Dr.
Sleman.Pdmsleman.Or.Id
Sekolah Muhammadiyah perlu membangun kemandirian dan keberlanjutan pembiayaan dengan tidak hanya bergantung pada jumlah peserta didik dan pembayaran SPP. Sekolah harus mulai mengembangkan berbagai sumber dukungan yang melibatkan alumni, orang tua, donatur, serta stakeholder yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.
Hal tersebut disampaikan Agus Suroyo, M.Pd.I. dalam Workshop Sukses SPMB Tahun Pelajaran 2027/2028 yang diikuti kepala SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman di Aula Satriafi Kaliurang, Sleman (7/8).
Menurut Dr. Agus, salah satu tantangan yang dihadapi sekolah saat ini adalah ketergantungan yang terlalu besar terhadap jumlah murid sebagai satu-satunya sumber pendapatan lembaga.
“Sekolah tidak boleh selamanya bergantung pada murid saja. Kita harus mulai memikirkan strategi lain agar sekolah tetap berkembang dan memiliki daya tahan yang kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan sekolah sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah siswa yang diterima setiap tahun, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem pendukung yang melibatkan berbagai pihak.
Dalam konsep yang disampaikannya, sekolah perlu mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui penguatan hubungan dengan alumni, orang tua, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan para donatur.
Menurutnya, keberadaan stakeholder tersebut dapat menjadi sumber dukungan yang sangat penting bagi pengembangan program sekolah maupun pemberian bantuan kepada peserta didik yang membutuhkan.
Membangun Jaringan Pendukung Sekolah
Agus menjelaskan bahwa setiap sekolah memiliki komunitas yang dapat diberdayakan. Orang tua siswa, alumni, tokoh Muhammadiyah, profesional, hingga masyarakat sekitar merupakan bagian dari aset sosial yang perlu dirawat dan dilibatkan.
“Kalau hubungan dengan stakeholder dibangun dengan baik, sekolah akan memiliki banyak peluang untuk berkembang. Dukungan tidak selalu berupa uang, tetapi bisa berupa jaringan, program, fasilitas, maupun keahlian,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sekolah perlu memiliki sistem yang terencana dalam membangun hubungan dengan para pemangku kepentingan tersebut sehingga tidak hanya bersifat insidental ketika sekolah sedang membutuhkan bantuan.
Fundraising sebagai Bagian dari Kemandirian Sekolah
Dalam paparannya, Agus juga memperkenalkan pentingnya budaya fundraising atau penggalangan dukungan secara terstruktur dan profesional.
Menurutnya, masyarakat Indonesia memiliki semangat berbagi yang tinggi, terutama untuk kegiatan pendidikan dan kemanusiaan. Karena itu, sekolah perlu belajar bagaimana menyusun program yang menarik dan mampu menggerakkan kepedulian masyarakat.
“Pada dasarnya banyak orang ingin membantu pendidikan. Persoalannya adalah bagaimana sekolah mampu menawarkan program yang jelas, transparan, dan memberikan dampak yang nyata,” katanya.
Ia menekankan bahwa program bantuan tidak harus selalu dalam nominal besar. Dukungan kecil yang dilakukan secara konsisten dan melibatkan banyak pihak dapat memberikan dampak yang signifikan bagi pengembangan sekolah.
Mengubah Pola Pikir Pengelolaan Sekolah
Lebih lanjut, Agus mengajak para kepala sekolah untuk mengubah pola pikir dalam mengelola lembaga pendidikan. Menurutnya, sekolah yang berkembang adalah sekolah yang mampu melihat peluang, bukan hanya berfokus pada keterbatasan.
Ia mengingatkan bahwa sekolah kecil maupun besar memiliki tantangan dan peluang yang berbeda. Karena itu, strategi yang digunakan juga harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.
“Sekolah yang berhasil bukan selalu sekolah yang paling besar, tetapi sekolah yang mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki dan membangun kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Menutup materinya, Agus menegaskan bahwa masa depan sekolah Muhammadiyah akan semakin kuat apabila mampu membangun kolaborasi yang luas, memperkuat jejaring stakeholder, serta mengembangkan budaya kemandirian dalam pembiayaan pendidikan.
“Yang terpenting adalah bagaimana sekolah terus bergerak, membangun hubungan yang baik dengan masyarakat, dan menghadirkan manfaat yang nyata. Ketika kepercayaan tumbuh, dukungan akan datang dengan sendirinya,” pungkasnya.
Melalui pemikiran tersebut, para kepala SMP Muhammadiyah se-Sleman didorong untuk tidak hanya fokus pada target penerimaan peserta didik baru, tetapi juga mulai membangun sistem pendukung sekolah yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berbasis kolaborasi masyarakat.
REp Editor H. Wahdan Arifudin S,PD SMPM
![]()









