Pandu Teladan Sd Muh Condongcatur Kembali Membuat Kehebohan!, ISC Momentum Berani Mendunia, Tetap Indonesia!

Facebook
Twitter
LinkedIn

Suasana penuh kebanggaan, haru, dan semangat menyelimuti Apel Penyambutan Peserta International Scout Camp (ISC) dan Edu Trip Thailand, Malaysia, dan Singapura Tahun 2026 yang berlangsung di halaman SD Muhammadiyah Condongcatur, Qabilah Ahmad Dahlan dan Siti Walidah pada Senin 27 Shafar 1448 atau 10 Agustus 2026. Apel tersebut menjadi momentum istimewa untuk menyambut kepulangan para Pandu Teladan setelah mengikuti perjalanan internasional selama sepuluh hari, 18–27 Juli 2026. Apel penyambutan semakin istimewa karena diikuti dan disaksikan oleh sekitar 1.000 siswa-siswi SD Muhammadiyah Condongcatur. Hadir dalam kegiatan tersebut Ayahanda Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Turut hadir sebagai tuan rumah Ibu Estri Rukmiyanti, M.Pd., Kepala SD Muhammadiyah Condongcatur, bersama segenap guru dan karyawan. Hadir pula Ramanda Dede Dian, M.Pd., Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan DIY, para pelatih Ramanda Dr. Margono Wisanto, M.Si. dan Ramanda Selamet Untung, M.Pd., serta pendamping Bunda Esty Pujilestari, M.Pd. Para orang tua dan keluarga peserta juga hadir untuk memberikan dukungan sekaligus menyaksikan secara langsung momentum penyematan Brevet International Scout Camp (ISC) kepada para peserta orang tua masing-masing. Suasana apel semakin terasa khidmat ketika para Pandu Teladan berdiri dengan penuh percaya diri di hadapan keluarga besar sekolah. Setelah menjalani perjalanan panjang di tiga negara, mereka kembali bukan sekadar membawa kenangan perjalanan, tetapi juga pengalaman, wawasan, persahabatan, dan nilai-nilai baru yang diperoleh selama mengikuti ISC dan Edu Trip.

Dalam amanatnya, Ayahanda Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag. menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para peserta yang telah berani menjadi delegasi dalam kegiatan internasional tersebut. Beliau menegaskan bahwa menjadi seorang delegasi bukanlah tugas yang mudah. Seorang delegasi tidak cukup hanya mengenal lingkungan baru, melihat budaya yang berbeda, atau mengenal pakaian dan kebiasaan masyarakat negara lain. Lebih dari itu, seorang delegasi harus memiliki keberanian untuk menerima, memahami, dan menghargai perbedaan. Pengalaman bertemu dengan peserta dari berbagai latar belakang, menurut beliau, harus menjadi proses pembelajaran untuk membuka wawasan, membangun toleransi, serta memahami bahwa keberagaman merupakan bagian dari kehidupan global. Para peserta juga diingatkan bahwa selama menjalankan tugas sebagai delegasi, mereka tidak hanya membawa nama pribadi dan sekolah. Mereka membawa nama Kepanduan Hizbul Wathan, Muhammadiyah, dan Indonesia. Karena itu, setiap sikap dan perilaku yang ditunjukkan selama berada di luar negeri menjadi bagian dari wajah Indonesia di mata masyarakat internasional. Karakter, kesopanan, tanggung jawab, kedisiplinan, serta kemampuan menghargai orang lain menjadi bagian penting dari seorang Pandu Teladan.

Dalam amanatnya, Ayahanda Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag. menitipkan tiga pesan utama, yaitu Inspirasi, Motivasi, dan Integrasi. Inspirasi, artinya pengalaman yang diperoleh selama perjalanan harus mampu menjadi sumber inspirasi bagi teman, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Para peserta diharapkan tidak menyimpan pengalaman tersebut hanya untuk diri sendiri, tetapi mampu menceritakan dan membagikan pengetahuan yang bermanfaat kepada orang lain. Motivasi, artinya pengalaman internasional harus menjadi dorongan untuk terus belajar, berprestasi, meningkatkan kemampuan, dan berani memiliki cita-cita yang lebih tinggi. Sementara Integrasi, artinya pengalaman global harus dapat dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Para peserta harus mampu mengambil nilai-nilai positif dari perjalanan tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sebagai pelajar, anggota Hizbul Wathan, kader Muhammadiyah, dan generasi Indonesia. Ketiga pesan tersebut menjadi bekal agar perjalanan ISC tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi mampu menghasilkan perubahan positif dalam diri para peserta.

Penyematan Brevet International Scout Camp menjadi salah satu momen penting dalam apel penyambutan. Brevet tersebut bukan sekadar tanda bahwa peserta pernah mengikuti kegiatan internasional, tetapi menjadi simbol atas keberanian, perjuangan, kedisiplinan, pengalaman, dan tanggung jawab yang telah mereka jalani. Di balik brevet tersebut terdapat perjalanan panjang. Ada proses belajar, beradaptasi dengan lingkungan baru, berkomunikasi dengan peserta dari berbagai negara, mengikuti kegiatan kepanduan, mengenal budaya lain, serta belajar hidup bersama dalam keberagaman. Karena itu, brevet yang tersemat di dada diharapkan menjadi pengingat bahwa pengalaman internasional harus melahirkan karakter yang semakin kuat. Setelah rangkaian apel penyambutan, para Pandu Teladan kemudian menampilkan keterampilan Drumband yang membawakan semangat lagu Maju Tak Gentar yang ditabuh dengan penuh semangat dan bangga.

Perjalanan ISC dan Edu Trip Thailand, Malaysia, dan Singapura pada 18–27 Juli 2026.dimulai pada Sabtu, 18 Juli 2026, ketika kontingen dilepas dari Bandara Internasional Yogyakarta (NYIA). Pelepasan berlangsung penuh haru dan kebanggaan karena dihadiri oleh pimpinan sekolah, guru, serta para orang tua dan keluarga peserta. Doa dan dukungan keluarga mengiringi langkah para Pandu Teladan menuju Thailand untuk mengikuti ISC sekaligus melaksanakan rangkaian Edu Trip ke Thailand, Malaysia, dan Singapura. Setelah menempuh perjalanan, kontingen tiba di Thailand pada Ahad, 19 Juli 2026. Keesokan harinya, Senin, 20 Juli 2026, kegiatan International Scout Camp resmi dibuka di Sport Center, Pondok Bangloom Sangkhom Islam Wittaya School, Sadao, Songkhla. Pembukaan dilakukan oleh Gubernur Organisasi Administratif Songkhla, Tuan Supis Pitaktham. Pembukaan tersebut menjadi awal perjumpaan para Pandu dari berbagai negara dalam suasana persaudaraan internasional. Para peserta tidak hanya mengikuti berbagai kegiatan kepanduan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan budaya, karakter, dan keunggulan masing-masing negara. Kontingen Hizbul Wathan Indonesia dari Daerah Istimewa Yogyakarta turut memperkenalkan Indonesia melalui berbagai aktivitas yang menunjukkan kekayaan budaya dan semangat kepanduan. Interaksi dengan peserta dari berbagai negara memberikan pengalaman berharga tentang keberagaman, kerja sama, persahabatan, dan pergaulan global.

Pada hari berikutnya, kegiatan peserta terbagi menjadi dua kelompok. Sebagian peserta mengikuti kegiatan outbound di Camp Militer Thaen Muk Champ, sementara peserta lainnya mengikuti rangkaian Edu Trip menuju The Way to Folklore Museum, Samila Beach, dan Central Mosque. Perpaduan antara kegiatan kepanduan, petualangan, pendidikan, dan pengenalan budaya membuat perjalanan ISC semakin bermakna. Para peserta belajar bahwa kegiatan internasional bukan hanya tentang melihat tempat baru, tetapi juga tentang keberanian beradaptasi, membangun komunikasi, bekerja sama, dan menghargai perbedaan.

Puncak kegiatan International Scout Camp ditandai dengan acara penutupan pada 23 Juli 2026. Acara diawali dengan penampilan panggung dari masing-masing kontingen. Kontingen Hizbul Wathan Indonesia dari D.I. Yogyakarta tampil penuh percaya diri melalui Aksa Semaphore Dance yang dikemas secara atraktif dan enerjik. Penampilan tersebut berhasil mencuri perhatian dan mendapatkan apresiasi berupa sorak-sorai meriah dari para penonton yang memadati Sport Centre. Momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang membanggakan bagi kontingen Indonesia karena mampu memperkenalkan kreativitas kepanduan sekaligus menunjukkan semangat budaya dan karakter generasi muda Indonesia di hadapan peserta internasional.

Setelah rangkaian International Scout Camp berakhir, perjalanan dilanjutkan dengan Edu Trip pada 24–27 Juli 2026. Para peserta mengeksplorasi berbagai destinasi di Thailand, termasuk Samila Beach, Hatyai, serta pusat-pusat perbelanjaan di sekitarnya. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Malaysia. Pada 25–26 Juli 2026, kontingen mengunjungi sejumlah ikon negeri jiran, antara lain Menara Petronas, Batu Caves, Pasar Seni, Lapangan Merdeka, dan Perpustakaan Negara. Tidak hanya mengunjungi destinasi wisata dan tempat bersejarah, peserta juga mendapatkan pengalaman mengenal sistem transportasi Malaysia, mulai dari kereta cepat, kereta listrik, hingga bus antarkota. Selama berada di Malaysia, kontingen berkemah dan bermalam di Rumah Hamka Malaysia (RUHAMA) milik PCIM Malaysia, yang berlokasi di kawasan Taman Berjaya, Gombak, Batu Caves, Selangor. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Singapura. Para peserta mengunjungi berbagai tempat ikonik, seperti patung Merlion, Bugis Street, kawasan Istana Melayu, dan sejumlah lokasi menarik lainnya. Setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan di Singapura, rombongan kembali menuju Kuala Lumpur pada malam harinya untuk mempersiapkan perjalanan pulang ke Indonesia.

Akhirnya, pada 27 Juli 2026 pukul 12.00 WIB, kontingen tiba kembali di Bandara Internasional Yogyakarta (NYIA). Kedatangan mereka disambut oleh kepala sekolah, pimpinan sekolah, serta para orang tua dan keluarga yang telah menanti dengan penuh kerinduan. Tangis haru, senyum bahagia, dan pelukan keluarga menjadi penutup perjalanan sepuluh hari yang penuh pengalaman tersebut. Perjalanan dari Yogyakarta menuju Thailand, Malaysia, dan Singapura kemudian kembali ke Indonesia bukan sekadar perjalanan geografis. Perjalanan tersebut merupakan perjalanan pendidikan yang memperkaya wawasan, pengalaman, persahabatan, dan karakter para Pandu Teladan. Dari perjalanan tersebut, mereka belajar bahwa dunia begitu luas dan penuh perbedaan. Namun, persahabatan, kerja sama, dan semangat belajar mampu menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dari berbagai negara.

Menutup amanatnya, Ayahanda Dr. H. Yayan Suryana, M.Ag. mengingatkan kembali semangat Muhammadiyah sebagai umat yang berkemajuan. Generasi muda harus memiliki keberanian untuk melihat dunia secara luas, memahami perkembangan zaman, terbuka terhadap ilmu pengetahuan, dan mampu membangun pergaulan global. Namun, wawasan global harus tetap disertai dengan jati diri yang kuat. Karena itu, semangat yang menjadi ruh perjalanan ini adalah: “Berani berpikir global, tetapi tetap bersikap lokal.” Para Pandu Teladan telah membuktikan bahwa mengenal dunia tidak berarti harus kehilangan identitas. Mereka dapat belajar dari Thailand, Malaysia, dan Singapura, tetapi tetap membawa karakter Indonesia. Mereka dapat berinteraksi dengan peserta internasional, tetapi tetap membawa nilai-nilai Hizbul Wathan dan Muhammadiyah. Mereka dapat mengenal kemajuan teknologi dan transportasi negara lain, tetapi tetap memiliki kepedulian untuk membawa pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi lingkungan sendiri.

Apel penyambutan di halaman SD Muhammadiyah Condongcatur akhirnya menjadi lebih dari sekadar seremoni kepulangan. Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi para peserta, bentuk apresiasi bagi orang tua, guru, pelatih, dan pendamping, sekaligus sumber inspirasi bagi sekitar 1.000 siswa-siswi yang menyaksikannya. Para Pandu Teladan pulang bukan hanya membawa foto dan kenangan, tetapi juga membawa pengalaman tentang keberagaman, persahabatan, kedisiplinan, kepemimpinan, keberanian, dan tanggung jawab. Dari halaman SD Muhammadiyah Condongcatur, semangat itu kembali diteguhkan: Mengenal dunia tanpa kehilangan jati diri.
Menerima perbedaan tanpa kehilangan nilai. Berani mendunia dengan tetap menjadi Indonesia. International Scout Camp dan Edu Trip 2026 menjadi bukti bahwa pendidikan kepanduan dapat menjadi jembatan untuk membentuk generasi yang tangguh sekaligus berwawasan global. Perjalanan NYIA–Thailand–Malaysia–Singapura–NYIA telah menjadi perjalanan pembelajaran yang akan terus hidup dalam ingatan para Pandu Teladan.

Loading

Leave a Replay