Godean, Pdmsleman.Or.Id
Delapan Jiwa, Beberapa Keluarga, dan Sebuah Perjalanan Panjang Menuju Ridha Allah
Pagi ini, 1 November 2026. seperti Ahad-Ahad sebelumnya, alhamdulillah saya dapat hadir kembali sebelum jam 06.00 di Masjid Al Huda Godean Sleman. Udara masih terasa sejuk. Langit perlahan bertambah terang. Satu per satu jamaah mulai berdatangan. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda, berboncengan sepeda motor, ada pula yang datang bersama keluarga.
Namun, pagi itu pandangan saya tertuju pada sebuah mobil yang begitu akrab di mata. Sebuah mobil Panther berwarna silver sudah terparkir di utara Masjid Al Huda.
Mobil itu kembali datang.
Entah sudah berapa ribu kali roda-rodanya menempuh perjalanan menuju Masjid Al Huda. Entah sudah berapa kali mesin dinyalakan sehabis subuh untuk persiapan berangkat menghadiri Jihadi; Pengajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Godean. Dan entah berapa banyak cerita yang tersimpan di dalamnya.
Tetapi pagi itu saya melihat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada mobil itu sendiri.
Di dalamnya ada delapan orang terdiri dari Bapak H. Saniyo dan istri, ibu kandung, ibu mertua dan tetangga.
Delapan jiwa dalam satu perjalanan dari Dusun Serangan Sidoluhur menuju Masjid Al Huda Pandean VII, utara Pasar Godean. Delapan hati yang melangkah menuju satu tempat. Delapan orang, pagi itu memilih meninggalkan sejenak urusan dunia untuk duduk bersama di hadapan Allah, mendengarkan petuah agama, dan mengisi kembali ruang-ruang di hati mereka.
Saya terdiam.
Ada rasa haru yang tiba-tiba menyelinap. Ada kekaguman yang sulit saya ungkapkan dengan kata-kata.
Sebab, saya tahu, perjalanan keluarga ini bukan perjalanan sehari dua hari.
Ingatan saya melayang jauh ke tahun 2000-an. Saat itu, saya mengenal Pak Saniyo sebagai salah satu jamaah yang datang seorang diri dengan sepeda motor Honda Star. Beliau hadir di antara jamaah dan duduk menghadap ke barat bersebelahan dengan Almarhum Pak Sutrisno.
Waktu itu, mungkin beliau belum membayangkan bahwa suatu hari nanti perjalanan menuju pengajian akan menjadi perjalanan indah bersama keluarganya.
Tahun berganti tahun. Kehidupan terus berjalan. Anak-anak muda bertumbuh menjadi dewasa. Orang-orang yang dahulu muda kini mulai menua. Wajah-wajah jamaah mungkin berubah, tetapi kerinduan kepada majelis ilmu tetap terjaga.
Sekitar tahun 2010, saya mulai melihat sesuatu yang berbeda. Pak Saniyo tidak lagi datang sendirian. Melainkan membawa mobil sedan Toyota lama warna biru dan kini yang sering kulihat bersama mobil Panther warna silver, dan sedan Toyota lama sudah jarang kulihat lagi.
Dan yang berbeda, ada anggota keluarga yang mulai menyertai. Perlahan, kebiasaan seorang diri itu berubah menjadi kebiasaan bersama.
Pagi tadi saya mencoba memastikan kembali.
“Assalamu’alaikum Pak Saniyo, sehat-sehat ya? kira-kira sudah sejak kapan keluarga berangkat dan pulang bersama seperti ini?”
Beliau menjawab singkat dan diiyakan yang lain, “Kira-kira sejak tahun 2010.”
Enam belas tahun.
Enam belas tahun sebuah keluarga menjaga kebiasaan yang sama. Enam belas tahun mengisi Ahad pagi dengan perjalanan menuju majelis ilmu Jihadi PCM Godean dan salah satunya mobil Panther menjadi saksi kesetiaan mereka. Masyaallah.
Saya kembali memandang mobil itu. Kali ini, pandangan saya terasa berbeda.
Di dalamnya ada seorang ibu yang sudah sepuh, berusia delapan puluh enam tahun. Beliau ternyata Ibu Pak Saniyo dan ibu mertua yang berusia delapan puluh tahun. Saya minta berfoto ketika mau pulang saat mereka akan masuk ke mobil Panther.
Seorang ibu yang dahulu menggendong anak-anaknya, menyuapi mereka, membangunkan mereka ketika kecil, dan mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.
Kini, anak-anaknya telah dewasa. Mereka telah memiliki kehidupan dan kesibukan masing-masing. Tetapi ada satu hal yang begitu menyentuh hati: mereka masih mengajak ibu tercintanya bepergian bersama untuk mengaji.
Dahulu, mungkin ibu itulah yang menuntun tangan anak-anaknya. Kini, anak-anaknya bergantian menuntun langkah sang ibu.
Dahulu, ibu mengajarkan mereka mengenal kehidupan. Kini, mereka mengajak ibu kembali mendekat kepada Sang Pemilik kehidupan.
Betapa indahnya kasih sayang itu.
Saya membayangkan, bagaimana rasanya duduk di dalam mobil bersama ibu yang semakin sepuh, bersama saudara-saudara, bersama istri, dalam perjalanan menuju masjid. Mungkin ada percakapan sederhana. Mungkin ada canda kecil. Mungkin ada senyum yang tidak pernah tercatat dalam foto. Tetapi justru di situlah letak kebahagiaannya.
Kelak, ketika waktu terus berjalan, ketika usia semakin senja, mungkin salah satu kursi di mobil itu akan kosong. Mungkin suatu Ahad pagi, suara yang biasanya terdengar di dalam mobil tak lagi ada. Mungkin tangan yang dahulu selalu digenggam sudah tidak bisa lagi kita gandeng.
Kita tidak pernah tahu berapa banyak Ahad pagi yang masih Allah berikan kepada kita untuk bersama orang-orang tercinta.
Karena itu, selagi ibu masih ada, selagi ayah masih bisa diajak berjalan, selagi pasangan masih bisa digandeng, selagi saudara masih bisa dikumpulkan, jangan sia-siakan kesempatan untuk bersama dalam kebaikan.
Jangan sampai kita baru merindukan perjalanan bersama setelah kursi itu kosong.
Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya kebersamaan setelah seseorang tidak lagi bisa kita ajak berangkat.
Pagi itu saya merasa iri. Bukan iri terhadap kendaraan atau apa yang dimiliki keluarga Pak Saniyo. Saya iri terhadap kebersamaan mereka. Saya iri melihat sebuah keluarga yang mampu menjaga istiqamah dalam urusan agama selama bertahun-tahun.
Sungguh, tidak semua keluarga bisa melakukannya.
Ada keluarga yang mudah berkumpul untuk makan bersama, tetapi sulit berkumpul untuk mengaji. Ada yang ringan mengeluarkan biaya untuk rekreasi, tetapi berat meluangkan waktu untuk menghadiri majelis ilmu. Ada yang bersemangat mengantarkan keluarga menuju tempat wisata, tetapi belum terbiasa mengantarkan mereka menuju masjid.
Padahal, bukankah keluarga bukan hanya tentang siapa yang menemani kita tertawa di dunia, tetapi juga siapa yang bersama-sama kita ajak berjuang agar kelak bisa berkumpul kembali di surga?
Allah berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6:
Yā ayyuhalladzīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nārā.
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ayat itu seakan mengingatkan kita bahwa mencintai keluarga bukan sekadar memberikan apa yang mereka inginkan, tetapi juga mengajak mereka menuju jalan yang diridai Allah.
Dan pagi itu, saya seperti sedang menyaksikan salah satu bentuk cinta tersebut.
Saya tidak tahu sampai kapan mobil Panther warna silver itu akan terus menemani perjalanan keluarga Pak Saniyo. Mungkin suatu hari nanti kendaraan itu akan berganti. Mungkin mesinnya akan berhenti berputar. Mungkin ia akan menjadi kenangan.
Tetapi saya berharap ada sesuatu yang tidak pernah berhenti: kerinduan keluarga itu kepada majelis ilmu.
Sebab, sesungguhnya yang membuat perjalanan itu istimewa bukanlah mobilnya. Bukan pula jumlah delapan orang di dalamnya. Melainkan niat, cinta, dan kesetiaan yang menyatukan mereka.
Saya membayangkan, betapa bahagianya jika setiap Ahad pagi mobil-mobil dari berbagai penjuru Godean bergerak menuju Masjid Al Huda. Ada seorang ayah yang mengajak anaknya. Ada seorang istri yang membangunkan suaminya. Ada seorang anak yang mengajak ibunya. Ada pula keluarga yang sengaja menjemput orang tuanya agar tidak tertinggal pengajian.
Masjid akan semakin ramai. Shaf-shaf akan semakin panjang. Anak-anak akan tumbuh dengan kenangan bahwa dahulu ayah dan ibunya selalu mengajaknya ke masjid setiap Ahad pagi.
Dan siapa tahu, kebiasaan kecil yang kita tanamkan hari ini akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir, bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di dunia.
Kepada keluarga Pak Saniyo, semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan, memberikan umur yang berkah, dan mempertahankan keistiqamahan keluarga ini. Semoga sang ibu mertua selalu diberikan kekuatan dan kebahagiaan untuk terus menikmati kebersamaan bersama anak-anaknya dalam majelis ilmu.
Terima kasih telah memberikan pelajaran yang begitu indah dan menginspirasi bagi kami.
Untuk Kita Semua: Jangan Berangkat Sendirian Jika Bisa Mengajak Keluarga
Mari kita mulai dari rumah sendiri.
Ajaklah istri atau suami kita. Ajaklah anak-anak kita. Jemputlah ibu dan ayah kita selama mereka masih ada. Gandenglah tangan mereka yang sudah mulai lemah. Bersabarlah jika langkah mereka semakin lambat. Sebab, mungkin suatu hari nanti, kita akan sangat merindukan kesempatan sederhana seperti itu.
Jangan menunggu keluarga kita menjadi sempurna untuk bersama-sama datang ke pengajian. Justru datanglah agar kita sama-sama belajar menjadi lebih baik.
Sebab, boleh jadi, satu Ahad pagi yang kita luangkan bersama keluarga hari ini menjadi kenangan terindah yang akan kita bawa sepanjang kehidupan.
Dan kelak, ketika perjalanan dunia telah usai, semoga Allah mempertemukan kembali orang-orang yang dahulu berjalan bersama menuju majelis ilmu.
Saya yakin, bahwa ada perjalanan yang tidak berhenti ketika mobil diparkir di halaman. Ada perjalanan hati yang terus berlanjut, dari dunia menuju akhirat.
Semoga keluarga kita bukan hanya dipertemukan di dunia, tetapi juga dikumpulkan kembali di Surga Jannatun Na’im. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wahdan Arifudin, PCM Godean
![]()









