Kepala Sekolah Muhammadiyah Harus Menjadi Agen Transformasi di Era AI

Facebook
Twitter
LinkedIn

Sleman, Pdmsleman.Or.Id

Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman melantik Estri Rukmiyati, M.Pd sebagai Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur dan Yuni Puspita Sari, M.Pd sebagai Kepala SD Muhammadiyah Sidoarum Godean pada Ahad (12/7/2026) bertempat di aula PDM Sleman.

Pelantikan kepala sekolah SD Muhammadiyah Condong Catur dan SD Muhammadiyah Sidoarum berlangsung khidmat dan dalam kesempatan tersebut, hadir Arif Jamali Muis, S.Pd, M.Pd, direktur Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Drs. H. Gita Danupranata, S.E., M.M., wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta yang membidangi Majelis Dikdasmen dan PNF, Dr. H. Ahmad Muhammad, M.Ag, ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, H. Harjaka, S.Pd, S.Ag, M.A., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman beserta jajaran, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean dan Depok, Majelis Dikdasmen dan PNF, BPH atau Badan Pembina Harian SD SMP Muhammadiyah Godean serta perwakilan guru dari masing-masing sekolah yang dilantik.

Dalam kesempatan tersebut hadirin mendapatkan pembinaan mengenai tantangan kepemimpinan pendidikan Muhammadiyah di era kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dan perubahan karakter generasi peserta didik.

Dalam pembinaannya, Arif Jamali Muis, S.Pd, M.Pd, selaku Direktur Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menegaskan bahwa kepala sekolah Muhammadiyah harus mampu menjadi agen transformasi yang menggerakkan perubahan di lingkungan sekolah.

Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan mutu akademik, tetapi juga kemampuan sekolah dalam merespons perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Guru dan kepala sekolah dituntut untuk terus belajar agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman.

“Anak-anak yang kita hadapi saat ini adalah Generasi Z dan Generasi Alpha. Mereka hidup di era digital dan kecerdasan artifisial. Nilai-nilai pendidikan tidak berubah, tetapi cara mendidik harus berubah mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia mencontohkan bagaimana teknologi AI saat ini mampu membantu penyusunan pidato, artikel, bahan ajar, hingga berbagai kebutuhan akademik lainnya. Karena itu, sekolah tidak boleh memandang teknologi sebagai ancaman, tetapi sebagai alat yang harus dipahami dan dimanfaatkan secara bijaksana.

Meski demikian, ia menegaskan:
“Bahwa pemanfaatan teknologi tidak boleh menggeser nilai-nilai utama pendidikan seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, integritas, dan akhlak mulia.” papar Arif Jamali Muis yang juga sekretaris PWM Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Nilai tetap harus dijaga. Yang berubah adalah metode dan pendekatannya,” tegas Arif.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa Muhammadiyah sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar untuk menghadapi perubahan zaman. Modal tersebut antara lain Risalah Islam Berkemajuan yang diputuskan dalam Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta tahun 2022.

Menurutnya, Risalah Islam Berkemajuan mengandung semangat pembaruan, optimisme, dan pola pikir bertumbuh (growth mindset) yang sangat relevan dalam menghadapi berbagai tantangan masa kini.

“Orang Muhammadiyah harus memiliki kegelisahan ketika melihat persoalan dan berusaha menghadirkan solusi. Itulah semangat Islam Berkemajuan,” jelas Arif Jamali Muis.

Selain memiliki modal pemikiran, Muhammadiyah juga memiliki kekuatan berupa nama besar organisasi yang telah dipercaya masyarakat selama lebih dari satu abad. Karena itu, sekolah-sekolah Muhammadiyah harus menjaga kepercayaan tersebut melalui peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan yang profesional.

Dalam pembinaan tersebut, para kepala sekolah juga diingatkan pentingnya membangun budaya apresiasi kepada peserta didik. Guru diharapkan mampu menjadi sosok yang tegas, berwibawa, namun tetap dekat dan humanis terhadap murid-muridnya.

“Guru harus menjadi teladan. Tegas bukan berarti keras. Berwibawa bukan berarti menjaga jarak. Guru harus mampu membangun kedekatan yang positif dengan peserta didik,” katanya.

Selain transformasi pendidikan, pembicara juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam mengembangkan sekolah Muhammadiyah. Ia mengajak seluruh unsur Persyarikatan, mulai dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pimpinan Cabang Muhammadiyah, Badan Pembina Harian, kepala sekolah, guru, alumni, hingga perguruan tinggi Muhammadiyah untuk membangun sinergi dalam memajukan amal usaha pendidikan.

Mengutip pesan tokoh Muhammadiyah Prof. Malik Fadjar, ia mengingatkan bahwa konflik internal hanya akan menghambat kemajuan sekolah. Sebaliknya, budaya musyawarah dan kerja sama harus terus diperkuat sebagai karakter utama Muhammadiyah.

“Sekolah tidak akan maju apabila pemimpinnya tidak memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Kepala sekolah harus memiliki visi, mimpi, dan dedikasi yang kuat terhadap sekolah yang dipimpinnya,” ungkapnya.

Menutup pembinaannya, ia mengajak seluruh kepala sekolah Muhammadiyah untuk terus memperkuat budaya mutu, memanfaatkan teknologi secara bijak, mengembangkan pola pikir bertumbuh, serta menjaga semangat Islam Berkemajuan dalam seluruh proses pendidikan.

Empat pesan utama yang menjadi benang merah pembinaan tersebut adalah: bertransformasi menghadapi era AI, membangun growth mindset, memperkuat kolaborasi, dan memimpin sekolah dengan visi besar serta dedikasi jangka panjang demi kemajuan pendidikan Muhammadiyah.

Rep H. Wadhan Arifudin S.Pd PCM Godean

Loading

Leave a Replay