Turi, Pdmsleman.Or.Id
Memasuki bulan Safar 1448 Hijriah, Masjid Baiturrahim Prapatan Turi, Sleman, kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. H. Sukamta, S.T., M.T., IPM, Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ketua PCM Ngaglik, sekaligus pembina KBIH ‘Aisyiyah. Kajian yang berlangsung pada Sabtu Kliwon, 17 Safar 1448 H atau 1 Agustus 2026 pukul 04.45–05.45 WIB tersebut mengangkat tema “Safar: Momentum Hijrah Menuju Pribadi yang Lebih Baik”, dengan pesan utama menjadikan setiap waktu sebagai kesempatan menambah amal saleh.
Di hadapan jamaah yang memenuhi Masjid Baiturrahim, Prof. Sukamta mengawali tausiyah dengan mengajak seluruh kaum muslimin meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Menurutnya, pergantian hari, bulan, maupun tahun bukan sekadar perubahan kalender, melainkan amanah Allah yang harus dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi diri atau muhasabah.
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. Yunus ayat 6 yang menjelaskan bahwa pergantian malam dan siang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang bertakwa.
“Allah menciptakan waktu bukan untuk disia-siakan. Setiap pergantian waktu adalah kesempatan memperbaiki kualitas iman, amal, dan akhlak kita,” ungkapnya.
Perjalanan Hidup Menuju Allah
Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa kata Safar secara bahasa berarti perjalanan. Makna ini mengingatkan setiap manusia bahwa hidup sesungguhnya merupakan perjalanan panjang, mulai dari lahir menuju kematian, dari kehidupan dunia menuju akhirat, dari dosa menuju ampunan Allah, hingga dari kelemahan menuju kemuliaan di sisi-Nya.
Beliau mengutip QS. Al-Insyiqaq ayat 6 yang menegaskan bahwa setiap manusia sedang berjalan menuju Rabb-nya dan kelak akan menemui-Nya.
“Setiap hari umur kita berkurang. Semoga setiap hari pula amal kita bertambah,” pesannya kepada jamaah.
Hijrah Dimulai dari Perubahan Akhlak
Prof. Sukamta menegaskan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi perubahan menuju pribadi yang lebih baik. Mengutip sabda Rasulullah ﷺ, beliau menjelaskan bahwa orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah.
Beliau mengajak jamaah melakukan introspeksi diri dengan beberapa pertanyaan sederhana. Apakah shalat telah semakin khusyuk, Al-Qur’an telah menjadi bacaan harian, hubungan dengan keluarga semakin harmonis, kepedulian terhadap tetangga meningkat, dan pekerjaan dijalankan dengan penuh amanah.
“Hijrah terbaik adalah hijrah akhlak. Ketika karakter kita semakin baik, itulah tanda perjalanan menuju Allah berjalan di jalur yang benar,” tuturnya.
Muhasabah Sebelum Perjalanan Berakhir
Dalam penyampaiannya, Prof. Sukamta memberikan ilustrasi tentang seorang pengemudi yang selalu memeriksa bahan bakar, rem, ban, dan mesin sebelum melakukan perjalanan jauh.
Demikian pula kehidupan manusia. Sebelum perjalanan menuju akhirat berakhir, setiap muslim perlu memeriksa kembali kualitas iman, ibadah, akhlak, amanah, serta hubungan dengan sesama manusia.
Beliau juga mengingatkan bahwa Allah tidak menuntut manusia menjadi sempurna secara instan. Yang Allah cintai adalah amal yang dilakukan secara istiqamah meskipun sedikit, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus.
“Hari ini harus lebih baik dari kemarin, bulan ini lebih baik dari bulan sebelumnya, dan tahun ini harus lebih baik daripada tahun lalu,” ujarnya.
Memperkuat Ukhuwah dan Menjadi Manusia Bermanfaat
Pada bagian berikutnya, Prof. Sukamta mengajak jamaah menjadikan bulan Safar sebagai momentum memperkuat ukhuwah Islamiyah. Mengutip QS. Al-Hujurat ayat 10, beliau menegaskan bahwa sesama mukmin adalah saudara.
Menurutnya, masyarakat yang kuat bukan semata karena memiliki banyak orang pandai, melainkan karena warganya saling membantu, saling mendoakan, saling menguatkan, serta saling memaafkan.
Beliau juga mengingatkan sabda Rasulullah ﷺ bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Produktif Mengisi Waktu
Dalam kajian tersebut, Prof. Sukamta mengajak jamaah meneladani Rasulullah ﷺ yang dikenal sangat produktif dalam mengatur waktu antara ibadah, keluarga, pekerjaan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Mengutip QS. Asy-Syarh ayat 7–8, beliau mengingatkan bahwa seorang mukmin tidak mengenal waktu kosong karena selalu berusaha mengisinya dengan amal yang bermanfaat.
Sebagai penguat pesan, beliau mengajak jamaah merenungkan makna tembang Ilir-Ilir karya Sunan Kalijaga yang mengandung ajakan untuk bangkit dari kelalaian, memperbarui keimanan, dan menyuburkan amal saleh sebagaimana tanaman yang kembali hijau setelah memperoleh air.
Muhasabah Menyambut Safar
Menjelang penutupan kajian, suasana menjadi semakin khidmat ketika Prof. Sukamta mengajak jamaah melakukan muhasabah.
“Jika Allah memanggil kita malam ini, apakah kita sudah siap? Bukan siap karena harta, bukan karena jabatan, tetapi siap karena amal,” ungkapnya.
Beliau kemudian menyampaikan sejumlah pesan inspiratif, di antaranya bahwa Safar bukan sekadar nama bulan, tetapi pengingat bahwa hidup adalah perjalanan menuju Allah. Hijrah terbaik bukan berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju amal yang diridhai Allah.
Kajian ditutup dengan pembacaan QS. Al-‘Ashr ayat 1–3 sebagai pengingat bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
Melalui kajian ini, jamaah diajak menjadikan bulan Safar sebagai titik awal memperbaiki diri, memperkuat keluarga, membangun kepedulian sosial, serta meningkatkan kualitas ibadah. Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan, kemuliaan suatu waktu bukan ditentukan oleh nama bulannya, melainkan oleh amal saleh yang mengisinya. Pesan tersebut menjadi pengingat bagi setiap muslim agar menjadikan setiap detik kehidupan sebagai bekal terbaik menuju perjumpaan dengan Allah SWT.
Rep H. Agus Nugroho S Turi
![]()









