35 Guru Muhammadiyah Sleman Mengikuti Diklat Calon Kepala Sekolah

SLEMAN. Sebanyak 35 guru Muhammadiyah dari jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK di Kabupaten Sleman mengikuti Pendidikan Khusus Calon Kepala Sekolah/Madrasah Muhammadiyah di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan DIY, Selasa hingga Sabtu (28/7–1/8/2026). Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan tersebut untuk mempersiapkan calon pemimpin sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Keikutsertaan para guru dari Kabupaten Sleman diharapkan memperkuat kualitas kepemimpinan satuan pendidikan. Peningkatan kompetensi kepala sekolah menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung mutu layanan pendidikan di wilayah Kabupaten Sleman. Ketua Majelis Dikdasmen-PNF PWM DIY, Achmad Muhammad, mengatakan pendidikan khusus calon kepala sekolah merupakan program pelatihan kepemimpinan strategis. Program tersebut dirancang untuk mempersiapkan, menyeleksi, dan membekali calon kepala sekolah serta kepala madrasah Muhammadiyah di seluruh DIY. “Program ini membekali calon kepala sekolah dan kepala madrasah agar memiliki kompetensi manajerial, spiritual, dan kepemimpinan yang unggul,” katanya. Menurut dia, kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab mengelola administrasi dan kegiatan pembelajaran, tetapi juga harus mampu memimpin, mengembangkan lembaga, serta membangun budaya pendidikan yang berkualitas. Achmad menjelaskan, pendidikan khusus tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah meneruskan pesan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, agar para kader bersedia merawat persyarikatan dan mengembangkan sekolah. “Kita diharapkan menjadi kader yang bersedia merawat Muhammadiyah dan merawat sekolah. Jangan pernah merasa lelah untuk terus berjuang bersama di persyarikatan Muhammadiyah,” ujarnya. Ia mengajak seluruh peserta mengikuti rangkaian pendidikan hingga selesai agar memperoleh bekal yang memadai sebelum menerima amanah sebagai kepala sekolah atau kepala madrasah. Melalui kegiatan tersebut, para guru Muhammadiyah dari Kabupaten Sleman diharapkan mampu menjadi pemimpin pendidikan yang profesional, berintegritas, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Penguatan kapasitas calon kepala sekolah itu sekaligus diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pengelolaan sekolah dan pelayanan pendidikan bagi masyarakat Kabupaten Sleman. Rep Athiful Depok

Loading

PRM Wedomartani Barat Resmikan Kebun Buah Unggul dan Gelar Giat Tanam Pohon

Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Wedomartani Barat bekerja sama dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman menyelenggarakan Giat Tanam Pohon dan Peresmian Kebun Buah Unggul pada Sabtu, 27 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di Jl. Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman ini menjadi wujud nyata komitmen Muhammadiyah dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan aset wakaf untuk kemaslahatan umat. Acara dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Junaidi, S.ST, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Sleman, Kusno Wibowo, ST., M.Si, dan Agus Kurniawan, S.Hut., M.Sc.dari BRIN sebagai pemateri Sosialisasi Penghijauan. Selain itu, kegiatan juga diikuti oleh jajaran pengurus Muhammadiyah, warga sekitar, serta para relawan yang turut berpartisipasi dalam penanaman pohon. Dalam sambutannya, Ketua PRM Wedomartani Barat, M. Yusuf Hendri Wibowo, ST. menyampaikan bahwa masih banyak tanah wakaf milik Muhammadiyah yang belum dimanfaatkan secara optimal. Menurutnya, program Kebun Buah Unggul menjadi salah satu langkah strategis agar aset wakaf dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Melalui program ini, kami berharap tanah wakaf Muhammadiyah tidak hanya terjaga keberadaannya, tetapi juga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dapat mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi sarana pelestarian lingkungan,” ungkapnya. Kepala DLH Kabupaten Sleman, Junaidi, S.ST, dalam sambutannya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kegiatan menanam pohon sebagai budaya. Ia menjelaskan bahwa pohon memiliki banyak manfaat, mulai dari menghasilkan oksigen, menjaga keseimbangan ekosistem, menyerap karbon, hingga membantu mencegah banjir dan longsor. Oleh karena itu, gerakan menanam pohon perlu terus digalakkan sebagai investasi bagi generasi mendatang. Sementara itu, Ketua MLH PDM Sleman, Kusno Wibowo, ST., M.Si, menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan di tengah kondisi bumi yang semakin memprihatinkan. Menurutnya, kualitas udara bersih semakin menurun akibat polusi, sementara sumber-sumber air juga terus mengalami penyusutan. Karena itu, gerakan penghijauan harus menjadi tanggung jawab bersama sebagai upaya menjaga keberlangsungan kehidupan. Pada sesi Sosialisasi Penghijauan, Agus Kurniawan, S.Hut., M.Sc. mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga lingkungan melalui berbagai kegiatan penghijauan. Ia menegaskan bahwa setiap pohon yang ditanam merupakan investasi jangka panjang yang akan memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, maupun generasi yang akan datang. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peresmian Kebun Buah Unggul sebagai simbol dimulainya pemanfaatan lahan wakaf Muhammadiyah secara produktif. Selanjutnya, seluruh peserta melakukan penanaman pohon secara bersama-sama sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, PRM Wedomartani Barat berharap semangat menjaga lingkungan dan mengoptimalkan pemanfaatan tanah wakaf dapat terus berkembang di tengah masyarakat. Sinergi antara Muhammadiyah, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu menghadirkan manfaat nyata, baikdalamaspeklingkungan, sosial, maupunekonomi. Rep Yusuf HW MLH PDM PRM Wedomartani Barat Ngemplak Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

MPI PDM Sleman Hadiri Penganugerahan Artidjo Alkostar FH UII

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman diwakili Arief Hartanto bersama sejumlah perwakilan organisasi kemasyarakatan, di antaranya Aisyiyah, Nahdlatul Ulama (NU), tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta mahasiswa menghadiri Penganugerahan Penghargaan Artidjo Alkostar yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) di Auditorium Lantai 4 FH UII, Selasa (23/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penghormatan terhadap para aktivis sosial yang selama ini berjuang menegakkan keadilan, demokrasi, hak asasi manusia, dan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap perjuangan para aktivis yang selama ini bekerja di berbagai sektor sosial. Dekan FH UII, Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa aktivis sosial memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Mereka memperjuangkan kepentingan kelompok rentan dan masyarakat yang kurang terwakili melalui berbagai gerakan advokasi. “Para aktivis membantu memastikan hak-hak dasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, kebebasan berpendapat, dan perlindungan hukum dapat diakses secara adil,” ujarnya. Menurutnya, aktivis juga berfungsi sebagai kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan, termasuk lembaga legislatif dan yudikatif, sehingga tercipta tata kelola yang transparan dan akuntabel. Penghargaan tersebut menggunakan nama almarhum Artidjo Alkostar, tokoh hukum nasional yang dikenal memiliki integritas tinggi. Semasa hidupnya, Artidjo mendedikasikan dirinya untuk penegakan hukum dan perlindungan hak-hak masyarakat. Kariernya dimulai sebagai dosen FH UII, kemudian aktif di LBH Yogyakarta sebelum dipercaya menjadi Hakim Agung Republik Indonesia dan Dewan Pengawas KPK. Rangkaian acara berlangsung khidmat dan inspiratif. Setelah pembukaan dan sambutan, peserta disuguhi pertunjukan drama pendek dari Sanggar Terpidana yang mengangkat tema keadilan dan kemanusiaan. Ketua Tim Pelaksana, Ari Wibowo, S.H.I., S.H., M.H., kemudian menyampaikan laporan kegiatan sekaligus membacakan nama-nama penerima penghargaan. Acara semakin menarik dengan sesi “Pengalaman Inspiratif” yang menghadirkan tiga aktivis nasional. Lakso Anindito, Ketua IM57+ Institute periode 2024–2027, memaparkan pentingnya menjaga semangat pemberantasan korupsi melalui partisipasi masyarakat. Menurutnya, perjuangan melawan korupsi tidak boleh berhenti meskipun tidak lagi berada di bawah institusi formal. Sementara itu, Eni Lestari, aktivis buruh migran sekaligus Ketua International Migrants Alliance (IMA), berbagi pengalaman mendampingi pekerja migran Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan hukum dan ketenagakerjaan di luar negeri. Ia menekankan pentingnya keterlibatan buruh migran dalam proses penyusunan kebijakan yang menyangkut nasib mereka. Adapun Daniel Frits Maurits Tangkilisan menceritakan perjuangannya membela lingkungan hidup di Karimunjawa. Aktivis lingkungan tersebut dikenal lantang menolak praktik tambak udang intensif ilegal yang diduga mencemari lingkungan pesisir dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut. Diskusi kemudian mendapat tanggapan dari dewan juri yang terdiri atas Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si., dan Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, M.A. Ketiganya menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi, aktivis, organisasi masyarakat, dan penegak hukum menjadi kunci dalam memperjuangkan keadilan sosial di Indonesia.

Loading

TPQ Inklusi Muhammadiyah Sleman Buka Ruang Belajar Al-Qur’an bagi Penyandang Tuna Netra

Sleman, Pdmsleman.Or.Id Suasana hangat dan penuh semangat terlihat di Masjid Asy Syifa PKU Muhammadiyah Sleman pada Ahad (14/6/2026). Sejumlah penyandang tuna rungu yang tergabung dalam HIDIMU (Himpunan Difabel Muhammadiyah) Sleman mengikuti kegiatan perdana Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Inklusi yang digagas oleh Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM Sleman.Program ini menjadi salah satu langkah nyata Muhammadiyah dalam menghadirkan ruang belajar Al-Qur’an yang terbuka dan ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.Ketua MPKS PDM Sleman, Drs. Wahyu Purhantoro, M.M., menegaskan bahwa pendidikan agama merupakan hak setiap orang tanpa terkecuali. Karena itu, akses terhadap pembelajaran Al-Qur’an harus dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.“Mendengar bukan hanya tentang suara. Mendengar adalah tentang memahami, memberi ruang, dan menerima setiap perbedaan dengan hati yang terbuka. Melalui TPQ Inklusi ini kami ingin menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman bagi saudara-saudara berkebutuhan khusus, termasuk teman-teman tuli,” ujar Wahyu.Menurutnya, inklusi tidak berhenti pada penyediaan akses semata, tetapi juga memberikan kesempatan yang setara agar setiap individu dapat berkembang sesuai potensinya.“Setiap orang memiliki hak yang sama untuk belajar dan mengenal Al-Qur’an. Inklusi adalah tentang memberi kesempatan agar semua bisa tumbuh, berkembang, dan bersinar bersama,” katanya.Kegiatan TPQ Inklusi mulai dilaksanakan pada Juni 2026 dan direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan pada pekan ketiga. Program ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan Muhammadiyah dalam memperluas layanan sosial dan pendidikan yang menjangkau kelompok-kelompok yang selama ini kerap menghadapi keterbatasan akses.Pada pelaksanaan perdana, proses pembelajaran dipandu oleh dua pengajar, yakni Andi Naim, Amin Qomariyah dan Novita Nur Alifah. Dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta, kegiatan berlangsung interaktif dan mendapat sambutan positif dari para peserta maupun keluarga yang mendampingi.Wahyu menambahkan, MPKS PDM Sleman juga tengah menyiapkan pengembangan program serupa bagi penyandang tuna netra. Persiapan tersebut telah dilakukan dengan menyediakan Al-Qur’an Braille sebagai sarana belajar.“Insya Allah ke depan kami juga akan membuka TPQ Inklusi untuk saudara-saudara tuna netra. Al-Qur’an Braille sudah kami siapkan. Saat ini kami sedang berupaya mencari instruktur yang memiliki kemampuan mengajar membaca Al-Qur’an Braille,” ungkapnya.Ia berharap keberadaan TPQ Inklusi tidak hanya menjadi tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, pemberdayaan, dan penguatan kepercayaan diri bagi para penyandang disabilitas.Program ini sekaligus menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Islam mengajarkan penghormatan terhadap martabat setiap manusia. Ketika kesempatan belajar dibuka seluas-luasnya, tidak ada lagi yang merasa tertinggal ataupun berjalan sendirian.“Semoga melalui langkah kecil ini semakin banyak pihak yang tergerak untuk membangun lingkungan yang inklusif. Mari belajar mendengar dengan hati, sehingga semua dapat merasakan kebersamaan dan kebermanfaatan,” pungkas Wahyu.Melalui TPQ Inklusi, Muhammadiyah Sleman menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata yang menghadirkan keadilan dan kesempatan bagi semua.Rep Anna Yaskuri S.Pd MPKS PDM SlemanEditor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Empat Produk UMKM Sleman Masuk Program Muhammadiyah One Brand UMKM

Kebumen , Pdmsleman.Or.Id Komitmen Muhammadiyah dalam memperkuat ekonomi umat kembali ditunjukkan melalui dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Dalam Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman yang digelar di Sagara View, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (13/6/2026), dilakukan penyerahan simbolis empat produk unggulan UMKM Sleman yang terpilih masuk dalam Program Muhammadiyah One Brand UMKM. Raker tersebut dihadiri secara lengkap oleh 13 pimpinan harian PDM Sleman, serta para ketua dan sekretaris majelis, lembaga, dan organisasi otonom (ortom) tingkat daerah se-Kabupaten Sleman. Selain membahas program strategis organisasi, forum ini juga menjadi momentum penguatan sektor ekonomi melalui pemberdayaan UMKM Muhammadiyah. Penyerahan simbolis dilakukan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LP UMKM) PDM Sleman, Muhamad Iskandar, S.E., M.E., kepada Ketua PDM Kabupaten Sleman. Empat produk yang diserahkan merupakan produk UMKM Sleman yang telah terpilih sebagai bagian dari program Muhammadiyah One Brand UMKM. Muhamad Iskandar menjelaskan bahwa penyerahan tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi bentuk dukungan nyata agar produk-produk UMKM binaan Muhammadiyah dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas melalui jaringan Muhammadiyah. “Penyerahan simbolis ini memiliki harapan agar PDM Sleman memberikan restu sekaligus dukungan penuh kepada UMKM Sleman untuk masuk dalam Program Muhammadiyah One Brand UMKM sebagai upaya mengatasi persoalan pemasaran yang selama ini menjadi tantangan utama pelaku usaha kecil,” ujarnya. Program Muhammadiyah One Brand UMKM sendiri secara resmi diluncurkan oleh Lembaga Pengembangan UMKM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY pada 10 Maret 2026 di Hotel SM Tower Yogyakarta. Program tersebut dirancang sebagai model kolaboratif yang memungkinkan satu merek digunakan oleh berbagai pelaku UMKM Muhammadiyah untuk produk yang sama dengan standar kualitas dan desain yang seragam. Menurut Iskandar, konsep tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk UMKM Muhammadiyah di pasar yang semakin kompetitif. Dengan menggunakan satu identitas merek yang kuat, produk akan lebih mudah dikenali konsumen dan memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar yang lebih luas. Ia mencontohkan produk RendangMu yang telah diluncurkan pada Maret lalu. Produk tersebut berasal dari UMKM Sleman, namun ke depan dapat diproduksi oleh UMKM Muhammadiyah dari daerah lain dengan tetap menggunakan merek dan desain yang sama sesuai standar yang telah ditetapkan. “Produsennya bisa berbeda-beda, tetapi brand dan desain kemasan harus sama sehingga tercipta kekuatan merek yang terintegrasi,” jelasnya. Pada tahap awal, terdapat empat produk yang dipilih sebagai pilot project dalam Program Muhammadiyah One Brand UMKM, yaitu Sambel PecelMu, AbonMu, RendangMu, dan SambelMu. Menariknya, keempat produk tersebut seluruhnya berasal dari UMKM Kabupaten Sleman. Keberhasilan produk-produk UMKM Sleman masuk dalam program percontohan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Muhammadiyah Sleman. Selain menunjukkan kualitas produk yang dimiliki, pencapaian tersebut juga membuka peluang lebih besar bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan pemasaran melalui ekosistem Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah. Melalui sinergi antara organisasi dan pelaku usaha, Muhammadiyah berharap Program One Brand UMKM mampu menjadi solusi nyata dalam meningkatkan kemandirian ekonomi umat sekaligus memperkuat keberadaan produk-produk lokal di pasar nasional. Reportase Tetra LP UMKM PDM Sleman Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Bedah Buku “Ekologi Berkemajuan” Dorong Kesadaran Lingkungan Berbasis Nilai Islam

Yogyakarta. pdmsleman.Or.Id Majelis Lingkungan Hidup dan Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY menggelar Diskusi dan Bedah Buku Ekologi Berkemajuan: Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Muhammadiyah di Ruang Audio Visual Museum Muhammadiyah Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan yang berpijak pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan. MPI PDM Sleman dalam kesempatan kali ini hadir sebagai peserta bedah buku yang dihadiri oleh Arief Hartanto ketua dan Wahdan Arifudin Sekretaris bersama puluhan undangan dari Majelis Lingkungan Hidup, Majelis Pustaka dan Informasi se DIY beserta akademisi dan penggiat lingkungan dan literasi. Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY, Afan Kurniawan, S.T., M.T dalam sambutannya menegaskan bahwa berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia saat ini menuntut perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pencemaran lingkungan, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta meningkatnya berbagai bencana ekologis menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan alam perlu dibangun kembali secara lebih bertanggung jawab. “Buku ini mengajak kita memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari nilai-nilai keislaman. Manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan alam sebagai amanah Allah SWT,” ujarnya. Afan menjelaskan bahwa konsep Ekologi Berkemajuan sejalan dengan semangat Islam Berkemajuan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan manusia, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Ia berharap buku tersebut mampu menjadi sumber inspirasi sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam membangun gerakan lingkungan yang berbasis ilmu pengetahuan, nilai keagamaan, dan kepedulian sosial. Sementara itu, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY, Dr. Sapardiyono, S.Hut., M.H., mengungkapkan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini merupakan persoalan global yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Ia menyoroti tingginya angka bencana yang terjadi di Indonesia sebagai dampak dari kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. “Pada tahun 2024 terjadi 3.472 bencana di Indonesia, dan sekitar 70 persen di antaranya berupa banjir serta cuaca ekstrem. Ini menunjukkan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipandang sebagai persoalan alam semata, tetapi juga akibat perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan,” katanya. Menurut Sapardiyono, Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan, literasi, dan gerakan kolektif warga persyarikatan. “Muhammadiyah perlu menggerakkan, mendidik, dan meliterasi warganya agar pelestarian lingkungan menjadi nilai yang hidup dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Apresiasi terhadap terbitnya buku tersebut juga disampaikan Wali Kota DR. dr Hasto Wardoyo Yogyakarta melalui sambutan tertulis yang dibacakan dalam acara. Pemerintah Kota Yogyakarta menilai buku Ekologi Berkemajuan sebagai literatur yang komprehensif dalam membahas berbagai persoalan lingkungan dari beragam perspektif. “Buku ini tidak hanya membahas aspek lingkungan hidup, tetapi juga kaitannya dengan kesehatan manusia. Lingkungan yang buruk dapat memicu berbagai penyakit, baik menular maupun tidak menular, termasuk persoalan kesehatan mental yang saat ini semakin meningkat,” demikian isi sambutan tersebut. Dalam sesi diskusi yang dipandu Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta Ahmad Ahid Mudayana S.K.M, M.P.H dengan bahasan oleh Prof. Wajiran, S.S., M.A.,dari UAD  menyoroti pentingnya membangun kesadaran ekologis melalui pendidikan dan sastra. Ia mendorong agar literasi lingkungan diintegrasikan dalam kurikulum sekolah maupun perguruan tinggi, serta diperkuat melalui berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan generasi muda. Ketua LHKP PP Muhammadiyah, Prof. Dr. phil. Ridho Al Hamdi, menilai keunggulan buku ini terletak pada keberagaman perspektif para penulis yang berasal dari berbagai disiplin ilmu. “Persoalan ekologi bukanlah domain satu bidang tertentu. Semua disiplin ilmu memiliki tanggung jawab yang sama dalam membangun kesadaran dan solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan,” ujarnya Selain itu, ia mengingatkan pentingnya perhatian terhadap persoalan ekologis yang dihadapi Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti krisis air bersih di Gunungkidul, persoalan sampah, alih fungsi lahan pertanian, hingga ancaman bencana yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi. Menutup diskusi, para narasumber sepakat bahwa kesadaran ekologis harus menjadi gerakan bersama. Pembangunan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila manusia mampu menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan upaya pelestarian lingkungan demi keberlangsungan kehidupan generasi mendatang. https://drive.google.com/drive/folders/1SzT6HA-PCIYzxb3uY2liiJfxzKq_lA_q?usp=sharing Rep Arief H & Wahdan Arifudin

Loading

Masjid Al-Mukmin Plosorejo Gelar Pelatihan Juru Sembelih dan Asah Bilah Gratis

Ngaglik, Pdmsleman.Or.Id  Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 H, Masjid Al-Mukmin yang berlokasi di Plosorejo, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, menggelar acara pelatihan dan pengenalan alat serta asah bilah pada Sabtu (23/5/2026). Masjid binaan Ustaz Fathurrahman Al-Katitanji ini menghadirkan pemateri Ustaz Husein Ardiyanto, yang juga merupakan pengurus JagalMu Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman bidang dakwah dan pelatihan. Kegiatan yang berlangsung bakda Maghrib ini diawali dengan seminar bertajuk “Persiapan Alat Kurban: Antara Kompetensi, Higienitas, dan Keselamatan”. Dalam pemaparannya, Ustaz Husein menekankan empat kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh juru sembelih (juleha), yakni pengetahuan tentang syariat penyembelihan, keterampilan teknis, pemahaman higienis dan sanitasi, serta kepedulian terhadap kesejahteraan hewan. “Pelaksanaan kurban bukan hanya soal memotong, tetapi juga soal menjaga kesehatan masyarakat dan kehormatan hewan kurban. Sanitasi yang baik akan menentukan kualitas dyang diterima mustahik,” ujar Ustadz Husein di hadapan puluhan peserta yang antusias. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan berbagai jenis pisau kurban, mulai dari pisau sembelih ( slaughter knife ), pisau  skinning untuk menguliti, pisau  boning  untuk memisahkan daging dari tulang, pisau dapur serbaguna, hingga kapak cacah tulang. Tak ketinggalan, teknik mengasah pisau yang benar serta cara merawat dan menyimpan pisau agar tetap tajam dan awet menjadi sesi yang paling dinanti. Memasuki bakda Isya hingga pukul 21.00 WIB, panitia membuka layanan asah bilah gratis. Tim Juleha Sleman yang berkolaborasi dengan JagalMu berhasil mengasah 113 alat kurban milik warga dan panitia masjid. Pisau-pisau yang semula tumpul kembali bercahaya dengan ketajaman optimal. Ketua panitia acara menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim JagalMu dan Juleha Sleman. “Kami bersyukur, warga kini lebih paham pentingnya alat tajam yang higienis. Semoga kurban tahun ini lebih berkualitas,” tuturnya. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Masjid Al-Mukmin berharap dapat menjadi pusat edukasi kurban yang berkelanjutan di wilayah Sleman.   Editor Arief Hartanto MPI ODM Sleman

Loading

Gladen Geden Sasi Besar Jagal Muhammadiyah LP4H PDM Sleman Perkuat Kompetensi Jagal dan Dakwah Persyarikatan

Sleman, Pdmsleman.Mu.Or.id Lembaga Pengkajian Pengawasan dan Pendampingan Produk Halal Pimpinan (LP4H) Daerah Muhammadiyah Sleman melalui Jagal Muhammadiyah menggelar kegiatan “Gladen Geden Sasi Besar Jagal Muhammadiyah PDM Sleman” pada Sabtu, 16 Mei 2026, pukul 07.30–13.00 WIB di Masjid Darussalam Sleman 3. Kegiatan ini diikuti oleh 85 peserta utusan PCM se-Kabupaten Sleman serta 45 peserta umum. Ketua panitia, Mohammad Hasan, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi sarana pembinaan keterampilan sekaligus penguatan dakwah persyarikatan melalui edukasi penyembelihan hewan kurban sesuai syariat Islam. Berbagai agenda praktik dan materi edukatif diselenggarakan dalam kegiatan tersebut. Pada sesi praktik, peserta mendapatkan pelatihan penyembelihan dan kelet kambing sebanyak lima ekor secara langsung. Selain itu, panitia juga mengadakan pengecekan bilah pisau kurban guna memastikan alat penyembelihan memenuhi standar ketajaman dan keamanan. Dalam sesi materi, Dr. Yayan Suryana menyampaikan pembahasan mengenai kesalahan-kesalahan dalam berkurban. Materi ini menyoroti pentingnya pemahaman syariat, pemilihan hewan kurban, hingga tata cara penyembelihan yang benar agar ibadah kurban terlaksana secara sah dan optimal. Selanjutnya, Tri Hartanto Saputro bersama Nurhadi Bambang Handoko memberikan materi tentang cara mengasah bilah pisau dengan benar serta teknis penyembelihan hewan kurban. Para peserta juga mendapatkan praktik langsung mengenai penggunaan alat dan teknik penyembelihan yang efektif, cepat, dan sesuai tuntunan syariat. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Selain memperoleh ilmu teoritis, peserta juga mendapatkan pengalaman praktik yang diharapkan dapat diterapkan di masing-masing PCM dan lingkungan masyarakat menjelang Iduladha. Dalam kesan dan pesannya, Mohammad Hasan berharap keberadaan Jagal Muhammadiyah Sleman dapat terus berkembang dan berkelanjutan. Ia menyampaikan, “Harapan kami JagalMu Sleman yang telah dikukuhkan pada setiap Kapanewon akan terus berkelanjutan dan bukan hanya agenda tahunan, terutama dalam menyikapi DAM Haji, senantiasa simak kabar, ikuti instruksi supaya menggerakkan roda dakwah persyarikatan.” Rep Arsyad

Loading

Pelatihan TOT SATUMU PDM Sleman Perkuat Transformasi Digital Keanggotaan Muhammadiyah

Moyudan, Pdmsleman.Or.Id Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman menggelar Pelatihan Training of Trainers (TOT) aplikasi SATUMU pada Sabtu 2 Mei 2026 di SMK Muhammadiyah 1 Moyudan. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dari wilayah Kapanewon Minggir, Moyudan, dan Godean. Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua PCM yang menegaskan urgensi pelatihan dalam mendukung tertib administrasi keanggotaan di lingkungan Muhammadiyah. “Pelatihan ini sangat penting untuk memastikan proses pendataan, migrasi, hingga penerbitan e-KTAM dapat berjalan lebih cepat dan terstruktur,” ujarnya. Perwakilan PDM Sleman, Arif Mahfud, turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini sebagai langkah strategis dalam mendukung transformasi digital organisasi. “Kami menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian penting dari upaya Muhammadiyah dalam bertransformasi secara digital. Peran agen dan verifikator sangat krusial dalam menjaga validitas data keanggotaan,” ungkapnya. Sementara itu, perwakilan PWM DIY, Cahyono, dalam arahannya menekankan bahwa digitalisasi merupakan kebutuhan mendesak bagi organisasi modern. “Transformasi digital bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Aplikasi SATUMU menjadi instrumen penting dalam membangun sistem keanggotaan yang modern, terintegrasi, dan akuntabel,” tegasnya. Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas agen dan verifikator dalam mengoperasikan aplikasi SATUMU, khususnya terkait proses migrasi data anggota dan penerbitan e-KTAM di tingkat cabang dan ranting. Dengan peningkatan kompetensi tersebut, diharapkan administrasi keanggotaan Muhammadiyah dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Materi pelatihan disampaikan oleh tim TOT aplikasi SATUMU dari MPI PP Muhammadiyah. Para pemateri memberikan pendampingan teknis sekaligus pemahaman mendalam terkait implementasi aplikasi di lapangan. Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta aktif menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari proses migrasi data anggota, verifikasi data, hingga teknis penerbitan e-KTAM. Tim pemateri pun memberikan solusi praktis untuk menjawab permasalahan tersebut. Melalui forum diskusi tersebut, diharapkan tercipta kesamaan persepsi serta peningkatan kemampuan teknis para agen dan verifikator. Dengan demikian, implementasi aplikasi SATUMU di tingkat cabang dan ranting dapat berjalan optimal, berkelanjutan, serta mampu mendukung sistem administrasi keanggotaan Muhammadiyah yang lebih tertib dan modern. Rep  : Totok SE PDM Editor  Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading