Godean, Pdmsleman.Or.Id
Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Godean kembali menyelenggarakan Pengajian Ahad Pagi atau Jihadi pada Ahad, 20 September 2026. Pengajian berlangsung di Masjid Al Huda Pandean VII, Sidoluhur, Godean, Sleman, Yogyakarta, yang berada sekitar 100 meter di sebelah utara Perempatan Godean.
Pengajian kali ini menghadirkan Ust. H. Achmad Masrusi dari Minggir, Sleman sebagai mubalig. Adapun pelaksanaan kegiatan dan pelayanan jamaah pada Ahad ini bersama Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidoluhur Utara.
Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur’an oleh Ustadz Suhardi, membaca Surah Al-Qiyamah ayat 23–33. Pembacaan ayat tersebut menjadi pengantar bagi jamaah untuk merenungkan hubungan manusia dengan Allah SWT, kehidupan akhirat, serta bagaimana seorang hamba mempersiapkan diri untuk kembali menghadap kepada Allah.
Dalam tausiyahnya, Ust. H. Achmad Masrusi mengangkat tema yang menarik dan mendalam, yaitu “Seni Merayu Tuhan.” Istilah tersebut digunakan sebagai pintu masuk untuk mengajak jamaah memahami kembali hakikat doa, shalat, dzikir, dan seluruh ibadah yang dilakukan seorang muslim.
Merayu Tuhan Sesungguhnya Mengubah Diri
Ust. Achmad Masrusi menjelaskan bahwa Allah SWT tidak membutuhkan rayuan manusia. Allah adalah Tuhan Yang Maha Kaya dan tidak bergantung kepada makhluk-Nya. Justru manusia-lah yang membutuhkan Allah.
Karena itu, ketika seorang hamba berdoa, berdzikir dan melaksanakan shalat, sesungguhnya bukan Allah yang perlu diubah oleh rayuan tersebut. Kitalah yang harus berubah.
Ibadah menjadi sarana untuk membersihkan diri, memperbaiki hati, dan membangun kedekatan dengan Allah SWT. Semakin seseorang mendekat kepada Allah, semakin ia menyadari kelemahan dirinya dan semakin kuat pula ketergantungannya kepada Allah.
Dalam konteks inilah “seni merayu Tuhan” dapat dipahami sebagai seni mendekatkan diri kepada Allah dengan membersihkan hati dan memperbaiki kualitas kehidupan.
Shalat sebagai Perjumpaan Ruhani
Salah satu bagian penting tausiyah adalah tentang makna “bertemu” dengan Allah.
Menurut Ust. Achmad Masrusi, pertemuan tidak selalu harus dipahami sebagai persoalan penglihatan fisik. Seseorang dapat merasakan kehadiran orang yang dicintainya meskipun tidak selalu melihatnya secara langsung.
Demikian pula dalam shalat. Ketika seorang muslim berdiri menghadap Allah, ia tidak sedang melihat Allah secara fisik, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa dirinya sedang menghadap, memohon, dan berkomunikasi dengan Allah SWT.
Oleh sebab itu, shalat seharusnya menjadi sebuah perjumpaan ruhani yang menghadirkan Allah dalam kesadaran seorang hamba.
Shalat bukan hanya gerakan berdiri, rukuk, sujud, dan salam. Di balik gerakan tersebut terdapat proses penghambaan, pengakuan atas kelemahan diri, permohonan pertolongan, serta usaha mendekat kepada Allah.
Jangan Berhenti pada Tekstualitas Ibadah
Ust. Achmad Masrusi juga mengingatkan agar umat Islam tidak berhenti pada tekstualitas ibadah.
Seseorang mungkin telah melaksanakan shalat lima waktu. Namun pertanyaan pentingnya adalah: apa yang terjadi pada dirinya setelah shalat?
Apakah ia menjadi lebih santun?
Apakah ia menjadi lebih jujur?
Apakah ia semakin sabar?
Apakah ia semakin peduli kepada sesama?
Apakah perilakunya semakin mencerminkan nilai-nilai Islam?
Jika ibadah dilakukan berulang-ulang tetapi tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku, maka seseorang perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas ibadahnya.
Hal ini sejalan dengan pesan Surah Al-Ma’un ayat 4–7, yang memberikan peringatan kepada orang-orang yang melaksanakan shalat tetapi lalai terhadap hakikat shalat dan kepedulian sosial.
Dengan demikian, ukuran keberhasilan shalat bukan hanya terlaksananya kewajiban secara lahiriah, tetapi juga adanya perubahan akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Hati Manusia Ibarat Cermin
Dalam tausiyahnya, Ust. Achmad Masrusi juga menggambarkan manusia seperti sebuah cermin.
Cermin yang kotor tidak mampu memantulkan cahaya dengan baik. Sebaliknya, cermin yang bersih akan mampu memantulkan cahaya dengan jelas.
Demikian pula hati manusia. Ketika hati dipenuhi kesombongan, iri, kebencian, dan keterikatan berlebihan terhadap dunia, maka cahaya kebaikan sulit memancar melalui dirinya.
Sebaliknya, hati yang senantiasa dibersihkan melalui shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, doa, dan amal saleh akan lebih mudah memantulkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan.
Yang terpancar dari seorang manusia bukan semata-mata tentang dirinya, tetapi juga bagaimana cahaya kebaikan itu memberikan manfaat kepada lingkungan di sekitarnya.
Jangan Terlalu Terikat pada Aksesoris Dunia
Ustadz juga mengajak jamaah untuk melihat kembali hubungan manusia dengan dunia.
Manusia sering menghabiskan banyak energi untuk mengumpulkan berbagai “aksesoris dunia”: rumah, kendaraan, perangkat teknologi, jabatan, harta, dan berbagai fasilitas kehidupan. Semua itu boleh dimiliki dan dimanfaatkan, tetapi jangan sampai membuat manusia kehilangan orientasi ruhaniahnya.
Dunia seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan akhir.
Manusia perlu memiliki keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan kebutuhan ruhani. Jangan sampai berbagai fasilitas kehidupan berkembang sedemikian rupa, sementara hubungan dengan Allah justru semakin jauh.
Karena itu, Al-Qur’an harus terus dibaca, dipahami, dan direnungkan. Al-Qur’an bukan hanya bacaan, tetapi petunjuk yang mengarahkan manusia menuju jalan kehidupan yang benar.
Lima Kali Sehari Membangun Koneksi dengan Allah
Shalat lima waktu, menurut Ust. Achmad Masrusi, merupakan kesempatan luar biasa yang diberikan Allah kepada manusia untuk terus memperbarui hubungan dengan-Nya.
Dalam sehari semalam, seorang muslim mendapatkan kesempatan berulang kali untuk berhenti sejenak dari aktivitas duniawi, menghadap Allah, membaca ayat-ayat-Nya, berdzikir, berdoa, rukuk, dan bersujud.
Jika kesadaran tersebut benar-benar dihadirkan, maka shalat tidak lagi dipandang sebagai beban kewajiban, tetapi sebagai kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Belum lagi berbagai ibadah lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan ibadah sunnah yang semakin memperkuat hubungan ruhani seorang hamba dengan Allah SWT.
Menguatkan Keimanan dan Memperbaiki Kehidupan
Pada akhirnya, Ust. Achmad Masrusi mengajak jamaah untuk menjadikan seluruh ibadah sebagai jalan perubahan diri.
Manusia tidak dapat menentukan seluruh peristiwa yang terjadi dalam hidupnya. Namun manusia dapat menentukan bagaimana ia merespons setiap takdir Allah. Kesadaran kepada Allah akan melahirkan kesabaran ketika menghadapi ujian, rasa syukur ketika memperoleh nikmat, dan ketawakalan ketika menghadapi sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia.
Dengan demikian, “Seni Merayu Tuhan” bukanlah bagaimana membuat Allah mengikuti keinginan manusia, tetapi bagaimana manusia terus memperbaiki dirinya agar semakin dekat dengan Allah.
Shalat menjadi ruang perjumpaan ruhani. Doa menjadi ungkapan ketergantungan kepada Allah. Al-Qur’an menjadi petunjuk kehidupan. Sedangkan akhlak menjadi bukti bahwa ibadah benar-benar memberikan pengaruh terhadap diri seseorang.
Pengajian Ahad Pagi/Jihadi PCM Godean tersebut menjadi momentum untuk kembali menguatkan keimanan sekaligus melakukan muhasabah: sudahkah ibadah yang kita lakukan menghadirkan Allah dalam kehidupan kita?
Semoga melalui pengajian ini, jamaah semakin mencintai masjid, semakin dekat dengan Al-Qur’an, semakin baik kualitas shalatnya, serta semakin nyata manfaatnya bagi keluarga, masyarakat, persyarikatan, dan umat.
Rabbana amanna. Ya Allah, kami beriman. Bimbinglah kami agar iman itu tidak hanya berada di lisan, tetapi hadir dalam hati, ibadah, akhlak, dan seluruh kehidupan kami.
Rep H. Wahdan Arifudin S.Pd PCM Godean
![]()









