Turi
Hari Ulang Tahun ke-54 Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) sekaligus penutupan akhir tahun 2025, Dewan Pengurus KORPRI Unit Kapanewon Turi menggelar serangkaian kegiatan yang sarat makna kebersamaan dan pengabdian. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu malam, 31 Desember 2025, bertempat di Aula Kapanewon Turi, Sleman.
Kegiatan Pembinaan Rohani kembali digelar di lingkungan Kapanewon Turi sebagai upaya memperkuat nilai spiritual, etos kerja, serta kebersamaan aparatur dan masyarakat. Kegiatan yang dikemas secara reflektif dan komunikatif ini mengangkat tema besar tentang pentingnya rasa syukur, tanggung jawab, dan bekerja sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Pembinaan rohani tersebut disampaikan oleh BARA Drs. H. Bambang Rahmanto, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Turi yang juga aktif dalam berbagai struktur persyarikatan dan dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang organisasi, pendidikan, serta pelayanan publik.
Dalam paparannya, ia mengajak peserta untuk melakukan “refresh” spiritual agar tetap memiliki semangat pengabdian di tengah dinamika pekerjaan dan kehidupan sosial .
Dalam penyampaian materi, narasumber menegaskan bahwa tugas manusia, khususnya sebagai orang tua dan aparatur, bukanlah hal yang ringan. “Tugas orang tua tidak ringan, karena di situlah pondasi karakter, nilai, dan akhlak generasi masa depan dibentuk,” disampaikan dalam salah satu bagian materi pembinaan rohani tersebut .
Selain itu, pembinaan rohani juga menyoroti berbagai tantangan mental dan sikap kerja yang kerap muncul di lingkungan kerja. Dengan gaya komunikatif dan diselingi humor edukatif, pemateri menguraikan sejumlah istilah metaforis yang disebut sebagai “penyakit pegawai”, seperti AIDS (Alpa, Izin, Dikit-dikit Sakit), BATUK (Banyak Ngantuk), hingga MAGH (Makan Gaji Buta). Istilah-istilah tersebut digunakan sebagai media refleksi agar peserta mampu melakukan evaluasi diri secara jujur dan konstruktif .
Menurut pemateri, sikap kerja yang tidak disiplin, kurang teliti, dan minim tanggung jawab tidak hanya berdampak pada kinerja individu, tetapi juga merusak kepercayaan dan kebersamaan dalam organisasi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kolektif untuk membangun budaya kerja yang sehat, produktif, dan berlandaskan nilai-nilai spiritual.
“Bekerja sebagai ibadah, jangan hanya berorientasi pada uang,” menjadi salah satu pesan utama yang ditekankan dalam pembinaan rohani tersebut. Nilai ini diharapkan mampu mengubah cara pandang peserta dalam menjalani profesi, bahwa pekerjaan bukan semata-mata kewajiban administratif, melainkan ladang amal dan pengabdian .
Pembinaan rohani juga menekankan pentingnya kebersamaan dan sinergi dalam organisasi. Dengan kebersamaan yang kuat, tantangan pekerjaan dan persoalan sosial dapat dihadapi secara lebih ringan dan solutif. Peserta diajak untuk saling menguatkan, menjaga komunikasi, serta menumbuhkan empati dalam lingkungan kerja maupun masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kapanewon Turi berharap pembinaan rohani tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi benar-benar mampu membentuk karakter aparatur dan masyarakat yang bersyukur, berintegritas, serta memiliki semangat kerja yang dilandasi nilai ibadah. Dengan demikian, pelayanan kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan secara berkelanjutan dan bermakna.
![]()







