Workshop Manajemen Kesejahteraan Lansia Dorong Terwujudnya Lansia Bahagia dan Sejahtera di Sleman

Facebook
Twitter
LinkedIn

Sleman, Pdmsleman.Or.Id

 Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM dan MKS PDA Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan menggelar Workshop Manajemen Kesejahteraan Lansia bertema “Menuju Lansia Bahagia dan Sejahtera” di Aula Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Sleman, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, yakni Prof. Dr. Fatwa Tentama, S.Psi., M.Si. serta Dr. Tri Wahyuni Sukesi, S.Si., MPH..

H. Wahyu Purhantoro MM Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PDM menegaskan bahwa “ kegiatan ini untuk membahas berbagai persoalan kesejahteraan lansia, mulai dari kesehatan mental, kesehatan fisik, lingkungan sosial, hingga strategi mewujudkan lansia tangguh di tengah meningkatnya populasi lanjut usia di Daerah Istimewa Yogyakarta”.

Dalam pemaparannya, Prof. Fatwa Tentama menekankan pentingnya kesehatan mental bagi lansia agar tetap mampu menjalani masa tua secara bermakna dan produktif. Ia menjelaskan bahwa DIY saat ini telah memasuki fase aging population, yakni kondisi ketika jumlah penduduk usia lanjut melebihi 10 persen dari total populasi.

“Lansia tangguh adalah seseorang yang tetap sehat secara fisik, sosial, dan mental, serta mampu beradaptasi positif terhadap proses penuaan,” jelas Prof. Fatwa dalam materinya.

Menurutnya, konsep successful aging dapat diwujudkan melalui pola hidup sehat, tetap aktif secara fisik, membangun komunikasi, memiliki jaringan sosial yang kuat, serta menjaga sikap optimistis dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menyoroti fenomena kesepian dan isolasi sosial yang kerap dialami lansia. Kondisi tersebut, katanya, dapat memicu gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, hingga penurunan fungsi kognitif.

“Kesepian bukan hanya persoalan tidak memiliki teman, tetapi perasaan subjektif ketika seseorang merasa jauh dari lingkungan sosialnya,” ungkapnya.

Prof. Fatwa menjelaskan bahwa kesepian pada lansia dapat dipicu oleh faktor fisik, sosial, psikis, maupun spiritual. Gejalanya antara lain mudah sedih, menarik diri dari lingkungan, sulit tidur, kehilangan semangat, hingga merasa tidak berguna.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia mendorong penguatan spiritualitas, peningkatan interaksi sosial, pengembangan hobi, serta dukungan keluarga dan tenaga profesional. “Kegiatan sosial, silaturahmi, ibadah, dan komunikasi rutin dengan keluarga sangat penting agar lansia tetap merasa dihargai dan memiliki makna hidup,” katanya.

Selain itu, Prof. Fatwa menekankan pentingnya peran keluarga dan caregiver dalam mendampingi lansia. Pendamping diharapkan menjadi pendengar yang baik, memberi ruang bagi lansia untuk mengambil keputusan sederhana, serta memperhatikan perubahan perilaku dan kondisi kesehatannya.

Sementara itu, Dr. Tri Wahyuni Sukesi membahas pentingnya menjaga kesehatan fisik dan lingkungan yang ramah lansia. Menurutnya, kesejahteraan lansia tidak hanya ditentukan oleh kondisi kesehatan, tetapi juga lingkungan sosial yang mendukung aktivitas dan interaksi mereka.

Kegiatan workshop ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Kabupaten Sleman. Para peserta berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendampingan dan pelayanan lansia secara holistik.

Melalui workshop ini, MPKS PDM dan MKS PDA Sleman berharap tercipta sinergi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga sosial dalam mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, bahagia, dan tetap produktif di usia senja.

Editor  Arief HArtanto MPI PDM SLeman

Loading

Leave a Replay