Urip Kuwi Urup: Lentera Muhammadiyah, Menerangi Semesta

Facebook
Twitter
LinkedIn

Oleh : Ir. H. Zen Zainul HP.,CWC.,CHt

  • Seniman Kemerdekaan
  • Penulis Lagu dan Vokalis TekSas UI Band
  • Peraih Rekor MURI bidang Seni
  • Founder & Trainer Quantum FRESh
  • Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi

Di tanah Jawa yang sarat akan makna dan kebijaksanaan, sebait falsafah kuno berbunyi begitu magis: urip kuwi urup. Sebuah untaian kata sederhana namun sarat kedalaman, yang menegaskan bahwa hidup sejatinya adalah sebuah nyala. Hidup bukanlah seonggok napas yang egois, melainkan sepotong lilin yang merelakan dirinya terbakar demi mengusir pekatnya kegelapan di sekelilingnya. Ketika api kebijaksanaan lokal ini bertemu dengan ruh pergerakan Muhammadiyah yang lahir di jantung Yogyakarta, terciptalah sebuah simfoni spiritual yang agung. Asimilasi antara kosmologi Jawa dan nilai filantropi Islam ini melahirkan sebuah gerakan dakwah yang tidak hanya sibuk menatap langit, tetapi membumi dengan jemari yang kokoh merengkuh kemanusiaan melalui laku nyata amal ma’ruf nahi munkar.

Muhammadiyah menerjemahkan esensi nyala api tersebut bukan sebagai wacana teologis yang sunyi di menara gading, melainkan sebagai sebuah manifestasi konkret yang benderang. Bagai lentera yang menolak memprivatisasi cahayanya, organisasi yang diinisiasi oleh K.H. Ahmad Dahlan ini menjelmakan diri ke dalam ribuan ruang kelas tempat anak-anak bangsa menjemput mimpi, bangsal-bangsal rumah sakit tempat harapan akan kesembuhan dirawat, serta panti-panti asuhan yang menjadi pelukan hangat bagi mereka yang terpinggirkan. Melalui amal usaha yang tersebar di pelosok negeri, gerakan ini membuktikan bahwa hidup yang menyala adalah hidup yang menolak membiarkan sesamanya tersesat dalam gulita kebodohan, penyakit, dan kemiskinan, tanpa pernah memandang sekat suku, ras, maupun golongan.

Di dalam riak gerakannnya, mengalir pula spirit beramal tanpa pamrih yang menjadi DNA para kadernya. Seperti api sejati yang tak pernah menagih imbalan pada malam atas cahaya yang diberikannya, para penggerak Muhammadiyah diajarkan untuk selesai dengan ego diri sendiri sebelum mereka turun tangan menyalakan lentera bagi orang lain. Nilai kemandirian dan kerelaan berkorban yang diletakkan oleh pendirinya menjadi tameng agar nyala dakwah ini tidak mudah padam ditiup angin pragmatisme zaman. Menghidup-hidupi organisasi, dan bukan mencari hidup di dalamnya, adalah bentuk kesetiaan tertinggi dari sepotong kayu bakar yang rela hangus demi melahirkan kehangatan dan kedamaian bagi semesta.

Dakwah yang diusung pun bergerak secara solutif dan berkemajuan melalui jalan tajdid atau pembaruan. Muhammadiyah hadir membawa obor pencerahan untuk membebaskan kaum mustadh’afin—mereka yang lemah dan dilemahkan oleh keadaan. Islam tidak lagi sekadar diajarkan sebagai deretan teks yang kaku, melainkan sebagai agama pembebas yang responsif terhadap tantangan zaman, meruntuhkan belenggu keterbelakangan, dan menegakkan martabat kemanusiaan. Pada akhirnya, menautkan filosofi urip kuwi urup dengan Muhammadiyah adalah sebuah refleksi tentang bagaimana sebuah nilai lokal mampu menjiwai gerakan sosial keagamaan yang universal. Ia menjadi penanda bahwa setiap insan dan amal usaha di dalamnya adalah pemantik cahaya yang diutus untuk membumikan mandat suci langit, yakni menjadi rahmatan lil ‘alamin—sebuah kebaikan yang tulus, meluas, dan abadi menerangi semesta.

Loading

Leave a Replay