Sleman, Pdmsleman.Or.Id
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman menggelar kegiatan Refreshing dan Pembekalan Korps Mubaligh sekaligus workshop pengelolaan organisasi di SMK Muhammadiyah 1 Sleman, Ahad, 7 September 2026.
Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman periode 2022–2027 Prof. Zahrul Mufrodi, S.T., M.T., IPM menyampaikan kegiatan tersebut menjadi ruang penyegaran, penguatan kapasitas mubaligh, sekaligus mempererat barisan dakwah Muhammadiyah di tingkat cabang hingga ranting.
Kegiatan dibuka oleh Drs. H. Sukirman, MA dari PDM Sleman. Dalam sambutannya, Sukirman menekankan pentingnya peran mubaligh agar tidak hanya sibuk memperbaiki diri, tetapi juga mampu memberi manfaat bagi lingkungan. Menurutnya, dakwah harus hadir dalam kehidupan sehari-hari dan diwujudkan melalui kebiasaan saling menasihati dalam kebaikan.
“Jangankan bertemu 100 orang, dua orang bertemu sebelum berpisah, salah satu memberikan nasihat,” pesannya. Ia mengingatkan bahwa semangat tersebut sejalan dengan pesan Surah Al-Asr tentang saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Sukirman juga menyampaikan sejumlah pesan yang pernah disampaikan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Salah satunya, mubaligh Muhammadiyah perlu memiliki sikap tegas dan berwibawa agar tidak dipandang remeh, namun tetap menghindari cara-cara yang berlebihan. Mubaligh juga dituntut memiliki akidah yang kuat, memberi manfaat, serta pantang menghujat.
Selain materi kemubalighan, kegiatan membahas pentingnya pencatatan dan tindak lanjut hasil rapat. Notulen tidak boleh sekadar menjadi dokumen, tetapi harus menjadi pijakan untuk memastikan keputusan organisasi benar-benar dilaksanakan. Sikap tersebut dinilai penting agar roda organisasi Muhammadiyah berjalan tertib dan terukur.
Pesan lain yang ditekankan adalah agar warga Muhammadiyah tidak bersikap egois dalam menjalankan ibadah. Kesalehan pribadi harus diikuti kepedulian terhadap keluarga, tetangga, jamaah, dan masyarakat. Karena itu, semangat mengajak orang lain menuju kebaikan menjadi bagian penting dari dakwah.
Dalam sesi yang berkaitan dengan pengelolaan masjid, peserta juga diajak memikirkan cara meningkatkan daya tarik masjid, terutama bagi generasi muda. Masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi berkembang menjadi pusat kehidupan umat atau masjid peradaban.
Beberapa gagasan yang disampaikan antara lain menyediakan makanan, kopi, akses Wi-Fi, memberikan penghargaan atau insentif bagi pekerjaan anak muda, mengadakan kegiatan rekreasi, serta membantu menyiapkan ruang sosial yang mendukung masa depan generasi muda. Gagasan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya membuat masjid lebih ramah dan menarik bagi masyarakat.
Kegiatan juga diisi materi dan workshop terkait Sicara, Simasmu, dan Notulenmu. Hadir sebagai pemateri Ustaz H. Rohmadi Wibowo Suwarno, Lc., MHum., MA., PhD dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sekaligus Kepala Lembaga Pengembangan Studi Islam UAD. Turut hadir Ustaz Taswan dari LPCR PWM DIY serta jajaran PDM, PCM, PCA, pimpinan ranting, dan amal usaha Muhammadiyah.
Di akhir kegiatan, peserta mendapat dorongan untuk terus menghidupkan pengajian dan memperluas manfaat dakwah. Sukirman menyebut PCM Sleman memiliki sejumlah ranting dengan kegiatan pengajian yang mendapat antusiasme besar dari masyarakat. Bahkan, salah satu ranting mampu menghadirkan sekitar 500 hingga 600 peserta dalam pengajian rutin selapanan.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat korps mubaligh PCM Sleman agar semakin aktif berdakwah, dekat dengan masyarakat, serta mampu menghadirkan manfaat nyata bagi umat.
Dalam arahannya, Sukirman juga mengingatkan para pimpinan agar mengenal struktur dan warga persyarikatan di wilayah masing-masing. Ketua cabang idealnya mengetahui nama-nama ketua ranting, sementara pimpinan ranting juga perlu memahami kondisi anggota serta kebutuhan jamaah. Kedekatan tersebut dinilai penting agar persoalan di lapangan dapat segera diketahui dan dicarikan jalan keluarnya.
Ia menilai organisasi yang kuat bukan hanya dibangun melalui rapat dan administrasi, tetapi juga melalui hubungan yang hangat, komunikasi yang terjaga, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Karena itu, setiap keputusan yang lahir dari rapat perlu dicatat, dilaksanakan, serta dievaluasi secara berkala.
Semangat tersebut menjadi bagian dari pembekalan agar korps mubaligh tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam menjalankan amanah dakwah Muhammadiyah di tengah kehidupan masyarakat sehari-hari.
![]()







