Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk mengaktualisasikan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan nyata. Menurutnya, Maulid Nabi tidak semestinya berhenti sebagai seremonial keagamaan, tetapi harus menjadi jalan untuk menegakkan moral publik dan memperkuat praksis kemanusiaan.
Haedar mengatakan, peringatan Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk mengambil nilai dan keteladanan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah atau teladan terbaik dalam kehidupan.
“Perayaan Maulid itu harus membekas dan mewujud dalam kehidupan umat yang merayakannya dengan menjadikan Nabi Muhammad sebagai uswah hasanah yang luhur,” ujar Haedar pada Selasa (25/8).
Menurutnya, keteladanan Nabi Muhammad tidak hanya relevan dalam kehidupan personal, tetapi juga dalam berbagai urusan muamalah-dunyawiyah, baik di tingkat keumatan, kebangsaan, maupun kemanusiaan semesta yang berorientasi pada rahmatan lil ‘alamin.
Karena itu, Haedar mendorong agar peringatan Maulid Nabi menjadi sarana untuk mentransformasikan nilai-nilai risalah dan keteladanan Rasulullah ke dalam kehidupan nyata.
“Nilai ajaran Islam yang sempurna maupun keteladanan utama Nabi Muhammad yang mulia tidak akan berjalan sendiri tanpa diaktualisasikan dalam kehidupan nyata umat Islam saat ini,” tuturnya.
Keteladanan untuk Moral Publik
Haedar menilai keteladanan Nabi Muhammad yang dikenal memiliki akhlak agung harus menjadi inspirasi bagi para tokoh dan umat Islam dalam membangun kehidupan yang bermoral. Keteladanan tersebut tercermin dalam cara berpikir, berkata, dan bertindak, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, maupun relasi antarmanusia.
Menurut Haedar, kebutuhan terhadap keteladanan moral semakin penting di tengah berbagai persoalan yang masih terjadi di Indonesia. Ia menyoroti maraknya korupsi, penyalahgunaan jabatan, perusakan alam, narkoba, serta berbagai kejahatan dan persoalan sosial yang merugikan kehidupan bersama.
“Korupsi bahkan makin parah karena meluas melibatkan para aktor di lembaga pendidikan tinggi. Begitu pula dengan dunia media sosial yang masih diwarnai narasi-narasi hoaks, kebencian, saling hujat, kata-kata kotor, dan permusuhan,” jelasnya.
Haedar menegaskan, kunci utama kehidupan terletak pada kualitas manusianya. Sistem kehidupan yang baik membutuhkan manusia yang memiliki integritas dan moral yang baik. Sebaliknya, sistem dapat rusak ketika dijalankan oleh manusia yang mengalami kerusakan moral.
Karena itu, menurutnya, berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks membutuhkan patokan nilai moral yang jelas mengenai mana yang baik dan buruk sebagai standar kehidupan publik.
“Di sinilah pentingnya para tokoh dan umat beragama di berbagai lembaga publik memberi teladan nilai luhur, bagaimana menjadikan agama secara nyata sebagai dasar moral pencerahan akhlak kolektif di ruang publik,” kata Haedar.
Ia menekankan bahwa moralitas publik tidak boleh berhenti pada narasi normatif maupun retorika keagamaan. Akhlak harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memperlihatkan keselarasan antara perkataan dan perbuatan.
Maulid sebagai Momentum Praksis Kemanusiaan
Selain menegakkan moral publik, Haedar menyebut Maulid Nabi dapat dijadikan momentum untuk mentransformasikan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan. Menurutnya, keteladanan Rasulullah harus mendorong umat untuk berpihak kepada mereka yang lemah dan mengalami berbagai persoalan kehidupan.
Salah satunya melalui kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurut Haedar, berbagai bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, longsor, dan erupsi gunung berapi membutuhkan kepedulian serta gotong royong seluruh elemen masyarakat.
“Memang menjadi kewajiban konstitusional bagi pemerintah untuk melakukan usaha pencegahan, rehabilitasi, dan mitigasi bencana. Peran masyarakat juga sangat diperlukan, termasuk dari organisasi keagamaan yang melibatkan para tokoh dan umat beragama dalam melakukan tugas kemanusiaan tersebut,” ujarnya.
Haedar menegaskan, kerja-kerja kemanusiaan harus dilandasi jiwa luhur sebagai panggilan Ilahi dan bentuk kesalehan yang autentik, bukan sekadar pencitraan sosial keagamaan.
Ia mengingatkan pesan Nabi Muhammad yang diriwayatkan Muslim bahwa Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.
Semangat tersebut, lanjut Haedar, juga sejalan dengan nilai-nilai Surah Al-Ma’un yang menempatkan kepedulian terhadap kaum miskin, anak yatim, dan kelompok yang lemah sebagai bagian penting dari keberagamaan.
“Bukti para tokoh dan umat muslim yang tinggi kesalehannya diuji selain dalam menegakkan moralitas publik juga dalam melakukan praksis kemanusiaan membela mereka yang lemah (dhu’afa), tertindas (mustadh’afin), dan mengalami masalah atau menderita dalam hidupnya,” ungkapnya.
Haedar juga mengutip hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan Ahmad bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Menurutnya, pesan tersebut menunjukkan bahwa kualitas keberagamaan harus tercermin dari manfaat nyata yang diberikan kepada sesama.
Agama Harus Dibumikan
Lebih lanjut, Haedar menegaskan bahwa kesalehan dan kebajikan keberagamaan tidak semata-mata diukur dari besarnya jumlah umat atau status mayoritas. Yang lebih penting adalah kualitas keberagamaan yang mampu menghadirkan moralitas dan praksis sosial yang luhur di ruang publik.
“Agama dan keberagamaan tidak dijadikan alat komodifikasi yang di tengah buaian narasi-narasi teologis di dunia maya. Agama mesti dibumikan sebagai praksis nilai pembebasan, pemberdayaan, kemajuan, dan segala tindakan luhur kehidupan bersama di dunia nyata,” tegasnya.
Karena itu, Haedar mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum untuk membuktikan kesalehan melalui tindakan nyata. Keteladanan Rasulullah, menurutnya, harus hadir dalam upaya membangun moral publik sekaligus memperkuat kepedulian dan kerja-kerja kemanusiaan.
“Karenanya, mari wujudkan perayaan Maulid Nabi untuk dijadikan jalan nyata dalam membuktikan kesalehan menegakkan moral publik dan praksis sosial kemanusiaan di negeri tercinta,” pungkas Haedar.
Ia mengingatkan pesan Al-Qur’an dalam Surah Ash-Shaff ayat 2–3 agar umat Islam tidak mengatakan sesuatu yang tidak dikerjakan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa nilai-nilai agama harus dibuktikan melalui amal dan tindakan nyata dalam kehidupan.
![]()









