PRM Girikerto Dukung Penuh Gerakan 1.000 Ternak untuk Kesejahteraan dan Kemandirian Umat

Facebook
Twitter
LinkedIn

Turi, pdmsleman.Or.Id

Suasana Masjid Aisyiyah Ponosaran Lor, Girikerto, Turi tampak berbeda dari biasanya. Puluhan jamaah inti dan pengurus berkumpul dalam sebuah konsolidasi yang tidak sekadar membahas kegiatan keagamaan, tetapi mulai membuka arah baru gerakan ekonomi berbasis komunitas dan umat: Microfarming dan ternak berjamaah.

Pertemuan ini menjadi momentum penting bagi PRM Girikerto dalam menyatakan dukungan terhadap Gerakan 1.000 Ternak yang diinisiasi oleh TernakMU, komunitas ternak berbasis Muhammadiyah di bawah naungan Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata PCM Turi. Gerakan ini diproyeksikan sebagai model pemberdayaan ekonomi umat berbasis kolaborasi, bukan individualisme usaha.

Ketua PRM Girikerto, H. Sumaryanto, SH., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut. Ia menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar program peternakan, melainkan ruang tumbuhnya kemandirian ekonomi jamaah yang berakar pada nilai kebersamaan dan kebermanfaatan sosial. Antusiasme jamaah disebut meningkat seiring munculnya gagasan pemberdayaan yang lebih konkret dan aplikatif di tingkat akar rumput.

Sementara itu, Sujatmoko selaku koordinator TernakMU Girikerto menekankan bahwa agenda ini tidak berhenti pada sesi presentasi semata. Lebih jauh, pertemuan ini menjadi ruang penguat silaturahmi warga Muhammadiyah Girikerto yang direkatkan melalui aktivitas produktif. Ia menegaskan bahwa TernakMU dirancang sebagai wasilah (perantara) untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis kebersamaan, di mana ternak tidak hanya menjadi komoditas, tetapi juga sarana konsolidasi sosial.

Dalam pemaparannya, H. Akhmad Khairudin, M.B.A., selaku Ketua TernakMU, menjelaskan bahwa filosofi gerakan ini berakar pada nilai Al-Ma’un yang menekankan keberpihakan pada kelompok kecil dan rentan. Ia menilai konsep microfarming sangat relevan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Sleman, khususnya Turi saat ini, di mana lebih dari 60% warga berprofesi pada sektor pertanian dan peternakan.

Menurutnya, skema ternak skala rumah tangga yang dilakukan secara berjamaah mampu membentuk kekuatan ekonomi kolektif yang lebih stabil dibandingkan usaha individual. Konsolidasi jaringan peternak kecil ini diproyeksikan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang terstruktur, adaptif, dan memiliki daya tahan terhadap fluktuasi pasar yang selama ini didominasi mekanisme kapitalisme.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah perlu tampil sebagai aktor pionir dalam penguatan ekonomi berbasis komunitas dan umat. Gerakan ini diposisikan bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ekspresi nilai dakwah sosial yang menebar kebaikan dan kebermanfaatan. Nilai tersebut selaras dengan spirit “Sang Surya” yang menekankan keikhlasan dalam memberi tanpa mengharapkan kembali.

Diskusi berlangsung dinamis ketika sesi tanya jawab dibuka. Jamaah menunjukkan antusiasme tinggi, terutama pada aspek teknis budidaya. Narasumber kemudian memaparkan data operasional terkait strain ayam kampung unggulan seperti Elba dan Kuntara 4 yang dikenal sebagai ayam kampung petelur dengan performa produksi stabil. Selain itu, dijelaskan pula bahwa siklus cashflow usaha berada pada rentang 2–3 bulan dengan potensi pendapatan yang relatif konsisten.

Dalam paparan studi kelayakan, Khairudin menanggapi keraguan terkait isu penurunan profitabilitas sektor perunggasan akibat inflasi dan kenaikan harga pakan. Ia menegaskan bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya tepat, dengan merujuk pada data performa beberapa batch TernakMU sebelumnya yang menunjukkan stabilitas pendapatan dalam enam bulan terakhir melalui testimoni peserta aktif.

Sebagai penutup, kegiatan semakin menguatkan komitmen aksi nyata melalui pemberian stimulus berupa doorprize. Tercatat 30 DOC ayam Elba dan KUB dibagikan kepada dua peserta terpilih, satu ayam strain KOKAM (Komersial Kampung) karya TernakMU seekor jantan siap konsumsi usia tiga bulan berbobot kisaran 1-2 kilogram untuk satu peserta, serta satu fasilitas kandang sederhana untuk microfarming untuk peserta undian lainnya. Meskipun bernilai terbatas, stimulus ini diposisikan sebagai simbol dimulainya gerakan ekonomi nyata berbasis jamaah.

Gerakan ini menegaskan satu pesan utama: setiap peserta tidak hanya pulang dengan pengetahuan, tetapi juga membawa “pekerjaan rumah” berupa komitmen untuk memulai aksi ekonomi produktif di lingkungan masing-masing. TernakMU Girikerto pun perlahan memposisikan diri sebagai model baru pemberdayaan ekonomi umat berbasis kolaborasi mikro yang terstruktur dan berkelanjutan.

Rep M Khaoirudin Majelis Ekonomi PAriwisata PCM Turi

Editor Arief Hartanto MPI PDM SLeman

Loading

Leave a Replay