Perayaan Hari TBC Sedunia: Kolaborasi Lintas Sektor, Perkuat Aksi Eliminasi TB di DIY

Facebook
Twitter
LinkedIn

Seminar Perayaan Hari TBC Sedunia 2026 dengan tema penguatan kolaborasi lintas sektor dan lintas program dalam eliminasi TBC diselenggarakan di RS PKU Muhammadiyah Gamping secara hybrid, menggabungkan pertemuan luring dan daring. Kegiatan ini diikuti sekitar 170 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia yang terdiri dari tenaga kesehatan di rumah sakit, puskesmas, klinik, akademisi, organisasi masyarakat, serta perwakilan instansi pemerintah seperti dinas kesehatan dan dinas sosial. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan melalui pembaruan kebijakan serta tata laksana TBC, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan lintas program dalam percepatan eliminasi TBC di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kepala Dinas Kesehatan DIY, dr. Gregorius Anung Trihadi, M.PH, menyampaikan bahwa peringatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi. “Perayaan Hari TBC Sedunia ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi lintas sektor. Eliminasi TBC tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melibatkan semua pihak secara terintegrasi,” ujarnya. Hal senada disampaikan Ketua MPKU PWM DIY, dr. Masykur Rahmat, MARS, yang menegaskan komitmen organisasi dalam mendukung program pemerintah. “MPKU berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan DIY dan seluruh jejaring layanan. Penguatan peran komunitas menjadi kunci agar upaya eliminasi TBC dapat menjangkau masyarakat lebih luas,” katanya.

Dalam sesi materi, Kepala Bidang P2P Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati, MPH, mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam percepatan eliminasi TBC. “Keterlibatan Muhammadiyah dan Aisyiyah sebagai bagian dari tim percepatan eliminasi TBC sangat membantu dalam penemuan kasus dan edukasi masyarakat,” jelasnya. Pembaruan tata laksana TBC disampaikan oleh dr. Ardorisye Saptaty Fornia, Sp.P., M.Kes yang menekankan pentingnya pemahaman tenaga kesehatan terhadap perubahan regimen terapi. “Ada pembaruan dalam tata laksana TBC, termasuk perubahan dosis dan regimen terapi yang perlu dipahami tenaga kesehatan agar pengobatan lebih efektif,” ujarnya.

Sementara itu, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed)., Ph.D., Sp.A(K), menyoroti pentingnya pendekatan komprehensif dalam diagnosis TBC anak. “Diagnosis TBC anak tidak bisa hanya bergantung pada skoring. Pendekatan harus komprehensif agar penanganan lebih tepat,” katanya. Penguatan layanan di tingkat primer juga menjadi perhatian melalui paparan dr. Nadia Nur Azizah yang menekankan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama. “Fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran penting dalam penemuan dan pengobatan kasus TBC sejak dini untuk memutus rantai penularan,” ungkapnya.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan DIY berkolaborasi dengan MPKU PWM DIY dan RS PKU Muhammadiyah Gamping sebagai bagian dari Perayaan Hari TBC Sedunia 2026. Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan pada upaya percepatan eliminasi TBC melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan lintas program, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam implementasi kebijakan dan tata laksana TBC terbaru. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong langkah nyata menuju eliminasi TBC di DIY dan Indonesia.

Loading

Leave a Replay