Senator DR. Ahmad Syauqi Soeratno Tekankan Perencanaan Matang dan Spirit Berjamaah dalam Pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah

Facebook
Twitter
LinkedIn

Yogyakarta –

Pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak cukup hanya mengandalkan semangat membangun, tetapi harus didukung dengan perencanaan yang matang, tata kelola yang amanah, serta semangat berjamaah yang kuat.

Hal tersebut disampaikan oleh DR. Ir. H. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., Anggota Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus anggota DPD RI Dapil Yogyakarta, dalam kegiatan yang digelar oleh PT Mentari Prima Niaga (MPN) sebuah perusahaan kontruksi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan tema “Contruction Insight dan Product Showcase untuk mencapai Efisiensi Biaya melalui Inovasi yang Berkelanjutan” pada Jum’at sore, 31 Juli 2026 di Hotel Alana Malioboro Jalan Mayjen Sutoyo Yogyakarta yang dihadiri para pimpinan dan pengelola amal usaha Muhammadiyah.

Dalam pemaparannya, DR. Syauqi menegaskan bahwa setiap pembangunan amal usaha harus berorientasi pada kemanfaatan umat dan keberlanjutan lembaga. Menurutnya, pembangunan yang tidak didahului dengan kajian yang matang berpotensi menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Beliau mencontohkan pengalaman pendirian beberapa TK ABA dalam satu wilayah yang terlalu berdekatan sehingga terjadi persaingan dalam memperoleh peserta didik. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah murid menjadi sangat sedikit dan berdampak langsung pada kesejahteraan guru. Bahkan, terdapat guru TK yang hanya menerima honor sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 per bulan akibat terbatasnya pemasukan lembaga.

“Jangan sampai pembangunan hanya didasarkan pada semangat, tetapi mengabaikan kebutuhan wilayah dan keberlanjutan amal usaha. Dalam beberapa kondisi, yang dibutuhkan masyarakat justru sekolah dasar, bukan menambah TK baru di wilayah yang sudah jenuh,” jelasnya.

Selain menyoroti aspek perencanaan, DR. Syauqi juga mengajak seluruh unsur Muhammadiyah untuk memperkuat sinergi antar-majelis dan antar-amal usaha. Menurutnya, potensi ekonomi yang dimiliki keluarga besar Muhammadiyah merupakan kekuatan besar yang harus dikelola secara bersama-sama untuk mendukung dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan umat.

Dicontohkan bahwa ribuan keluarga yang berada dalam ekosistem Muhammadiyah memiliki kebutuhan ekonomi yang dapat menjadi basis pengembangan usaha bersama. Jika dikelola dengan baik, hasilnya tidak hanya meningkatkan kesejahteraan guru, tetapi juga memperkuat keberlangsungan amal usaha Muhammadiyah.

Pada bidang pembangunan fisik, DR. Syauqi mengingatkan pentingnya profesionalisme dalam setiap proyek pembangunan. Panitia pembangunan harus memahami proses perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan konstruksi agar tidak terjadi pemborosan dana umat akibat perubahan desain maupun kesalahan perencanaan.

Untuk mendukung hal tersebut, PT Mentari Prima Niaga (MPN) siap memberikan pendampingan kepada amal usaha Muhammadiyah agar proses pembangunan berjalan efektif, efisien, dan akuntabel.

“Dana umat adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia tetapi juga kepada Allah SWT. Karena itu tidak boleh ada korupsi, manipulasi, maupun penyalahgunaan anggaran dalam pembangunan amal usaha Muhammadiyah,” tegasnya.

Dalam sesi berikutnya, Dr. Syauqi mengangkat tema penting tentang penguatan ekonomi Muhammadiyah melalui spirit berjamaah. Ia menegaskan bahwa kekuatan utama Muhammadiyah bukan semata-mata terletak pada besarnya aset atau modal ekonomi, melainkan pada kemampuan seluruh warga persyarikatan untuk bersatu dan bergerak bersama.

Mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 105 yang mengingatkan agar umat Islam tidak terpecah-belah dan berselisih setelah memperoleh petunjuk yang jelas. Ayat tersebut menjadi landasan penting bagi warga Muhammadiyah untuk terus menjaga persatuan dan memperkuat kolaborasi.

Menurutnya, Muhammadiyah telah memiliki ekosistem ekonomi yang besar dan kuat. Oleh sebab itu, setiap usaha yang dibangun hendaknya tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi, melainkan memberikan manfaat yang luas bagi umat dan persyarikatan. Keuntungan yang diperoleh harus mampu menggerakkan dakwah, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai instrumen Muhammadiyah, seperti Lazismu, PCM, PRM, serta amal usaha lainnya.

Beliau juga menekankan pentingnya efisiensi dalam penyaluran manfaat kepada masyarakat. Bantuan sosial, infak, dan program pemberdayaan hendaknya dapat langsung dirasakan oleh penerima manfaat tanpa terlalu banyak perantara yang berpotensi mengurangi efektivitas program.

Lebih lanjut, DR. Syauqi mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak perlu terjebak dalam persaingan yang hanya berorientasi pada jumlah unit usaha atau besarnya aset. Yang lebih penting adalah membangun kekuatan kolektif melalui jejaring jamaah yang solid, saling mendukung, dan saling menguatkan.

“Muhammadiyah sesungguhnya memiliki kekuatan besar. Tantangan kita saat ini bukan kekurangan sumber daya, tetapi bagaimana memperkuat budaya berjamaah dan menghilangkan sekat-sekat yang menghambat kemajuan bersama,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, DR. Syauqi mengajak seluruh pimpinan dan pengelola amal usaha Muhammadiyah untuk memanfaatkan berbagai skema pembiayaan dan kerja sama dengan lembaga keuangan secara bijak. Dengan tata kelola yang baik, perencanaan yang matang, serta semangat kolaborasi yang kuat, pembangunan sekolah, rumah sakit, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah lainnya diyakini akan semakin maju, berkelanjutan, serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat dan bangsa.

Reporter  H. Wahdan Arifudin S.Pd  Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 2 Godean

Loading

Leave a Replay