Rida Aliim, M.Pd
Guru SMK Muhammadiyah 1 Sleman
Mahasiswa Sekolah Kader Muhammadiyah #2
Sang Surya telah mendunia. Dua belas sinar semangat dakwah Muhammadiyah telah menyebar ke berbagai penjuru, serta berbagai perubahan zaman sudah dilewatinya. Kegelisahan K.H. Dahlan sudah terjawab dengan berkembangnya Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi islam yang selalu berusaha mempertahankan identitasnya sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat. Dengan semangat tajdid, yaitu pembaruan pemikiran dan praktik kehidupan umat yang berdasarkan Al Quran dan sunnah, kini persoalan persoalan keagamaan, pendidikan, sosial, kesehatan, dan kebangsaan sudah mendapatkan jawaban yang tepat dalam tindakan nyata.
Dalam dunia pendidikan saat ini, Muhammad Sayuti, Sekretaris PP Muhammadiyah menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki 5.500 Sekolah Muhammadiyah, 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Ketua Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi menambahkan Muhammadiyah memiliki lebih dari 20.000 TK/PAUD dan memiliki sekitar 1.07 juta murid pada tahun ajaran 2025/2026. Fakta tersebut menjadi bukti bahwa dengan semangat tajdid (pembaruan) dan islam berkemajuan mendorong Muhammadiyah untuk terus memiliki komitmen memperbaiki sistem pendidikan agar tetep eksis mengikuti perubahan zaman akan tetapi tetap berpegang teguh pada dasar tauhid yang benar.
Muhammadiyah sangat konsisten dalam pengembangan pendidikan. Sebagai pendidik di Sekolah Muhammadiyah yang merupakan bagian kecil dari bidang pendidikan, sudah menjadi tanggung jawab kader persyarikatan dalam mewarnai dan mengembangkan serta mempertahankan karakteristik sekolah Muhammadiyah. Tanggung jawab tersebut dilakukan dengan niat dakwah yaitu menjadikan seluruh proses pendidikan sebagai bagian dari ibadah dan dakwah amar m`aruf nahi munkar.
Dalam Muhammadiyah, sekolah itu tidak hanya sekedar ajang transfer ilmu akan tetapi menjadi mimbar dakwah dalam membentuk manusia berkemajuan. Niat dakwah dalam pendidikan Muhammadiyah dilandasi niat karena Allah (lilahita Ta`ala) yaitu, mendidik, mengajar, dan melayani murid diniatkan untuk mencari rida Allah, bukan semata-mata mencari gaji, jabatan, maupun penghargaan. K.H. Ahmad Dahlan telah berjuang mendirikan sekolah sebagai sarana dakwah, sedangkan kita saat ini, sebagai guru Muhammadiyah patut meneruskan perjuangannya dengan menjadi pendidik yang amanah, santun, dan mampu menjadi uswah hasanah.
Tantangan saat ini sangat berbeda dengan zaman K.H. Ahmad Dahlan. Pendidikan pada abad ini tidak hanya menuntut penguasaan kompetensi akademik atau keahlian teknis, melainkan juga berfokus pada penguatan nilai moral, karakter, dan integritas. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan karakter pada generasi muda saat ini, khususnya murid yang tergolong dalam Generasi Z dan Alfa. Dominasi serta paparan teknologi digital yang tidak terfilter sering kali memicu pergeseran nilai etika, menurunnya kedisiplinan, serta lunturnya integritas moral.
Tantangan di era digital ini, diantaranya banyak beredar informasi hoax yang diterima, sehingga membuat murid gampang percaya. Murid tidak kritis dan tidak mencari informasi yang sebenarnya sehingga gampang terpengaruh. Selanjutnya fenomena penggunaan hand phone yang tidak terkontrol, berakibat menjadi adiksi, membuat murid malas beribadah, dan berdampak memiliki keterbatasan dalam interaksi sosial. Selain kedua hal tersebut, era digital ini juga secara tidak langsung memupuk budaya instan yang berdampak kepada sikap murid yang tidak bisa mengontrol kesabaran. Berkembangnya teknologi AI membuat siswa malas dalam mengerjakan tugas dikarenakan dengan mengetik soalnya saja, mereka sudah menemukan jawaban tanpa berpikir. Hal itu juga menyebabkan tingkat plagiasi murid meningkat. Dampak yang paling berat dalam berkembangnya era digital ini adalah dampak glamorisasi yang dapat menumbuhkan sikap flexing dan memaksakan diri yang berakibat kepercayaan diri serta adap yang semakin melemah. Dalam konteks lemahnya karakter ini, sangat berdampak buruk untuk generasi Muhammadiyah. Oleh karena itu penguatan fondasi religiusitas sebagai jangkar moral menjadi sebuah urgensi mutlak yang harus ditegakkan.
Muhammadiyah hadir dengan konsep dakwah “Islam Berkemajuan yang Menggembirakan”. Konsep ini dapat diterapkan sebagai modal dasar dan inspirasi sebagai guru dalam menjembatani lemahnya karakter murid sebagai penerus kader Muhammadiyah di era digital. Semangat mengajar dengan ilmu, mendidik dengan akhlak, dan menggerakkan dengan keteladanan, Sekolah Muhammadiyah berupaya menumbuhkan generasi yang cerdas, beriman, berakhlak mulia, serta produktif.
Islam berkemajuan mengajak murid untuk maju dalam ilmu dan karya. Islam yang menggembirakan menghadirkan suasana belajar yang ramah, optimis, dan penuh kasih sayang, sehingga murid tidak hanya memahami agama, akan tetapi juga mencintai dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Sekolah juga dapat mengembangkan istrumen dan program internalisasi Janji Pelajar Muhammadiyah kepada murid agar nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan kemuhammadiyahan benar-benar hidup dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Dengan demikian akan lahir generasi pelajar Muhammadiyah yang memiliki karakter iman, ilmu, dan amal, serta menjadi pelopor Islam Berkemajuan yang menggembirakan di sekolah, keluarga, dan masyarakat.
1Aanardianto, “Muhammadiyah Tidak Pernah Cuti Melayani, dari Pendidikan sampai Pertanian,” Muhammadiyah, 8 Februari 2026, diakses 8 September 2026, https://muhammadiyah.or.id/2026/02/muhammadiyah-tidak-pernah-cuti-melayani-dari-pendidikan-sampai-pertanian/.
2 Timredaksi, “Sekolah Muhammadiyah Makin Dipercaya, Jumlah Peserta Didik Lampaui 1 Juta,” Muhammadiyah, 14 Juli 2026, diakses 8 September 2026, https://muhammadiyah.or.id/2026/07/sekolah-muhammadiyah-makin-dipercaya-jumlah-peserta-didik-lampaui-1-juta/.
![]()







