Yogyakarta, Pdmsleman,Or.Id
Di balik megahnya ribuan sekolah, jaringan perguruan tinggi unggulan, hingga deretan rumah sakit yang tersebar di pelosok negeri, sebuah pertanyaan mendasar perlahan mengusik rumah besar Muhammadiyah: Apakah persyarikatan ini masih menjadi pelopor pembaruan, atau justru mulai nyaman dalam sangkar kebesarannya sendiri?
Kegelisahan dan ikhtiar menjawab tantangan zaman itulah yang terangkum dalam buku terbaru bertajuk Reinventing Muhammadiyah: Desakan Pembaruan Gerakan Pembaharuan. Buku karangan puluhan penulis muda dan aktivis akar rumput Muhammadiyah dan editor Ahmad Faizin Karimi & David Efendi ini diluncurkan sekaligus didiskusikan secara mendalam dalam agenda yang digelar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) PP Muhammadiyah di Aula Kantor PP Muhammadiyah Jl. K.H. Ahmad Dahlan No.103 Yogyakarta pada Rabu 30 September 2026.
Dalam kegiatan menghadirkan Narasumber Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum , Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D, Dr. David Efendi, S.IP., M.A., M.A, Khafid Sirotudin, S.E., M.Si. , Yayum Kumai, M.A, Ahmad Farizin Karimi, M.Sos dengan Moderator DR. Iwan Setiawan S.Ag., M.S.I
Dalam ksempatan ini hadir Majelis Pustaka dan Informasi PWM DIY, PDM Kabupaten Kota, PW IPM DIY, DPD IMM DIY, PC IMM, RUmah Baca Komunitas, Serikat Taman Pustaka, Forum TBM DIY dan 5 Kabupaten Kota, Himpusma, Kepala Perpustakaan PTMA, dan AUM SMA/K se DIY.
Arief HArtanto turut hadir mewakili MPI PDM Sleman bersama para peserta bedah buku di Kantor PP Muhammadiyah Ahmad Dahlan.

Membuka ruang diskursus kritis tersebut, M. Busyro Muqoddas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Hikmah, menyampaikan catatan prolog yang tajam sekaligus mendalam. Dalam pandangannya, buku ini bukanlah sekadar himpunan tulisan biasa, melainkan sebuah “cermin yang jujur” bagi tubuh Persyarikatan.
“Cermin yang baik bukanlah cermin yang selalu membuat kita tampak sempurna, melainkan cermin yang memperlihatkan wajah kita apa adanya—sehingga kita tahu bagian mana yang harus dirawat, diperbaiki, atau bahkan dibersihkan,” puji Busyro.
Busyro menegaskan bahwa ruh tajdid (pembaruan) tidak boleh hanya ditembakkan ke luar atau masyarakat umum, melainkan wajib diarahkan ke dalam tubuh Muhammadiyah itu sendiri. Ia menyoroti potensi bahaya laten seperti fenomena rangkap jabatan, konflik kepentingan, hingga bahaya klik-isme dan neo-nepotisme yang perlahan dapat mengikis public trust (kepercayaan publik). Menurutnya, otokritik bukanlah bentuk pengkhianatan, melainkan wujud tertinggi dari rasa cinta kepada organisasi.
Suara Akar Rumput dan Gagasan Segar Puluhan Penulis
Buku setebal lebih dari 500 halaman yang disunting oleh Ahmad Faizin Karimi dan David Efendi ini menghimpun gagasan puluhan kader dari berbagai penjuru tanah air. Penulis seperti Dikdik Dahlan Lukman, Khafid Sirotudin, Yayum Kumai, hingga generasi muda Persyarikatan lainnya membedah berbagai persoalan nyata. Ada enam pilar utama yang disoroti: tata kelola organisasi, ideologi, ekosistem kaderisasi, ekologi-kesehatan, hukum-politik, hingga persoalan sosial-ekonomi.
Di antara lembaran-lembaran kritikal tersebut, terselip kisah-kisah menarik yang menggugah ingatan sejarah dan realitas lapangan. Salah satunya disuarakan oleh Dikdik Dahlan Lukman yang mengurai catatan historis bertajuk “Mengapa Muhammadiyah Terlambat Kembali ke Pelayanan Haji?”. Ia mengingatkan kembali fakta bahwa K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1921 telah merintis Bahagian Penolong Hadji, bahkan generasi KH Moh Soedja pernah memiliki imajinasi besar membeli kapal haji sendiri. Namun, perjalanan sejarah kelembagaan membuat Muhammadiyah justru baru secara formal membentuk Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) pasca-Muktamar ke-48 tahun 2022.
Tak kalah menghentak, kritik tajam juga muncul pada isu ekologi. Penulis seperti Yayum Kumai dan Trigus D. Susilo menyuarakan kegelisahan akar rumput terkait dinamika kemitraan serta isu konsesi tambang, yang dinilai berpotensi menguji independensi dan komitmen amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah di hadapan kekuasaan.
Epilog Fathul Wahid: Menjaga Inti, Membayangkan yang Paling Jauh
Menutup seluruh dialektika pemikiran dalam buku ini, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) sekaligus alumni Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D., memberikan catatan epilog yang menyejukkan sekaligus visioner.
Fathul Wahid mengingatkan pentingnya sikap “menjaga yang paling inti, membayangkan yang paling jauh”. Nilai-nilai dasar tauhid, keikhlasan, dan integritas gerakan merupakan inti yang tidak boleh bergeser sedikit pun. Namun dalam merespons perubahan peradaban, cara pandang dan ekosistem tata kelola Muhammadiyah harus berani membayangkan horizon masa depan yang jauh melampaui kebiasaan hari ini.
Buku Reinventing Muhammadiyah pada akhirnya hadir bukan untuk memicu kegaduhan, melainkan sebagai panggilan kesadaran kolektif. Muhammadiyah yang berkemajuan adalah organisasi yang tidak takut pada kritik, melainkan terus belajar dan memperbarui dirinya demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Rep Editor MPI PDM Sleman.
![]()







