Ketua PDM Sleman Sampaikan Tausiah Pada Pengajian FK PRM Sumbersari

Facebook
Twitter
LinkedIn

Moyudan, Pdmsleman.Or.Id

            Forum Koordinasi Pimpinan Ranting Muhammadiyah (FK PRM) Sumbersari menggelar pengajian rutin setiap Ahad Pahing. Pada pengajian Ahad Pahing (3/8/2025) bertempat di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Moyudan, Sleman,  menghadirkan H. Harjaka, S.Pd,.S.Ag,. M.A. Ketua PDM Sleman.

            Dalam pengajian yang mengambil tema ‘Kebangsaan dan Hikmah Kemerdekaan’ tersebut Harjaka mengawali tausiahnya mengutip penggalan nasehat Raden Ngabehi RanggaWarsita, seorang Pujangga Keraton Kasunanan Surakarta yang hidup pada masa Sunan Pakubuwono V hingga Paku Buwono VII.

            Ki Rangga Warsita lahir pada 14 Maret 1802 dan meninggal pada tanggal   24 Desember 1873. Ia merupakan Pujangga besar Tanah Air, beliau mengungkapkan kalimat yang  sangat menyentuh. Kalimat tersebut samai saat ini masih sangat fmilier kita dengar. “Besuk bakal tumeka samijine jaman, Jaman mau wis padha keblinger. Kang bener  dianggep salah, kang salah dianggep bener,. Kepara kang salah dibaleni nganti mati-matian.

Jaman mau diarani jaman edan, lamun ora nedan ora bakal keduman. Ananging mangertia sejatine, sak beja bejane wong ngedan isih luwih beja wong kang eling lan waspada. Wong kang jujurbakale makmur. Becik ketitik ala ketara iku bakal dadi kasunyatan.

            Apa yang disebutkan Ki Rangga Warsita tersebut menggambarkan situasi kekinina yang menimpa Bangsa Indonesia, banyak orang melakukan kejahatan yang merugikan negara tidak mendapatkan hukuman semestinya. Tetapi sebaliknya orang yang tidak bersalah yang ingin memperbaiki negeri ini malah mendapatkan hukuman.

            Selanjutnya Harjoko mengajak kepada Anggota Muhammadiyah untuk tetap dan selalu waspada dalam menghadapi segala situasi tersebut.” Kita jangan ikut larut dan mengikuti arus, tetapi harus bisa menyaring sebagi wujud dari Amar Ma’ruf Nahi Munkar.” Tandasnya

            Lebih lanjut Harjaka mengutip Hadist yang diriwayatkan oleh As Dailami dari Ibnu Abbas RA. Dalam hadist itu disebutkan ada 3 macam orang sebagi perusak agama yaitu orang pintar yang jahat, penguasa yang dzalim, dan orang yang berijtihad (berfatwa) tetapi bodoh. : Dari Sabda Nabi tersebut dikettahui bahwa kehancuran agama dimulai dari perilaku buruk ketiga golongan tersebut.:Tandas Harjaka.

            Ia Juga menambahkan bahwa orang-orang pandai yang berlaku jahat jika berkolaborasi dengan penguasa yang dzolim akan menghasilkan kepemimpinan yang tidak amanh. Selain itu juga akan menghasilkan produk-produk dan praktik hukum yang merugikan dan menyengsarakan rakyat. “Apalagi jika ditambah ijtihad yang tidak berdasarkan keilmuan yang memadai, makas akan menghasilkan praktik keagamaan yang menyimpang dan mendorong masyarakat jauh dari ajaran agama yang benar.” Imbuhnya.

            Ketiga golongan tersebut diuraikan dengan cukup menarik yang dibingkai dengan metode dakwah dengan memadukan anatar materi keagamaan dan penyampaian budaya Jawa melaui tembang Macapat. “ Tembang Macapat seperti mijil, kinanthi, sinom hungga Pocong memiliki makna yang dalam sebagi nasehat bagi manusia, kita harus tetap memperhatikan pakem tembang  sepert guru gatra,guru wilangan, dan guru lagu.” Pungkas Harjaka.

            Pada pengajian teesebut dihadiri rausan jamaah selain itu nampak hadir Ketua PCM Moyudan H.Abu Hanifah S.Ag.M.A,Penasehat PCM Moyudan Dr,H. Zainuddin Akhid, dan beberapa pengurus PCm, PCA Moyudan.

(Sugiyanto / Anton RW PCM Moyudan )

Loading

Leave a Replay