereka, dia dinanti disetiap saat, jika keberadaanya terbatas membuat anak merasa kehilangan figure otoritas yang penuh  kasih sayang. Kedua, “pemandu” dan “pengawas” meskipun anak tinggal di pesantren yang secara ideal memberikan pendidikan agama yang kuat, namun pengaruh dunia digital yang begitu besar bisa saja mengikis pemahaman dan nilai -nilai yang telah ditanamkan di pesantren. Peran ibu sebagai pengarah memberikan pengetahuan tentang batasan-batasan dunia maya sangat dibutuhkan. Jika ibu tidak terlibat aktif dalam mengawasi penggunaan teknologi oleh anak atau tidak mengajarkan cara berpikir kritis terhadap media, maka pengaruh negative dari dunia luar dapat masuk tanpa control.(3) Ketiga, Tugas Relasi bahwa peran ibu yang tidak dapat diabaikan adalah kemampuan menjadi relasi anak agar merasa aman dan nyaman berkomunikasi sehingga menimbulkan perilaku positif dan meminimalisir perilaku negative. Keempat, Peran Fasilitator, tentunya memfasilitasi segala kebutuhkan anak bukan keinginan anak, karena apabila memfasilitasi keinginan anak (gadget) tanpa ada kemampuan untuk mengawasi dan mengontrolnya dengan baik  akan menimbulkan boomerang bagi pendidikan anak. Disinilah peran utama seorang ibu, tentu masih banyak tugas yang lain pada umumnya, Diantaranya menanamkan nilai-nilai keislaman, mengajarkan empati dan kasih sayang, membimbing dalam menghadapi tantangan hidup, menguatkan pendidikan akhlak melalui cerita dan kisah inspiratif, membiasakan anak dengan kebiasaan baik, mendorong kemandirian dan tanggung jawab, mendoakan anak. Chotimatul Bariroh, UNISA RPL Program

Loading

Keluarga Bahagia Tanpa Kekerasan, Visi Aisyiyah Dan Muhammadiyah

Listiyaning Wulan (Mahasiswa RPL Keperawatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta) “ Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenis kamu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan di jadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang” (QS Ar-Rum:21). Allah menjadikan kita untuk berpasang-pasangan (berkeluarga) supaya tentram dan bahagia. Prinsip kebahagian Rumah Tangga adalah adanya kasih sayang, kesabaran, kesetaraan, kerjasama dan rasa bersyukur.(Alisah, 2019), tetapi kebahagian dalam keluarga sering dirusak, karena salah satu dari anggota keluarga tidak menjalankan salah satu atau beberapa dari prinsip kabahagaian dalam berumah tangga. Salah satunya adalah dengan kekerasan. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan masalah serius yang tidak hanya merusak,  mangancam keutuhan dan keharmonisan keluarga, tetapi juga melanggar nilai-nilai agama Islam. Aisyiyah dan Muhammadiyah sebagai organisai Islam mendefinisikan KDRT sebagai tindakan kekerasan fisik, psikologi, seksual dan ekonomi yang dilakukan oleh anggota keluarga terhadap anggota keluarga lainya. KDRT sebagai pelanggaran terhadap nilai-nilai keadilan, kesetaraan, dan kasih sayang yang diajarkan Islam(Zulkifli, n.d.), Aisyiyah dan Muhammadiyah memiliki tanggung jawab dan peran penting dalam mengentaskan KDRT. Data kasus kekerasan di Indonesia sumber Komnas Perempuan tercatat 289.111 tahun 2023, tidak menutup kemungkinan ada kasus yang tidak terlaporkan di komnas perempuan karena alasan tertentu (Komnas2023). Di sebutkan dalam Al-Quran “Tidak halal bagi kamu mewarisi perempuan dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, kecuali apabila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka menurut yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan yang banyak padanya” (QS AN NISA :19) dan QS An-Nur: 30, menekankan pentingnya menghormati dan melindungi hak-hak perempuan dan anak-anak(Rofiah, 2017). Ayat-ayat ini juga menegaskan bahwa KDRT tidak dapat dibenarkan dan harus diatasi dengan cara yang adil dan bijaksana. Sesuai dalam Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Faktor yang dapat menyebabkan KDRT menurut perspektif Islam adalah: Kebijakan yang di ambil oleh Aisyiyah dan Muhammadiayah diantaranya adalah Aisyiyah: Muhammadiyah:      Kebijakan pencegahan KDRT dalam perspektif Aisyiyah dan Muhammadiyah menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan, pendidikan agama, dan kerjasama dengan pemerintah. Dengan kerjasama, kita dapat mencegah KDRT dan membangun keluarga bahagia yang harmonis dan sejahtera(Alisah, 2019).

Loading

Strategi di Balik Lezatnya Bisnis Hewan Kurban

Turi, Pdmsleman.Or.Id Oleh: H. Akhmad Khairudin, S.S., M.B.A. (Majelis Ekonomi PCM Turi) Idul Kurban atau Hari Raya Kurban merupakan salah satu hari raya besar dalam Islam yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 10 Dzulhijjah dalam kalender Islam. Hari raya ini ditandai dengan pemotongan hewan kurban yang dilakukan oleh umat Muslim yang mampu. Dengan adanya momentum tersebut, terdapat fluktuasi yang signifikan antara permintaan hewan kurban dan ketersediaan hewan kurban mendekati hari raya tersebut. Secara makro, equilibrium pada mekanisme pasar hewan kurban dapat tercapai apabila jumlah ketersediaan hewan kurban sebanding dengan jumlah permintaan pada kondisi harga tertentu. Pada tahun 2022, terjadi kelangkaan ketersediaan sapi di Surabaya karena ancaman wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Kelangkaan ini bukan hanya disebabkan oleh banyaknya hewan ternak yang mati akibat wabah tersebut, tetapi juga karena ketatnya distribusi akibat isu PMK. Akibatnya, penjualan sapi di Kota Surabaya mengalami penurunan omzet mencapai 50% dan kenaikan harga sapi di daerah sekitar. Fenomena ini menjadi tantangan bagi peternak, penjual hewan, atau penyedia untuk menyeimbangkan ketersediaan menjelang Idul Adha. Pada tahun 2023, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian, terdapat ketersediaan hewan kurban mencapai 2,7 juta ekor. Ketersediaan hewan kurban menjelang Idul Adha dapat dihitung melalui penghitungan jumlah hewan yang tersedia di pasar dan peternakan, proyeksi kebutuhan hewan kurban, dan ketersediaan berdasarkan jenis hewan. Melihat fenomena di atas dengan memperhatikan nilai permintaan (demand) dan ketersediaan (supply), bisnis sapi dan hewan kurban lainnya tampak sangat menggiurkan karena terjadi lonjakan permintaan pada musim kurban. Apakah hal tersebut cukup valid untuk terus bertahan bagi para peternak, blantik, atau penjual sapi untuk berkecimpung dalam bisnis tersebut, atau banyak peternak unggas yang akan beralih ke peternakan hewan kurban? Perlu strategi yang tepat untuk dapat berbisnis secara berkelanjutan. Analisis Struktur Industri Bisnis Hewan Kurban di Indonesia Menurut teori Porterian, yaitu Porter’s Five Forces atau Lima Pilar Porter, kerangka kerja ini digunakan untuk menganalisis tingkat persaingan dalam suatu industri dan membantu memahami struktur pasar. Berikut ini adalah implementasi Teori Porter dalam menganalisis struktur pasar sapi dan hewan kurban di Indonesia: 1. Kekuatan Persaingan Antar Perusahaan (Rivalry Among Existing Competitors) Pasar hewan kurban, khususnya sapi di Indonesia, terdiri dari banyak peternak kecil hingga perusahaan besar yang menyediakan hewan kurban. Tingkat persaingan di pasar ini cukup tinggi, terutama menjelang Idul Kurban, di mana permintaan melonjak tajam. Harga dan kualitas hewan kurban menjadi faktor utama persaingan. Peternak dan penjual yang mampu menyediakan hewan dengan kualitas baik dan harga kompetitif cenderung lebih unggul dibandingkan yang hanya asal menyediakan hewan dan mematok harga di atas pasar. Agar lebih unggul, peternak dan penjual harus memahami harga sapi saat menjelang Idul Kurban, memberikan layanan tambahan seperti jasa antar, atau menyediakan jasa penyembelihan dan distribusi hewan kurban. 2. Ancaman Pendatang Baru (Threat of New Entrants) Masuknya pendatang baru ke pasar sapi dan hewan kurban relatif mudah karena tidak memerlukan modal besar untuk memulai peternakan kecil. Namun, beberapa faktor seperti skala ekonomi, reputasi, dan jaringan distribusi yang dimiliki oleh pemain lama bisa menjadi hambatan (barrier) bagi pendatang baru. Selain itu, regulasi pemerintah terkait kesehatan dan kesejahteraan hewan juga menjadi tantangan tersendiri. Pendatang baru biasanya terlalu emosional dalam penyediaan hewan kurban tanpa memahami regulasi dan mekanisme operasional di sekitarnya. Aspek teknis, strategi pemasaran, dan kekuatan finansial juga harus terukur agar dapat bersaing dengan aktor yang sudah lama bermain di dunia perdagangan ini. Seringkali peternak kalah taktik dengan blantik/penjual sapi karena tidak memahami penjualan dan buta terhadap kalkulasi finansial dan operasional. 3. Ancaman Produk atau Jasa Pengganti (Threat of Substitute Products or Services) Ancaman dari produk pengganti (substitution) di pasar sapi dan hewan kurban relatif rendah karena hewan kurban memiliki nilai religius dan simbolis yang tidak dapat digantikan oleh produk lain. Namun, variasi jenis hewan kurban (kerbau, kambing, domba) dapat menjadi pilihan substitusi bagi konsumen, tergantung pada harga dan preferensi budaya. Di Kudus, Jawa Tengah misalnya, kerbau, kambing, dan domba lebih dominan daripada sapi. Artinya, tidak ada pengganti hewan kurban yang signifikan di pasaran sehingga tidak mengakibatkan sapi tergantikan dan berpengaruh langsung terhadap harga sapi. 4. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok (Bargaining Power of Suppliers) Pemasok utama di pasar ini adalah peternak yang menyediakan hewan kurban. Kekuatan tawar menawar pemasok tergantung pada jumlah peternak di suatu wilayah dan kemampuan mereka untuk mempengaruhi harga. Di daerah dengan banyak peternak, kekuatan tawar menawar pemasok cenderung rendah karena persaingan yang tinggi. Sebaliknya, di daerah dengan sedikit peternak, kekuatan tawar menawar bisa lebih tinggi. Di sinilah perusahaan transporter atau cargo dan pedagang sapi mendapat keuntungan dengan bermain di daerah yang memiliki ketersediaan rendah namun permintaan tinggi. Seperti di Kalimantan, misalnya, banyak hewan didatangkan dari Sulawesi guna memenuhi permintaan dan banyaknya orang yang mampu menunaikan kurban di daerah tersebut. 5. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli (Bargaining Power of Buyers) Pembeli dalam pasar sapi dan hewan kurban terdiri dari individu, kelompok masyarakat, dan organisasi ketakmiran masjid. Kekuatan tawar menawar pembeli meningkat menjelang Idul Kurban karena banyaknya pilihan hewan kurban yang tersedia. Pembeli cenderung memilih hewan berdasarkan kualitas, harga, dan layanan tambahan seperti pengiriman dan penyembelihan. Pembeli yang membeli dalam jumlah besar, seperti masjid atau lembaga amal, memiliki kekuatan tawar menawar yang lebih besar dibandingkan pembeli individu. Seharusnya dengan adanya segmentasi konsumen tersebut, penjual harus lebih sensitif terhadap pembeli. Menjual dengan institusi atau organisasi yang notabene melakukan pembelian secara kolektif akan berpengaruh terhadap kenaikan omzet daripada pembeli individu. Pebisnis harus memahami bagaimana memberikan pelayanan lebih dengan mengorientasikan kepada kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Dengan begitu, kekuatan besar yang dimiliki para pembeli untuk memilih dagangan dan penyedia tidak akan mudah beralih ke lain hati. Implementasi dalam Analisis Struktur Pasar Sapi dan Hewan Kurban di Indonesia Pengimplementasian Teori Porter dalam analisis pasar sapi dan hewan kurban di Indonesia, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh yaitu: Mengumpulkan data mengenai jumlah peternak, volume penjualan, harga hewan kurban, dan tren permintaan selama beberapa tahun terakhir. Dengan begitu, tidak hanya data permintaan dan supply yang dapat diketahui, tetapi juga dapat melakukan estimasi berdasarkan referensi demografi pula. Mengidentifikasi pemain utama di pasar, strategi yang digunakan, dan tingkat persaingan. Sebagaimana berlayar di lautan bisnis, ukuran kapal kita dan ukuran serta jumlah kapal lainnya harus terukur. Dengan kapal yang …

Loading

Pemimpin dalam Islam

Nur Rohman سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْكِتٰبَ وَجَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ اَلَّا تَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِيْ وَكِيْلًاۗ Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari tak pernah ditahan untuk seorang manusia pun, selain untuk Yusya’ di hari ketika ia hendak menaklukan Baitul Maqdis”. [H.r. Ahmad]. Setalah kita pelajari, Yusa’ merupakan murid dari nabi Musa As. Namanya adalah Yusya’ bin Nun bin Ifrosun bin Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim As. Ia melanjutkan perjuangan Nabi Musa dan Nabi Harun As dalam pembebasan Baitul Maqdis dari kelompok dzalim. Waktu itu, peperangan tidak bisa terelakkan, dan peperangan pun terjadi. Tepatnya hari jum’at, kita tahu bahwa Yusa’ bin Nun dan pengikutnya berasal dari Bani Israil, maka sesuai syariat yang diturnkan melalui Nabi Musa As, Bani Isral diperintahkan untuk berhenti beraktivas pada hari sabat (Sabtu). Karena peperangan yang tidak kunjung berakhir, maka dipastikan bahwa pasukan Yusya’ bin Nun akan kalah. Hingga waktu Ahsar pun tiba, lalu Yusya’ bin Nun berkata kepada Matahari. ‘Hai matahari, engkau tengah menjalankan tugasmu dan aku pun sedang menjalankan tugas dari Allah. Maka, wahai Tuhanku, hentikanlah matahari!’ Dan matahari pun berhenti sejenak hingga Allah mengaruniakan kemenangan kepadanya.” [H.r. Muslim] Terdapat beberapa hal yang perlu kita ketahui dari pembentukan pasukan Yusya’ bin Nun dalam pembebasan Baitul Maqdis. Di sana terdapat tiga syarat utama untuk menjadi pasukan Yusya’ bin Nun. Ini kita ambilkan dari H. r. Muslim: Salah satu dari nabi telah melakukan perang suci. Ia berkata kepada kaumnya: “ Barangsiapa yang telah menikahi seorang perempuan dan berkehendak untuk bercampur dengannya namun belum terlaksana; lalu mereka yang sedang membangun rumah namun belum menegakkan atap rumahnya; juga mereka yang telah membeli kambing-kambing dan unta-unta yang hamil dan menunggu kelahirannya, mereka itu tidak akan ikut (untuk berperang) bersamaku.” [H.r. Muslim] Dapat kita petik pelajaran dari keempat hadits dan kitab Ibnu Kathir serta kitab as-Sa’di, bahwa untuk mendapatkkan sesuatu yang besar hati kita tidak boleh tertawan pada kecintaan hidup di dunia. Hal ini juga terbukti dari banyak sejarah, salah satunya adalah pembebasan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih. Rasulullah SAW bersabda: “Konstaninopel itu pasti dibebaskan, sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” [H.r. Bukhari] Konstantinopel itu merupakan kota yang luar biasa. Kota ini di ujung pulau dikelilingi tiga sisi lautan; selat Bosphorus, laut Marmara, dan selat Tanduk. Daratannya, dikelilingi oleh dinding yang tingginya 30 meter, lebarnya 9 meter, dan dilindungi parit sepanjang 7 meter. Begitu luar biasanya Konstaninopel ini, hingga Napoleon Bonaparte -seorang pemimpin militer dan kaisar Prancis- pernah mengatakan; “Andaikata dunia ini merupakan suatu negara, maka Konstaninopel inilah yang layak menjadi ibukotanya. Banyak pemimpin yang mendengar hadits Rasulullah di awal, maka banyak pemimpin yang tergoda untuk membebaskan Konstantinopel dan membawa Islam masuk ke Konstaninopel. Tercatat dalam sejarah, Sulaiman bin Abdul Malik gagal, Abu Ayub al-Anshari gagal, Harun al-Rasyid gagal, Sultan Yazid I gagal, dan Sultan Murad II gagal. Lalu lahirlah seorang anak, namanya Muhammad. Dia mengazamkan dalam hatinya, bahwa dia ingin membebaskan Konstaninopel. Dia kumpulkan 40.000 anak untuk dilatih ilmu fisik, agama, dan perang dalam upaya penaklukan konstantinopel. Untuk meruntuhkan dinding Konstantinopel, dia menciptakan sebuah senjata yang mampu melemparkan sebuah peluru yang beratnya 700 kg. 21 tahun dia menjadi pemimpin negara Islam waktu itu. Ketika dia menjadi khalifah, tahun 1453, Muhammad al-Fatih membawa 250.000an pasukan dan 400 kapal perang di usianya yang masih 21 tahun untuk membebaskan Konstantinopel. Dari sebelah Barat, Selatan, Utara pasukan Muhammad al-Fatih harus melawan pasukan darat dan laut Konstantinopel. 14 hari perang tidak ada tanda-tanda kemenangan, kemudian sebagian dari pasukannya berkata: “Sudahlah Muhammad al-Fatih, kita menyerah saja, kita pulang saja, dan kita serang di lain waktu”. Namun apakah Muhammad al-fatih menyerah? Tidak. Jadi, kunci pertahanan Konstantinopel itu karena lautannya dikelilingi oleh rantai, sehingga kapal-kapal Muhammad al-Fatih tidak bisa melewatinya. Apa yang dilakukan oleh pemuda usia 21 tahun ini? Muhammad al-Fatih memerintahkan pasukannya untuk memindahkan 70 kapal perang dari selat Borphorus menuju selat Tanduk melalui gunung Galatai yang panjangnya 3 mil. Jadi bayangkan! 70 kapal perang ditarik dengan tenaga manusia, menaiki sebuah gunung dalam waktu satu malam, hingga Umar Ostuna dalam kitabnya Ustmani Tarikhi mengatakan: “Kalian tidak pernah melihat, dan tidak pernah mendengar sesuatu yang luar biasa seperti ini. Muhammad al-Fatih telah membuat bumi menjadi lautan, dan dia telah menyeberangkan kapal-kapalnya di puncak gunung sebagai pengganti gelombang lautan. Sungguh, kehebatannya jauh melebihi apa yang dilakukan Alexander Agung. 29 Mei 1453, akhirnya takbir pun membahana dilangit Konstantinopel. Kesokan harinya, Muhammad al-Fatih mengumpulkan pasukannya untuk persiapan sholat Jum’at. Salah satu sholat Jum’at yang panjang panjang dalam sejarah, 6 KM. Dia ingin memilih pasukan terbaik untuk menjadi imam sholat. Dia meminta seluruh pasukannya untuk berdiri, kemudian bertanya; “wahai pasukanku, siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan sholat wajib semenjak akil baligh silahkan duduk.” Tidak satu pun pasukannya duduk. Pertanyaan kedua; ”wahai pasukanku siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan sholat rawatib semenjak akil baligh silahkan duduk.” Sebagian pasukannya mulai duduk. Dan pertanyaan terakhir: ”wahai pasukanku siapa di antara kalian yang pernah meninggalkan sholat malam semenjak akil baligh silahkan duduk.” Seluruh pasukan duduk, kecuali Muhammad al-Fatih. Tidak sulit bagi Allah untuk memenangkan pemimpin sebelumnya, tapi mengapa Allah memilih Muhammad al-Fatih? Mungkin Allah ingin menunjukan kepada kita, dulu pernah hidup seorang pemuda, yang dia menjaga kedekatannya dengan Allah. Dan dia membuktikan Q.S Muhammad ayat 7. يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ Semoga pelajaran dari dua sosok di atas menjadikan kita semakin dekat dengan Allah SWT dan memberikan gambaran bagaimana seharusnya kita membekali generasi kita dan juga generasi selanjutnya. Penulis Nur Rohman, Guru produktif SMKMUH2Turi Peserta DIklat Jurnalistik MPI 2024

Loading

Jangan Salah Pilih Pemimpin

Sleman, Pdmsleman.Or.Id M. Wildan Wahied, SHI Islam sangat memandang penting masalah kepemimpinan. Pentingnya kepemimpinan itu ditunjukkan lewat peristiwa pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di Saqifah Bani Saidah, sesaat setelah wafatnya Rasulullah. Saat jasad Nabi belum lagi dimakamkan, para sahabat lebih mendahulukan memilih khalifah pengganti Nabi daripada menyelenggarakan jenazah beliau yang agung dan mulia. Kepemimpinan merupakan hal mutlak yang harus ada, meskipun hanya di tengah sebuah kelompok kecil. Hal ini terlihat dari sabda Rasulullah SAW: إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمَّرُوْا أَحَدَهُمْ “Apabila tiga orang keluar dalam sebuah safar, hendaknya mereka mengangkat salah seorang di antaranya sebagai pemimpin.” (HR. Abu Dawud dari Abi Said al-Khudhri). Jika dalam kelompok kaum Muslimin yang sangat sedikit pun perlu ada orang yang ditunjuk sebagai pemimpin, terlebih dalam kelompok yang jauh lebih besar, seperti sebuah bangsa misalnya. Awas, Pemimpin Yang Menyesatkan Meski keberadaan pemimpin itu mutlak diperlukan, namun Nabi mewanti-wanti umatnya untuk tidak sembarangan mengangkat pemimpin. Salah satu yang dikhawatirkan Nabi atas umatnya adalah salah dalam mengangkat pemimpin. Hal ini terlihat dari hadits riwayat Tsauban RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: إِنَّ مِمَّا أَتَخَوَّفُ عَلَى أُمَّتِي أَئِمَّةً مُضِلِّينَ “Sesungguhnya, yang paling aku khawatirkan atas dirimu ialah para pemimpin yang menyesatkan”. [HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi]. Salah satu tugas pemimpin adalah membimbing orang yang dipimpinnya menuju kepada arah yang benar. Ia juga dituntut untuk mampu memberi solusi atas persoalan rakyatnya. Dengan demikian, seorang pemimpin harus memiliki kapabilitas yang memadai. Tanpa landasan itu, ia hanya akan menyesatkan rakyatnya. Hal ini ditegaskan Nabi dalam sabda beliau: إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا “Sesungguhnya, Allah tidak mencabut ilmu secara sekaligus dari umat manusia, namun Allah mencabutnya dengan cara mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak lagi tersisa seorang pun ulama, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Ketika dimintai pendapat, para pemimpin itu berfatwa ilmu. Akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan” [HR. Al Bukhari]. Keengganan orang-orang yang kapabel untuk menjadi pemimpin adalah salah satu sebab bertahtanya para pemimpin bodoh. Selain itu, kekeliruan memilih pemimpin menjadi sebab terbesarnya. Kesalahan itu dapat terjadi karena si pemilih tidak dibimbing oleh petunjuk syariat dalam mengangkat pemimpin, atau karena cara pandang yang salah terhadap kepemimpinan. Fungsi Kepemimpinan Islam mewajibkan adanya kepemimpinan karena pentingnya fungsi kepemimpinan itu. Diantara fungsinya adalah: Pertama, mencegah kezaliman. Imam Ibnu Katsir menjelaskan hal ini dengan merujuk QS. Al-Baqarah 251: وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَهُم بِبَعۡضٖ لَّفَسَدَتِ ٱلۡأَرۡضُ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ ذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلۡعَٰلَمِينَ Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Terhadap ayat ini Ibnu Katsir menjelaskan: لَوْلَا إِقَامَةُ الْمُلُوكِ حُكَّامًا عَلَى النَّاسِ لَأَكَلَ قَوِيُّ النَّاسِ ضَعِيفَهُمْ Seandainya tidak ada kekuasaan yang ditegakkan oleh para penguasa terhadap manusia, maka orang yang kuat akan menghabisi orang yang lemah (Ibnu Katsir, Qashas al-Anbiya, II/265). Pepatah latin mengatakan bahwa manusia adalah homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi lainnya). Dengan demikian kekuasaan berfungsi untuk membatasi tabiat manusia yang dengan kekuatannya dapat berbuat kezaliman kepada pihak yang lemah. Sehingga, dalam suatu riwayat dari Abu Bakrah disebutkan: اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللَّهِ فِي الْأَرْضِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللَّهُ وَمَنْ أَهَانَهُ أَهَانَهُ اللَّهُ Penguasa adalah naungan Allah di muka bumi. Barangsiapa memuliakannya, Allah pun memuliakannya. Barangsiapa menghinakannya, Allah pun akan menghinakannya pula (Ibnu Atsir, Usud al-Ghabah, h. 929). Kedua, menegakkan hukum Allah. Utsman bin Affan t berkata: إِنَّ اللَّهَ لَيَزِعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزِعُ بِالْقُرْآنِ “Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan (manusia) apa-apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur`an.” (Ibnu Katsir, Qishah al-Anbiya, 265). Lewat Al-Quran Allah mencegah manusia melakukan perbuatan buruk. Orang beriman tentu akan berusaha menjauhi larangan Allah tersebut. Namun banyak dijumpai betapa orang yang mengaku beriman dapat pula melanggar larangan Allah. Sebabnya antara lain karena pelanggaran tersebut tidak mengakibatkan hukuman secara langsung di dunia. Disinilah kekuasaan memiliki fungsi untuk menegakkan hukum Allah agar ditaati. Allah memberi kewenangan pada penguasa untuk membuat hukum ta’zir (hukum yang penerapannya diserahkan kepada punguasa). Ancaman sanksi yang ada dalam hukum ta’zir itu dapat memaksa orang lain agar taat kepada aturan hukum. Ketiga, menyejahterakan rakyat. Rasulullah SAW bersabda: مَنْ وَلَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْمُسْلِمِينَ فَاحْتَجَبَ دُونَ حَاجَتِهِمْ وَخَلَّتِهِمْ وَفَقْرِهِمْ احْتَجَبَ اللَّهُ عَنْهُ دُونَ حَاجَتِهِ وَخَلَّتِهِ وَفَقْرِهِ Siapa yang diserahi Allah mengatur kepentingan kaum muslimin, namun kemudian ia bersembunyi dari kebutuhan mereka, kemiskinan mereka, dan kefakiran mereka, maka Allah akan menolak kebutuhannya, kemiskinannya serta kefakirannya (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzy). Hadits ini menyiratkan bahwa diantara fungsi kepemimpinan adalah untuk menyejahterakan rakyat. Jika pemimpin itu tidak bersungguh-sungguh berupaya memenuhi kebutuhan rakyat, maka ia diancam tidak akan masuk surga. Nabi SAW bersabda: مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمْ الْجَنَّةَ Tidaklah seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, tetapi tidak berusaha semaksimal mungkin untuk mengurusi mereka dan memberikan arahan kepada mereka, kecuali dia tidak akan bisa masuk surga bersama kaum muslimin itu (HR. Muslim). Melihat fungsi-fungsi tersebut, maka kepemimpinan dalam Islam bukanlah urusan menikmati kekuasaan belaka, melainkan berfungsi untuk membimbing rakyatnya meraih kemaslahatan di dunia dan akhirat. Semua fungsi kepemimpinan itu kemudian dirangkum oleh Imam Al-Mawardi yang memberi definisi kepemimpinan. Beliau mengatakan: اَلْاِمَامَةُ مَوضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِى حِرَاسَةِ الدِّيْنِ وَسِيَاسِيَةِ الدُّنْيَا Kepemimpinan itu berfungsi untuk menggantikan tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. (Al-Mawardi, Al-Ahkam as-Sulthaniyah, h. 4). Tugas kenabian yang dilanjutkan itu tentu bukan untuk menerima wahyu, melainkan menjaga keberlangsungan dakwah Islam dan menegakkan hukum-hukum agama. Selain itu, juga untuk mengatur kemaslahatan kaum muslimin dalam urusan keduniaan. Sehingga, ketika seseorang memilih pemimpin hanya dengan pertimbangan material belaka, tentu ia berpotensi besar untuk terjerumus dalam kekeliruan. Karena itulah maka Islam telah memberi petunjuk kepada umatnya dalam masalah kepemimpinan ini. Islam mengatur siapa saja yang tidak boleh dipilih sebagai pemimpin, siapa yang layak untuk dipilih sebagai pemimpin, serta bagaimana kriterianya. Kriteria Pemimpin Dengan adanya fungsi yang kompleks dan tanggung jawab yang berat tersebut, maka tidak setiap orang dapat diangkat sebagai pemimpin. Karena itu para ulama merumuskan mengenai kriteria yang harus ada pada calon pemimpin. Imam Al-Mawardi, dalam kitabnya, …

Loading

Mengukir Masa Depan Cerah: Pentingnya Ketahanan Keluarga Dalam Membentuk Anak-Anak Yang Unggul Di Indonesia

Dr. Triwahyuni Sukesi, S.Si, MPH* Kehidupan modern seringkali membawa kita di hadapan berbagai tantangan yang melibatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial anak-anak. Di tengah situasi yang semakin kompleks ini, penting bagi kita untuk merenung tentang peran penting ketahanan keluarga dalam membimbing anak-anak kita menuju masa depan yang cerah. Data menunjukkan bahwa gangguan mental emosional remaja di Indonesia meningkat dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen, sebuah angka yang mengkhawatirkan. Ini hanyalah salah satu contoh nyata yang menggarisbawahi pentingnya ketahanan keluarga dalam merespons permasalahan ini. Meningkatnya Masalah Kesehatan Mental Pada tahun-tahun terakhir, Indonesia telah menyaksikan peningkatan dramatis dalam angka gangguan mental pada remaja. Dari 6,1 persen menjadi 9,8 persen merupakan lonjakan yang signifikan. Ini berarti hampir 10 persen remaja Indonesia menghadapi masalah mental yang memengaruhi kesejahteraan mereka dan perkembangan masa depan. Angka ini membawa kita kepada pertanyaan kritis: Mengapa gangguan mental semakin merajalela, dan apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi tantangan ini? Salah satu solusi yang muncul adalah memperkuat ketahanan keluarga sebagai dasar yang kuat untuk membimbing anak-anak melewati masa-masa sulit ini. Ketahanan keluarga, dalam berbagai aspeknya, adalah pondasi penting untuk menghadapi permasalahan kesehatan mental dan sosial ini. Tantangan Kesehatan Fisik Selain gangguan mental, tantangan kesehatan fisik seperti Kurang Energi Protein (KEP) dan stunting juga tetap menjadi permasalahan serius, terutama di daerah-daerah seperti Yogyakarta. Profil kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2021 mencatat sekitar 8,50 persen balita mengalami KEP dan 9,83 persen mengalami stunting. Masalah kesehatan balita bukan hanya soal gizi, tetapi juga berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi. Di tengah kenyataan ini, ketahanan keluarga memegang peran yang tak tergantikan dalam menyediakan kondisi yang memungkinkan anak-anak untuk berkembang secara fisik yang sehat. Keluarga yang memiliki ketahanan ekonomi dapat memenuhi kebutuhan dasar anak, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan. Ini tidak hanya penting untuk pertumbuhan fisik anak, tetapi juga untuk memberikan mereka peluang dalam hal perkembangan mental dan sosial. Ketahanan Keluarga: Pondasi Masa Depan Anak-anak Ketahanan keluarga bukanlah konsep yang abstrak; ia adalah tanggung jawab nyata yang dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memahami peran ketahanan keluarga, ada empat aspek penting yang harus kita pertimbangkan: Dengan membangun ketahanan keluarga dalam aspek-aspek ini, kita tidak hanya menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak, tetapi juga menyiapkan mereka untuk menghadapi tantangan yang mungkin muncul di masa depan. Ketahanan keluarga adalah kunci untuk memberikan anak-anak peluang terbaik dalam menghadapi tantangan masa depan dan mencapai potensi sejati mereka. Bersama-sama, kita dapat membantu mereka mengukir masa depan yang cerah dan sukses di Indonesia yang kita cintai. Dalam menghadapi krisis kesehatan mental dan gizi yang mengancam, mari berkomitmen untuk membangun keluarga yang kuat, yang akan mewariskan nilai-nilai penting kepada generasi mendatang. *Dr. Tri Wahyuni Sukesi, S.Si.,MPH. Divisi SAMARA Majlis Pembinaan Kesejahteraan Sosial pimpinan Daerah Muhammadiyah Sleman

Loading