Turi
Kebahagiaan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan, kemewahan, maupun kedudukan sosial. Keimanan, kesalehan keluarga, hubungan baik dengan tetangga, serta kemampuan mengelola rezeki secara bijaksana menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan yang tenteram di dunia dan memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Pesan tersebut disampaikan Ustaz H. Harjaka dalam kajian Ahad Kliwon yang diikuti warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di wilayah Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan kegiatan pengajian sebagai sarana memperkuat keimanan sekaligus memperbaiki perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Mengawali kajian, Harjaka mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu. Menurutnya, kesibukan pekerjaan, persoalan ekonomi, serta berbagai urusan keluarga tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan semangat untuk belajar agama.
Ia mengajak warga Muhammadiyah terus bersemangat mengikuti pengajian, meskipun terkadang materi yang disampaikan tidak seluruhnya dapat diingat atau dipahami secara langsung.
“Pokoknya yang penting mengaji. Insyaallah mendapatkan ganjaran. Syukur-syukur bisa menghafal dan kemudian menularkan ilmu yang diperoleh kepada orang lain,” demikian pesan Harjaka dalam tausiyahnya.

Menurutnya, belajar agama merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan kesungguhan. Pengajian tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi pengingat agar umat Islam senantiasa memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak.
Dalam kajian tersebut, Harjaka menjelaskan empat gambaran kehidupan manusia berdasarkan keadaan di dunia dan orientasi kehidupannya di akhirat.
Pertama, manusia yang memperoleh kenyamanan hidup di dunia sekaligus mengupayakan kebahagiaan akhirat melalui kesungguhan beribadah. Kedua, orang yang menjalani kehidupan dunia dengan berbagai keterbatasan, tetapi tetap tekun beribadah dan berharap memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Ketiga, orang yang menikmati kemudahan dunia, tetapi mengabaikan kewajiban beribadah. Keempat, mereka yang mengalami kesulitan hidup sekaligus tidak berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Melalui gambaran tersebut, Harjaka mengajak jamaah tidak menjadikan keadaan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan hidup. Kekayaan dan kenyamanan dunia perlu disertai keimanan, ibadah, serta perilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Ia menegaskan bahwa setiap orang perlu berusaha memperbaiki kehidupannya tanpa melupakan tanggung jawab kepada Allah SWT. Kesempatan mengikuti pengajian, memperbaiki ibadah, dan membangun hubungan sosial yang baik merupakan bagian dari ikhtiar menuju kehidupan yang lebih bermakna.
Harjaka kemudian menguraikan empat hal yang perlu diperhatikan dalam membangun kebahagiaan rumah tangga. Ia menempatkan pasangan yang saleh atau salehah sebagai salah satu unsur utama.
Dalam penjelasannya, ia mengaitkan nilai tersebut dengan filosofi Jawa tentang bobot, bibit, dan bebet. Bobot berkaitan dengan kualitas atau keadaan seseorang, bibit berhubungan dengan latar belakang keluarga, sedangkan bebet berkaitan dengan penampilan dan keadaan sosial yang dalam pemahaman masyarakat sering menjadi pertimbangan ketika memilih pasangan.
Namun, ia mengingatkan agar pertimbangan tersebut tidak mengalahkan agama dan akhlak.
Menurut Harjaka, kekayaan, keturunan, maupun paras yang menarik tidak dengan sendirinya menjamin kebahagiaan rumah tangga. Karena itu, kesalehan dan kualitas agama perlu menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pasangan hidup.
Ia berharap suami dan istri dapat saling mengingatkan dalam kebaikan. Dengan pemahaman agama yang baik, persoalan rumah tangga diharapkan dapat diselesaikan secara bijaksana, tanpa memperbesar masalah yang sebenarnya bisa dibicarakan bersama.
Keluarga yang dibangun atas dasar keimanan diharapkan mampu menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan tanggung jawab bersama.
Syarat berikutnya adalah memiliki dan mendidik keturunan yang saleh atau salehah. Harjaka menekankan bahwa pendidikan anak tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga harus membentuk kepribadian, ketaatan, serta akhlak yang baik.
Ia mengingatkan orang tua agar memberikan pendidikan agama sejak dini. Anak perlu dikenalkan kepada Nabi Muhammad SAW, dibiasakan mencintai keluarga, serta diajarkan membaca Al-Qur’an.
Salah satu upaya yang disampaikan dalam kajian ialah membiasakan anak mengikuti pendidikan keagamaan, termasuk melalui taman pendidikan Al-Qur’an dan lembaga pendidikan yang memberikan perhatian terhadap pembentukan karakter Islami.
Harjaka juga menekankan pentingnya keteladanan orang tua. Pendidikan tidak cukup dilakukan melalui nasihat, tetapi perlu diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari di lingkungan keluarga.
Anak yang memperoleh perhatian, kasih sayang, dan bimbingan agama diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab serta menghormati orang tua.
Menurutnya, doa anak saleh menjadi harapan penting bagi orang tua, sehingga pembinaan akhlak dan ibadah perlu menjadi perhatian bersama.
Unsur ketiga yang disampaikan Harjaka adalah memiliki lingkungan tetangga yang baik. Ia mengajak jamaah membangun hubungan sosial yang dilandasi kepedulian, saling menghormati, dan semangat mengajak kepada kebaikan.
Kehidupan bertetangga yang rukun dapat membantu menciptakan suasana lingkungan yang aman dan tenteram. Sebaliknya, perselisihan yang terus-menerus dapat mengganggu kenyamanan hidup bermasyarakat.
Karena itu, Harjaka mengajak jamaah tidak hanya memperbaiki diri dan keluarga, tetapi juga ikut menciptakan lingkungan yang mendukung kegiatan ibadah serta perilaku positif.
Adapun unsur keempat berkaitan dengan kemampuan memperoleh rezeki dan menjalani kehidupan secara wajar di lingkungan sendiri. Ia mengingatkan bahwa manusia perlu bekerja dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi tidak harus memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain.
Harjaka menekankan pentingnya menggunakan nafkah secara sederhana dan sesuai kemampuan. Seseorang tidak perlu merasa rendah diri hanya karena tidak mampu membeli makanan mahal atau memenuhi seluruh keinginan konsumtif.
Menurutnya, makanan yang sederhana tetap dapat mencukupi kebutuhan apabila dipilih dan diolah dengan baik. Sebaliknya, kebiasaan memaksakan pengeluaran di luar kemampuan berpotensi menimbulkan persoalan ekonomi dan memicu pertengkaran dalam keluarga.
Melalui kajian tersebut, Harjaka mengajak warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah terus memperkuat ibadah, mendidik anak dengan nilai-nilai Islam, menjaga kerukunan bertetangga, serta mengelola rezeki secara bijaksana.
Ia berharap nilai-nilai yang disampaikan dalam pengajian tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, keluarga dan masyarakat dapat tumbuh menjadi lingkungan yang lebih religius, harmonis, dan saling menguatkan dalam kebaikan.
Rep Editor Arief Hartanto PCM Turi
![]()








