Godean, Pdmsleman.Or.Id
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi/Jihadi di Masjid Al Huda Godean, Sleman, Yogyakarta, Ahad (30/8/2026). Pengajian rutin yang berlangsung setiap Ahad pagi tersebut dilaksanakan pukul 06.00–07.15 WIB dengan menghadirkan Ustadz Prof. Dr. Mochlasin, M.Ag sebagai pemateri.
Kajian kali ini membahas tafsir Surah Al-Baqarah ayat 26–29, sekaligus mengantarkan jamaah pada pemahaman tentang ayat 30 mengenai penciptaan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Kajian menekankan pentingnya ilmu pengetahuan sebagai jalan untuk memperkuat iman, mengenali kebesaran Allah SWT, menjauhi kefasikan, serta menjalankan amanah sebagai khalifah.
Ilmu Pengetahuan Harus Memperkuat Keimanan
Mengawali kajian, Prof. Mochlasin menjelaskan bahwa Islam memiliki sejarah panjang dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Para ulama dan ilmuwan muslim terdahulu telah memberikan kontribusi besar melalui berbagai karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa Arab. Salah satu tokoh yang dikenal luas adalah Ibnu Sina, di samping banyak ilmuwan muslim lainnya.
Semangat keilmuan tersebut, menurut beliau, perlu terus diwarisi oleh umat Islam. Ilmu tidak boleh berhenti hanya pada kemampuan intelektual atau pencapaian duniawi. Ilmu seharusnya membawa manusia untuk semakin mengenal Allah SWT.
Semakin luas ilmu seseorang dalam memahami kehidupan dan alam semesta, semestinya semakin kuat pula keimanannya. Berbagai fenomena alam, keteraturan kehidupan, serta proses penciptaan manusia merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang harus direnungkan.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan iman bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru ilmu dapat menjadi jalan untuk semakin memahami kebesaran Allah SWT.
Tiga Ciri Orang Fasik
Memasuki pembahasan Surah Al-Baqarah ayat 27, Prof. Mochlasin menjelaskan karakter orang-orang fasik. Al-Qur’an menyebutkan tiga ciri utama.
Pertama, mereka yang membatalkan perjanjian dengan Allah setelah perjanjian itu diteguhkan. Manusia pada hakikatnya memiliki ikatan dengan Allah sebagai Penciptanya. Hal tersebut antara lain tergambar dalam Surah Al-A’raf ayat 172 tentang persaksian manusia terhadap Allah sebagai Rabb mereka. Namun, manusia dapat mengingkari perjanjian tersebut ketika tidak mau beriman dan tidak menaati petunjuk-Nya.
Kedua, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambung. Hal ini mencakup hubungan manusia dengan Allah atau hablum minallah dan hubungan manusia dengan sesama atau hablum minannas.
Dalam hubungan dengan Allah, salah satu bentuknya adalah menjaga shalat. Shalat menjadi sarana utama komunikasi seorang hamba dengan Allah SWT. Karena itu, seorang mukmin harus menjaga shalat wajib dan memperkuatnya dengan berbagai ibadah sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, serta amal saleh lainnya.
Sementara dalam hubungan dengan manusia, seorang muslim diperintahkan menjaga silaturahmi, berlaku jujur, menepati janji, menghormati sesama, dan tidak melakukan tindakan yang merugikan orang lain. Kecurangan dalam perdagangan, kebohongan, memutus silaturahmi, dan berbagai bentuk kezaliman merupakan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ketiga, melakukan kerusakan di muka bumi. Kerusakan tidak hanya berupa kerusakan fisik terhadap lingkungan, tetapi juga dapat berbentuk kerusakan sosial, ekonomi, moral, dan kemanusiaan.
Korupsi, manipulasi, penipuan, penyalahgunaan jabatan, eksploitasi alam secara berlebihan, serta tindakan yang menyebabkan masyarakat semakin menderita merupakan contoh perilaku yang dapat masuk dalam kategori membuat kerusakan.
Allah kemudian menyebutkan bahwa orang-orang yang memiliki sifat tersebut adalah orang-orang yang merugi. Kerugian itu bukan hanya dalam kehidupan dunia, tetapi juga kerugian di akhirat.
“Kaifa Takfuruuna Billah”: Bagaimana Manusia Mengingkari Allah?
Pada Surah Al-Baqarah ayat 28, Allah SWT berfirman:
“Kaifa takfuruuna billaahi wa kuntum amwaatan fa ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum tsumma ilaihi turja’uun.”
Prof. Mochlasin menjelaskan penggunaan kata “kaifa” yang berarti “bagaimana”. Dalam konteks ayat tersebut, kata tanya ini bukan sekadar pertanyaan untuk memperoleh jawaban, tetapi mengandung makna keheranan dan penegasan terhadap sikap manusia yang mengingkari Allah.
Seakan-akan Allah bertanya kepada manusia, “Bagaimana mungkin kalian mengingkari Allah, padahal kalian sebelumnya tidak ada, kemudian Allah menciptakan dan menghidupkan kalian?”
Manusia tidak muncul dengan sendirinya. Kehidupan manusia berlangsung melalui proses biologis, tetapi seluruh proses tersebut berada dalam kehendak dan kekuasaan Allah SWT.
Ayat ini kemudian menggambarkan perjalanan manusia: mati, dihidupkan, dimatikan, kemudian dihidupkan kembali, dan akhirnya dikembalikan kepada Allah SWT.
Dengan demikian, kehidupan dunia bukanlah akhir dari perjalanan manusia. Kematian bukanlah akhir keberadaan manusia, karena setelah kematian manusia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan seluruh amalnya di hadapan Allah SWT.
Alam Semesta adalah Tanda Kekuasaan Allah
Selanjutnya Prof. Mochlasin mengaitkan pembahasan dengan Surah Al-Baqarah ayat 29 yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di bumi untuk manusia.
Bumi yang ditempati manusia sesungguhnya hanyalah bagian kecil dari alam semesta. Di dalamnya terdapat berbagai ciptaan Allah yang luar biasa: langit, bumi, gunung, lautan, tumbuhan, hewan, serta berbagai benda langit yang menunjukkan keteraturan dan kebesaran Sang Pencipta.
Ketika manusia mempelajari alam semesta, semestinya ilmu tersebut membawa manusia kepada pengakuan atas kekuasaan Allah. Penelitian terhadap alam bukan hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk meningkatkan rasa syukur dan keimanan.
Karena itu, tanda-tanda kebesaran Allah dapat ditemukan baik melalui ayat-ayat Al-Qur’an maupun melalui ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta.
Allah Menciptakan Bumi untuk Dimanfaatkan, Bukan Dirusak
Allah SWT menyediakan berbagai sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, pemberian tersebut sekaligus merupakan amanah.
Manusia tidak boleh menggunakan sumber daya alam secara serakah dan berlebihan. Manusia juga tidak diperbolehkan melakukan fasad, yaitu membuat kerusakan di muka bumi.
Kerusakan lingkungan, pencemaran, eksploitasi berlebihan, dan berbagai bentuk pengrusakan alam merupakan bentuk kegagalan manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah.
Persoalan kemiskinan dan kelaparan yang masih terjadi di berbagai tempat juga perlu dilihat secara kritis. Allah telah menyediakan sumber daya yang sangat luas, tetapi ketidakadilan, keserakahan, korupsi, dan kesalahan manusia dalam mengelola sumber daya dapat menyebabkan sebagian masyarakat tidak mendapatkan haknya.
Karena itu, tugas manusia bukan sekadar memanfaatkan bumi, tetapi memakmurkan bumi dan mewujudkan keadilan.
Perbedaan Manusia adalah Sunnatullah
Prof. Mochlasin juga menyinggung keberagaman manusia. Allah menciptakan manusia dalam berbagai bangsa, suku, bahasa, budaya, dan kondisi kehidupan.
Perbedaan tersebut merupakan bagian dari sunnatullah. Keberagaman seharusnya tidak menjadi sumber permusuhan, tetapi menjadi sarana untuk saling mengenal, belajar, dan bekerja sama dalam kebaikan.
Manusia boleh memiliki perbedaan identitas sosial dan budaya, tetapi semuanya tetap merupakan makhluk Allah SWT. Karena itu, perbedaan harus dikelola dengan keadilan, penghormatan, dan persaudaraan.
Manusia sebagai Khalifah di Muka Bumi
Rangkaian pembahasan tersebut kemudian mengantarkan jamaah kepada ayat berikutnya, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 30 tentang kehendak Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Manusia diberikan kedudukan dan amanah yang besar. Ia tidak hanya menjadi penghuni bumi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mengelola, menjaga, dan memakmurkannya.
Tugas sebagai khalifah tidak dapat dilepaskan dari keimanan. Seorang manusia yang beriman harus mampu menghubungkan ibadah kepada Allah dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa merupakan bagian dari hablum minallah. Sementara menjaga silaturahmi, berlaku jujur, menegakkan keadilan, membantu masyarakat, menjaga lingkungan, dan tidak merusak bumi merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah.
Ilmu, Iman, dan Amal Harus Berjalan Bersama
Dari keseluruhan kajian, Prof. Mochlasin mengajak jamaah untuk tidak memisahkan ilmu, iman, dan amal.
Ilmu tanpa iman dapat melahirkan kesombongan. Iman tanpa ilmu dapat menyebabkan lemahnya pemahaman. Sedangkan ilmu dan iman tanpa amal tidak akan menghasilkan perubahan nyata dalam kehidupan.
Karena itu, umat Islam perlu membangun tradisi keilmuan sekaligus memperkuat ibadah dan akhlak. Kemajuan ilmu pengetahuan harus digunakan untuk kemaslahatan manusia, bukan untuk melakukan kerusakan.
Pengajian Ahad Pagi/Jihadi PCM Godean ini menjadi momentum bagi jamaah untuk kembali merenungkan tujuan penciptaan manusia. Manusia berasal dari Allah, hidup dengan karunia-Nya, menggunakan berbagai nikmat yang disediakan-Nya, dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.
Kesadaran tersebut diharapkan melahirkan pribadi yang semakin beriman, berilmu, berakhlak, peduli terhadap sesama, menjaga lingkungan, serta mampu menjalankan amanah sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Pengajian Ahad Pagi/Jihadi PCM Godean akan terus dilaksanakan secara rutin setiap Ahad pagi sebagai bagian dari ikhtiar dakwah, pembinaan keislaman, dan penguatan ukhuwah bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat Godean serta sekitarnya.
Rep H. Wahdan Arifudin S.Pd PCM Godean
![]()









