Catatan kecil Wahdan tentang pengajian, Ibu, dan kehangatan warga Sidomulyo
Ada sesuatu yang selalu kurindukan setiap Ahad pagi. Bukan semata-mata pengajiannya, bukan hanya lantunan ayat suci Al-Qur’an atau tausiah yang menyejukkan hati, melainkan suasana kebersamaan yang perlahan tumbuh menjadi bagian penting dalam kehidupan kami.
Pagi itu, Ahad, 25 Oktober 2026, seperti Ahad-Ahad sebelumnya, aku berangkat bersama Ibu menuju Masjid Al-Huda, Godean. Ibu duduk di kursi roda, sementara aku berjalan mendampinginya. Perjalanan sederhana yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tetapi bagiku menyimpan makna yang istimewa.
Di tengah kesibukan dan perjalanan hidup yang terus berjalan, menemani Ibu menghadiri pengajian menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri. Ada rasa syukur ketika masih diberi kesempatan untuk berjalan bersama beliau, mengantarnya menuju majelis ilmu, dan menikmati suasana pagi yang penuh keberkahan.
Hampir pukul enam pagi ketika kami tiba. Suasana masjid sudah mulai ramai. Dari luar terdengar sayup-sayup suara pembawa acara yang menandakan pengajian sebentar lagi dimulai.
Aku mengenali suara itu.
Pak Kosim.
Beliau menjadi pembawa acara pada pengajian Ahad Pagi Jihadi PCM Godean kali ini, mewakili petugas dari PRM Sidomulyo. Suaranya terasa akrab, menghadirkan suasana yang bersahaja sekaligus hangat. Rasanya seperti datang ke rumah sendiri, bertemu orang-orang yang tidak hanya dikenal wajahnya, tetapi juga dekat dalam keseharian.
Pagi itu, PRM dan PRA Sidomulyo mendapatkan amanah sebagai petugas pengajian. Sejak awal kedatangan, aku melihat kesibukan yang tertata, wajah-wajah yang ramah, dan suasana kebersamaan yang begitu terasa.

Ibu-ibu PRA Sidomulyo tampak berjajar dengan senyum yang merekah. Bapak-bapak PRM Sidomulyo pun hadir dengan wajah-wajah penuh semangat. Ada sapaan, ada senyum, ada tatapan yang tulus. Hal-hal sederhana seperti itulah yang membuat sebuah pertemuan terasa istimewa.
Aku memperhatikan mereka satu per satu.
Sungguh, pagi itu ada sesuatu yang menyentuh hati. Wajah-wajah mereka tampak berbinar. Senyum mereka bukan sekadar keramahan untuk menyambut jamaah, melainkan seolah memancarkan kegembiraan karena diberi kesempatan untuk berkhidmat, melayani sesama, dan menjadi bagian dari gerakan dakwah Muhammadiyah.
Aku pun tersenyum.
Di tengah keramaian itu, ada rasa haru yang sulit kuungkapkan. Aku merasa beruntung bisa hadir dan menyaksikan sendiri bagaimana sebuah pengajian bukan hanya menjadi tempat orang-orang berkumpul untuk mendengarkan ceramah, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat persaudaraan, menumbuhkan keikhlasan, dan memperkuat ikatan hati.
Sidomulyo bukan sekadar nama sebuah wilayah bagiku.
Di sinilah hari-hari kami berjalan. Di sinilah aku mengemban amanah sebagai kepala sekolah SMP Muhammadiyah 2 Godean. Di sinilah kami bertemu dengan masyarakat, menyapa warga, berinteraksi dengan tokoh-tokoh kampung, dan belajar memahami bahwa pendidikan serta dakwah tidak pernah berdiri sendiri. Keduanya tumbuh subur ketika masyarakat saling mendukung dan berjalan bersama.
Karena itu, ketika melihat wajah-wajah warga Sidomulyo memenuhi suasana pengajian, ada perasaan seperti sedang menyaksikan keluarga besar sendiri.
Aku melihat senyum yang menenteramkan. Aku merasakan ketulusan yang tidak perlu dijelaskan dengan banyak kata. Dan aku menyadari bahwa kekuatan sebuah persyarikatan tidak hanya terletak pada besarnya kegiatan atau ramainya jamaah, tetapi juga pada kesediaan orang-orang biasa untuk terus berbuat baik dengan hati yang luar biasa.
Pagi itu, aku sempat merekam suasana dalam sebuah video singkat. Rasanya sayang jika momen sehangat itu berlalu begitu saja. Aku ingin menyimpan senyum mereka, suasana masjid, dan keramaian yang penuh makna sebagai bagian dari kenangan.
Sebab, suatu hari nanti, ketika waktu telah berjalan jauh, mungkin video sederhana itu akan kembali kubuka. Dan saat itulah aku bisa mengenang bahwa pernah ada pagi yang begitu menenteramkan, ketika Ibu masih bisa kuantar ke masjid, ketika saudara-saudara seperjuangan berkumpul, dan ketika senyum warga Sidomulyo menjadi penghangat hati.
Barangkali inilah yang membuatku selalu ingin kembali.
Setiap Ahad pagi, ada kerinduan untuk datang lagi. Rindu mendengar lantunan ayat suci. Rindu menyimak tausiah. Rindu bertemu sahabat dan saudara seperjuangan. Rindu melihat wajah-wajah yang sama, yang dengan ketulusan sederhana telah menjadikan masjid terasa begitu hidup.
Pengajian Ahad pagi akhirnya bukan sekadar agenda mingguan. Ia menjadi tempat hati beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Tempat kita diingatkan kembali tentang Allah, tentang persaudaraan, tentang orang tua yang harus kita sayangi, dan tentang amanah kehidupan yang perlu kita jalani dengan sebaik-baiknya.
Kepada PRM dan PRA Sidomulyo, terima kasih telah menghadirkan pagi yang begitu indah.
Terima kasih atas senyum, keramahan, dan ketulusan yang kami rasakan. Semoga segala ikhtiar dalam melayani jamaah menjadi amal jariyah, menguatkan dakwah Muhammadiyah, serta membawa keberkahan bagi keluarga dan masyarakat Sidomulyo.
Semoga Allah senantiasa menjaga Ibu-Ibu PRA, Bapak-Bapak PRM, seluruh keluarga besar Sidomulyo, dan kita semua dalam iman, kesehatan, serta kebersamaan yang diridai-Nya.
Aku pulang dari pengajian pagi itu dengan hati yang hangat. Ada kebahagiaan sederhana yang tidak bisa dibeli dan tidak selalu bisa dijelaskan. Kebahagiaan karena masih diberi kesempatan untuk hadir, berjumpa, dan menjadi bagian dari persaudaraan yang baik.
Dan kini, setiap kali Ahad pagi kembali mendekat, ada bisikan kecil dalam hati:
Besok Ahad, mari berangkat lagi. Ada masjid yang menanti, ada ilmu yang ingin diraih, ada saudara yang ingin dijumpai, dan ada senyum yang selalu membuat kita rindu.
Salam hangat dan doa tulus dari kami,
Wahdan, Godean Yogyakarta
Pengajian Ahad Pagi Jihadi PCM Godean — merawat iman, merajut ukhuwah, menghidupkan dakwah dalam kebersamaan.
![]()








