MPI PDM Sleman Hadiri Penganugerahan Artidjo Alkostar FH UII

Facebook
Twitter
LinkedIn

Sleman, Pdmsleman.Or.Id

Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman diwakili Arief Hartanto bersama sejumlah perwakilan organisasi kemasyarakatan, di antaranya Aisyiyah, Nahdlatul Ulama (NU), tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta mahasiswa menghadiri Penganugerahan Penghargaan Artidjo Alkostar yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (FH UII) di Auditorium Lantai 4 FH UII, Selasa (23/6/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penghormatan terhadap para aktivis sosial yang selama ini berjuang menegakkan keadilan, demokrasi, hak asasi manusia, dan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran berbagai elemen masyarakat menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap perjuangan para aktivis yang selama ini bekerja di berbagai sektor sosial.

Dekan FH UII, Prof. Dr. Budi Agus Riswandi, S.H., M.Hum., dalam sambutannya menegaskan bahwa aktivis sosial memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. Mereka memperjuangkan kepentingan kelompok rentan dan masyarakat yang kurang terwakili melalui berbagai gerakan advokasi.

“Para aktivis membantu memastikan hak-hak dasar masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, kebebasan berpendapat, dan perlindungan hukum dapat diakses secara adil,” ujarnya.

Menurutnya, aktivis juga berfungsi sebagai kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan, termasuk lembaga legislatif dan yudikatif, sehingga tercipta tata kelola yang transparan dan akuntabel.

Penghargaan tersebut menggunakan nama almarhum Artidjo Alkostar, tokoh hukum nasional yang dikenal memiliki integritas tinggi. Semasa hidupnya, Artidjo mendedikasikan dirinya untuk penegakan hukum dan perlindungan hak-hak masyarakat. Kariernya dimulai sebagai dosen FH UII, kemudian aktif di LBH Yogyakarta sebelum dipercaya menjadi Hakim Agung Republik Indonesia dan Dewan Pengawas KPK.

Rangkaian acara berlangsung khidmat dan inspiratif. Setelah pembukaan dan sambutan, peserta disuguhi pertunjukan drama pendek dari Sanggar Terpidana yang mengangkat tema keadilan dan kemanusiaan. Ketua Tim Pelaksana, Ari Wibowo, S.H.I., S.H., M.H., kemudian menyampaikan laporan kegiatan sekaligus membacakan nama-nama penerima penghargaan.

Acara semakin menarik dengan sesi “Pengalaman Inspiratif” yang menghadirkan tiga aktivis nasional. Lakso Anindito, Ketua IM57+ Institute periode 2024–2027, memaparkan pentingnya menjaga semangat pemberantasan korupsi melalui partisipasi masyarakat. Menurutnya, perjuangan melawan korupsi tidak boleh berhenti meskipun tidak lagi berada di bawah institusi formal.

Sementara itu, Eni Lestari, aktivis buruh migran sekaligus Ketua International Migrants Alliance (IMA), berbagi pengalaman mendampingi pekerja migran Indonesia yang menghadapi berbagai persoalan hukum dan ketenagakerjaan di luar negeri. Ia menekankan pentingnya keterlibatan buruh migran dalam proses penyusunan kebijakan yang menyangkut nasib mereka.

Adapun Daniel Frits Maurits Tangkilisan menceritakan perjuangannya membela lingkungan hidup di Karimunjawa. Aktivis lingkungan tersebut dikenal lantang menolak praktik tambak udang intensif ilegal yang diduga mencemari lingkungan pesisir dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut.

Diskusi kemudian mendapat tanggapan dari dewan juri yang terdiri atas Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum., Prof. Dr. Suparman Marzuki, S.H., M.Si., dan Prof. Dr. Sulistyowati Irianto, M.A. Ketiganya menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi, aktivis, organisasi masyarakat, dan penegak hukum menjadi kunci dalam memperjuangkan keadilan sosial di Indonesia.

Loading

Leave a Replay