Surat Al-Ashr Jadi Pengingat Pentingnya Mengelola Waktu dan Kehidupan

Facebook
Twitter
LinkedIn

Turi, Pdmsleman.Or.Id

Menjelang pergantian Tahun Baru Hijriah 1448 H, Masjid Baiturrahim Turi kembali menggelar Kajian Sabtu Pagi yang berlangsung pada Sabtu (13/6/2026). Kajian yang dimulai pukul 04.40 WIB tersebut menghadirkan Ustadz Sutan Kumala Pontas Nasution, S.Sos., M.Sos., dari PPTQM Ibnu Juraimi sebagai pemateri utama.

Dalam kajian yang terbuka untuk umum itu, Ustadz Sutan mengajak jamaah untuk melakukan refleksi diri menjelang pergantian tahun Hijriah. Menurutnya, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi momentum untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan amal yang telah dilakukan.

“Menjelang pergantian tahun Hijriah, kita perlu menyadari bahwa usia kita semakin bertambah, sementara umur yang tersisa justru semakin berkurang,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Ustadz Sutan mengupas kandungan Surat Al-Ashr yang dinilai memiliki pesan sangat mendalam bagi kehidupan manusia. Ia mengutip pendapat Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa apabila setiap orang benar-benar merenungkan makna Surat Al-Ashr, maka surat tersebut sudah cukup menjadi pedoman hidup.

“Imam Syafi’i pernah berkata, seandainya setiap orang merenungi makna surat ini, maka itu sudah mencukupi sebagai bekal hidup,” jelasnya.

Menurutnya, Surat Al-Ashr mengandung empat prinsip utama yang harus dimiliki seorang muslim, yakni beriman, beramal saleh, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. Empat hal tersebut menjadi syarat agar manusia terhindar dari kerugian sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam surat tersebut.

Lebih lanjut, ia juga menyampaikan sebuah riwayat dari Imam At-Thabrani yang menggambarkan kuatnya perhatian para sahabat terhadap Surat Al-Ashr.

“Imam At-Thabrani meriwayatkan bahwa para sahabat Nabi tidak berpisah sebelum salah satu di antara mereka menasihati yang lain dengan Surat Al-Ashr,” katanya.

Membahas ayat pertama Surat Al-Ashr, Ustadz Sutan menjelaskan bahwa kata wal ‘ashr memiliki beberapa makna. Pertama, Allah bersumpah demi waktu. Kedua, waktu dipahami sebagai umur manusia yang merupakan nikmat besar dari Allah karena selama masih diberi kesempatan hidup, manusia masih memiliki peluang untuk beribadah dan memperbaiki diri. Ketiga, kata ashr juga menunjuk pada waktu sore yang memiliki pesan sosial dan spiritual tersendiri.

Ia kemudian mengutip pandangan Buya Hamka yang mengangkat pendapat Muhammad Abduh mengenai kebiasaan sebagian masyarakat Arab pada masa lalu. Menurut penjelasan tersebut, ketika memasuki waktu ashar, sebagian orang justru menghabiskan waktu untuk membanggakan diri, saling menjatuhkan, dan melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat.

“Melalui Surat Al-Ashr, Allah mengingatkan bahwa yang salah bukan waktunya, tetapi manusianya yang tidak mampu memanfaatkan waktu dengan baik,” tegasnya.

Dalam kajian itu, Ustadz Sutan juga mengingatkan jamaah tentang dua nikmat yang sering dilalaikan manusia, yakni kesehatan dan kesempatan. Banyak orang baru menyadari nilainya ketika salah satunya telah hilang.

Ia kemudian membawakan hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan bahwa setiap manusia kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas umur, masa muda, harta, dan ilmu yang dimilikinya. Hadis tersebut menjadi pengingat agar setiap muslim menggunakan seluruh potensi yang diberikan Allah untuk hal-hal yang bernilai ibadah dan kemaslahatan.

Menurut Ustadz Sutan, perkembangan ilmu pengetahuan saat ini tidak selalu diiringi dengan peningkatan moralitas. Ia menyoroti fenomena banyaknya orang berilmu yang justru memanfaatkan pengetahuannya untuk kepentingan pribadi dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran.

“Ilmu telah berkembang jauh. Banyak orang pintar, tetapi semakin lama semakin banyak yang tidak jujur. Ilmunya bukan digunakan untuk ketaatan dan kebaikan, melainkan untuk berbuat kezaliman dan mencari keuntungan pribadi,” ujarnya.

Menutup kajian, Ustadz Sutan kembali menegaskan pesan ayat kedua Surat Al-Ashr bahwa pada dasarnya seluruh manusia berada dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang memiliki iman, beramal saleh, saling mengingatkan dalam kebenaran, dan bersabar dalam menjalani kehidupan. Pesan tersebut menjadi pengingat penting bagi umat Islam untuk memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik-baiknya, terlebih menjelang datangnya tahun baru Hijriah.

Loading

Leave a Replay