Amalan Penghapus Pahala

Facebook
Twitter
LinkedIn

H. Agus Nugroho Setiawan

Kajian Sabtu Pagi Masjid Baiturrahim Turi Sabtu, 4 Juli 2026

Setiap manusia pasti menginginkan surganya Allah SWT, namun apa yang dapat mengantarkan manusia pada surganya Allah SWT? Amal shalih? Ibadah? Pahala? Ternyata bukan itu semua. Sebaik apapun amal kita, sebanyak apapun pahala kita, tidak akan mampu membeli surganya Allah, tidak akan sebanding dengan surganya Allah. Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang akan masuk surga bukan karena amalnya, tetapi karena Rahmat Allah SWT, maka bertindaklah yang lurus, baik dan benar” (HR Muslim).

Jika bukan karena amal kita, lalu apa manfaat kita melakukan banyak amal shalih? Allah SWT telah mengingatkan manusia akan hakikat penciptaan manusia sebagaimana firman-Nya “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (QS Adz-Dzariyat: 56). Maka ketika Allah dan Rasul-Nya berkehendak memberikan perintah kepada manusia untuk banyak beibadah dan beramal shalih, itu menunjukkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan yang dilakukan oleh manusia, akan berbuah Rahmat dari Allah SWT yang akhirnya akan mengantarkan kepada Surga Allah SWT. Dengan demikian, ada banyak amal shalih yang dapat dilakukan oleh manusia sebagai wujud ketaatan.

Amal atau perbuatan manusia secara umum ada 2 yaitu amal baik, yang bermuara pada balasan berupa pahala sehingga pada saatnya nanti manusia akan mendapat nikmat, dan amal buruk (dzalim) yang bermuara pada balasan berupa dosa sehingga pada saatnya nanti manusia akan mendapat adzab atau siksa. Untuk dapat beramal shalih sejatinya tidaklah sulit, asalkan memenuhi 2 persyaratan yaitu ada niat dan ikhlas karena Allah SWT, serta sesuai dengan tuntunan atau yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat. Al Fudhail bin Iyadh berkata jika tidak memenuhi 2 persayaratan tersebut, maka amalan tersebut tidak akan diterima.

Amal shalih hanya bisa dilakukan di dunia, dan Ketika manusia sudah sampai ajal (maut) maka sudah tidak bisa lagi beramal. Imam Ahmad bin Hambal berkata “Dunia ini Adalah negeri beramal, sedangkan akhirat Adalah negeri balasan. Maka barang siapa yang tidak beramal di sini (dunia), maka dia pasti akan menyesal di sana”. Kita harus sadari, pahami, dan waspadai bahwa ada amalan-amalan (perbuatan) yang dapat membuat pahala-pahala yang kita kumpulkan dapat berkurang, bahkan hilang, musnah tak tersisa sehingga menjadi muflis (bangkrut).

Ada banyak amalan (perbuatan) yang dapat menyebabkan terhapusnya pahala, antara lain murtad dan syirik, yang termasuk dalam dosa besar. Allah SWT berfirman “Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir, maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217). Demikain juga halnya dengan syirik, Allah SWT mengingatkan, “”Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 88).

Perjalanan panjang kehidupan manusia dengan segala aktivitasnya selalu digoda setan, baik sebelum, selama, maupun setelah amal shalih itu dilakukan. Ketika suatu amal shalih sudah dilakukan setan masih menggoda manusia. Terkait dengan hal itu, ada amalan yang dapat menyebabkan pahala berkurang bahkan hilang, yaitu perbuatan sum’ah dan riya’. Sum’ah berarti pendengaran, yaitu beramal agar didengar dan dibicarakan orang lain, dengan harapan dipuji dan dianggap hebat oleh manusia, sedangkan riya’ berarti menampakkan amal agar dilihat orang lain. Riya’ adalah beribadah atau berbuat baik dengan maksud mencari pujian dari manusia, bukan karena Allah. Allah SWT mengingatkan, “Maka, celakalah bagi orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, dan orang-orang yang berbuat riya’.” (QS. Al Ma’un: 4-6). Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda bahwa di hari kiamat nanti akan didatangkan tiga orang: seorang mujahid, seorang alim yang mengajarkan ilmu, dan seorang dermawan. Mereka semua dimasukkan ke neraka karena beramal untuk manusia, bukan karena Allah. “Dikatakan padanya, ‘Kamu melakukan itu agar disebut pemberani, atau disebut alim, atau disebut dermawan, dan sungguh kamu telah mendapatkan itu (di dunia).’” (HR. Muslim, no. 1905). Tidak setiap aspek kehidupan termasuk beribadah, perlu disampaikan kepada orang lain. Belajarah dari Uwais Al-Qarni, tidak terkenal di dunia tapi terkenal di langit.

Penghapus pahala lainnya adalah tidak ikhlas dan mengingat / mengungkit pemberian. Al-mann (mengungkit-ngungkit sedekah), dan al-adza (menyakiti perasaan penerima) juga dapat membatalkan amal dari sedekahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga golongan yang Allah tidak terima amal ibadahnya, yang wajib dan yang sunah: anak yang durhaka kepada orang tuanya, orang yang mengungkit-ungkit pemberiannya, dan orang yang mendustakan takdir.” (Hadits hasan, HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab As-Sunnah no. 323, Ath-Thabrani dalam Al-Kabir no. 7547). Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan, amalan yang tidak disertai dengan keikhlasan dan tidak sesuai tuntunan Nabi (tidak ittiba’) ibarat seorang musafir yang membawa bekal kantong penuh pasir. Ia hanya memberatkan tubuhnya, tetapi tidak memberikan manfaat atau pahala sedikit pun saat menghadap Allah SWT.

Masih ada beberapa amalan yang dapat menghapus pahala, antara lain durhaka kepada kedua orang tua, meninggalkan shalat wajib terutama shalat asar, bid’ah  atau mengada-adakan dalam urusan agama, memelihara anjing, mengkonsumsi khamr (minuman keras), bermaksiat ketika sendiri atau sepi, menganggap dosa tersebut legal dan menceritakannya, serta membunuh tanpa hak. Oleh karena itu, hal yang penting untuk diperhatikan marilah kita berhati-hati dalam berkata dan bertindak, jangan sampai apa yang kita lakukan dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala amal shalih yang sudah kita lakukan.

Loading

Leave a Replay