Bedah Buku Ijtihad Jurnalistik, Menelusuri Perjalanan Mustofa W. Hasyim Bersama Muhammadiyah

Facebook
Twitter
LinkedIn

Yogyakarta, Pdmsleman.Or.Id

Perjalanan panjang Mustofa W. Hasyim sebagai jurnalis, sastrawan, sekaligus warga Muhammadiyah kembali menjadi bahan refleksi dalam Bedah Buku Ijtihad Jurnalistik: Hidup Bermuhammadiyah dan Bersama Suara Muhammadiyah. Kegiatan tersebut digelar di Grha Suara Muhammadiyah, Jalan KH Ahmad Dahlan No. 107, Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta, Selasa (11/8/2026).

Pada kesempatan kali ini PDM Sleman mendapat kehormatan menghadiri undangan acara tersebut yang diwakili oleh H. Darojat Noor A dari unsur  pimpinan dan Arief Hartanto dari MPI PDM Sleman bersama undangan lainnya.

Bedah buku tersebut diselenggarakan PT Syarikat Cahaya Media (Suara Muhammadiyah) dalam rangka milad ke-111 Suara Muhammadiyah sekaligus menyongsong Hari Pers dan Literasi Muhammadiyah. Buku karya Mustofa W. Hasyim itu merekam perjalanan panjang penulis dalam dunia jurnalistik dan kiprahnya di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Dalam perjalanan hidupnya, Mustofa dikenal tidak hanya menjalankan profesi jurnalistik, tetapi juga aktif dalam berbagai aktivitas Persyarikatan. Kiprahnya bermula dari organisasi otonom Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, hingga berbagai aktivitas lain yang memiliki keterkaitan dengan gerakan tersebut. Ia juga dipercaya menginisiasi sejumlah kegiatan dan pernah mendapat amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Jurnalis Muhammadiyah.

Pengalaman panjang tersebut menjadi bagian penting dari buku yang dibedah. Ijtihad Jurnalistik tidak sekadar menghadirkan cerita perjalanan seorang wartawan, tetapi juga memuat pengalaman, pemikiran, serta refleksi selama menjalani kehidupan jurnalistik sekaligus menjadi bagian dari Muhammadiyah dan Suara Muhammadiyah.

Salah satu pelajaran penting yang dapat ditarik dari perjalanan sosok yang akrab disebut pak Mus adalah mengenai tanggung jawab seorang jurnalis dalam mengelola informasi. “ Jurnalisme bukan semata-mata tentang seberapa cepat seorang wartawan memperoleh dan menyampaikan berita. Lebih dari itu, wartawan dituntut mampu menyeleksi, memeriksa, menimbang, dan menentukan kapan sebuah informasi layak diketahui public”.

Tidak setiap informasi yang diterima harus langsung dipublikasikan. Ada informasi yang memang penting untuk segera disampaikan karena menyangkut kepentingan masyarakat luas. Namun, terdapat pula kabar yang masih membutuhkan verifikasi atau belum tepat disampaikan kepada publik.

Kemampuan menyaring informasi menjadi semakin penting karena berita dapat membawa dampak luas terhadap masyarakat. Informasi yang belum matang, terlebih berkaitan dengan persoalan sosial dan politik, berpotensi menimbulkan keresahan apabila disampaikan tanpa pertimbangan yang memadai.

Isngadi Marwah Atmadja   Redaktur Eksekutif di Suara Muhammadiyah dalam sambutannya  menandaskan “ pengalaman Mustofa W. Hasyim menjadi pelajaran berharga bagi generasi jurnalis. Informasi dipandang bukan sekadar bahan pemberitaan, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab”.

Bedah buku menghadirkan tiga narasumber, yakni Mustofa W. Hasyim selaku penulis, Dr. Immawan Wahyudi, yang menceritakan suka duka selama berkiprah di redaksi Suara Muhammadiyah dari jatuh dan bangunnya membangun jalinan literasi di SM bersama pak Mus dan Drs. H. Akhid Widi Rahmanto, salah satu murid pengajian binaan pak Mus di Kotagede yang dengan berbagai cerita menarik masa kecil yang membekas dan menjadi bekal dalam kiprahnyha di Masyarakat dan Muhammadiyah . Diskusi dipandu moderator Rizki Putra Dewantoro dari Suara Muhammadiyah.

Kegiatan tersebut juga diikuti unsur Persyarikatan Muhammadiyah, organisasi otonom, perguruan tinggi Muhammadiyah, serta wartawan dan media. Dalam daftar undangan, terdapat perwakilan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di DIY, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul ‘Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tapak Suci, Hizbul Wathan, serta kalangan akademisi dan media.

Melalui buku ini, perjalanan Mustofa W. Hasyim menjadi bagian dari catatan penting tentang hubungan antara jurnalistik, sastra, dan pengabdian di Muhammadiyah. Pengalaman panjang tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pembaca, terutama generasi muda yang ingin memahami dunia jurnalistik sekaligus dinamika kehidupan Persyarikatan.

Rep Editor Arief Hartanto MPI PDM Sleman

Loading

Leave a Replay