Rakor LPCRPM PDM Sleman menghadapi CRM Award 2027

Sleman, Pdmsleman.Or.id Wakil ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman H. Nasirun menyampaikan bahwa pertemuan ini berada di wilayah kota Yogyakarta yakni difasilitasi oleh Bank BSI Jalan Jendral Sudirman Yogyakarta dan berharap akan lebih maju dan sukses termasuk menghadapi CRM Award 2027 di Gombong Jawa Tengah yang akan datang. “Dalam CRM Award untuk cabang unggulan sudah terpilih 3 cabang yaitu: PCM Sleman, PCM Gamping dan PCM Kalasan, sedangkan 3 ranting dan 3 masjid unggulan akan diadakan lomba kepada tiap PCM se-Sleman untuk menyiapkannya.” Kegiatan rakor LPCRPM atau Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman bersama 17 (tujuh belas) ketua dan sekretaris Pimpinan Muhammadiyah Cabang se-Sleman berlangsung pada Ahad 26 April 2026 di Kantor BSI Jalan Jendral Sudirman Yogyakarta. Selain membahas CRM Award 2027 juga dibahas tentang pengaktifan dan penunjukan agen dalam aplikasi Satumu, pembahasan KKN Universitas Muhammadiyah Yogyakarta serta Proposal bantuan ke PKU Yogyakarta dan Gamping dan pihak bank BSI penyampaian promo dan layanan BSI tentang tabungan haji dan umroh, menabung dan cicil emas, gadai emas dan produk layanan lainnya. Sebagaimana dalam cita-cita utama Muhammadiyah adalah terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yaitu masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah SWT. “Tahun ini kita bertekad Sleman juara dalam LPCR atau CRM Award” Ujar Nasirun. Untuk pemilihan ranting dan masjid unggul se Sleman, disampaikan bahwa masing-masing cabang untuk memilih mana ranting dan masjid unggul yakni sampai 16 Mei 2026 dengan kriteria yang sudah maju sebelumnya tidak boleh maju. Tandas Prawoto Umar Said, S.Ag, MKM, ketua LPCRPM PDM Sleman. Selanjutnya Heru Prasetyo, dari anggota LPCR PDM Sleman menyampaikan bahwa dalam best of the best di Banjarmasin tahun sebelumnya ketiganya dari Sleman. Untuk ranting Margokaton masih boleh ikut karena tahun sebelumnya belum juara 1 dan 2.“Data-data masuk sicara, data yang masuk adalah keunggulan yakni berdasar kriteria cabang unggul yakni:adanya program yang saling bersinergi baik dengan cabang, aum dan lazismu. Memiliki SK PCM, Kantor harus milik sendiri dan tidak numpang AUM, memiliki kajian rutin, memiliki masjid unggulan sebagai pusat dakwah, pelatihan dan memiliki korps mubaligh, dll Selanjutnya disampaikan kriteria cabang, ranting dan masjid unggulan secara lengkap adalahsebagai berikut: Kriteria Cabang Unggulan: Kriteria Ranting Unggulan: Kriteria Masjid Makmur dan Memakmurkan : Reportase: H Wahdan Arifudin S.Pd PCM Godean Editor: Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman Rapat Koordinasi dan Capacity Building di Sragen

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Sabtu – Ahad, 25-26 April 2026 dalam rangka menyatukan visi, memperkuat kolaborasi, dan merumuskan langkah nyata dalam memajukan Pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan, Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sleman selenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi, Kunjungan Studi Tiru, dan Capacity Building di Sragen dan Sarangan, Magetan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh Jajaran Pimpinan dan Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman dari berbagai Bidang. Melalui paparannya H. Surakhmad, S.Pd. Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman menegaskan kepada seluruh Pimpinan dan Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman ” untuk bersama-sama Mewujudkan Sekolah Muhammadiyah Daerah Sleman sebagai sekolah yang Berkarakter, Berdaya Saing, dan Berdampak bagi Umat dan Bangsa”. Pada kegiatan ini Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman didampingi oleh Jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman dan Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Sleman. Suharno, SP., MSi, (Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sragen) dalam sambutannya mengucapkan terima kasih menyampaikan rasa bangga atas dipilihnya PDM Sragen sebagai tempat untuk belajar bersama oleh rombongan Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman beserta PDM dan PDA Kabupaten Sleman. Dipaparkan juga oleh K.H. Ali Rosyidi, S.Pd.I., M.M Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sragen “melalui kegiatan kunjungan ini tentang bagaimana perjuangan dan upayanya melalui prinsip Gandeng dan Gendong untuk mengokohkan, menguatkan, melanjutkan perjuangan pendahulu di Persyarikatan Muhammadiyah yang mengelola 256 sekolah dari berbagai jenjang; TK ABA PAUD, SD/MI,SMP/MTs, SMA/K serta beberapa Pondok Pesantren Muhammadiyah sehingga muncul kemudian, SD Birul Walidain Muhammadiyah, SMP Al Qolam Muhammadiyah Gemolong, dan SMA Trensains sebagai sekolah unggulan di bawah binaan PDM Kabupaten Sragen”. Setelah selesai menyelesaikan lawatannya ke PDM Kabupaten Sragen, kemudian Majelis Dikdasmen dan PNF Kabupaten Sleman melanjutkan perjalanan ke Sarangan, Magetan untuk melakukan Rapat Koordinasi Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sleman guna Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja dan Penyusunan Program Kerja Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Kabupaten Sleman Tahun 2026. Rep Fathan Majelis Dikdasmen

Loading

KOKAM PDPM Sleman Tuan Rumah Apel Siaga KOKAM DIY, Tegaskan Penolakan Miras dan Premanisme

Sleman, Pdmsleman.Or.Id KOKAM Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Sleman menjadi tuan rumah pelaksanaan Apel Siaga Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) DIY yang digelar di Lapangan Kompleks Balai RW 07 Kamdanen, Danikerto, Tegalrejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Minggu pagi (15/2/2026). Kegiatan ini digelar sebagai respons atas meningkatnya peredaran minuman keras (miras) dan praktik premanisme yang dinilai kian meresahkan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Apel siaga tersebut diikuti sekitar 700 personel KOKAM dari DIY dan Jawa Tengah. Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir sebagai bentuk sinergi masyarakat sipil dengan aparat dan pemerintah daerah, di antaranya Anggota DPD RI Ahmad Syauqi Soeratno, Anggota DPRD Sleman Abdul Kadir, unsur Koramil dan Polsek Ngaglik, Muspika Ngaglik, serta Eko Sumardiyanto Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman. Kehadiran para pihak ini menegaskan komitmen bersama dalam menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan. Dalam sambutannya, Ahmad Syauqi Soeratno menekankan bahwa Yogyakarta sebagai Kota Pelajar dan Kota Budaya tidak semestinya dikepung toko-toko penjual miras di kawasan permukiman. Menurutnya, peredaran miras yang dibiarkan tumbuh bebas akan berdampak langsung pada gangguan keamanan warga. Ia juga mengingatkan bahwa praktik peredaran miras ilegal kerap berkamuflase dengan nama usaha berbeda, sehingga pengawasan perlu dilakukan secara konsisten dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Ia mengapresiasi semangat kolektif komunitas yang terorganisasi dalam menjaga tatanan sosial. Forum-forum seperti apel siaga ini, menurutnya, mencerminkan masyarakat yang terkelola secara struktural, memiliki program yang jelas, serta nilai yang kuat. KOKAM dinilai menjadi salah satu pionir dalam membangun gerakan sosial yang terarah dan berkelanjutan. Sementara itu, Ari Wibowo, SH., MH., mengingatkan bahwa gerakan amar makruf nahi mungkar harus tetap berada dalam koridor hukum. Pendampingan dari Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah diperlukan agar setiap langkah dan aksi lapangan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ia juga menyoroti persoalan permisivisme, yakni sikap abai terhadap kemaksiatan selama tidak berdampak langsung, yang dinilai turut memperparah persoalan miras, judi daring, dan narkoba di DIY. Menurutnya, sebagian besar peredaran miras di wilayah DIY bersifat ilegal dan tidak sesuai Perda. Karena itu, kekuatan masyarakat perlu dihimpun agar tidak kalah oleh jejaring “orang-orang kuat” di balik praktik tersebut. Ia mendorong peran media untuk ikut mengedukasi publik mengenai pentingnya menjaga ketertiban dan keamanan bersama. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris KOKAM DIY, Ndan Marwan Hamed, membacakan lima poin pernyataan sikap, yakni penolakan terhadap peredaran miras sebagai sumber kejahatan, penegasan dampak miras terhadap kesehatan dan ketertiban umum, komitmen melawan peredaran miras, dukungan terhadap penegakan hukum oleh kepolisian dan pemerintah, serta ajakan kepada masyarakat untuk melindungi diri dan keluarga dari bahaya miras. Pernyataan ini menjadi komitmen moral sekaligus pedoman aksi di lapangan. Usai apel, peserta melakukan longmarch sekitar lima kilometer menyusuri Jalan Palagan dengan membawa spanduk kampanye anti-miras, di antaranya bertuliskan “Jogja Berhati Nyaman, Miras Bikin Gak Nyaman” dan “Mirasmu Meresahkan, Jogja Butuh Nyaman”. Aksi damai ini dimaksudkan sebagai bentuk edukasi publik agar warga terlibat aktif dalam mencegah penyakit masyarakat. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan sarasehan yang menghadirkan narasumber HM Syukri Fadholi, SH. Dalam sesi tersebut, peserta diajak memperdalam perspektif hukum dan sosial terkait pengendalian miras serta pencegahan premanisme di tingkat akar rumput. Sementara itu, Abdul Kadir yang juga pelindung KOKAM Ngaglik menyatakan dukungannya terhadap penguatan penegakan Perda miras di Sleman, terlebih menjelang Ramadhan. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menutup praktik-praktik ilegal sebelum bulan suci, seraya mendorong agar gerakan masyarakat seperti KOKAM terus berjalan konsisten di jalur hukum. Melalui Apel Siaga yang dipusatkan di Sleman ini, PDPM Sleman sebagai tuan rumah menegaskan pentingnya orkestrasi bersama dalam pengendalian miras dan premanisme: mulai dari komitmen warga, dukungan aparat, keberpihakan kebijakan, hingga konsistensi penegakan hukum. Kolaborasi lintas unsur tersebut diharapkan memperkuat rasa aman, menjaga marwah Yogyakarta sebagai kota berbudaya, serta melindungi generasi muda dari dampak destruktif miras.  Rep Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman  Foto  Iframe Studio pro

Loading

Strategi Marketing dan Branding Digital bagi Sekolah Menengah Atas dan kejuruah Muhammadiyah

Sleman, Pdmsleman.Or.Id   Pentingnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana marketing dan branding digital kembali ditekankan dalam kegiatan pelatihan pengelolaan media sosial yang digelar pada 11 Februari 2026 dalam Pelatihan Pengelolaan Media Sosial (Medsos) untuk Sekolah Muhammadiyah se Sleman. Kegiatan ini digelar di Laboratorium Ekonomi Program Studi Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FEB UMY), Gedung Ki Bagus Hadikusumo E4 lantai 2, dan diikuti 30 guru serta staf pengelola media sosial sekolah Menengah Atas dan Kejuruan Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman yang diinisiasi Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman bekerja sama dengan tim pengabdian masyarakat FEB UMY. Narasumber pelatihan Rayna Aksan selaku praktisi pemasaran digital, praktisi media sosial memaparkan peran strategis media sosial sebagai platform digital untuk berkomunikasi, berbagi konten, dan membangun interaksi antara institusi pendidikan dengan masyarakat luas. Dalam paparan materi, narasumber menjelaskan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga memiliki fungsi sosial-bisnis, informasi, dan edukasi. Platform digital dinilai mampu menjadi etalase reputasi sekolah apabila dikelola secara terarah. “Media sosial hari ini bukan sekadar tempat berbagi foto, melainkan kanal strategis untuk membangun citra lembaga, menyampaikan informasi, dan menarik minat calon peserta didik,” terang pemateri dalam sesi pengantar. Peserta pelatihan diajak menganalisis pemilihan platform yang tepat sesuai tujuan utama komunikasi, mulai dari branding dan citra sekolah, penyampaian pengumuman dan informasi, hingga upaya menarik perhatian serta minat siswa. Selain itu, pengenalan audiens menjadi kunci penting dalam penyusunan konten, mencakup karakteristik, kebutuhan, dan tingkat pengetahuan pengikut akun resmi sekolah. Materi juga mengulas jenis konten yang dinilai efektif di media sosial, di antaranya konten foto, video pendek, cerita, edukasi, testimoni, informasi, konten interaktif, hingga behind the scene. Narasumber menekankan bahwa variasi format konten diperlukan untuk menjaga atensi audiens dan mendorong keterlibatan. “Satu konten, satu pesan utama. Hook tiga detik pertama sangat menentukan apakah audiens akan bertahan menonton atau tidak,” jelasnya. Dalam sesi strategi produksi konten, peserta diberikan panduan teknis seperti pentingnya visual dan teks yang sederhana, membangun alur cerita, menjaga konsistensi kualitas serta jadwal unggahan, dan menyesuaikan format konten dengan karakter masing-masing platform. Interaksi aktif dengan audiens juga menjadi indikator penting dalam membangun kedekatan emosional dan kepercayaan publik. Pelatihan ini turut menyoroti peran media sosial dalam meningkatkan reputasi sekolah. Reputasi dinilai dapat dibangun dengan menampilkan proses kegiatan, bukan hanya hasil akhir, memperkuat peran guru sebagai figur utama, membangun narasi nilai dan budaya sekolah, serta mengelola prestasi secara elegan. Keterlibatan orang tua dan alumni, konsistensi visual, keaktifan dalam kegiatan sosial, serta sikap transparan dan responsif menjadi faktor pendukung reputasi digital yang berkelanjutan. Untuk meningkatkan jumlah pengikut dan engagement, pemateri merekomendasikan perapihan identitas akun, konsistensi posting, fokus pada video pendek, pelibatan siswa dan guru, pemanfaatan momentum kegiatan, penggunaan hashtag dan lokasi yang tepat, respons cepat terhadap komentar dan pesan langsung, hingga kolaborasi serta optimalisasi iklan digital di berbagai platform. Evaluasi performa konten melalui analisis hasil juga ditekankan agar strategi dapat diperbaiki secara berkelanjutan. Melalui pelatihan ini, diharapkan pengelola akun media sosial sekolah mampu membangun reputasi digital secara konsisten, profesional, dan berdampak pada peningkatan kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan. Rep Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Kolaborasi MPI PDM Sleman Dan FEB UMY Perkuat Pengelolaan Media Sosial SMA/K se Sleman.

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Penguatan kapasitas digital sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Sleman mendapat dukungan nyata dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FEB UMY) melalui penyelenggaraan Pelatihan Pengelolaan Media Sosial (Medsos), Rabu (11/2/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Laboratorium Ekonomi Program Studi Ekonomi FEB UMY, Gedung Ki Bagus Hadikusumo E4 lantai 2, ini diikuti 30 guru dan staf pengelola media sosial SMA/SMK Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman. Melalui fasilitas akademik dan pendampingan dosen, FEB UMY mengambil peran strategis dalam transfer pengetahuan dan keterampilan digital bagi pengelola media sekolah. Program ini merupakan kolaborasi antara tim pengabdian masyarakat Program Studi Ekonomi FEB UMY dengan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman. Sinergi kampus–persyarikatan tersebut dirancang sebagai model penguatan kapasitas digital marketing pendidikan yang aplikatif. Pelatihan berlangsung selama tiga jam dengan pendekatan kuliah interaktif, praktikum, diskusi kelompok, simulasi, serta studi kasus yang relevan dengan konteks pengelolaan kanal resmi sekolah. Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Ekonomi FEB UMY yang juga Ketua Program Studi Ekonomi FEB UMY, Dr. Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC, menegaskan bahwa peran FEB UMY tidak berhenti pada penyediaan ruang dan narasumber, tetapi juga pada perancangan kurikulum pelatihan yang berbasis kebutuhan riil sekolah. “Melalui kolaborasi ini, kami mendorong peningkatan kompetensi guru dan staf agar mampu mengelola media sosial secara strategis, memproduksi konten yang efektif, serta membaca metrik kinerja untuk memperkuat reputasi sekolah,” jelasnya. Pada kesempatan tersebut, FEB UMY juga menyerahkan hibah sarana pendukung kepada MPI PDM Sleman sebagai mitra pengabdian masyarakat. Materi pelatihan difokuskan pada pemilihan platform media sosial yang relevan untuk institusi pendidikan, strategi produksi konten kreatif (foto, video, dan narasi), penguatan engagement audiens, serta analisis performa kanal digital. Sesi pertama diampu Rayna Aksan, praktisi pemasaran digital dan media sosial, dilanjutkan sesi kedua oleh Hussein sebagai fasilitator konten kreatif. Peserta memperoleh praktik langsung pengemasan konten visual, penyusunan kalender editorial, teknik storytelling institusional, hingga pengenalan analitik akun. Praktik pengeditan video pendek untuk promosi sekolah juga diberikan guna merespons tren konsumsi konten audiovisual di Instagram, Facebook, dan TikTok. Ketua MPI PDM Sleman, Arief Hartanto,  menekankan bahwa transformasi pengelolaan media sosial merupakan bagian dari syiar Muhammadiyah yang berkemajuan. “Media sosial tidak lagi sekadar etalase informasi, tetapi instrumen syiar digital yang berdampak bagi kemajuan pendidikan Muhammadiyah.,” ujarnya. Wakil Ketua PDM Sleman, Eko Sumardianto menilai inisiatif kolaboratif FEB UMY dan MPI PDM Sleman sebagai langkah konkret membangun ekosistem komunikasi publik sekolah Muhammadiyah.  Menurutnya, pengelolaan media sosial yang profesional akan meningkatkan kesadaran publik, menarik minat calon peserta didik, serta memperkuat kepercayaan orang tua. “Reputasi lembaga kini dibentuk melalui jejak digital yang konsisten, informatif, dan etis,” katanya. Pelatihan ini menyasar guru dan staf yang bertanggung jawab langsung atas akun resmi sekolah Muhammadiyah di Sleman.  Dengan dukungan keilmuan dan pendampingan FEB UMY, program ini diharapkan mempercepat peningkatan kualitas komunikasi digital sekolah Muhammadiyah sehingga reputasi lembaga dan kesadaran publik terhadap pendidikan Muhammadiyah semakin menguat. Rep Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

MPKS PDM Sleman Gelar Silaturahmi LKSA, Perkuat Legalitas dan Komitmen Anti-Kekerasan Anak

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman menggelar kegiatan “Silaturahmi Anak Asuh Muhammadiyah-Aisyiyah se-Sleman” pada Sabtu, 31 Januari 2026 bertempat di Rumah Dinas Wakil Bupati Sleman. Acara ini menjadi momentum krusial bagi pengelola Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) untuk memperkuat legalitas lembaga sekaligus memastikan perlindungan maksimal bagi anak asuh.  Kegiatan yang dihadiri oleh pengurus, pengasuh, dan perwakilan anak asuh dari berbagai cabang seperti ACC An Nur Prambanan hingga MCC Seyegan ini memfokuskan pada dua isu utama: sosialisasi regulasi terbaru Kementerian Sosial dan pencegahan kekerasan di lingkungan panti.  Dalam laporannya, MPKS PDM Sleman menekankan bahwa setiap LKSA atau panti asuhan memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pengasuhan dan pemenuhan hak anak. Untuk menjamin mutu tersebut, kepatuhan terhadap regulasi menjadi harga mati. “Setiap LKSA/Panti Asuhan diwajibkan memiliki Tanda Daftar sebagai bentuk legalitas dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 5 Tahun 2024,” tutur H. Wahyu Purhantara.  Workshop ini menghadirkan narasumber Josua Lapudhoh yang membedah mekanisme pengajuan Tanda Daftar tersebut. Melalui sesi ini, diharapkan para pengelola memahami hak dan kewajiban mereka sebagai lembaga yang terdaftar secara resmi di bawah payung hukum negara.  Selain aspek administratif, agenda utama lainnya adalah pencegahan kekerasan terhadap anak yang disampaikan Nyadi Kasmoredjo. MPKS menyadari bahwa anak yang tinggal di panti asuhan termasuk kelompok rentan yang membutuhkan sistem perlindungan kuat dan terstruktur.  Dasar pelaksanaan kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak serta Konvensi Hak Anak. Panitia menegaskan bahwa lingkungan pengasuhan harus dipastikan aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan, baik fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran.  “Tujuan khusus kami adalah meningkatkan kesadaran pengelola dan pengasuh tentang pentingnya perlindungan anak serta mendorong penerapan pengasuhan yang aman dan ramah anak,” ungkap, Drs. Wahyu Purhantara, M.M., dalam sambutannya saat membuka acara.  Acara yang berlangsung dari pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini juga diisi dengan diskusi interaktif dan pembagian praktik baik (best practices) antar pengelola panti. Dengan anggaran yang disusun secara efisien, kegiatan ini mampu mensinergikan berbagai elemen pendukung kesejahteraan sosial di Kabupaten Sleman.  Melalui silaturahmi ini, MPKS PDM Sleman berharap seluruh pihak dapat berperan aktif demi terwujudnya pengasuhan anak yang berkualitas dan berkeadilan. Penutupan acara menandai komitmen bersama untuk menjadikan LKSA Muhammadiyah-Aisyiyah sebagai teladan dalam pemenuhan hak-hak anak di Daerah Istimewa Yogyakarta.  Rep H. Yu Poer  MPKS PDM Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Peran Muhammadiyah dalam Pembangunan  Produk Halal di Wilayah Kabupaten Sleman DIY Dalam Gelaran (MSE) # 1

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Jumat, 9 Januari 2026  dalam event MSE Muhammadiyah Sleman Expo (MSE) # 1 di Sleman City Hall(SCH), Lembaga Pengkajian, Pengawasan dan Pendampingan Produk Halal (LP4H) PDM Sleman berkesempatan melaksanakan Talkshow  Ekonomi di kegiatan MSE #  1 dengan tema  Peran Muhammadiyah dalam Pembangunan  Produk Halal di Wilayah Kabupaten Sleman DIY dengan sub tema  Titik Kritis Produksi Kuliner Halal. Dalam event tersebut, tampil Ketua LP4H PDM Kabupaten Sleman DIY , Drs. Sutarman, M.A. bersama Sekretaris H. Kurnia Widyadimulya, S. I. Komp.,MSc. Dipandu oleh moderator Ngudah dari SMK Muhammadiyah Turi. Ketua LP4H Sutarman memulai dengan menyampaikan berdasarkan Peraturan Bupati Sleman Nomor: 65 Tahun 2024 Tentang Percepatan Sertifikasi Halal Bagi Produk Usaha Miko Kecil Dan Menengah di Kabupaten Sleman DIY. Kapala Dinas Perindag Sleman melaunching proyek aksi perubahan melalui “Sinergi Sadar Halal ”  terbentuk kawasan Sektor Kuliner dan Industri Kecil Menengah (IKM), antara lain: Sentra Industri Halal Bakpiah Minomartani dan Jadah Tempe Kaliurang di wilayah Pemda Tk. 2 Sleman DIY.          LP4H PDM Sleman merupakan  satu-satunya lembaga yang sudah terbentuk di wilayah PWM DIY. BPJPH menetapkan implementasi kewajiban sertifikasi halal akan mulai  Tahun 2026 bulan November pemerintah mencanangkan wajib bersertifikat halal untuk  semua UMK di Wilayah NKRI, maka  BPJPH (Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal) membentuk UPT. Balai PJPH di tiap Provinsi & Kabupaten.  Tahun 2026 Presiden Jenderal TNI (Purn.) H. Prabowo Subianto menetapkan  target dengan menyiapkan kuota 1,35 Juta Sertifikasi Halal Gratis bagi pelaku UMK (Usaha Mikro & Kecil) di seluruh Indinesia guna memperkuat hilirisasi produk UMKM dan perlindungan bagi konsumen muslim. Di akhir sesi,  Ketua LP4H PDM Sleman menjelaskan dari perspektif fiqih tentang pengertian  halal, haram dan subhat beserta contoh-contohnya. Sementara Sekretaris LP4H PDM Sleman H. Kurnia Widyadimulya, S.I. Komp., M. Sc lebih menyoroti tentang titik kritis produksi kuliner halal. Bahan yang halal, tetapi kalau dalam prosesnya ada hal yang haram, maka hasil olahan makanan tersebut bisa jadi haram. Contoh olahan ayam atau  bakar, ketika kuas yang dipakai tidak halal, maka ayam atau bebek bakar akan menjadi haram. Begitu juga dalam hal penyembelihan unggas, juga perlu diperhatikan betul, apakah penyembelih sudah bersertifikat halal atau belum. “Kita harus menjadi konsumen cerdas” katanya, “artinya sebagai konsumen ketika membeli makanan, pastikan di tempat yang terjamin kehalalannya”. Di akhir sesi  menyampaikan contoh salah satu usaha depo air minum isi ulang di wilayah Tirtomartani Kalasan Aquakita yang sudah memiliki sertifikat halal dari LPPOM MUI. Dalam usaha air isi ulang ini ada titik kritis pada bahan filter atau rang yang dipakai, harus terjamin kehalalannya. #mse, #pdmsleman, #muhammadiyah, #pdasleman, Kontributor: Slamet Widada & Sutarman, Lembaga Pengkajian, Pengawasan dan Pendampingan Produk Halal (LP4H) PDM Sleman DIY Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

MPI PDM Sleman Awali 2026 Gelar Koordinasi Pelatihan Penguatan Literasi Media Sosial untuk Syiar Sekolah Muhammadiyah

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman mengawali tahun 2026 dengan langkah strategis melalui penguatan literasi media sosial bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah. Komitmen tersebut ditandai dengan pertemuan silaturahmi dan koordinasi program Pengabdian Masyarakat bersama akademisi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Kamis (8/1/2026). Pertemuan yang berlangsung pukul 16.00 hingga 18.00 WIB itu bertempat di Kantor PDM Sleman, yang berlokasi di utara RS PKU Muhammadiyah Sleman. Agenda utama kegiatan adalah menerima silaturahmi Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D. dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMY Yogyakarta, sekaligus membahas sinergi program penguatan literasi media sosial sebagai sarana syiar sekolah SMK dan SMU Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman. Ketua MPI PDM Sleman, Arief Hartanto, menyampaikan bahwa era digital menuntut institusi pendidikan Muhammadiyah untuk lebih adaptif dan cakap dalam memanfaatkan media sosial secara positif dan bertanggung jawab. Menurutnya, media sosial bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga wahana dakwah dan branding sekolah. “Media sosial harus dimaknai sebagai ruang syiar yang mencerahkan. Sekolah Muhammadiyah perlu memiliki narasi yang kuat, beretika, dan edukatif agar nilai-nilai Islam berkemajuan dapat tersampaikan secara luas,” ujar Arief Hartanto dalam sambutannya. Dyah Titis Kusuma Wardani, Ph.D. menjelaskan bahwa program Pengabdian Masyarakat FEB UMY dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dan pengelola sekolah dalam mengelola konten media sosial. Fokus utamanya adalah literasi digital, manajemen konten, serta pemahaman etika bermedia. “Kami ingin membantu sekolah Muhammadiyah agar mampu mengelola media sosial secara profesional, tidak sekadar aktif, tetapi juga berdampak dan sesuai dengan nilai persyarikatan,” jelas Dyah Titis. Hadir dalam pertemuan tersebut jajaran MPI PDM Sleman, antara lain H. Wahdan Arifudin, S.Pd., Dr. Sutipyo R., Pamuji Subeksti, S.Si., M. Afifudin, S.Pd., H. Ashari, SIP., serta Hj. Rr. Afiati Fatimah, M.Pd. Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai masukan terkait kondisi riil pengelolaan media sosial di sekolah Muhammadiyah Sleman. Dr. Sutipyo R. menekankan pentingnya literasi media sebagai bagian dari dakwah kultural Muhammadiyah dan penguatan literasi media sosial sejalan dengan semangat Muhammadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara itu, H. Wahdan Arifudin menambahkan bahwa sinergi antara MPI PDM Sleman dan UMY merupakan bentuk nyata kolaborasi amal usaha Muhammadiyah. “Ini langkah awal yang baik di tahun 2026 untuk memperkuat citra sekolah Muhammadiyah melalui media yang digandrungi generasi muda,” katanya. Pertemuan tersebut diharapkan menjadi pijakan awal pelaksanaan program pendampingan literasi media sosial yang berkelanjutan, guna mendukung syiar pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Rep  Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Menjawab Tantangan Generasi Alpha

Anak-anak yang lahir antara tahun 2010 – 2025 atau sering disebut sebagai generasi alpha diyakini akan menghadapi banyak tantangan, sekaligus kesempatan di masa depan. Menurut Wahyu Purhantara, selaku Ketua MPKS PDM Sleman, mereka lahir langsung bisa menikmati teknologi dunia maya. Bagaimana tidak, ibunya sambil menyusui bayinya sambil menikmati tiktok, youtube, IG, medsos lainnya. Secara psikologis perilaku oknom ini telah menanamkan dunia gaget kepada putra putrinya. Maka, lanjut Wahyu Pur yang juga sebagai Ketua Forum Lembaga Kesejahteraan Anak (FLKSA) Kabupaten Sleman, perilaku yang demikian itu secara tidak langsung telah menanamkan nilai-nilai instant kepada generasinya. Sehingga ke depannya, di dalam pengasuhan dan pendidikan keluarga perlu dibekali muatan nilai-nilai keagaam dan ketimurandalam penggunaan gawai. Dan ini memerlukan keteladaan dari orang tua atau pengasuhnya, komitmen untuk menggunakan medsos secara cerdas, serta pentingnya komunikasi yang dialogis antara orang tua/ pengasuh dengan anak, dan lain-lain. Ini agar hak anak untuk tumbuhkembang tetap terpenuhi. Paparan Wahyu Pur itu disampaikan pada acara Penguatan Kapasitas Kepengasuhan yang diadakan oleh PSAA Muhammadiyah Seyegan beberapa waktu yang lalu. Sebagai anak panti asuhan kadang rentan terhadap pengaruh negatif yang ada di dunia maya. Akibatnya, menurut pengurus Forum Panti Asuhan Muhammadiyah dan Aisyiah (FORPAMA) Prop. DIY, anak asuhsangat sensitif terkena kekerasan, baikverbal maupun non-verbal, seperti: perundungan, grooming, dll. Sementara itu menurut Wuri Astuti, generasi alpha terlahir sudah menikmati kemajuan teknologi yang luar biasa, sehingga mental mereka sangat rapuh dan tidak mandiri. Mereka, menurut KetuaMajelis Kesejahteraan Sosial (MKS PWA DIY),  memiliki kemampuan belajar yang progresif, disamping beberapa hal, seperti: a) Punya sumber informasi yang luas. Maka orang tua/ pengasuh panti perlu memberikan pendampingan supaya informasi yang didapat anak dapat sesuai kebutuhannya. b) Sulit mengikuti aturan. Menurut Wuri yang juga Wakil Ketua PDA Kota Yogyakarta, Generasi alpha tidak dapat dibatasi oleh aturan seperti generasi sebelumnya. Energi yang mereka miliki sulit ditahan karena dunia digital yang menghubungkan mereka dengan perspektif tak terbatas untuk membendung kebutuhan diri sendiri. c) Interaksi melalui media social. Generasi alpha biasanya sudah akrab dengan sosialisasi melalui media sosial. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian, Beliau menekankan bahwa, supaya anak tidak kesulitan untuk sewaktu-waktu harus melakukan interaksi tatap muka. Namun secara kemasyarakatan, mereka cenderung kurang sosialisasi. Mereka terlalu asik dengan ponselnya masing-masing. Bahkan mereka cenderung abai. d) Sulit diprediksi dan individualistis. Anak dari generasi alpha cenderung terus berubah-ubah dan tak bisa diprediksi. Mereka juga cenderung lebih individualistis dan karenanya generasi alpha tidak termasuk dalam kategori orang yang dominan. Dan e) Cenderung terlalu santai. Mereka terlahir dalam kondisi segalanya sudah ada. Adanya Atificial Inteligent (AI) telah merubah segalanya. Anak-anak menyerahkan pekerjaan ilmiahnya kepada AI. Tren hidup saat ini menjadi kian populer di antara para generasi alpha. Yang mana, anak-anak ini hanya mengkhawatirkan hidup yang dijalani hari ini. Mereka juga cenderung tidak suka terlalu banyak berbagi. Rep  H. Wahyu Poerhantoro

Loading