Muhammadiyah Perkuat Persaudaraan Bangsa Bantu Penyintas Bencana Aceh dan Sumatra

Facebook
Twitter
LinkedIn

Muhammadiyah perkuat persaudaraan dan ukhuwah bangsa melalui konsolidasi gerakan nasional penghimpunan bantuan untuk penyintas bencana di Aceh, Sumatra Barat (Sumbar), dan Sumatra Utara (Sumut).

Pada tahap awal ini aksi bantuan Muhammadiyah diberikan dalam bentuk respon tanggap darurat, yang leading sektornya adalah Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU).

Setelah assessment awal dilakukan oleh MDMC, dilanjutkan menyusun peta lokasi terdampak dan kebutuhan penyintas, Muhammadiyah juga menerjunkan relawan kesehatan yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah.

Pada tahap respon tanggap darurat ini Muhammadiyah telah menerjunkan ratusan relawan, serta bantuan kebutuhan pokok untuk para penyintas seperti obat-obatan, makanan siap saji, tenda, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya.

Selain itu, Muhammadiyah juga memberikan bantuan intangible dengan penerjunan relawan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) untuk memberikan layanan psikososial, serta relawan kesehatan dari Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA) yang berasal dari Pulau Jawa dan Sumatra.

Relawan yang diterjunkan menembus berbagai lokasi bencana yang terisolir di Aceh, Sumbar, dan Sumut itu berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Lampung, Bengkulu, dan lainnya yang dikoordinasi MDMC PP Muhammadiyah.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir yang berkunjung langsung ke Aceh, Sumut, dan Sumbar pada Selasa (15/12/2025) juga menyerahkan bantuan senilai Rp. 7,5 miliar untuk ketiga provinsi terdampak bencana itu.

Jumlah tersebut merupakan hasil penghimpunan donasi yang dilakukan oleh Lazismu, dan donasi dari pengusaha sekaligus warga Muhammadiyah yang bernama Yendra Fahmi untuk Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Warga Muhammadiyah Bergerak Satu Barisan Bantu Aceh dan Sumatra

“Muhammadiyah terus mengonsolidasi gerakannya lewat MDMC, Lazismu, MPKU, dan mengerahkan seluruh apa yang kami miliki, berupa dana, tenaga, termasuk para sukarelawan dokter dan sukarelawan lainnya untuk penanggulangan kedaruratan bencana,” kata Haedar.

Di tengah bencana seperti saat ini, lanjut Haedar, perbedaan pandangan dan pendapat adalah satu hal yang biasa muncul. Sebab bencana itu ada karena beberapa sebab – ada sebab manusia, ada pula hal-hal yang sifatnya metafisik.

Sebagai orang beriman, lanjut Haedar diperlukan kesabaran dan ketabahan dalam berikhtiar. Haedar juga menegaskan dan mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk berada dalam satu barisan.

“Tetapi, mohon bahwa semuanya hal itu kita satukan bersama untuk menanggulangi bencana dan derita saudara-saudara kita, ini jauh lebih diutamakan pada saat ini. Setelah ini, mari kita memperbaiki hal-hal yang kira-kira menjadi sebab dari bencana ini,” jelasnya.

Setelah melihat situasi kerusakan di ketiga Provinsi, Haedar mendorong respon tanggap darurat dengan peralatan modern yang kompatibel, serta sistem manajemen penanganan bencana yang matang.

Semua bantuan yang diberikan Muhammadiyah baik bantuan tangible maupun intangible tidak hanya diberikan kepada warga Muhammadiyah maupun umat Islam saja, tapi untuk semua penyintas tanpa terkecuali.

Sebab standar penanganan kebencanaan MDMC memiliki tiga prinsip utama yaitu kemanusiaan global, imparsialitas dan netralitas, dan profesionalisme teknis yang sesuai dengan standar dari World Health Organization (WHO).

Selain itu, landasan operasional Muhammadiyah untuk menangani bencana juga mengacu pada prinsip-prinsip yang ada di Fikih Kebencanaan yang merupakan produk pemikiran Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Muhammadiyah Berikan Pertolongan Berkelanjutan untuk Penyintas Bencana

Muhammadiyah ketika memberikan bantuan tidak hanya datang, memberi, lalu pergi. Sebab dalam bingkai gerakan penanganan kebencanaan yang dimiliki Muhammadiyah menggunakan wawasan keberlanjutan.

Ketika menanggapi sebuah bencana Muhammadiyah memiliki tahapan atau fokus kerja. Pada tahap awal ini, sebagaimana yang dijelaskan Ketua PP Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, respon yang diberikan adalah tanggap darurat.

Respons tanggap darurat telah diberikan Muhammadiyah sejak Tanggal, 27 November 2025 dengan leading sektornya adalah MDMC, Lazismu, MPKU, Majelis Diktilitbang, MPKS, Majelis Tabligh dan LDK.

Setelah masa tanggap darurat, respon selanjutnya adalah tahap transisi darurat ke pemulihan dengan melibatkan Majelis Dikdasmen, Lazismu, Diktilitbang, MPKS, serta Majelis Tabligh dan LDK.

Kemudian pada tahap ketiga yaitu rehabilitasi dan rekonstruksi yang diberikan Muhammadiyah melalui Majelis Dikdasmen, Lazismu, MPM, Diktilitbang, MPKS, Majelis Tabligh dan LDK, serta Ortom dan LLHPB ‘Aisyiyah.

Loading

Leave a Replay