Sleman, Pdmsleman.Or.Id
Seni dan pendidikan memiliki hubungan yang erat dalam membentuk karakter generasi muda. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemampuan akademik, tetapi juga tentang bagaimana peserta didik mengenal budaya, membangun kebersamaan, memiliki kepekaan sosial, serta tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak. Semangat itulah yang tampak dalam kegiatan Uji Coba Gamelan Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kapanewon Sleman, Jumat, 11 September 2026 atau 29 Rabiulawal 1448 H, di Sawahan, Pandowoharjo, Sleman.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting setelah LBSO PCA Sleman memperoleh seperangkat gamelan melalui aspirasi bantuan dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Bantuan tersebut dikawal oleh Muhammad Lisman Puja Kesuma, S.P., Anggota DPRD DIY, sebagai bentuk sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam mendukung pelestarian seni dan budaya.
Kehadiran gamelan kemudian menjadi energi baru bagi anggota PCA Sleman untuk mengembangkan Paguyuban Sekar Surya. Para anggota tidak sekadar menerima perangkat kesenian, tetapi mulai menghidupkannya dengan belajar, berlatih, dan menabuh gamelan secara bersama-sama.
Suasana penuh kegembiraan terlihat ketika gamelan mulai ditabuh. Bunyi gong, kenong, saron, dan perangkat gamelan lainnya seakan menjadi simbol dimulainya perjalanan baru LBSO PCA Sleman dalam mengembangkan dakwah kultural melalui seni.
Dalam sambutan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman yang diwakili Broto Purwanto, S.Pd., M.S.I., disampaikan apresiasi kepada PCA Sleman dan LBSO PCA Sleman atas inisiatif tersebut. Menurutnya, kegiatan ini merupakan langkah nyata ‘Aisyiyah dalam menjalankan semangat tajdid sekaligus pelestarian budaya.
“Muhammadiyah tidak anti budaya. Kita justru mengambil nilai-nilai luhur budaya untuk dakwah amar ma’ruf nahi mungkar,” ujar Broto dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Muhammad Lisman Puja Kesuma, S.P., yang telah mengawal aspirasi bantuan gamelan dari Provinsi DIY. Sinergi antara pemerintah dan organisasi masyarakat, menurutnya, dapat melahirkan program yang memberikan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat.
Lebih jauh, Broto berharap gamelan tersebut tidak berhenti sebagai koleksi atau sekadar menjadi perangkat kesenian. Gamelan diharapkan menjadi media dakwah, pembinaan seni Islami, sekaligus sarana mendekatkan generasi muda dengan masjid dan persyarikatan Muhammadiyah.
Harapan tersebut memiliki relevansi kuat dengan arah pendidikan sekolah Muhammadiyah di masa depan. Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik. Pendidikan masa depan membutuhkan generasi yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, karakter, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Seni tradisional seperti gamelan dapat menjadi salah satu instrumen pendidikan karakter tersebut. Dalam permainan gamelan, setiap pemain memiliki peran berbeda. Tidak ada satu instrumen yang dapat berdiri sendiri untuk menghasilkan harmoni. Setiap pemain harus mendengarkan, menyesuaikan tempo, menghargai peran orang lain, disiplin mengikuti aturan, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Nilai-nilai tersebut sejatinya merupakan bagian penting dari pendidikan Muhammadiyah. Ilmu, akhlak, dan prestasi tidak hanya dibangun melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sosial dan budaya.
Karena itu, keberadaan Paguyuban Sekar Surya dapat menjadi jembatan antara pendidikan, kebudayaan, dan dakwah. Ke depan, sinergi antara PCA, PCM, sekolah-sekolah Muhammadiyah, dan komunitas seni dapat dikembangkan melalui pelatihan karawitan bagi pelajar, pentas seni budaya Islami, kegiatan ekstrakurikuler, hingga penguatan literasi budaya di lingkungan sekolah Muhammadiyah.
Di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan sosial yang begitu cepat, generasi muda membutuhkan akar budaya yang kuat agar tidak kehilangan identitas. Pendidikan Muhammadiyah masa depan perlu mampu memadukan kemajuan teknologi dengan kearifan lokal, sehingga peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi generasi yang memiliki karakter dan identitas kebangsaan.
Broto menegaskan bahwa PCM Sleman siap bersinergi dan mendukung berbagai program PCA dan LBSO untuk memajukan persyarikatan di tingkat cabang.
Dari Sawahan, Pandowoharjo, bunyi gamelan itu bukan sekadar suara alat musik tradisional. Ia menjadi tanda bahwa kebudayaan masih memiliki ruang dalam gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Dari satu ketukan lahir kebersamaan, dari kebersamaan tumbuh pendidikan karakter, dan dari pendidikan karakter diharapkan lahir generasi Muhammadiyah yang berilmu, berakhlak mulia, kreatif, berbudaya, dan berprestasi.
Rep H Broto Purwanto MPd PCM Sleman
Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman
![]()






