Godean, Pdmsleman.Or.Id
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian PERAK (Pengajian Malam Rabu Kliwon) Selasa 25 Agustus 2026 di Masjid Nurul Islam, Juragan, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta. Pengajian menghadirkan Ustadz Drs. H. Purwono, M.A., yang dikenal pula sebagai Syekh Poerji, sebagai mubalig.
Kegiatan pengajian berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan dan kebersamaan. Jamaah dari masjid Nurul Islam dan berbagai unsur warga Muhammadiyah Cabang Godean dan ranting hadir untuk memperkuat silaturahmi sekaligus mengikuti kajian keislaman, terutama PRM Sidoluhur Selatan yang jadi tuan rumah.
Dalam kajiannya, Ustadz Purwono mengangkat sejumlah pesan penting mengenai hakikat kebahagiaan, pentingnya bersyukur kepada Allah SWT, tauhid, kecintaan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keteladanan Rasulullah, serta tanggung jawab manusia terhadap keluarga dan masyarakat.
Kebahagiaan Berawal dari Syukur
Ustadz Purwono mengajak jamaah memahami bahwa setiap manusia pada dasarnya menginginkan kehidupan yang bahagia. Namun, kebahagiaan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya harta, kedudukan, maupun berbagai fasilitas duniawi.
Menurutnya, salah satu kunci kebahagiaan adalah bersyukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan. Ucapan Alhamdulillah harus diikuti kesadaran bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan harus digunakan untuk kebaikan.
Rasa syukur juga akan membantu seseorang melihat kehidupan secara lebih positif. Sekalipun nikmat yang diterima terasa kecil, seorang muslim tetap harus mampu mensyukurinya. Dengan bersyukur, hati menjadi lebih tenang dan manusia tidak mudah larut dalam keluhan.
Tauhid sebagai Dasar Kehidupan
Dalam kajian tersebut, Ustadz Purwono juga menekankan pentingnya menjaga kemurnian tauhid. Seorang muslim harus meyakini bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah dan tidak boleh menyekutukan-Nya dengan apa pun.
Beliau mengingatkan prinsip yang terkandung dalam firman Allah:
“Wa’budullāha wa lā tusyrikū bihi syai’an.”
Artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
Tauhid tidak berhenti pada pengakuan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam seluruh kehidupan. Keimanan kepada Allah harus tercermin dalam ibadah, akhlak, pekerjaan, kehidupan keluarga, maupun hubungan dengan masyarakat.
Mengapa Kita Mencintai Rasulullah SAW?
Ustadz Purwono kemudian mengajak jamaah memahami alasan seorang muslim harus mencintai Rasulullah Muhammad SAW.
Rasulullah SAW adalah utusan Allah yang menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.
Melalui beliau, manusia mendapatkan petunjuk tentang keimanan, ibadah, akhlak, dan tata kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Kecintaan kepada Rasulullah juga berkaitan erat dengan dua kalimat syahadat. Seorang muslim bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Syahadat bukan sekadar kalimat yang diucapkan, tetapi merupakan ikrar iman dan komitmen untuk mentauhidkan Allah sekaligus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.
Karena itu, semakin kuat kecintaan seseorang kepada Rasulullah, seharusnya semakin kuat pula keinginannya untuk mengikuti ajaran dan keteladanan beliau.
Rasulullah sebagai Teladan Terbaik
Ustadz Purwono mengingatkan jamaah bahwa Rasulullah Muhammad SAW merupakan uswatun hasanah, teladan terbaik bagi umat manusia.
Hal tersebut ditegaskan Allah SWT dalam QS Al-Ahzab ayat 21:
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
Keteladanan Rasulullah mencakup seluruh aspek kehidupan. Rasulullah memberikan contoh dalam shalat dan ibadah, dalam kehidupan keluarga, dalam memperlakukan sahabat, dalam bermasyarakat, serta dalam menunjukkan kasih sayang kepada sesama.
Karena itu, cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan. Cinta tersebut harus dibuktikan dengan mengikuti sunnah, meneladani akhlak, memperbanyak shalawat, serta menjalankan ajaran yang dibawa beliau.
Rasulullah Mencintai Umatnya
Dalam kajian tersebut juga disampaikan gambaran tentang besarnya kecintaan Rasulullah SAW kepada umatnya.
Rasulullah membedakan antara para sahabat yang hidup dan berjumpa langsung dengan beliau dengan umat yang datang setelah masa beliau. Dalam konteks ini dikenal istilah ashabi untuk para sahabat dan ikhwani yang menggambarkan saudara-saudara beliau dari kalangan umat yang beriman meskipun tidak pernah berjumpa langsung dengan Rasulullah.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah SAW memiliki perhatian dan kecintaan yang sangat besar kepada umatnya.
Maka, umat Islam pun harus membalas kecintaan tersebut dengan beriman kepada beliau, mengikuti petunjuknya, menjaga sunnahnya, serta berusaha menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Kepemimpinan adalah Amanah
Ustadz Purwono juga mengingatkan tentang tanggung jawab manusia sebagai pemimpin.
Setiap manusia memiliki amanah sesuai dengan kedudukannya. Terlebih seseorang yang mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin, ia tidak boleh menjadikan jabatan sebagai sumber kebanggaan semata.
Kepemimpinan adalah amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Seorang pemimpin harus berusaha menjadi sumber kebaikan dan kemaslahatan bagi orang-orang yang dipimpinnya.
Jangan sampai kekuasaan, jabatan, atau pengaruh yang dimiliki justru menjadi sebab munculnya kesengsaraan bagi orang lain.
Tanggung jawab kepemimpinan tersebut dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga.
Keluarga sebagai Amanah Pertama
Keluarga merupakan tempat pertama untuk membangun keimanan dan akhlak.
Seorang kepala keluarga memiliki tanggung jawab untuk membimbing, melindungi, mendidik, dan mengarahkan anggota keluarganya menuju kebaikan.
Keluarga bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi anak-anak dan generasi berikutnya.
Karena itu, Ustadz Purwono mengajak jamaah untuk tidak menunggu menjadi orang besar dalam melakukan kebaikan.
Perubahan harus dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, dan selanjutnya lingkungan masyarakat.
Jika keluarga mampu dibangun dengan iman, kasih sayang, keteladanan, dan tanggung jawab, maka akan lahir masyarakat yang lebih baik.
Mengambil Ibrah dari Berbagai Kisah
Dalam kajian tersebut, Ustadz Purwono juga menyampaikan sejumlah kisah dan contoh kehidupan sebagai bahan renungan bagi jamaah.
Kisah-kisah tersebut mengajarkan bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi.
Karena itu, seseorang harus berhati-hati dalam berbicara, mengambil keputusan, menggunakan kekuasaan, maupun memperlakukan orang lain.
Jangan sampai persoalan kecil berkembang menjadi konflik besar karena ketidakmampuan mengendalikan emosi dan perkataan. Sebaliknya, setiap persoalan hendaknya diselesaikan dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan mengutamakan kemaslahatan.
Berbagai kisah tersebut bukan sekadar cerita, tetapi harus diambil ibrah atau pelajaran untuk memperbaiki kehidupan.
Muhammadiyah Harus Menjadi Gerakan Kebaikan
Pesan-pesan tersebut menjadi relevan dalam kehidupan persyarikatan Muhammadiyah. Setiap warga Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menjadikan persyarikatan sebagai sarana dakwah dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Silaturahmi, kebersamaan, saling menghormati, saling mengingatkan dalam kebaikan, serta menjalankan amanah dengan penuh keikhlasan menjadi modal penting untuk membangun persyarikatan yang semakin kuat.
Kegiatan Pengajian PERAK PCM Godean tidak hanya menjadi forum untuk menambah wawasan keislaman, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah dan membangun kesadaran bersama.
Melalui kajian tersebut, jamaah diajak untuk terus melakukan perubahan dan perbaikan, dimulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian masyarakat.
Pada akhirnya, kebahagiaan yang sejati bukan hanya kebahagiaan duniawi, tetapi kebahagiaan yang membawa keberkahan dan keselamatan hingga akhirat. Jalan menuju kebahagiaan tersebut antara lain ditempuh dengan bersyukur kepada Allah SWT, menjaga tauhid, mencintai dan meneladani Rasulullah SAW, menjalankan amanah, memperbaiki keluarga, serta memberikan manfaat kepada sesama.
Pengajian ditutup dengan doa dan harapan agar seluruh jamaah senantiasa diberikan kekuatan untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh serta mampu menjadi pribadi yang lebih baik, keluarga yang lebih kokoh, dan bagian dari masyarakat yang menghadirkan kemaslahatan.
“Mari menjadikan iman sebagai dasar, Rasulullah sebagai teladan, keluarga sebagai tempat pertama menanamkan kebaikan, dan Muhammadiyah sebagai jalan untuk menghadirkan kemanfaatan bagi umat.”
Rep H Wahdan Arifudin SPd PCM Godean
![]()








