Oleh : Andhi Nugroho, S.S.
Muhammadiyah yang didirikan di kampung Kauman lebih dari satu abad yang lalu bermula dari pengajian yang digagas oleh KH. Ahmad Dahlan. Beliau mengamati situasi kondisi masyarakat pada saat itu masih menerapkan praktik islam yang masih bercampur dengan tradisi lokal yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits, dan rendahnya kualitas pendidikan umat dan keterbelakangan akibat penjajahan. Sehingga beliau menginginkan pemurnian ajaran islam sekaligus memajukan cara berpikir dan pendidikan umat. Pada awlnya KH Ahmad Dahlan mengajarkan surat Al-Maun. Pengajian tersebut dilaksanakan selama tiga bulan, sampai murid muridnya paham makna yang terkandung di dalam surat tersebut. Jauh sebelumnya K.H Ahmad Dahlan juga mengajarkan surat Al-Ashr. K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan dan mengulang surat Al-Ashr selama tiga bulan. Dari kedua surat tersebut yang kemudian melahirkan tindakan sosial praksis dan peradaban Muhammadiyah hingga melintasi abad.
Kini memasuki abad kedua, Muhammadiyah yang mengusung paham Islam Berkemajuan maupun gerakan pencerahan telah melakukan beberapa pencapaian dalam berbagai bidang kehidupan. Transformasi gerakan dari pengajian kecil di Kauman menuju organisasi global ini membuktikan bahwa semangat tajdid Muhammadiyah tidak pernah mandek. Memasuki abad kedua , panggung khidmatnya, manifesto Islam Berkemajuan tidak lagi sekedar merespon isu lokal,melainkan berkembang melintas batas negara. Sebagai pengejawantahan dari gerakan pencerahan yang adaptif terhadap zaman, Muhammadiyah kini dihadapkan pada agenda strategis baru meliputi, gerakan pencerahan, Transformasi dari fisik ke digital, menghadapi tantangan ideologis global, internasionalisasi gerakan, dan penguatan pilar ekonomi umat.
- Gerakan Pencerahan (Tanwir) dan Islam Berkemajuan
Muhammadiyah mengusung gerakan pencerahan sesuai dokumen Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad ke Dua, yang menyatakan bahwa gerakan pencerahan (tanwir) merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan dan memajukan kehidupan[1]. Gerakan pencerahan dihadirkan untuk memberikan jawaban atas problem- problem kemanusiaan, menampilkan islam untuk menjawab masalah kekeringan rohani, dan mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi, menjunjung tinggi toleransi dan kemajemukan, dan membangun pranata sosial yang utama. Melalui manifestasi gerakan pencerahan, Muhammadiyah konsisten mengemban misi dakwah dan reformasi (tajdid) untuk menghadirkan islam sebagai ajaran yang mengembangkan sikap tengahan (wasathiyyah), membangun perdamaian, menghargai kemajemukan, menghormati harkat dan martabat kemanusiaan laki-laki maupun perempuan, mencerdaskan kehidupan bangsa, menjunjung tinggi akhlak mulia dan memajukan kehidupan umat manusia.
- Transformasi dari Fisik ke Digital
Di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat di berbagai bidang kehidupan, tak luput persyarikatan pun terkena dampaknya. Persyarikatan harus menyesuaikan dengan zaman, sesuai semangat tajdid. Teknologi adalah alat yang dinamis untuk mempermudah hidup manusia. Islam mendorong umatnya untuk terus mengeksplorasi potensi manusia dan melakukan inovasi dalam urusan duniawi (non ibadah mahdah) demi kemaslahatan manusia. Pengembangan organisasi tidak bisa berjalan dengan cara- cara konvensional. Digitalisasi adalah keniscayaan, yang menentukan rekevansi dan keberlanjutan organisasi. Upaya digitalisasi di Muhammadiyah dilakukan di beberapa bidang, seperti pembuatan platform MASA (sistem keanggotaan Muhammadiyah), SATUMU (Satu data Muhammadiyah), serta sistem informasi cabang dan ranting (SICARA)[2].
- Menghadapi Tantangan Ideologis Global
Perkembangan teknologi dan informasi membawa pengaruh yang sangat besar dalam penyebaran ideologi dari luar negeri. Siapa pun dapat mengakses video propaganda, manifesto atau pemikiran ideologis dari belahan dunia lain dengan sangat mudah melalui media sosial. Apalagi aplikasi pesan terenkripsi seperti Telegram memberikan kemudahan bagi kelompok ekstrimis global dalam menyebarkan narasi propaganda, modul pelatihan, maupun perekrutan tanpa terdeteksi pihak keamanan. Tidak ketinggalan algoritma media sosial menciptakan ruang gema (echo chamber) yang menyuguhkan konten ekstrim secara terus menerus. Dinamika geopolitis juga memberikan dampak penyebaran ideologi lintas negara. Ekstremis lokal sering merasa menjadi bagian dari gerakan global yang lebih besar sehingga mereka mendapat dukungan moral dan strategi dari luar negeri. Aliran dana dari aktor internasional ke gerakan bawah tanah, lembaga atau yayasan lokal pun turut menjadi jalan masuknya paham ideologi dari luar negeri. Teknologi dan geopolitik tidak akan mempan jika masyarakatnya kebal. Kesenjangan dan ketidakadilan merupakan lahan subur bagi ekstremis kiri maupun kanan. Ekstremis kiri menawarkan solusi untuk kesenjangan ekonomi. Sedangkan bagi masyarakat yang merasa identitas nya seperti budaya, agama, atau status sosialnya terancam akan menjadikan ideologi ekstrem kanan untuk menjadi benteng pertahanan.
Menghadapi fenomena ini sebagimana telah dirumuskan dalam dokumen Keputusan Muktamar Seabad Muhammadiyah, tertulis bahwa umat islam dalam berhadapan dengan berbagai permasalahan dan tantangan kehidupan yang komplek dituntut untuk melakukan perubahan strategi dari perjuangan melawan sesuatu (aljihad li al muradhah) kepada perjuangan menghadapi sesuatu (al jihad li al Muwajahah) dalam wujud memberikan jawaban – jawaban alternatif terbaik untuk mewujudkan kehidupan yang lebih utama[3].
- Internasionalisasi Gerakan
Muhammadiyah telah berekspansi ke luar negeri dengan bekerjasama dengan berbagai pihak di luar negeri. Di dalam bidang pendidikan yaitu mendirikan sekolah atau universitas di luar negeri, seperti Universitas Muhammadiyah malaysia (UMAM), Muhammadiyah Australia College (MAC)[4]. Hal ini menunjukkan Muhammadiyah sebagai organisasi yang inklusif. Kehadiran MAC merupakan perwujudan usaha perdamaian lewat jalur pendidikan yang inklusif agar dunia bisa bersatu tanpa memandang latar belakang, agama, suku, status sosial, maupun kondisi fisik. Selain itu juga merupakan pengintegrasian islam dan barat dengan tetap merawat multikultural satu sama lain dan menghadapi era islamophobia atau bentuk-bentuk radikalisme lainnya dengan dakwah pencerahan
Selain itu kerjasama internasional Muhammadiyah juga dilaksanakan dalam bidang kemanusiaan. Emergency Medical Team (EMT) yang dikelola Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) resmi terverifikasi oleh badan kesehatan dunia WHO sebagai tim medis darurat berstandar internasiona lpertama dari Indonesia dan yang ke-16 di dunia.[5]
Muhammadiyah telah lama berkiprah di dunia internasional dengan mengirim tim kemanusiaan di berbagai belahan dunia. Misi kemanusiaan ini depelopori tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Din Samsudin, dan Syafii Maarif. Teologi Al-Maun menjadi asas gerakan yang mewujudkan keimanan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat. Atas kontribusi tersebut Muhammadiyah mendapatkan penghargaan Internasional Zayed untuk Persaudaraan manusia (Zayed Award for Human Fraternity 2024).[6]
- Penguatan Pilar Ekonomi Umat
Muktamar Muhammadiyah ke 47 Makasar meneguhkan dalam penguatan tiga pilar Gerakan Dakwah Muhammadiyah yaitu Pendidikan, Kesehatan dan Ekonomi Umat.[7] Hal ini merupakan wujud nyata dakwah amar ma’ruf nahi munkar runtuk memajukan umat dan melepaskan masyarakat dari kebodohan, kemiskinan, serta keterbelakangan. Muhammadiyah memperkuat ekonomi umat dengan membangun ekosistem bisnis terintegrasi, membentuk komunitas wirausaha, dan mengoptimalkan amal usaha. Beberapa strategi yang dilaksanakan,diantaranya membentuk wadah seperti Jaringan Saudagar Muhammadiyah, Serikat Usaha Muhammadiyah, Ikatan Saudagar dan Wirausaha Aisyiah, mengembangkan lembaga keuangan dan bisnis, memberikan pelatihan kewirausahaan, pendampingan legal dan akses permodalan.
Melalui konsistensi gerakan pencerahan yang telah melintasi satu abad, Muhammadiyah membuktikan diri sebagai organisasi yang tidak pernah lelah merawat zaman. Dengan menghadapi tantangan digitalisasi, ideologi global, internasionalisasi, serta penguatan ekonomi umat, persyarikatanterus mengobarkan semangat tajdid dan teologi Al-Maun dalam tindakan nyata. Perjalanan di abad kedua ini bukan lagi sekadar menjaga warisan sejarah, melainkan tentang bagaimana Islam Berkemajuan terus hadir memberikan jawaban alternatif terbaik demi kemaslahatan dan kemajuan peradaban bangsa serta dunia.
[1]Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua: Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Muktamar ke-46), (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2010), hal. 14
[2]Lihat “Aplikasi dan Sistem Informasi Keanggotaan Terintegrasi Persyarikatan”, dalam Portal Resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah
[3]Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Berita Resmi Muhammadiyah: Tanfidz Keputusan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah (Muktamar Muhammadiyah ke-46), (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2010), Bagian Kebijakan Strategis, hal. 42
[4]Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Academic Prospectus and International Profile, (Perlis: UMAM Press, 2021), hal. 5. Lihat juga profil pendirian Muhammadiyah Australia College (MAC) di Victoria melalui situs resmi lembaga.
[5]World Health Organization (WHO) Secretariat HQ, Confirmation Letter of EMT Global Classification for Muhammadiyah Indonesia, (Sleman: RS PKU Muhammadiyah Gamping, 19 Oktober 2025). Laporan lengkap dapat diakses pada laman resmi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).
[6]Zayed Award for Human Fraternity, Official Declaration of the 2024 Laureates: Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, (Abu Dhabi: The Higher Committee of Human Fraternity, 2024).
[7]Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Tanfidz Keputusan Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar, (Jakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 2015), Bab 1 tentang Gambaran Umum Program halaman :27
![]()








