BKS SMP Muhammadiyah se-Sleman Perkuat Strategi SPMB Melalui Analisis Sosial Sekolah

Facebook
Twitter
LinkedIn

Sleman, Pdmsleman.Or.Id

Badan Kerja Sama (BKS) SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman menggelar Workshop Sukses SPMB Tahun Pelajaran 2027/2028 yang berlangsung selama dua hari, 7–8 Agustus 2026, bertempat di Aula Satriafi, Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 27 kepala sekolah SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman sebagai upaya memperkuat strategi penerimaan murid baru sekaligus meningkatkan daya saing sekolah Muhammadiyah.

Ketua BKS SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman, Hendro Sucipto, M.Pd., menyampaikan bahwa keberhasilan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tidak hanya ditentukan oleh promosi sekolah, tetapi juga oleh kemampuan sekolah memahami dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kita tidak cukup hanya mengelola sekolah dengan baik, tetapi juga harus mampu membaca kebutuhan masyarakat. Karena itu, analisis sosial menjadi penting agar sekolah dapat memahami peluang, tantangan, dan harapan masyarakat terhadap pendidikan Muhammadiyah,” ujar Hendro saat membuka kegiatan.

Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Persaingan antar sekolah semakin ketat, sementara jumlah peserta didik di beberapa wilayah cenderung menurun. Kondisi tersebut menuntut sekolah Muhammadiyah untuk terus melakukan inovasi dan menyusun strategi yang lebih adaptif, terukur, dan berkelanjutan.

Hendro menjelaskan bahwa workshop tahun ini merupakan kelanjutan dari program penguatan kapasitas kepala sekolah yang telah dilakukan sebelumnya. Jika pada tahun lalu peserta mendalami analisis sekolah, maka pada tahun ini fokus pembahasan diarahkan pada analisis sosial sekolah sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan sekolah dan keberhasilan SPMB.

Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Sleman, Surakhmad, S.Pd., menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah memiliki modal besar untuk terus mendapatkan kepercayaan masyarakat. Selain kualitas akademik, sekolah Muhammadiyah memiliki kekuatan pada pembentukan karakter dan pendidikan keislaman yang menjadi kebutuhan penting bagi orang tua.

“Orang tua tidak hanya mencari sekolah yang unggul secara akademik, tetapi juga sekolah yang mampu membentuk karakter anak. Pendidikan shalat, membaca Al-Qur’an, pembiasaan ibadah, dan pembentukan akhlak merupakan nilai tambah yang harus terus kita kuatkan dan komunikasikan kepada masyarakat,” tegas Surakhmad.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi guru sebagai bagian dari penguatan mutu sekolah. Menurutnya, guru yang profesional, inovatif, dan terus berkembang akan menjadi faktor utama dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan serta mendukung keberhasilan SPMB.

Pada hari pertama workshop, peserta mendapatkan materi dari Eko Prasetyo, aktivis sosial dan penulis buku yang dikenal luas melalui gagasan-gagasannya tentang pendidikan, gerakan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam paparannya yang bertajuk Perspektif Analisis Sosial dalam Pengembangan Sekolah Muhammadiyah, Eko mengajak para kepala sekolah untuk melihat pendidikan tidak hanya dari sisi manajerial, tetapi juga dari realitas sosial yang berkembang di masyarakat.

Menurut Eko, sekolah yang mampu memahami kebutuhan masyarakat, membangun harapan, serta menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan publik.

“Pendidikan harus menumbuhkan optimisme. Sekolah tidak hanya mencetak anak yang berprestasi, tetapi juga melahirkan generasi yang memiliki karakter, kepedulian sosial, dan keyakinan bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

Eko juga menekankan pentingnya sekolah menghargai keunikan setiap peserta didik dan membangun budaya belajar yang memberikan ruang bagi tumbuhnya kreativitas, kepemimpinan, dan keberanian menghadapi tantangan zaman.

Selain Eko Prasetyo, workshop di hari pertama juga menghadirkan Abdullah Mukti, M.Pd praktisi pendidikan dan staf Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah yang memberikan materi tentang pentingnya pelayanan kepada murid dalam pengelolaan sekolah. Menurutnya, kualitas pelayanan menjadi salah satu faktor utama yang menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan.

Abdullah Mukti menjelaskan bahwa pelayanan yang baik tidak hanya diberikan pada saat proses penerimaan murid baru, tetapi harus menjadi budaya sekolah dalam setiap aktivitas pendidikan. Mulai dari penyambutan peserta didik, komunikasi dengan orang tua, proses pembelajaran, hingga pelayanan administrasi harus dilaksanakan dengan ramah, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

“Sekolah yang dicintai masyarakat adalah sekolah yang mampu memberikan pelayanan terbaik kepada murid dan orang tua. Ketika murid merasa nyaman, diperhatikan, dan mendapatkan layanan yang berkualitas, maka kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelayanan merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah di bidang pendidikan. Oleh karena itu, seluruh warga sekolah harus memiliki semangat melayani dan menjadikan peserta didik sebagai amanah yang harus dididik dengan sepenuh hati.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga diskusi, refleksi, analisis kondisi sekolah, serta penyusunan strategi bersama untuk menghadapi SPMB Tahun Pelajaran 2027/2028. Melalui forum ini, para peserta diharapkan mampu merumuskan langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.

Workshop ini menjadi momentum penting bagi SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman untuk memperkuat kolaborasi, berbagi praktik baik, dan membangun strategi bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan. Dengan semangat Islam Berkemajuan, sekolah Muhammadiyah diharapkan semakin unggul, adaptif, dan menjadi pilihan utama masyarakat dalam memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas, berkarakter, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.

Rep Editor H. Wahdan Arifudin SPd

Loading

Leave a Replay